
“ma-maaf, tapi kenapa orang itu tidak memperbolehkanmu untuk memakai pakaian dalam?” tanya Petra.
“karena, dia bilang kalau pakaian dalamku terlalu kecil, jadi dia tidak mengijinkanku memakainya. Pakaian dalam yang terlalu kecil bersifat menekan dan pada akhirnya pembuluh darahku tidak mengalir secara lancar” jawabnya.
“aku tidak habis fikir kenapa kamu memakai pakaian dalam yang terlalu kecil? Dan yang paling aneh adalah kenapa kamu bercerita kepada lelaki sepertiku” tanya Petra dengan menggelengkan kepala.
“jujur saja, di rumah nenekku yang sekarang hanya ada pakaian dalam milik sepupuku saja. dan dia 2 tahun lebih muda dariku. Mau tidak mau aku harus memakainya” jawabnya.
“astaga, kenapa lelaki sepertiku harus mendengar cerita dari perempuan sepertimu” ucap Petra seraya menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan kiri.
“ma-maaf, apa kamu bisa mengantarku?” tanya Lia.
“kalau begitu, sebagai gantinya, aku memiliki satu syarat” tegas Petra.
“apa itu?” tanya Lia.
“ikutlah denganku setelah sepulang sekolah. Apa kamu dijemput?” tanya Petra.
“emm, aku dijemput. Tapi sebenarnya rumahku dekat dari sini, jadi aku bisa berjalan” jawabnya.
“kalau begitu, baiklah. ikutlah nanti sepulang sekolah bersamaku” tegas Petra.
“kita mau kemana?” tanya Lia.
“akan memalukan jika kuceritakan disini. pokoknya, ikut saja” jawab Petra.
“ba-baiklah” jawabnya.
Dirinya duduk menunggu bell pulang sekolah disamping Lia. Sampai pada akhirnya, saat bell berbunyi, Petra dan Lia spontan keluar dari kelas dan kemudian menuruni tangga untuk keluar dari gedung sekolah.
Petra dan Lia berjalan berdua di ramainya anak sekolahan yang berbondong-bondong keluar dari ruang kelas. Sampai pada akhirnya, mereka berdua mampu keluar dari sekolah dan berada di ruang UKS. Petra hanya mengantarkan Lia di luar ruangan dan membiarkan Lia mengambilnya sendiri. Setelah Lia mengambilnya, barulah mereka berdua pergi dari sana dan berjalan hingga pintu gerbang pagar depan.
Mereka berdua berjalan ke arah pagar sekolah dan mendapati kalau saja Lia sudah dijemput oleh papahnya yang membawa mobil sedan berwarna hitam. Petra dan Lia pun berjalan menemui papah Lia yang tengah menunggu di depan pagar sekolah itu.
“papah udah nunggu lama yah?” tanya Lia kepada papahnya.
“Kamu itu ngapain aja di dalam kelas? Bukannya udah dari tadi? (pulangnya)” tanya papah Lia.
“Lia cuma nunggu bel sekolah bunyi dan Lia boleh pulang” jawab Lia.
“jadi, kenapa kamu mengajak lelaki itu bersamamu? Apa dia temanmu?” tanya papah Lia kepada Petra.
“se-selamat sore, om. Saya teman sebangk-“ ucap Petra tersahut henti.
“dia pacarku, pah. Dia Petra Charleston Prakasa” sahut Lia kepada papahnya.
“pacar? Petra? Ohh, jadi kamu yang bernama Petra?” tanya papah Lia kepada Petra.
__ADS_1
“heh?” jawab Petra dengan pipi yang begtiu memerah.
“apa apaan Lia itu? kenapa dia mengenalkanku menjadi pacarnya?” fikir Petra dalam hati.
“aku baru saja diberitahu oleh pak jimmy kalau saja anak genius yang bernama Petra mengajar di kelas anakku. Dan sekarang anakku berpacaran dengannya. Entah apa yang terjadi dengan dunia ini” jelas papah Lia dengan tawa lepasnya.
