Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 18 [Pertarungan Jalanan]


__ADS_3

Saat Petra membacanya, ia sangat amat luar biasa terkejut. Isi dari surat tersebut adalah “biarkan papah Lia dan Lia menginap di dalam rumah. Jangan sesekali mereka keluar rumah. Papah Lia adalah orang kaya. Papah Lia sebenarnya adalah ketua koordinator pertambangan. Wajar saja jika banyak yang menginginkan hartanya. Jika mereka berdua sudah berangkat menggunakan mobil, mereka akan berjalan hingga ke jalan Saxophone, dan disana banyak sekali orang yang bersenjata akan menyerang papah Lia. bisa dibilang, disana akan ada kejadian pembegalan. Jadi, jangan sampai mereka pulang dan suruh mereka agar tinggal dirumah”


Saat itu juga, sekujur tubuh Petra begitu merinding. Matanya tak berkedip sama sekali. Nafasnya menjadi berat. Perlahan, air mata mulai membasahi pipi, tangannya bergetar ketakutan dan ia kesulitan bergerak. “entah kenapa, namun aku mematung ketakutan saat ini”.


“a-apa yang terjadi? kenapa? Siapa pelakunya? apa yang harus kulakukan? Aku takut, aku kedinginan, aku ingin minum susu hangat. tapi, papah Lia dan Lia sendiri membutuhkan bantuanku. Apa yang harus kulakukan?” fikirnya dalam hati.


Seketika saat itu juga, Petra mengingat perkataan dari dirinya dimasa depan saat ia bermimpi. Petra mengingat disaat dirinya terjebak di dalam kubangan lumpur, dirinya dimasa depanlah yang menolongnya.


“jangan sampai kau menyesal sepertiku. Jangan sampai kau putus asa sepertiku. Jangan sampai tubuhmu sepenuhnya tenggelam di dalam kubangan lumpur yang penuh dengan penyesalam sepertiku. Jangan sampai kau menjadi diriku di masa depan yang tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan”


Saat mengingat perkataannya, hatinya pun tergerak. Telapak tangannya mengepal dan tidak lagi bergetar. Tatapan matanya kembali begitu tajam dengan tekad yang sudah membulat.


“aku akan menghabisi para bajingan brengsek itu” ucap Petra dengan tatapan begitu tajam.


Dia berlari kedalam rumah dan kemudian menuju ke ruang tengah. Petra mengambil telefon rumah dan menekan tombol untuk memanggil seseorang. “aku butuh bantuanmu. Cepat ikut aku…..”


Disisi lain, saat papah Lia sedang meelwati jalan Saxophone, mobilnya di hadang oleh sekelompok anak muda. Pasalnya, terdapat kurang lebih 9 anak muda yang duduk di kursi tengah jalan. Spontan papah Lia sedikit terkejut dan mengerem mobilnya. ia juga membunyikan klakson mobilnya berkali kali namun nampaknya para pemuda itu tak kunjung beralih dari tengah jalan.


“si-siapa mereka?” fikir papah Lia.


Tidak lama setelah itu, salah seorang anak muda itupun berjalan menghampiri mobil dan mengetuk pintu kaca papah Lia.


“permisi paman. Kita semua butuh uang. Kita semua kehabisan minuman segar. Apa paman punya uang?” tanya salah seorang lelaki tersebut.


“tidak ada, cepat menyingkir dari jalan” tegas papah Lia kembali menutup kaca jendela mobilnya.


“ehh, kukira paman adalah orang yang sopan. Aku sudah berkata sedikit santun, tapi paman malah tidak menghargai kesantunanku. Dasar om om tua kurang ajar!” tegasnya seraya melempar busi motor ke arah jendela mobilnya.


Busi tersebut melayang hingga memecahkan kaca jendela mobil papah Lia dan mengenai pipi papah Lia. spontan pemuda tersebut memukul kaca jendela tersebut hingga pecah dan kemudian meraih kerah baju papah Lia.


“berikan semua uangmu atau kau akan lenyap disini!” tegasnya.


“ja-jangan. Lepaskan papahku” teriak Lia dari kursi belakang.

__ADS_1


“ehh? Ada perempuan. Apa dia adalah anakmu?” tanya lelaki tersebut.


“cepat lepaskan aku!” tegas papah Lia dengan nada masih menahan amarah.


“ohh, jadi dia adalah anakmu. Kalau kau tidak memberikan uangmu, biarkan kita bersembilan bermain main dengan anakmu yang manis ini” ucapnya dengan tawa sinisnya.


“jangan kurang ajar!” teriak papah Lia.


Papah Lia sudah kehabisan kesabaran. Spontan papah Lia meraih kerah baju lelaki tersebut dan kemudian menariknya dengan begitu keras. Papah Lia menarik kerah baju lelaki itu hingga tubuhnya ikut tertarik. Pada akhirnya, kepala dari lelaki tersebut terbentur dengan luar biasa keras ke arah pintu mobil tersebut.


Spontan lelaki itu melepaskan kerah baju papah Lia dan memegangi wajahnya. Terlihat dari benturan yang begitu keras, hidungnya sampai mengeluarkan darah segar dari kedua lubang hidungnya.


“da-dasar om om kurang ajar. Kau membuatku berdarah. Ini pasti akan seru” ucapnya dengan tawa sinis dan tatapan tajamnya.


Seketika, kedelapan temannya yang saat itu sedang duduk di kursi tengah jalan tiba tiba berdiri dan berjalan ke arah mobil tersebut. terdapat salah seorang dari mereka semua melempar sebuah batu yang begitu besar ke arah kaca mobil depan hingga kaca mobil tersebut pecah.


