Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 19 [Hasil yang Memuaskan]


__ADS_3

Spontan geng jalanan itupun melakukan hal yang sama. Geng itu berlari bersamaan dan hendak menyerang mereka bertiga. Pada akhirnya, saat geng itu sudah mendekat, mereka bertiga mengeluarkan cat semprot yang sudah mereka bawa sebelumnya di saku celana masing-masing dan mereka semprotkan ke arah mata mereka bersembilan.


Dengan kata lain, masing masing dari mereka menyemprotkan pilox ke tiga orang. Pada akhirnya, 6 orang disana geng itu seketika tumbang sebab serangat kejutan dari mereka bertiga. pertarungan mereka sangatlah sengit, bahkan Petra berulang kali diserang dari belakang, namun sebisa mungkin kedua abangnya itu melindunginya dari belakang.


Setelah mereka bertga menyemprotkan pilox ke wajah mereka, keenam orang tersebut seketika terjatuh dan memegangi kedua mata mereka. disaat yang bersamaan pula, keenam orang tesebut dipukul dibagian pundak kanan mereka hingga mereka seketika tak berdaya seketika ditempat.


Hanya tersisa tiga banding tiga. Masing masing dari mereka menghadapi satu orang dari geng itu. Dan sangat kebetulan sekali kalau Petra harus menghadapi ketua geng yang telah memukul kepala papah Lia dan yang telah menyeret Lia hingga keluar dari mobil.


“kau adalah lelaki yang telah memukul leher belakang om om itu bukan?” tanya Petra.


“memangnya kenapa?” tanya lelaki tersebut dengan begitu negegas.


“kau juga adalah lelaki yang telah menarik paksa perempuan dari dalam mobil itu bukan?” tanya Petra.


“yap, dia cantik sekali. padahal sebentar lagi, aku akan bermain main dengannya. Jadi, aku harus mengurusmu terlebih dahulu baru aku bisa menikmati tubuh perempuan itu” ucapnya dengan terengah nafasnya.


Spontan saat itu juga, Petra menendang kaki lelaki tersebut dengan begitu keras hingga dirinya terdorong kebelakang. Dengan cepat, aku memukul tulang kering kedua kaki lelaki tersebut menggunakan tongat baseball nya hingga mengeluarkan suara layaknya kerupuk yang terinjak.


Spontan dirinya berteriak luar biasa kencang sebab kesakitan. Ia pun melanjutkan dengan menendang wajahnya menggunakan telapak kakinya hingga tubuh lelaki tersebut terjatuh kebelakang secara telentang. Ia pun memukul dengan sangat amat keras kedua ketiak lelaki tersebut hingga lengannya patah dan tak bisa bergerak.


Petra memasukkan tongkat baseballnya kedalam mulutnya hingga tulang rahangnya berbunyi layaknya sebuah kayu yang patah. Selanjutnya, Petra baru melampiaskan amarahnya kepada lelaki itu. Petra duduk di perutnya dan memukuli habis habisan wajahnya. Bertubi tubi pukulan. Puluhan pukulan ia lancarkan menggunakan kepalan tangannya itu. hidungnya berdarah dan sedikit penyok. Mata kirinya tak mampu lagi untuk terbuka, namun Petra masih saja memukulinya.


Petra tetap memukulinya walau ia susah bernapas. Nafasnya terengap engap namun Petra tetap saja memukulinya. Selanjutnya, Petra memukuli wajahnya menggunakan tongkat baseball dengan kejamnya. Petra berbisik kedepan wajahnya langsung yang sudah penuh akan darah.


“asal kau tau. Perempuan itu adalah pacarku. Kau salah besar karena sudah memperlakukan mereka dengan tidak baik. Aku akan membuatmu merasa menyesal telah terlahir di dunia ini” bisiknya di hadapan mukanya.


“ma-maaf, a-aku sudah menyerah” ucapnya dengan memuntahkan darah.


Pada akhirnya, Petra pun berjalan ke arah papah Lia dengan menginjak wajahnya menggunakan kakinya dan melewatinya. Petra berjalan menemui papah Lia dan mencoba melihat kondisinya.


“apa papah baik baik saja?” tanya Petra sembari memegang tangan papah Lia.


“a-aku hanya kelelahan dan kesakitan. Terimakasih telah menolongku dan menolong Lia” bisik papah Lia kepada Petra.


“aku akan membiarkanmu menginap di rumahku. Kau bisa bertemu dengan mamahku lagi” ucap Petra.


“hehe, mamahmu sangat cantik bukan? Aku sangat ingin menikahinya dan membuatnya menjadi mamah Lia” ucap papah Lia.


“lebih baik, papah lanjutkan tidurmu dan bermimpilah untuk menikahinya disana” tegas Petra seraya sedikit menampar pipi papah Lia.


“aww, itu sakit” ucapnya dengan suara lirihnya.

__ADS_1


“tenang saja, aku akan merawatmu dirumah. Tapi jangan beritahu mamah kalo aku yang menyelamatkan kalian. kalau mamah sampai tau, wafat riwayatku” jawab Petra.


“ternyata preman penguasa daerah juga anak mamah, hahaha” ucap papah dengan tawa disertai batuk mengeluarkan darah.


“jangan kebanyakan omong, ntar cepet mati” tegas Petra.


“dasar kurang ajar!”


Kemudian Petra pun berjalan ke arah Lia yang saat itu hanya menatap kejauhan di aspal jalanan. Lia menatap Petra dengan tatapan mata yang berkaca kaca. Tatapan matanya mengindikasikan suasana hatinya. Saat itu juga, Petra mengetahui isi hati Lia. dia ketakutan, dia kedinginan dan juga dia kesakitan. Tapi disisi lain, dia juga merasa senang, merasa bahagia dan sudah merasa aman.