“he-hentikan itu, om. Itu memalukan” ucap Petra.
“jadi, apa kamu mau bareng kita berdua pulang? barangkali kamu butuh tumpangan” ucap papah Lia.
“ti-tidak perlu om. Malah saya akan mengajak Lia pergi ke satu tempat. Jadi kalau om mengijinkan kita berdua pulang agak terlambat, apa om mengijinkan?” tanya Petra kepada papah Lia.
“kalian berdua mau kemana?” tanya papah Lia kepada Petra.
“agak sedikit memalukan jika aku memberitahukannya didepan Lia, om” jawab Petra.
“hmm, aku paham sekarang. Pergilah kalian berdua. Bersenang senanglah. Papah akan menunggu kalian berdua di rumah. Sebisa mungkin, jangan pulang terlalu larut malam. Dan juga, papah minta tolong jaga Lia dan jangan biarkan dia melakukan aktivitas yang berat” tegas papah Lia.
“baik, om” ucap Petra.
“baik pah” ucap Lia.
“kalau begitu, berhati hatilah di jalan” ucap papah Lia kepada mereka berdua.
“baik om, siap” jawab Petra seraya memberi hormat.
“sekarang, apa kita bisa berangkat?” tanya Petra dengan menatap lebar lentik kedua mata Lia.
“boleh juga” jawabnya.
“tapi sebelumnya, aku ingin bertanya kepadamu. Kenapa kamu mengenelkanku kepada papahmu sebagai pacarmu?” tanya Petra.
“ehh? Memangnya kita bukan?” tanya Lia.
“jadi kita sekarang berpacaran? Apa itu benar?” tanya Petra dengan pipi yang begitu memerah.
“sudahlah, jangan bahas masalah itu di keramaian seperti ini. Sekarang, kamu mau mengajakku kemana?” tanya Lia kepada Petra.
“aku akan membawamu ke tempat yang sangat kamu butuhkan” jawab Petra.
“tempat yang kubutuhkan?” tanya balik Lia.
Hanya 10 menit perjalanan, Petra berhasil membawa Lia pergi ke tempat layaknya bazar yang setiap hari selalu terbuka bagi para masyarakat desa untuk saling jual beli. Istilah lainnya adalah, semacam mall namun lebih sederhana yang letaknya berada di tengah tengah desa. Disana, sangat amat banyak pedagang yang berjualan beragam barang, mulai dari bahan makanan, alat kesehatan, perabotan rumah, hingga pakaian.
Petra mengajak Lia untuk pergi ke bazar tersebut, dimana bazar tersebut adalah tempat yang luas, dengan banyaknya stand-stand untuk para pedagang berniaga.
“kenapa kamu mengajakku kemari?” tanya Lia kepada Petra.
__ADS_1
“sudahlah, tenang saja. ikut aku di salah satu toko, dan kamu akan tau kenapa aku mengajakmu kemari” jawab Petra.
Petra segera menarik tangan Lia ke salah satu stand penjual. Sesampainya disana, Lia begitu terkejut sebab Petra membawanya ke tempat ibu ibu penjual pakaian dalam untuk wanita.
“ke-kenapa kamu membawaku kemari? Dasar mesum!” ujarnya sedikit meremas telapak tangan Petra.
“ma-muaap buanget. Aku mengajakmu ke tempat yang kamu butuhkan. Dan kurasa, kamu butuh ini” jawab Petra dengan menahan rasa sakit.
“ohh, benarkah? Apa kamu ingin membelikan pakaian dalamku agar kamu tau motif dan warna dari pakaian dalamku yang akan ku pakai?” tanya Lia dengan nada dan tatapan begitu sadis dan ngeri abis.
“a-aku tidak bermaksud seperti itu. Aku akan meninggalkanmu untuk memilih sesukamu, dan pada saat kamu sudah memilihnya, panggil aku kemari. Aww ciat ciat sakit..” ucap Petra terbatah batah dengan rasa sakit yang menjulur ke ubun ubun.
