
Seperti makam pada umumnya, banyak pepohonan, rerumputan yang memenuhi tanah, batu nisan yang menancap dengan pagar disekelilingnya, sementara banyaknya karangan bunga yang terpajang di area makam milik orang lain. namun dikarenakan hari ini adalah desember, maka sebagian besar permukaan telah tertutupi salju sekalipun itu dedaunan di pohon.
Faktanya, letak makam milik nenek sedikit dalam dan lebih jauh dari yang Petra bayangkan. Perlu beberapa saat sampai makam nenek akhirnya ditemukan. Letak makam nenek berada di ujung tenggara wilayah pemakaman dan memakan waktu kuranglebih 2 menit untuk sampai di makam milik nenek.
Sesampainya disana, terlihat jika masih ada foto wajah milik nenek yang bersandar di batu nisannya. Petra melihatnya dan mulai merasakannya. Ia merasakan akan adanya perasaan yang masih tersambung antara perasaannya dengan perasaan nenek. Layaknya sebuah tali benang yang dirajut dan terbentuk sebuah syal yang menghangatkan orang, semakin dekat kedua orang pemegang benang tersebut, semakin dekat pula jangkauan benang mereka. dan itulah yang Petra rasakan saat itu.
“maaf, mah. Kurasa aku hanya ingin sendiri saat ini” ucap petra kepada mamah.
“mamah akan memberimu waktu” jawabnya.
“terimakasih banyak” ucap Petra.
Pada akhirnya, mamah hanya duduk di kursi yang telah disediakan di bawah pohon yang begitu besar di tengah tengah makam sementara Petra hanya jongkok dan mengelus bingkai foto wajah neneknya itu.
“kertas dan pena yang nenek berikan kepadaku adalah simbol kalau nenek selalu memperhatikanku. Pada akhirnya aku menyadari satu hal. Mengapa Petra dari masa depan bisa mengirimkan surat kepadaku untuk menyelamatkanku, itu adalah ulah nenek yang memberikan kembaranku dari masa depan sebuah pena dan kertas. Dan Petra dari masa depan menyelamatkanku agar aku tidak seperti apa yang dirasakan olehnya. Walaupun aku dan nenek tidak ada sedikitpun hubungan darah, tapi aku sudah menganggap kalau nenek adalah nenek kandungku sendiri. nenek selalu merawatku bersama dengan mamah, nenek mengajariku menenun kain syal saat mamah sedang memasak makanan di dapur. dan bahkan, nenek meninggalkan 7 buah syal untukku dan teman temanku. Menurutku, itu adalah peninggalan nenek yang paling berharga dimana jiwa nenek akan selalu hidup di ke tujuh syal buatan tangan nenek” ucap Petra seraya menundukkan kepalanya di makam nenek.
“maafkan Petra karena Petra tidak mampu menyelamatkan nenek dari insiden ini. maafkan Petra karena Petra malah meninggalkan nenek di rumah sendiri. maafkan Petra karena Petra terlalu penakut dalam menempuh jalan. Mulai sekarang, Petra akan bertekad untuk menempuh jalan Petra sendiri. dan pastinya, dengan dukungan jiwa nenek yang ada di dalam syalku, aku pasti akan baik baik saja” ucap Petra dengan tetesan air mata yang mulai membasahi pipi.
“Petra akan menyelamatkan Lia apapun yang terjadi. aku tidak peduli lagi dengan siapapun, apapun yang diriku dari masa depan perintahkan, aku akan melaksaakannya. Dengan begitu, apapun yang terjadi aku akan tetap menjadi Pena Hitam di Kertas Putih, mengisi kekosongan dengan warna yang pekat” ucapnya seraya menatap tajam bingkai foto nenek.
Pada akhirnya, Petra mengusap air matanya dan kemudian berdiri di tempat tersebut. ia mengelus batu nisan nenek untuk yang terakhirkalinya dan kemudian berjalan menemui mamah yang tengah menunggu di bawah pohon tengah makam.
“apa sudah selesai?” tanya mamah kepada Petra.
“setidaknya aku sudah merasa begitu lega” jawabnya.
“kalau begitu, apa kita bisa pulang? dan ini sangat dingin. Salju semakin deras. Itu tidak baik untuk tubuhmu” ajak mamah.
