Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 41 [Tragedi di Atas Bukit]


__ADS_3

“jadi, hari ini adalah hari terakhirmu di desa ini?” tanya balik Alex kepada Lia.


“iya, itu benar. Aku agar segera pergi ke Ukraina untuk transplantasi jantung buatan sekaligus menjadi salah satu objek eksperimen hidup. Aku tidak tau apakah aku bisa bertahan atau tidak. Maka dari itu, aku ingin membuat kenangan yang indah bersama teman temanku disini. dan jujur saja, aku juga ingin Petra ikut. Tapi sepertinya tidak akan mungkin” jelas Lia perlahan meneteskan air mata.


“aku setuju dengan Elmo. Aku tidak suka Petra yang melupakan teman temannya demi ambisinya menyelamatkan Lia” sahut Issak.


“aku tidak ingin membahas itu lagi. malam ini adalah malam terakhirku bersama kalian semua. Aku ingin kita segera mengisi foto di buku album kelompok kerja dengan foto kita semua. Walau tanpa Petra, aku sudah sangat bersyukur telah bertemu kalian” jawab Lia menegakkan kepalanya dan menatap tajam teman temannya.


Perlahan mereka menyiapkan semuanya. Elmo, Alex, Lucas dan Issak bersama dengan Lia, Anna dan Emma mempersiapkan semuanya. Malam itu, mereka akan menaiki bukit yang agak tinggi di desa itu demi melihat bintang.


Kurang lebih sekitar 1 jam mereka bersiap, mereka membawa peralatan yang memadai untuk berangkat ke atas bukit. Selepas itu, mereka mulai memasuki mobil satu persatu dan kemudian berangkat ke bukit tempat mereka mendaki hanya untuk melihat dan mengabadikan foto mereka dengan lautan bintang yang menyinari di atas kepala mereka.


Disisi lain, Petra yang saat itu sudah sangat kedinginan hampir pingsan di pinggir jalan. Namun ia bertekad untuk melaksanakan misi terakhirnya yang menjadi opsi terakhir. Petra menganggap bahwa tidak ada cara lain selain cara terakhir yang telah ia susun bersama dengan bang Fred dan bang Mike.


“aku harus cepat pergi ke rumah bang Mike” ucap Petra di pinggir jalan dengan wajah dan tangan yang mulai memucat.


Pada akhirnya, dengan langkah kaki yang mulai melemah dan tangan serta wajah yang begitu pucat, ia sampai di kediaman bang Fred dan bang Mike. Ia mengetuk pintu rumah dan dengan sengaja memasuki rumahnya.


“cepat ambil berkas milikku dan kita akan berangkat sekarang” tegas Petra kepada bang Mike dan bang Fred.


“apa kau yakin akan melakukan ini?” tanya bang Mike dengan tatapan yang begitu ketakutan.


“sejak awal, aku tidak setuju dengan rencana pembantaianmu” ucap bang Fred.


“siapkan belati dan keris milik papahku. Aku yang akan membantai mereka satu persatu. Kalian ikat Lia dengan erat seperti apa yang telah kukatakan saat lalu” tegas Petra dengan tatapan kosong nan kejinya.


“aku sudah menyiapkan papan kayu dan tali. apa ada yang kurang?” tanya bang Mike.


“lakukan apa yang sudah kukatakan dengan sempurna dan jangan sampai ada yang meleset sedikitpun” tegas Petra.


Tidak lama setelah itu, taksi yang sudah di pesan oleh bang Mike datang. mereka bertiga berangkat menggunakan taksi pesanan mereka dengan tekad dan mental yang sudah sangat kuat.


“aku yakin sekali dengan berita yang telah Petra dari masa depan berikan kepadaku. Petra akan diserang oleh mereka semua. Dan aku yang akan membunuh mereka sekaligus menyelamatkan Lia dari kejahatan mereka. tunggu aku, Lia. kamu pasti akan selamat dan tumbuh kuat” ucap dalam hati Petra dengan menggenggam erat tangannya sendiri.


Beralih ke Lia dan rombongannya, mereka semua berangkat pergi ke bukit. Kuranglebih 30 menit telah mereka kerahkan usaha mereka agar bisa menaiki titik tertinggi bukit dengan lereng yang curam. Hingga pada akhirnya, mereka sampai di puncak bukit, dimana puncak tersebut tidak begitu luas. Hanya selebar lapangan sepak bola dengan beberapa pohon yang tertutup tebalnya salju putih.

__ADS_1


Lia, Elmo, Alex, Anna, Emma, Lucas dan Issak menatap ke langit dan mendapati jika langit begitu cerah diterangi oleh bintang dan bulan. Puluhan bintang nampak dengan mata kepala mereka sendiri. seketika mereka semua takjub dengan apa yang telah ia lihat.


“Waahhh, ini sangat indah” ucap Lucas.


“iya, sangat indah. Ternyata perkiraan cuacanya tidak berbohong. Tidak ada sedikitpun awan yang menutupi bintang” jawab Emma.


“rasanya aku ingin berteriak” ucap Anna.


“iya, aku juga ingin berteriak” ucap Alex.


“kalau begitu, kita akan berteriak bersama sama. satu,.. dua,.. tiga,..”


