Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 43 [Pengeksekusian Petra]


__ADS_3

Dengan begitu nekatnya Elmo saat itu, ia memanjat pohon satu persatu. ia berniat untuk melepaskan tali yang mengikatnya di pohon menggunakan silet yang telah ia bawa sebelumnya.


Tali yang mengikat tubuh mereka terlepas dan tubuhnya terjatuh dari ketinggian 3 meter. Untungnya ia mendarat di tumpukan salju yang tebal, maka kakinya yang lebam tak begitu merasakan sakit.


Ia segera melepaskan ikatan tali yang mengikat semua teman temannya. Satu persatu tali ia lepaskan dan semuanya pun terbebas dari tali tersebut. mereka semua mulai menghampiri Petra yang tergeletak lemas tak berdaya di hadapan mereka. darah berlinang kemana mana. Salju yang sebelumnya putih bersih menjadi merah layaknya sirup marjan. Nafasnya tak beraturan dan jari telunjuk yang tak hentinya berkedut.


“seharusnya aku tau kalau di tebing ini akan banyak binatang buas, seharusnya aku memilih tempat lain” ucap Lia membuka lebar matanya dengan kedua alis yang terangkat.


“ini bukan salahmu, ini salah Petra sendiri. dia ingin menghadapi serigala itu sendirian. Kenapa dia malah mengikat kita di atas sana? Kita tidak bisa membantunya” ujar tegas Lucas.


“kenapa dia mengikat kita?” tanya Alex menundukkan kepalanya.


Dengan begitu cerobohnya Lia, ia berjalan menghampiri Petra dan mulai menggenggam telapak tangannya.


“hentikan itu Lia” sahut Issak.


“kenapa? Aku ingin tangannya tetap hangat” jawab Lia.


“seluruh tubuhnya sangat kesakitan saat ini. dia tidak mungkin bisa bertahan. Dia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk menghentikan pendarahannya. Jika ada satu sentuhan saja, itu akan sangat menyakitkan baginya” jawab Issak.


“tapi-“ ucap Lia tersahut henti.


“lepaskan itu, Lia” sahut Elmo.


“lepaskan tanganmu dari Petra” sahut Emma.


“dia benar, tinggalkan Petra disini, aku akan segera mencari bantuan” sahut Alex.


“aku hanya ingin memastikan bahwa Petra baik baik saja” begitu ngeyelnya Lia memaksa untuk tetap berada di samping Petra.


“LEPASKAN TANGAN PETRA!!” tegas Elmo membentak keras.


“AKU TIDAK MAU!!” teriak balik Lia.


Namun tidak lama setelah itu, terdapat beberapa mobil polisi yang terlihat bergerak di bawah tebing. Beberapa saat setelah itu, beberapa polisi datang bersama dengan senjata api masing masing dan pakaian dinas mereka. Bersama dengan bang Fred dan bang Mike, beberapa polisi tersebut seketika melumpuhkan pergerakan teman teman Petra disana.


“ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA!!” teriak salah satu personil polisi disana.


“ada apa ini?” tanya Emma dengan paniknya.


“tunggu dulu pak, kita tidak bersalah!” teriak Lucas.


“ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA!” teriak seorang polisi tersebut sambil menodongkan pistolnya ke arah masing masing dari teman Petra.


Satu persatu dari mereka mulai mengangkat tangannya. Lia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Petra dan mulai mengangkat kedua tangannya pula. Salah satu polisi disana merebut silet yang sebelumnya berada di tangan Elmo dan kemudian mengamankannya.


satu persatu dari mereka mulai berjalan ke arah polisi tersebut. Kedua tangan mereka mulai di borgol di belakang badan mereka dan benar benar melumpuhkan pergerakan mereka semua.


“sebenarnya ada apa ini?” teriak Anna begitu ketakutan.


“aku juga tidak tau” jawab Alex.


“semuanya akan kita berdua jelaskan nanti di kantor polisi. Untuk sekarang, biarkan para polisi disini mengurus tubuh Petra dan membawanya ke rumah sakit terdekat” sahut bang Mike.


“tunggu dulu, bukannya kau adalah orang yang sebelumnya memukul kaki kita?” tanya Lucas.


“kita akan menjelaskan semuanya satu persatu” tegas bang Mike.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, satu persatu dari mereka mulai berjalan menuruni tebing dengan keadaan kedua tangan mereka yang terikat borgol. Setelah itu, mereka mulai memasuki mobil polisi yang telah tersedia disana. Bersama dengan bang Fred, Lia disambut hangat olehnya bersama dengan bang Mike pula.


“apa kamu masih ingat aku?” tanya bang Fred kepada Lia.