Saat Petra mendatanginya, spontan dirinya melompat dan memeluk tubuhnya erat. Rasanya seperti mimpi, bagaikan menjadi pahlawan berkuda membawa pedang, ia menyelamatkan tuan Putri dari marabahaya. Ia memeluk balik tubuhnya dan memegang erat tangannya yang begitu dingin itu.


“padahal kamu harusnya istirahat, tapi malah main main dengan para lelaki itu” ucapnya seraya mengusap air mata Lia di pipinya.


“a-aku tidak bermain main, bodoh. Aku pusing” tegasnya.


“aku akan membawa papahmu itu kerumahku kembali dan merawatnya disana. aku juga akan merawatmu lagi. selama itu, jangan terlalu memikirkan kondisimu dan istirahatlah” tegas Petra.


“tapi, bagaimana kamu bisa tau kalau disini juga ada preman?. Apa preman preman ini adalah temanmu?” tanya Lia.


“yaahh, bisa dibilang, anggap saja aku ini adalah penyihir yang bisa melihat masa depan. dan aku berlari kemari untuk menyelamatkanmu dari para kurcaci kecebong ini” jawab Petra.


“bisa aja kamu. Jadi, apa kamu bisa tau masa depanku?” tanya Lia sedikit tertawa.


“doakan aku bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Doakan aku bisa melakukan hal itu. dan doakan supaya aku bisa hidup selama itu” ucapnya dengan tetesan air matanya.


“anakmu akan nakal sama seperti ibunya nanti” jawab Petra.


Selepas itu, barulah Petra mengangkat tubuh Lia dan meletakkannya ke kursi tengah mobil. Setelah itu, Petra dan bang Fred juga berusaha menggendong tubuh papah Lia dan meletakkannya di kursi tengah mobil pula.


Pada akhirnya, Petra menyuruh bang Fred untuk menyetir mobil karena hanya dia yang bisa menyetir mobil.


Bang Fred pun membawa mobil yang rusak tersebut bersama dengan papah Lia dan Lia sendiri kerumah Petra. Bang fred menyuruh sang ibunda untuk mengurus mereka berdua, sedangkan Petra dan bang Mike mengurus kesembilan preman itu.


“bagaimana cara kita membereskan mereka semua?” tanya bang mike.


“kita akan meletakkannya ke kantor polisi” tegas Petra.


“ja-jangan letakkan kami ke kantor polisi” sahut salah satu lelaki disana.


“lihatlah teman temanmu ini. teman temanmu sudah kesakitan dan tergeletak di tengah jalan. Itu semua ulah kalian sendiri. jika kalian tidak ingin kita mengurusnya ke kantor polisi, cepat bawalah teman temanmu ini dan amankan mereka. bereskan semua ini. bawa semua teman temanmu kerumahnya masing masing dengan cepat. Kalau tidak, aku akan membawa kalian semua ke kantor polisi” tegas bang mike.

__ADS_1


“apa kalian semua masih sadar?” tanya Petra sedikit berteriak lantang.


“ma-masih” jawab mereka semua dengan nada begitu lirih kesakitan.


“kalian semua berdirilah atau aku akan menghajar kalian semua” tegas Petra.


Maka dari itu, mereka bersembilan pun berdiri dengan kondisi tubuh begitu parah. Mereka semua berbaris dihadapan Petra dengan kondisi begitu memprihatinkan.


“sekarang, aku minta kalian kembali kerumah kalian masing masing. Aku memiliki anak buah lainnya di setiap ujung kompleks, jadi jika aku masih melihat kalian belum pulang kerumah kalian, aku akan menyuruh anak buahku untuk menghajar kalian. apa kalian paham?” tegas Petra.


“paham” jawab mereka semua serentak.


“Sekarang, pergilah” tegas bang Mike.


“baik” jawab mereka semua.


Pada akhirnya, mereka semua pun berjalan menjauhi tempat itu. Petra dan bang mike membereskan bangku kursi yang menghalangi jalan tersebut. mereka berdua membereskan pecahan kaca mobil, pecahan botol kaca, dan juga menata kursi bangku di pinggir jalan.


“benar benar merepotkan” ucap bang mike.


“ma-maaf telah menelfon kalian berdua di jam malam seperti ini” ucap Petra kepada bang mike.


“itu tidak apa. Aku tidak bisa membaayangkan kalau kau menghadapi mereka bersembilan sendiri. untungnya kau masih punya aku dan Fred” ucap bang mike.


“aku sangat berterimakasih sekali”.


“jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya bang mike.


“bang mike boleh pulang melanjutkan nonton sepak bola nya”.


“akhirnya, aku bisa melanjutkan nonton bola ku” jawab bang mike begitu menghela nafas dalam.


“kalau begitu, bang mike boleh membawa sepeda kayuhku. Rumah bang mike agak jauh, jadi bang mike boleh membawanya. Aku akan berjalan kaki kerumah” jawab Petra.


“be-benarkan? Waahh, makasih banyak ya” ucap bang mike sereaya mengalungkan tangannya ke leher Petra kuat-kuat.


“le-lepaskan aku, aku tidak bisa napas. Uueegghh….” Ucap Petra sedikit berteriak.


“hehehe, makasih banyak ya. Aku akan pulang dulu. Hati hati di jalan” jawab bang mike.


“wokeh”.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, bang Mike pun pergi meninggalkan Petra seorang di tempat tersebut. ia berjalan di tengah dinginnya malam, bersama dengan tongkat baseball ku yang penuh akan darah.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2