“baik” jawab Petra menganggukkan kepala.
Pada akhirnya, Petra dan mamahnya kembali ke mobil yang tengah terparkir di luar area pemakaman. Nampaknya, bagian atas mobil tersebut telah tertutup salju, dan mau tidak mau pak sopir harus membersihkannya menggunakan sekop plastik kecil.
“sepertinya akan ada badai salju nanti malam” ucap mamah kepada pak sopir.
“ehh, kalian berdua sudah selesai. Maaf, saya harus membersihkan salju ini terlebih dahulu. Silahkan tunggu di dalam untuk sebentar saja” ucapnya tengah membersihkan atap mobil.
“baik terimakasih” jawab mamah.
Petra dan mamah pun masuk kedalam mobil. Petra duduk disamping mamah di kursi tengah. Seraya melihat pemakaman dari jendela, Petra berfikir kalau pemakaman itu sangat sepi dan dingin serta sedikit gelap. Tidak ada kehangatan dan tidak ada rasa kenyamanan. Hanya ada duka dan pilu yang diselimuti oleh gelap dan dinginnya suasana pemakaman. Petra melamun sambil menatap pepohonan yang mulai tertutup salju.
“apa kamu tidak apa apa?” tanya mamah kepada Petra.
“tidak apa apa” jawabnya.
“mamah kira kamu tidak pendiam seperti ini” ucap mamah.
“maaf, tapi aku masih ingin berdiam diri untuk sementara waktu” jawabnya.
“itu tidak masalah. Siapapun yang masih bersedih dan berduka pasti akan melakukan hal yang sama. hanya kesunyian dan kesendirianlah salah satu obat untuk orang yang sedang berduka” ucap mamah.
“terimakasih” ucapnya.
“untuk apa?” tanya mamah.
“tidak apa-apa” jawab Petra memalingkan wajahnya.
“anakku adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan syal neneknya dari kebakaran hebat. Mamah sangat bangga kepadamu, nak Petra” ucap mamah seraya mengelus kepala Petra.
Seketika saat itu juga, rambutnya yang terbasahi oleh salju di elus oleh hangatnya telapak tangan kanan mamah. Hal itu membuat Petra begitu terkejut dan teringat akan usapan tangan dari dokter pribadi Lia. hangatnya telapak tangan mamah membuat perasaannya jauh lebih tenang. saat itu juga, Petra mengangkat kepalaku dan menatap wajah mamah yang sedang mengelus kepalanya.
Dengan senyum hangat dan tatapan tulusnya, sang ibunda berkata “jika ada masalah, katakan saja. jika ada yang membebanimu, lepaskan saja. jika ada yang membuatmu sedih, keluarkanlah. Mamahmu ini pasti akan mendengarkanmu”
Mendengar perkataan mamah membuat hati Petra menjadi hangat. jantungnya berdebar begitu kencang sementara nafasnya begitu berantakan. Bulu kuduk nya berdiri dan matanya mulai berair. Pada akhirnya, air matanya terjatuh di sofa kursi mobil dan menetes disana.
__ADS_1
Spontan Petra memeluk tubuh mamahnya yang begitu hangat dan besar. Petra memeluknya. Berteriak dan menangis dipelukannya. Petra mencurahkan semua isi hatinya. Air matanya membasahi pakaiannya. Mamah hanya mengelus kepala Petra sambil tersenyum tulus kepadanya.
“aku tidak tau. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku berniat menyelamatkan nenek, tapi aku gagal. Aku sudah mendapatkan petunjuk sebesar itu tapi aku tidak melakukannya dengan sungguh sungguh. Aku sangat bodoh karena tidak mampu menyelamatkan nenek. Aku merasa bersalah, aku merasa sedih, aku merasa dingin dan tenggelam. Aku ingin bisa bertemu dengan nenek dan meminta maaf kepadanya karena aku tidak bisa menyelamatkan nenek. Aku tidak bisa. Aku tidak tau apa yang terjadi. aku tidak bisa melakukan apa apa. Aku rasa jika aku sudah bekerja keras, aku akan mendapatkan imbalan yang serupa, tapi nyatanya, tuhan tetap mengambil nenek. Aku putus asa” teriak Petra di pelukan mamah.