“kau adalah bajingan yang menggodaku di bazar bersama dengan Petra saat lalu” jawab Lia dengan tatapan tajamnya.


“aku tau kau masih ingat. Syukurlah” jawab bang Fred.


“kalau begitu, apa semuanya sudah dijemput?” tanya salah satu polisi disana.


“aku dan Fred akan mengurus tubuh Petra disini. Bawalah mereka semua ke kantor polisi sedangkan biarkan kita berdua yang mengurus administrasi pembayaran di rumah sakitnya” jawab bang Mike.


“baiklah kalau begitu” jawab polisi tersebut.


Mereka semua memasuki mobil polisi dan dibawanya ke kantor polisi terdekat. Sedangkan bang Mike dan bang Fred sedang mengurus tubuh Petra yang masih tergeletak di salju itu bersama dengan sisa beberapa polisi disana.


“bagaimana dengan kondisi Petra?” tanya bang Mike kepada salah seorang polisi yang sedang melakukan dokumentasi disana.


“dilihat dari lukanya, sepertinya perkataan kalian berdua benar. Dia di serang oleh sekawanan serigala Liar. Hampir sekujur tubuhnya sudah sangat rusak akibat cakar dan gigitan serigala itu. namun sepertinya serangan itu tidak sampai melukai organ dalam” jawab sang polisi.


“kalau begitu, cepat buka kaus kaki kanannya. Didalamnya terdapat satu surat” ucap bang Mike.


“baik” jawab polisi tersebut.


Salah seorang polisi membuka sepatu yang dikenakan oleh Petra dan kemudian melepaskan kaus kakinya. Saat itu, di dalam kaus kaki Petra terdapat semacam sebuah plastik yang membungkus semacam surat amplop.


“apa apaan ini?” tanya polisi tersebut.


“itu adalah formulir pendonoran jantung untuk Lia” jawab bang Fred.


“Lia siapa?” tanya polisi itu.


Saat polisi tersebut membuka amplop tersebut. Disana tercantum surat formulir dengan data diri atas nama Petra yang akan mendonorkan jantungnya untuk Lia. Dengan tanda tangan resmi disertakan saksi nyata dan pengakuan dari pihak rumah sakit, formulir tersebut dinyatakan sah dan resmi.


“dikarenakan orang tua kandung Petra sudah tidak ada, dan diperlukan wali sebagai saksi, maka aku dan Fred adalah saksi nyata di surat itu. dan kita tidak bisa melawan Petra. Hanya ada ibu tirinya di kota ini, namun sepertinya kita lebih baik yang bertanggungjawab atas insiden ini” jawab bang Mike.


“kita harus segera mengirim tubuh Petra ke rumah sakit yang ada di dalam surat itu” ucap bang Fred.


“di surat ini dituliskan kalau rumah sakit yang bertanggungjawab untuk memindahkan jantung Petra ke jantung Lia berada di Ukraina. Itu sangat jauh” ucap polisi tersebut.


“disebutkan di dalam surat tersebut jika Petra adalah pihak yang menjual organ tersebut dan dibeli oleh papah Lia. Maka pembayaran akan dipertanggungjawabkan oleh papah Lia. Tidak peduli seberapa mahal itu, papah Lia yang akan bertanggungjawab dalam semua proses pembayaran” tegas bang Mike.


“kalau begitu, kita harus koordinasi terlebih dahulu kepada orangtua Lia” jawab sang polisi.


“untuk sementara, biaya transportasi akan kita berdua tanggung, namun selebihnya di rumahsakit, itu akan menjadi tanggungjawab papah Lia. Setidaknya hanya itu yang bisa kita bantu sebagai saksi nyata” tegas bang Fred.


“kalau begitu, kita harus ke bandara sekarang juga” tegas pak polisi.


“baik” jawab mereka berdua.


Dengan cekatan, mereka semua memanggil ambulans untuk menjemput tubuh Petra. Bersama dengan bang Fred dan bang Mike, mereka berdua menemani Petra yang sedang tertidur di dalam mobil ambulans itu.


“benar benar anak yang sangat berani” ucap bang Fred sedikit tertawa.


“dia sangat nekat, tapi dia tidak takut akan resiko. Itu benar benar sangat bodoh” ucap bang Mike dengan tawa bangganya.


“kita akan segera membawamu ke Ukraina untuk menemui kedua orangtuamu disana” ucap bang Fred mengelus kepada Petra yang sudah dipenuhi oleh darah kering yang lengket nan dingin dari salju.

