
***
Ruangan Divisi Keuangan
"Uhh Sialan. Kalau begini sama saja dengan bunuh diri dong. Memang posisiku sekarang lebih tinggi namun jika mendengar ancaman dari Pak James kakak ipar ku tadi berarti aku tak bisa bermain-main sedikit saja dengan keuangan perusahaan," gerutu Maya yang tak lain Kepala Divisi Keuangan yang baru.
"Ini semua karena settingan dari Mbak Marsya sehingga aku harus masuk dalam kubangan ini kan!! Huhh!!" Maya terus menggerutu sambil memutar-mutar pulpen di tangannya.
Ia terus memutar kursi kerja barunya ketika terdengar deringan telepon dari Hpnya.
Tringg....Tringg...
Ketika mengangkat Hpnya tertera nama Mbak Marsya memanggil.
seketika itu juga Maya mengangkat telepon dari kakak pertamanya tersebut.
"Halo kak, selamat siang." Sahut Maya dengan sedikit nada malas. Sebab ia tahu Mbak Marsya menelpon hanya untuk memastikan suksesnya rencana mereka.
" Iya, siang Maya adikku yang paling cantik, hehehehe, bagaimana sukses nggak rencana kaka?" Tanya Marsya dari seberang dengan suara berapi-api.
"Sukses kak, namun aku takut kak," sambung Maya dengan suara panik.
"Aku takut, sebab Kaka James mengancam aku apabila ketahuan berkomplot untuk mendapatkan keuntungan dari jabatan ini," ujar Maya dengan suara berat dan penuh helaan nafas panjang.
__ADS_1
" Tenang sayangku, kakak punya rencana khusus untuk masalah ini, intinya sekarang kamu jalani saja dulu, minimalkan kesalahan pada kakak ipar mu itu," lanjut Marsya santai.
"Baik mbak, aku ikuti saja rencana Mbak", sahut Maya malas sambil mematikan sambungan teleponnya.
tut tut tut
sebelum sempat menenangkan otak tiba-tiba saja pintu ruangannya diketuk.
tok tok tok.
"Silahkan masuk," sahut Maya sambil merapikan rambutnya yang kacau karena bingung dengan rencana dari kakak perempuannya Marsya.
" Selamat siang Maya. Hehhee. Bagaimana rencana kita? berhasil bukan? Sudah aku katakan James tidak akan berdaya melawan tipu daya Marsya," kata orang itu sambil berjalan santai mendekati meja kerja Maya.
Setelah keduanya mengambil tempat di kursi ruang tamu yang terpisah dengan ruang kerjanya Maya, Maya melanjutkan pembicaraannya seraya menuang segelas minuman soda rendah kepada Julio.
"Semuanya sudah beres dan sesuai dengan rencana dari kakak Marsya. Silahkan diminum paman," lanjut Maya.
"Lalu apa lagi yang kamu cemaskan? Dari tadi paman lihat, matamu menampakan kecemasan yang berlebihan. Masih ada ketakutan dan keraguan dalam dirimu," kata Julio kepada Maya setelah menegak minuman pemberian Maya tadi.
"Sudahlah kamu tak perlu cemas, biarkan kakakmu Maya yang mengatur dan menyetir rencana kita ini. James lebih tunduk kepada Marsya ketimbang kepada siapa pun," sambung Julio.
"Benar paman semua akan berjalan lancar selama Kak James tidak mengetahui latar belakang paman yang masih keluarga dengan saya dan kak Marsya", Maya langsung menimpali penjelasan dan kata-kata manis dari Julio.
__ADS_1
"Ahhh, sudahlah Maya. Simpan rasa cemas mu itu dan kuburkan jauh-jauh. Mana profesionalitas mu? Ayolah jika engkau tetap begini James akan tahu dan mencium rencana kita", kata Julio sambil meremas tangan Maya.
Akhirnya Julio menegak habis minuman soda tadi dan berdiri menatap dalam wajah maya yang juga ikut berdiri.
"Paman harap engkau lebih tenang. Serahkan semua rencana ini kepada Pamanmu ini dan kakakmu Marsya."
"Baik paman," sahut Maya dengan nada pelan dan lemas.
" Oke, paman akan kembali besok untuk lapor diri kepada James dan mulai bekerja,"kata James seraya berbalik ke pintu dan keluar dari ruangan Maya.
Maya menatap punggung paman itu dengan kepala yang berkecamuk. Paman julio adalah adik kandung dari ayah mereka (Marsya dan Maya). Ayah dan Ibu mereka telah meninggal sejak usia kakaknya masih 20 tahun dan Maya masih 10 tahun.
Sejak saat itu mereka hidup sederhana bersama Paman Julio dan Bibinya.
Semuanya berubah sejak kak Marsya bertemu dan menikah dengan James dua tahun lalu. Keduanya sama-sama ditinggal mati oleh pasangan. Kak Marsya Janda dan kak James Duda. Namun usia James lebih tua 6 atau 7 tahun dari Mba Marsya.
Pelan tapi pasti berkomplot dengan paman Julio, kak Marsya merancang rencana besar untuk masa depan mereka semua.
Sialnya hingga saat ini James belum tau jika Julio adalah paman kandung mereka berdua.
kenyataan inilah yang membuat Maya agak takut dan panik.
****
__ADS_1