“benarkah?” tanya Lia mencengkram tangannya lebih kuat lagi.
“cepat pilih atau tanganku akan remuk” ucap Petra begitu kesakitan kepada sosok algojo psikopad disampingnya.
“baiklah, kamu pergilah dari tempat ini, nanti aku akan panggil” ucapnya melepaskan pegangan tangan Petra.
“aku sedikit menyesal mengapa aku menggandeng tangannya tadi” fikir Petra seraya mengibaskan tangannya.
Petra segera keluar dari stand ibu ibu penjual tersebut kemudian meninggalkan Lia di tempat tersebut dan membiarkannya untuk memilih pakaian dalam yang ia butuhkan dan ia sukai. Lia yang ada di dalam stand itu hanya melihat lihat dari harga yang tertera di gantungan pakaian dalam tersebut.
“waahh, harganya murah sekali. Dan juga banyak motifnya. Berbeda jauh dengan yang ada di kota” ucapnya dengan nada begitu bersemangat.
Lia pun mulai membeli pakaian dalamnya sesuai dengan ukuran tubuhnya. Lia membeli pakaian dalam atas dan pakaian dalam bawah secara berpasangan. Pada akhirnya, Lia membeli 3 buah pakaian dalam atas dan 3 buah pakaian dalam bawah.
“aku sudah mendapatkannya, kira kira dimana Petra sekarang?” tanya Lia.
Dikarenakan Lia tidak membawa uang sepeserpun, Lia menitipkan barangnya itu di meja kasir ibu tersebut dan kemudian pergi keluar dari stand tersebut. Terlihat dari raut wajahnya, Lia sama sekali belum terbiasa akan suasana yang ramai akan penjual dan pembeli. Lia begitu panik, dirinya berfikir kalau dirinya kehilangan arah jalan pulang.
Lia mulai mencari Petra di sela sela stand dengan sedikit berlari. Dirinya melihat arah kanan kiri, namun sama sekali tidak dapat mencarinya. Pada akhirnya, dirinya tersesat di tengah tengah bazar yang begitu luas tersebut.
Faktanya, bazar tersebut sebenarnya adalah bekas lapangan golf dari para spesies manusia konglomerat kaya raya dan kemudian menjualnya demi para pedagang dapat memiliki tanah untuk berjualan. Di lapangan yang seluas itu, Lia hanya bisa melihat sekelilingnya ramainya orang dewasa.
Pada akhirnya, Lia memutuskan untuk keluar dari wilayah bazar tersebut. Dengan kata lain, Lia berjalan ke arah timur dan berniat agar keluar dari lingkaran bazar itu. Lia segera berjalan keluar dari bazar. Ia melihat adanya pohon yang begitu besar dengan beberapa kursi taman disana. Ia memutuskan untuk duduk di kursi tersebut sembari menunggu dan berfikir kalau saja Petra akan pergi ke tempat itu juga.
“dimana sih tuh anak? Dasar kurang ajar! Dia meninggalkanku di tempat yang menakutkan ini?. Jujur saja, aku tidak pernah pergi ke pasar, jadi aku takut kalau tersesat. Aku tidak punya uang, bagaimana caraku bisa pulang?” ucapnya dengan nada begitu kesal.
Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Di tempat itu pula terdapat dua orang lelaki preman pasar dengan tato yang memenuhi tubuhnya dan besi bertindik yang melubangi sekujur tubuhnya. Dua orang lelaki tersebut seketika duduk disamping Lia dan kemudian memegang kedua pundak Lia.
“hey, anjing kecil. Apa kamu tersesat?” tanya salah satu lelaki tersebut.
“si-siapa? Kalian berdua siapa? Apa yang kalian lakukan kepadaku?” tanya Lia dengan begitu ketakutan.
“tidak apa apa. Jangan takut. kita berdua sudah lama tidak bermain main dengan perempuan secantik dirimu ini” ucapnya.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1