
“ehh, mamah?” tanya Petra memasang raut wajah begitu panik dan gelisah.
“mamah?” tanya balik Lia seraya menatap ke arah mamah Petra.
Seketika saat itu juga, Petra dan Lia melepaskan pelukan mereka dan berdiri menghadap sang mamah. Mereka berdua seperti anak nakal yang dihukum berdiri di depan kelas karena tidak taat peraturan.
“siapa dia?” tanya sang mamah kepada Petra.
“ma-maaf mah, aku hanya mengantarnya pulang. Lagipula, kenapa mamah ada disini?” tanya Petra balik.
“kamu masih belum memperkenalkan perempuan yang sedang kamu peluk itu. Siapa dia?” tanya mamah dengan sedikit melirik ke arah Lia.
“perkenalkan, namaku Lia, aku pacarnya Petra” ucap Lia dengan senyum tulusnya.
“pa-pacarnya Petra? Jadi kamu sudah punya pacar?” tanya sang mamah dengan nada begitu terkejut.
“ma-maaf mah, aku menyembunyikan ini dari mamah karena Petra takut kalau mamah akan marah” jawab Petra dengan nada terbatah batah.
“yahh, sudahlah,… lagipula Petra, anakku sudah besar dan dewasa. Rasa saling suka pasti akan ada” ucap mamah menghela nafas lepas sembari menepuk jidatnya.
“ma-maaf” jawab Petra.
“lagipula, kenapa kalian berdua malah kencan di tempat yang seperti ini? apa kalian tidak memiliki tempat lain?” tanya sang mamah.
“a-aku hanya membelikan es krim kepada Lia” jawab Petra.
“hah? es krim? Di cuaca seperti ini dan suhu sedingin ini, kamu malah membelikan perempuan es krim? Dasar lelaki yang tidak peka” ucap sang mamah menekuk lengannya.
“tuhkan, mamah kamu juga tau kalau aku tidak mau es krim. Aku mau makanan yang hangat dan berkuah” ucap Lia dengan nada begitu manja.
“yaudahlah, aku akan membelikanmu” jawab Petra.
“kalian tidak perlu membelinya, mamah sudah memasak sup daging di rumah beserta minuman jahe. Apa nak Lia mau ikut?” tanya sang mamah.
“aku mau ikut, tante” sahut Lia dnegan nada begitu bersemangat.
“tunggu dulu, kenapa matamu bengkak dan sedikit merah? apa kamu habis menangis?” tanya sang mamah sedikit mengelus pipi Lia.
“ti-tidak apa apa, tante. Petra baru saja menyelamatkanku dari dua preman pasar” jawab Lia.
“Waahh, ternyata Petra sudah mulai sok menjadi pahlawan” ucap sang mamah begitu menggoda Petra.
“apaansih mamah. Sudahlah, mamah pulang aja dulu. Nanti kita berdua akan menyusul” tegas Petra.
“kalau begitu, mamah pulang dulu. Kalian berdua jangan pulang terlalu larut. Cuaca malam sangat dingin. Dan juga untuk Petra, jangan nakal nakal dengan Lia, jangan biarkan Lia melakukan hal berat” tegas sang mamah berjalan menjauh.
__ADS_1
“baik, tante” jawab Lia sedikit berteriak dan melambaikan tangannya jauh.
Setelah mamah pergi dan meninggalkan mereka berdua, Petra mengajak Lia untuk segera kembali memasuki bazar dan membayar pakaian dalam yang telah dipilih oleh Lia.
Pada akhirnya, Petra dan Lia kembali kedalam bazar dan kembali ke salah satu stand penjual pakaian dalam. Dikarenakan Lia tidak membawa uang sepeserpun, maka Petra harus membayarnya demi pakaian dalam Lia.
Dan juga, setelah itu, Lia mampir ke kamar mandi umum sebentar hanya untuk mengenakan pakaian dalamnya itu. Petra menunggu di luar kamar mandi umum sembari memakan es krim jatah milik Lia.
Pada akhirnya, Lia telah mengenakan pakaian dalam barunya itu. Nampaknya, wajah Lia terlihat begitu lega setelah mengenakan pakaian dalam barunya itu.
“bagaimana? Apa tidak terlalu kecil?” tanya Petra.
“jangan bahas itu lagi, aku malu” jawabnya.
“hehehe, maaf. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang” tegas Petra.
“tidak mau” sahutnya.
“ehh? Kok tidak mau?” tanya balik Petra.
“aku sudah berjanji akan pergi kerumahmu dan memakan sup buatan mamahmu. Aku pengen makan makanan yang hangat” jawabnya.
“tapi, apa kamu yakin mau ke rumahku?. Itu bukan rumah, itu malah lebih mirip kantor desa. Ruang tamunya mirip aula yang luas sementara terdapat beberapa kamar diatas. Aku memanggilnya panti asuhan” tutur Petra.
“sebenarnya, aku terlahir dalam kondisi yatim piatu. Pada akhirnya, aku diadopsi oleh mamah tiriku tadi bersama dengan nenek tua di panti tersebut. Walau namanya panti asuhan, namun disana hanya aku yang dirawat. Maka dari itu, kita bertiga menganggap kalau itu hanyalah sebuah rumah yang ditinggali oleh 3 orang yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali” jawab Petra.
“ma-maaf aku telah menanyakan hal tidak sopan seperti itu” sahut Lia menundukkan kepalanya.
