
Di tengah tengah tidur, Petra bermimpi. Ia bermimpi sedang terjebak di satu kubangan besar dari lumpur yang lengket, licin dan padat serta berat. Setengah dari tubuhnya sudah mulai masuk kedalam kubangan lumpur itu sementara tubuh bagian atasnya sudah penuh dengan kotoran lumpur tersebut.
Petra terjebak di kubangan lumpur tengah hutan. Hutan yang gelap, sepi, menakutkan dan dingin. Dirinya berteriak kesana kemari namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari seorangpun. Hingga pada saat dirinya berteriak untuk kesekian kalinya, ia melihat adanya cahaya dari api obor yang menyala di tengah tengah kegelapan di sela sela pepohonan hutan.
“siapapun, tolong aku” teriaknya dengan super keras.
Hingga pada akhirnya, seseorang pembawa obor tersebut berjalan mendekatinya. Saat orang tersebut sudah berada di hadapannya, Petra begitu terkejut sebab lelaki itu adalah kembarannya yang selalu membawa surat dan memberikannya kepadanya.
“apa kau butuh bantuan?” tanya lelaki tersebut.
“iya, aku sangat butuh bantuan” jawabnya.
“apa yang kau rasakan di dalam kubangan lumpur itu? apa kau merasa sedih? apa kau merasa putus asa? Apa kau merasa kalau kau itu tidak berguna? Dan juga, apa kau menyesal?” tanya lelaki tersebut.
“iya, aku menyesal, aku sedih, aku depresi, aku putus asa, aku memang orang yang tidak berguna” jawabnya.
“kita sudah bertemu di mimpi lalu. Apa kau ingat?” tanya lelaki tersebut kepadanya.
“aku tidak tau apa yang kau katakan. Aku benar benar tidak paham dan tidak ingat. Pokoknya, keluarkan aku dari sini” ucapnya.
“di mimpimu yang lalu, kau sudah berjanji kalau kau akan membantuku. Aku sudah berkata kalau kau adalah aku. jika kau membantuku, maka sama saja kalau kau membantu dirimu sendiri. apa kau ingat?” tanya lelaki itu.
“tidak ingat, cepat keluarkan aku dari sini” ucapnya dengan masih berusaha keluar dari kubangan lumpur tersebut.
“jika kau mengikuti arahan, mempercayai petunjuk, menaati larangan dan melakukan ajakan serta suruhan di dalam setiap surat yang kuberikan kepadamu, kau akan menyelamatkan dirimu sendiri. ingat kata kataku. Ikuti arahan di surat itu, percayai petunjuk di surat itu, taati larangan di surat itu, lakukan ajakan dan suruhan di surat itu. lakukanlah semuanya. Jangan sampai tubuhmu tenggelam sepenuhnya di dalam lumpur keputusasaan dan penyesalan itu sama sepertiku. Jangan sampai kau bernasib sama seperti Petra Charleston Prakasa di masa depanmu yang penuh akan penyesalan dan keputusasaan itu” ucap lelaki tersebut dengan senyum tulusnya kepada Petra.
Tidak lama setelah itu, Petra pun terbangun dari tidurnya. Tidur dengan mimpi yang sangat amat luar biasa menyeramkan itu membuatnya terbangun dengan detak jantung yang luar baisa kencang. Seakan akan, saking kuatnya jantung ini berdetak, rasanya dadanya di tinju dari dalam.
Petra terbangun dari tidur dan melihat kalau di tangan kanannya yang sedang memegang tangan kiri Lia, terdapat tisu di tengah tengahnya. Saat Petra melepaskan pegangan tangannya dari telapak tangan Lia, spontan Lia menyahut kembali tangannyaa hingga Petra tidak bisa keluar dari tangannya.
“terimakasih karena sudah menemaniku. Aku takut sendirian. Kumohon, temani aku sedikit lebih lama lagi” ucap Lia dengan suara lirih lembutnya.
“Lia? kamu sudah sadar!?” tanya Petra begitu terkejut.
“apa aku ada di dalam kamarmu? Ternyata kamar lelaki tidak seburuk yang kufikirkan. Ada gambar bintang dan bulan, dan langit langit kamar yang benar benar mirip dengan langit malam. Sangat lucu sekali” ucap Lia sedikit tertawa.
“bagaimana keadaanmu? Apa masih pusing? Berkunang kunang? Sedikit merasa mual? Hidung mengeluarkan cairan panas? Telinga berdengung? Apa kamu merasa kalau kamu sedang naik kapal laut? Apa tenggoroanmu agar kerin-“ ucap Petra tersahut terhenti.
“dengar, Petra. Aku hanya demam biasa. Aku bukanlah penderita darah tinggi” sahut Lia sedikit menahan tawanya.
“kalau ada apa apa, bilang aja sama aku”.
“aku pengen minum”.
“air putih? Susu? Teh? Cola? Es krim? Pertalite? Aftur? Minyak tanah? Oli samping?" tanya Petra.