“kamu tau?, mamah lebih suka Petra yang berteriak menangis seperti itu daripada selalu berdiam diri dan memendam semuanya sendirian. Berteriaklah lebih keras lagi jika itu membuatmu lebih baik” jelas mamah dengan senyum tulusnya.
Pada akhirnya, Petra hanya memeluk tubuh mamah dan menangis di pelukannya. Isak tangis layaknya anak kecil yang manja terpapang jelas saat itu. seperti halnya seorang anak kecil yang menangis tak dibelikan balon dan mainan oleh kedua orangtuanya.
Pada akhirnya, Petra menidurkan dirinya di pangkuan mamahnya yang sedang duduk di kursi belakang. tidak lama setelah itu, pak sopir pun masuk kedalam mobil dan duduk di kursi sopir.
“ehh? Ada apa dengan Petra?” tanya pak sopir kepada sang ibunda.
“dia sedang berusaha” jawab mamah.
“ohh maaf, aku paham kondisinya. Sekarang, apa kita ada tempat lain yang harus dikunjungi?” tanya pak sopir.
“tidak perlu. Sudah terlalu dingin. Lebih baik langsung pulang kerumah” jawab mamah.
“baiklah” jawab pak sopir.
Pak sopir pun menyalakan mesin mobil dan kemudian beranjak meninggalkan kawasan area pemakaman desa dan hendak kembali ke rumah. Petra hanya bisa menyembunyikan wajahnya saat dirinya tiduran dengan kedua paha mamahnya sebagai bantalannya.
Petra hanya menutupi kedua matanya dengan satu lengannya saja. tanpa ada suara. Tanpa ada obrolan. Perjalanan itu sungguh membosankan. Pada akhirnya, mereka sampai di rumah Lia beberapa menit kemudian.
“apa kamu pusing?” tanya mamah kepada Petra.
“iya” jawabnya.
“kalau begitu, mamah akan membuatkanmu bubur dan meminumkanmu obat. Apa tubuhmu lemas?” tanya mamah balik.
“tolong, tubuhku sangat lemas. Aku terlalu lemas hingga tak bisa mengangkat lenganku” jawab Petra.
“kalau begitu, biarkan saya yang menggendongnya dan meletakkannya ke kamarnya” sahut pak sopir.
“terimakasih banyak. Tolong ya pak” ucap Petra.
“maaf karena sudah merepotkan bapak” ucapnya sedikit berbisik di dekat telinga pak sopir.
“tenang saja, ini tidak masalah buat bapak” jawab pak sopir.
Pak sopir pun mulai memasuki rumah dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Lia tadi. Beliau menggendong tubuh Petra dan menaiki puluhan tangga untuk membawanya kekamar. Pada akhirnya, Petra yang sedang digendong oleh pak sopir dan mamah yang berjalan mengikuti mereka dari belakang sampai ke kamar Lia.
Mereka bertiga sudah sampai di depan pintu kamar Lia. saat mamah mengetuk pintu tersebut, pintu itu dibuka dari dalam oleh papah Lia. dengan begitu terekejutnya papah Lia saat melihat tubuh Petra tengah di gendong oleh pak sopir. Dirinya melotot dan begitu terkejut.
“a-apa yang terjadi?” tanya papah Lia dengan begitu terkejutnya.
“maaf, ini permintaan Petra sendiri yang ingin mengunjungi makam neneknya” jawab mamahnya.
“jadi begitu. Aku paham sekarang. Kalau begitu, berikan Petra kepadaku dan aku yang akan membawanya kedalam” ucap papah Lia kepada pak sopir.
“baik tuan besar” jawab pak sopir menganggukkan kepalanya.
“terimakasih ya pak” ucap Petra kepada pak sopir.
“sama sama, nak Petra” jawab pak sopir tersebut.
Saat itu juga, tubuh Petra yang saat itu sedang di gendong punggung oleh pak sopir dipindahkan dan digendong menggunakan kedua lengan papah Lia. dengan segera, papah Lia sedikit berlari dan membawanya serta meletakkan tubuh Petra di kasur Lia.