__ADS_1


Perjalanan ambulans pergi ke salah satu rumahsakit terdekat dari sana. Di rumah sakit itu, Petra sedikit dieksekusi. Hanya untuk menghilangkan rasa nyeri dan menutup luka Petra agar ia tidak terlalu banyak kehilangan darah.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bang Fred dan bang Mike kemudian menaiki ambulans lagi bersama dengan tubuh Petra yang hampir seluruh tubuhnya sudah dibalut perban. Mereka bertiga bersama dengan dua buah mobil polisi menggiringnya ke bandara terdekat untuk melihat jadwal penerbangan disana.


“Petra berkata jika dia sudah sempat pergi ke bandara ini untuk melihat jadwal pemberangkatan pesawat. Dan dia berkata kalau akan ada pemberangkatan pesawat dari bandara ini menuju ke Bangladesh kemudian barulah ke Odessa” ucap bang Mike.


“dia sudah mempersiapkan ini dengan sangat matang” ucap bang Fred.


Sesampainya disana, untungnya mereka tidak terlambat pesawat. Dibantu oleh pihak bandara, tubuh Petra diletakkan di ruang VIP dengan fasilitas perawatan yang terjamin. Dengan begitu, pihak rumah sakit mampu merawat tubuh Petra selama berada di perjalanan udara.


“kira kira, berapa lama hingga pasien menuju ke Odessa?” tanya bang Mike kepada salah satu pramugara di maskapai penerbangan tersebut.


“kuranglebih 4 jam 10 menit tanpa transit” jawab pramugara tersebut.


“apakah pasien akan baik baik saja diatas sana?” tanya bang Mike.


“pihak rumahsakit sudah mengirimkan 2 perawat untuk menjaga agar pasien tetap selamat saat perjalanan. Sebisa mungkin kita akan melakukan penerbangan seaman dan semaksimal mungkin” jawab pramugara itu.


“baiklah kalau begitu. Apa aku boleh ikut masuk?” tanya bang Mike.


“kau tidak punya tiketnya, dasar bodoh!” sahut bang Fred menggeplak kepada bang Fred.


“mohon maaf, kita tidak menerima penumpang tanpa tiket” jawab pramugara tersebut.


“tuhkan!” sahut bang Fred.


“aku hanya khawatir” ucap bang Mike.


“anda tidak perlu khawatir, jika pasien sudah berada di rumahsakit yang telah ditentukan, pihak rumahsakit disana akan segera menghubungi yang bersangkutan” jawab pramugara itu.


“baiklah kalau begitu, kita berdua sangat berterimakasih atas pelayanannya” ucap bang Fred.


“sama sama, terimakasih telah mempercayai maskapai penerbangan kita” jawab pramugara itu.


Hingga akhirnya, bang Fred dan bang Mike melihat tubuh Petra untuk terakhirkalinya dari kejauhan. Tubuhnya yang lemah tak berdaya terbaring di kasur berjalan yang didorong oleh dua perawat.


Mereka berdua hanya bisa melihat tubuh Petra yang mulai menjauh hingga tak nampak mata. Bang Fred dan bang Mike pun kemudian berbalik tubuh dan berjalan ke arah pintu keluar bandara tersebut.


Mereka dijemput oleh salah seorang polisi yang menemani mereka sebelumnya. Polisi tersebut segera menjemput bang Fred dan bang Mike untuk pergi ke kantor polisi demi menjadi saksi pembenaran teman teman Petra.


“apa sudah selesai semua?” tanya sang polisi itu.


“sudah selesai. Kita berdua hanya bisa menunggu apakah proses transplantasi jantung itu berhasil atau tidak” jawab bang Fred.


Mereka bertiga akhirnya mulai memasuki mobil polisi dan bergerak kembali menuju kantor polisi. Di jam setengah sebelas malam itu, salju begitu deras. Jalanan ditutupi oleh salju yang kotor sebab ban mobil yang melindasnya. Putihnya salju tidak lagi putih sebab berada di tempat yang salah. Namun bukan salah salju, namun salah pengotor.


“ini benar benar aneh bukan. Aku harus bagaimana untuk membuat laporan insiden kali ini. benar benar insiden yang sangat unik” ucap sang polisi sambil menyetir di depan.


“setidaknya tidak lebih dari satu korban malam ini” ucap bang Fred.


“jadi maksud kalian, ada kemungkinan kalau korbannya lebih dari satu?” tanya polisi itu.


“itu yang diketahui Petra. Dan itu yang dilakukan Petra” jawab bang Mike.


“apa maksud kalian apa Petra sudah mengetahui jika akan ada penyerangan serigala?” tanya polisi tersebut.


“memangnya ini hanya sebuah kejadian ketidaksengajaan? Itu sangat tidak mungkin” jawab bang Mike.

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2