Lia hanya bisa berteriak ketakutan dari kursi belakang. sang papah pun keluar pintu dan berniat menghadapi kesembilan lelaki tersebut seorang diri bak pahlawan di cerita pendekar kuno China.


“tenang saja. saat mereka semua menghadapi papah, sebisa mungkin kamu harus kabur. Kalau bisa, kembalilah ke rumah Petra” tegas papah Lia menutup pintu mobil dari luar.


Papah Lia pun menatap tajam kesembilan lelaki tersebut. satu dibanding sembilan, itu angka yang tidak masuk akal. Pada akhirnya, papah Lia menghajar lelaki yang pertama. Papah Lia menghajar lelaki yang berhasil meraih kerah bajunya itu.


Papah Lia menendang biji dari lelaki tersebut, memukul matanya dan menendang perutnya. Setelah itu, papah Lia pun melepaskan dasi dari seragam kemejanya itu dan diikatnya kedua tangan lelaki tersebut.


Saat itu, hanya tersisa delapan orang. Spontan seketika kedelamapn orang tersebut bersama sama menyerang papah Lia. dengan ilmu beladiri yang tinggi, papah Lia hampir saja mampu melawan kedelapan orang tersebut. namun tidak disangka sangka, terdapat satu orang lagi yang bersembunyi dari balik tubuhnya.


Seketika lelaki di belakang tubuh papah Lia itupun memukul leher bagian belakang papah Lia menggunakan botol kaca minuman beralkohol hingga pecah. Spontan papah Lia begitu kesakitan, dirinya pusing dan tergeletak di aspal jalanan. Kedelapan orang tersebut pun pada akhirnya kembali memukuli tubuh papah Lia yang tergeletak di tanah hingga benar benar tidak berdaya. Lia yang melihatya dari dalam mobil tak kuasa melihat papahnya yang dihajar habis habisan di aspal jalan tersebut.


Hingga pada akhirnya, papah Lia pun tergeletak tak bergerak di aspal jalan, tak bergerak, tak berdaya, hanya memejamkan mata dan menahan rasa sakit serta mengatur nafasnya. Setelah itu, salah seorang dari mereka membuka pintu mobil papah Lia. ia melihat Lia yang menangis ketakutan di dalam mobil tersebut.


“tenang saja, papahmu baik baik saja. sekarang adalah waktu kita untuk bermain main” ucapnya dengan tawa sinisnya.


“ti-tidak mau, siapapun tolong aku!” teriak Lia dari dalam mobil.

__ADS_1


“cepat ikut aku!” tegas lelaki tersebut menarik paksa tangan Lia. Nampaknya lelaki tersebut adalah ketua dari geng jalanan tersebut.


“tidak mau, pokoknya aku tidak mau!” tegas Lia.


“cepat keluar!” teriak ketua geng tersebut menarik dengan begitu keras tubuh Lia hingga tubuh Lia terlempar dari dalam mobil ke aspal jalanan yang dipenuhi oleh dedaunan kering musim gugur.


Tubuhnya terjatuh ke aspal jalan yang keras nan dingin. Kepalanya yang pusing membuatnya tidak dapat bergerak dengan leluasa. Spontan lelaki tersebut menarik kedua tangan Lia dan menyeretnya di aspal jalan yang kasar itu.


Namun, disaat itu juga, suara teriakan Petra terdengar dari kursi tengah jalan. Seorang Petra Charleston Prakasa sudah datang untuk menyelamatkan mereka berdua dari berandalan jalanan bersama dengan bang Fred dan bang Mike di samping kanan kirinya.


Mereka bertiga duduk di kursi tempat sebelumnya geng itu duduk. Mereka bertiga duduk di kursi tengah jalan sembari mengunyah permen karet. Petra membawa tongkat baseball sementara bang Fred dan bang Mike membawa masing masing kunci inggris.


“siapa kalian semua? Kenapa kalian memalak orang di daerahku?” teriak bang Fred dari kejauhan.


“siapa kalian bertiga? Ini adalah mangsa kita” teriak salah seorang disana.


“ini daerahku, dan yang kalian tangkap adalah mangsa kita bertiga” teriak Petra sambil makan permen karet.


“gilak gue keren banget gak sih, it’s what like bassicaly which is gue keren cool abis kece mampus” fikir Petra dalam hati.


“jangan bodoh! Kalian yang tidak ikut terlibat tiba tiba ingin menikmati mangsa kita!” ucap salah seorang tersebut.


Spontan bang Mike melempar kunci inggris tersebut dengan begitu cepat dan akurat tepat mengenai rahang gigi dari lelaki tersebut. spontan lelaki tersebut berteriak sangat kencang kesakitan karena hampir seluruh gigi bagian atasnya mengeluarkan darah.


“jangan bodoh. Berani beraninya kalian menangkap mangsa di daerah kita” ucap bang Mike.


“dasar kurang ajar!” teriak salah seorang lelaki tersebut kembali melempar kunci inggris milik bang Mike.


Dengan cekatan, bang Mike menangkap kunci inggris tersebut dengan tangan kosong. “hap! terimakasih sudah dikembalikan” ucap bang Mike dengan senyum sinisnya.


Pada akhirnya, Petra, bang Mike dan bang Fred berdiri dari tempat duduk mereka bertiga. Mereka berjalan bersama sembari membawa senjata mereka masing-masing. Petra yang membawa tongkat baseball itu ia seret di aspal dan menghasilkan bunyi kayu yang terseret.


-BERSAMBUNG-

__ADS_1


__ADS_2