“ANNA JELEK” “ALEX JELEK‼” teriak mereka berdua bersamaan di luasnya langit.


“dasar kurang ajar!” teriak mereka berdua bersamaan begitu emosinya.


“andai saja Petra ikut kemari, pasti dia akan menghabiskan sisa waktuku bersamanya” ucap Lia menggumam.


“aku sudah memperkirakan hal ini. dia tidak akan pernah datang. dia pasti sedang berkeliling untuk mencari donoran jantung untukmu” jawab Elmo disamping Lia.


“kenapa kau begitu yakin?” tanya Issak.


“padahal aku tidak butuh jantung, aku hanya ingin dia disini. seharusnya aku mengatakan ini sejak dulu agar dia mengerti” ucap Lia.


“tenang saja, aku dan Elmo ada disini untuk menjagamu. Jika Petra memang mendapatkan jantung untukmu, itu juga berita yang bagus buatmu bukan?” tanya Issak.


“terimakasih kalian berdua” ucap Lia menatap ke arah Issak dan Elmo.


“hoyy! Kalian bertiga! Nunggu apa lagi? ayo cepetan berfoto atau udara akan semakin dingin!” teriak Alex dari kejauhan memanggil Lia, Issak dan Elmo.


“iya iya, otewe” jawab Issak.


Lucas menyiapkan sebuah tripod dengan kamera yang telah terpasang diatasnya. Agar tidak tertiup angin kencang, Lucas meletakkan tripod tersebut di bawah dahan pohon tinggi yang ada disana. ia menyiapkan timer di kamera miliknya selama 10 detik dan akan memotret secara otomatis sebanyak 15 kali.


Setelah itu, mereka semua berjalajar saling menggandeng tangan dan menatap ke arah kamera. Mereka semua melakukan pose bebas dan menunjuk ke arah langit. Sinar rembulan bersama dengan ramainya bintang menghiasi foto yang hangat nan ceria tanpa kehadiran Petra.

__ADS_1


“foto terakhir! Ini foto kelimabelas. Buat pose sekeren dan sekece mungkin!” teriak Alex.


Hingga foto terakhir mereka selesai, mereka semua melakukan pose semaksimal mungkin dalam mengekspresikan wajah mereka. begitu lucu dan hangat, tangan yang saling bergandeng, dengan ekspresi wajah yang riang nan gembira tercurahkan di dalam foto tersebut.


Hingga pada akhirnya, setelah pemotretan terakhir selesai, terdapat dua orang tinggi besar yang menghampiri mereka dari belakang. mereka berdua memakai helm serta masker wajah dan kacamata untuk menutupi wajah mereka.


Dengan sekejap, kedua lelaki tersebut melumpuhkan pergerakan mereka semua. Kedua kaki Lucas, Elmo, Issak dan Alex dipukul menggunakan tongkat kayu hingga mereka berempat terjatuh tak berdaya di salju yang tebal sementara Emma, Lia dan Anna ditarik paksa oleh mereka berdua.


Dengan sergap, kedua lelaki tersebut mengikat tubuh Emma, Lia dan Anna di pohon dengan papan yang telah terpasang sebelumnya. Kedua lelaki tersebut menggunakan papan kayu yang sudah terpasang sebelumnya sebagai pijakan agar tubuh Emma, Lia dan Anna terikat begitu tinggi di pohon. bisa dibilang, kedua kaki Emma, Lia dan Anna menyentuh papan yang berjarak kurang lebih 3 meter dari tanah dengan tubuh yang terikat rapat.


“lepaskan kami! Siapa kalian berdua!” teriak Anna dengan begitu emosinya.


“sakit tau!” teriak Lia berusaha melepaskan ikatan tali tersebut.


“apa yang kau lakukan kepada Anna? Lepaskan dia!” teriak Alex yang masih kesakitan tergeletak di tanah.


“siapa kalian berdua!” teriak Elmo yang masih tergeletak di tanah.


Tidak lama setelah itu, kedua lelaki tersebut menarik tubuh Elmo, Alex, Lucas dan Issak. Kedua lelaki tersebut melakukan hal yang sama seperti apa yang telah mereka lakukan kepada Emma, Lia dan Anna. Pada akhirnya, Emma, Lucas, Alex, Anna, Issak, Lia dan Elmo terikat di atas pohon yang tinggi.


“apa yang kau lakukan! Aku akan menelfon polisi!” teriak Lucas.


“tolong lepaskan kami!” ucap Lia dengan isak tangisnya.


“kalian tidak perlu menelfon polisi, aku yang akan menelfon mereka!” teriak salah satu lelaki tersebut.


Tidak lama setelah itu, kedua lelaki tersebut melepas helm, masker dan kacamata mereka dan menampakkan wajah asli mereka. saat mereka berdua memperlihatkan wajah mereka, Lia seketika mengenali kedua lelaki tersebut.


“apakah kalian berdua adalah teman Petra?” teriak Lia.


“wah, kau masih mengingat kita berdua” jawab bang Mike.


“aku memuji ingatanmu. Sekarang, teman kita akan memberitahukan hal penting kepada kalian bertujuh!” ucap bang Fred.


“apakah yang kau maksud adalah Petra?” tanya Lia.

__ADS_1


“tepat sekali” jawab Petra seketika berjalan dari balik salah satu pohon.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2