“kenapa harus minta maaf? Itu tidak masalah buatku. Dan juga, jika kamu masih bersih keras ingin pergi menemui nenek dan mamahku, silahkan saja. Tapi mereka berdua sangat cerewet. Mereka berdua akan mengajakmu mengobrol seharian penuh tanpa istirahat” jelas Petra.
“aku suka bercerita dan mendengarkan orang bercerita” jawabnya.
“yaudahlah, mau bagaimana lagi. Kita berdua memang sudah berjanji untuk pulang kerumahku” jawab Petra dengan nada begitu terpaksa.
“baiklah, ayo kita berangkat” ucap Lia dengan penuh semangat mengangkat lengan kanannya.
“hiya, ayoouu” ucap Petra dengan nada begitu lesu.
Perjalanan dari bazar kerumah tidak begitu jauh. Hanya berkisar kurang lebih 10 menit berjalan kaki. Selama itu, Petra dan Lia sesekali berhenti untuk membeli minuman hangat di vending mechine pinggir jalan.
Pada akhirnya, di jam 04:49 PM, Petra dan Lia sampai ke rumah yang megah dan…. mirip dengan kantor kelurahan. Petra membuka pintu dan melepas sepatu, begitupula dengan Lia yang mengikuti apa yang Petra lakukan.
Petra dan Lia meletakkan sepatu di rak sepatu depan, dan kemudian barulah berjalan memasuki pintu rumah. Dari depan pintu rumah, aroma masakan yang begitu kaya akan rempah itu tercium begitu jelas. Petra dan Lia spontan mengeluarkan suara perut keroncongan bersamaan.
Mereka berdua berjalan ke ruang tengah, dimana ruang tengah tersebut begitu luas layaknya sebuah aula. Petra mengajak Lia untuk pergi ke dapur menemui mamah yang sedang memasak didalam dapur rumah itu.
__ADS_1
“aku pulaangggg!!!” teriak Petra memasuki dapur.
“permisi” ucap Lia dengan nada lembutnya.
“ehh, kalian berdua sudah datang. Apa kalian berdua mau membatu mamah?” tanya sang ibunda seraya memotong bawang di telenan dapur.
“boleh, tante” jawab Lia.
“kalau begitu,tolong masukkan potongan sayur itu kedalam rebusan kaldu sup yang sudah mulai blukutuk-blukutuk di kompor” tegas sang mamah.
“aku akan mandi dan mengganti pakaian dulu di kamar. Lia, tolong bantu mamah sebentar. Aku mau keatas dulu” ucap Petra sembari berjalan meninggalkan dapur.
“baik” jawab Lia.
Petra membiarkan Lia untuk membantu mamah memasak di dapur sementara aku sendiri berjalan ke lantai atas. Petra memasuki kamar, mengambil handuk, berjalan ke kamar mandi, membasuh tubuhnya, kemudian kembali kedalam kamar, mengganti pakaian dan kemudian kembali ke dapur bawah.
Ia kembali menemui Lia dan mamah yang tengah memasak di dapur. Saat Petra memasuki dapur, dirinya sedikit terkejut sebab saat itu sang ibunda sedang memberi plester ke arah jari milik Lia.
“a-apa yang terjadi?” tanya Petra begitu terheran.
“aku tidak sengaja menggores jariku sendiri saat menggunakan pisau” jawab Lia.
“tenang saja. semuanya pasti akan belajar dari nol. Dulu, saat mamah masih kecil, mamah juga belajar memasak dan pastinya jari mamah juga tergores pisau. Semuanya pasti tidak bisa dari awal, maka dari itu, kita harus belajar. Sama seperti belajar mengendarai sepeda kayuh, jika orang tersebut terjatuh saat belajar mengendarai sepeda kayuh, itu berarti orang itu sudah mampu menjadi pengayuh yang handal. Seorang pelaut sejati terlahir dari ombak samudra, bukan dari sungai dangkal” jelas sang mamah.
“widih buset, udah jadi kek filsafat” ucap Petra.
“dah, mamah sudah selesai membalut lukamu dengan plester. Apa masih sakit?” tanya sang mamah kepada Lia.
“sudah tidak. Makasih ya mah” jawab Lia dengan senyum tulusnya.
“sama sama, nak. Sekarang, lebih baik kamu melihat mamah memasak, jangan terlalu banyak bergerak, nanti lukamu terbuka lagi” tegas sang mamah mengelus kepala Lia.
“baik” jawab Lia menganggukkan kepalanya.
“dasar ceroboh, menggunakan pisau saja tidak bisa” ucap Petra dengan nada begitu mengejek.
“jangan berisik, aku masih belajar. Aku tidak pernah memegang pisau sebelumnya” jawab Lia dengan nada begitu juteknya.
“hilih, alasan” ucap Petra menjulurkan lidahnya.
Seketika saat itu, terdengar bunyi bel rumah. Spontan Petra berlari untuk membukakan pintu depan dan menemui seseorang yang menekan bel tersebut.
Saat dirinya membuka bel tersebut, Petra begitu terkejut karena ia mendapati jika kembarannya datang pada sore hari. Kembarannya itu selalu memberikan surat kepadanya seperti setiap pagi hari, maka dari itu Petra begitu terkejut dan tidak menyangka melihat kembarannya datang saat sore hari.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1