Semua teman temannya yang sedang mengobrol di tikar bawah begitu terkejut saat melihat tubuh Petra sedang lemas tak berdaya. Bahkan tangannya menggantung kebawah dengan jari jari yang ikut melemas pula.
Papah Lia meletakkan tubuh Petra di kasur Lia yang hangat nan empuk. Tidak lama setelah itu, semua teman temanku spontan mendatangi Petra dan melihat kondisinya. Lemahnya tubuhnya bahkan tidak mampu mengangkat lengannya sendiri. Petra hanya bisa menggerakkan bibir dan mengedipkan mata. Petra kesusahan untuk berbicara dan rasanya tubuhnya ini berat untuk digerakkan.
“papah akan menyiapkan pakaian hangat untuk Petra dari kamar” ucap papah Lia berjalan keluar kamar.
__ADS_1
“mamah akan mengambil barang barang mamah di mobil bawah” ucap mamah berjalan keluar kamar.
“mohon permisi” ucap pak sopir berjalan keluar.
Saat itu, hanya ada Petra dan teman temannya didalam kamar. Mereka semua seketika menggerombolinya di atas kasur sementara fikirannya yang masih terbebani dengan kehilangan sang nenek. Petra juga masih memikirkan tentang apa yang akan terjadi dengan Lia beberapa hari lagi. benar benar membebani fikirannya.
“apa yang terjadi?” tanya Lia kepada Petra.
“apa yang telah kau lakukan?” tanya Alex.
“ada apa dengan tubuhmu?” tanya Issak.
“apa, kapan, dimana, siapa, bagaimana, mengapa?” tanya Alex.
“aku tidak apa apa. Hanya sedikit kedinginan” jawab Petra dengan nada begitu melemah.
“kalau begitu, biarkan aku yang memasakkan bubur untukmu” ucap Lia.
“aku akan membantu” sahut Issak.
“kalian semua sangat berisik” sahut Petra dengan menutupi kedua matanya.
“ehh, ta-tapi-“ ucap Lia terhenti.
“pergilah dari sini” tegas Petra
“a-ada apa denganmu? Apa kamu merasa tidak enak bad-“ ucap Lia tersahut henti.
“kau juga berisik” sahut Petra dengan nada rendahnya.
“maaf jika kamu menganggapku penganggumu” ucap Lia berdiri di samping ranjang.
“akhirnya kamu paham” jawab Petra dengan santainya.
“hey Petra, kau sudah keterlaluan!” bentak Issak dengan emosinya.
“kau juga, Issak” sahut Petra.
“kau bukan Petra yang ku kenal. Ucapanmu terlalu kasar!” sahut Emma
“aku tidak peduli” jawab Petra.
“maaf, aku akan ke kamar mandi” ucap Lia berjalan keluar kamar.
“Lia, apa kamu tidak apa apa?” tanya Issak berjalan menghampiri Lia.
“kau terlalu kasar dnegan Lia, Petra!” tegas Alex.
“sudah kubilang, aku tidak peduli” jawab Petra.
“ada apa denganmu. Kenapa kamu sangat berbeda kali ini?” tanya Anna memandang Petra dengan pandangan ketakutan.
“tidak usah memperdulikanku. Pergilah makan di lantai bawah dan tinggalkan aku sendiri disini” tegas Petra.
“benar benar Petra yang aneh” ucap Lucas berjalan keluar kamar.
“kamu kali ini terlihat sangat berbeda, Petra” ucap Anna berjalan keluar kamar.
“sebenarnya ada apa denganmu ini?” tanya Alex berjalan keluar kamar.
“entah kenapa, aku tidak suka Petra yang sekarang” ucap Emma berjalan keluar kamar.
Pada akhrnya, hanya ada Petra seorang yang ada di dalam kamar tersebut. semua teman temannya berjalan keluar kamar dan meninggalkannya seorang hati. Petra mulai membuka matanya, melihat langit langit kamar dan meneteskan air matanya.
__ADS_1
“aku sudah memiliki rencanaku sendiri. tetaplah menjadi Warna hitam untuk mengisi kekosongan di Kertas Putih” ucap Petra seraya mengusap air matanya.
-BERSAMBUNG-