“air putih lah, masa aku harus minum bensin?” ucapnya dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
“tunggu sebentar, akan ku ambilkan” jawab Petra.
Saat itu juga, Lia melepaskan eratnya telapak tangannya dan membiarkan Petra mengambil air putih. Saat Petra membuka pintu kamarna, tak disangka sangka jika seluruh lampu rumah dimatikan. Lampu seluruh rumah disengaja dimatikan dan hanya membiarkan lampu kamar Petra dan lampu kamar sang ibunda menyala.
Kamar sang ibund ada di sebelah kamar Petra. Ia bisa melihat cahaya yang keluar dari sela sela kecil pintu kamar mamahnya yang sedikit terbuka. Petra berjalan ke lantai bawah dengan dalam kondisi gelap gulita. Langit luar sudah begitu gelap sebab saat itu sudah jam 7 malam. Petra tertidur kurang lebih 2 jam di samping Lia.
Petra mengambil segelas air putih di lantai bawah dan kemudian kembali ke kamarnya melewati kamar sang ibunda. Namun, tanpa sengaja, Petra mendengar jika suara papah Lia juga ada di dalam kamar bersama sang nenek.
Tanpa sengaja, Petra mendengar obrolan mereka dari luar. Ia mendengar jika mereka sedang membahas Petra dan membahas Lia.
“yang benar saja?” tanya sang mamah dengan nada begitu terkejut.
“aku sebagai papahnya sudah berusaha semaksimal mungkin, namun aku sama sekali tidak dapat menemukannya” jawab papah Lia dengan nada merendah.
“apa kau sudah mencarinya di kota?” tanya sang nenek.
“iya omah, saya juga sudah mencarinya sampai luar negeri, namun sepertinya tidak ada yang mampu menggantikan bawaan milik Lia. itu karena milik Lia agak sedikit berbeda. Hanya yang sesama umurnya saja yang bisa” jawab papah Lia.
“ini adalah kasus yang berat, sungguh berat” ucap sang mamah.
“tapi, saya ingin mengatakan satu hal kepada kalian berdua. saya sudah melihat data dari kesehatan jantung Lia. setiap bulan, dalam data yang telah disuguhkan oleh dokter pribadi yang telah saya sewa untuk Lia, data itu mengatakan kalau kinerja jantung Lia perlahan melemah setiap bulannya. Jika seperti ini terus, kita harus melakukan transplantasi jantung. Jika Lia mengalami kambuh lagi, mungkin itu adalah kambuh yang terakhirkalinya di hidupnya” ucap papah Lia.
Mendengar kata kata papah Lia, seketika tubuh petr mematung tak berdaya. Dirinya tidak bisa berkata kata maupun bergerak. Tubuhnya seluruhnya merinding tiada hentinya. Bahkan gelas yang ia bawa saat itu hampir saja terjatuh karena saking terkejutnya.
“apa? Apa Lia memiliki penyakit jantung?” fikir Petra dalam hati.
“kinerja jantung menurun, dan kau sudah memutuskan untuk melakukan transplantasi jantung? Kau akan mentransplantasi jantung siapa? Dan kapan kau akan melakukannya?” tanya sang mamah begitu terkejut.
“mau tidak mau, aku harus mentransplantasi jantung milik Lia pada bulan desember tangga 25 nanti. Sekarang adalah bulan november, dan bulan desember diperkirakan kalau kinerja jantung milik Lia sudah pada batasnya dan tidak mampu lagi bekerja dengan optimal. Jika jantung Lia tidak segera diganti, maka itu akan mempengaruhi kinerja organ lainnya” jawab papah Lia dengan suara isak tangisnya.
“jadi?” tanya sang ibunda.
“mau tidak mau, Lia harus hidup tanpa jantung. Dan jika Lia tidak memiliki jantung samapi tanggal 25 desember nanti, Lia akan hidup di dalam ponpa darah buatan manusia. Dan pastinya, itu akan sangat merepotkan dan sangat merenggut masa depan Lia” jawab papah Lia dengan isak tangis air matanya yang semakin keras.
“aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku sudah gagal sebagai papahnya. Sebagai salah satu orang tuanya, aku merasa gagal. Sangat gagal. Aku tidak pantas dipanggil papah dari bibir yang mungil dan suara kecil Lia. semakin dia memanggilku papah, semakin sakit hati dari peran yang begitu besar ini.. seolah olah, jika aku sudah menjadi Direktur Utama yang memiliki gaji yang besar mampu menyelamatkan anakku satu satunya, namun sepertinya kedua tanganku ini sudah tidak mampu lagi mengangkat cermin untukku melihat wajahku yang memalukan ini” ucapnya dengan isak tangis air mata.
“jangan berkata seperti itu. sebagai mamah dari Petra, aku akan membantumu mencari donor jantung sehat nan segar” ucap sang mamah.
“terimakasih banyak. Aku sangat amat terbantu” ucap papah Lia dengan nada begitu terharu.
“ja-jangan bersujud di kakiku. Kita akan mencari donor jantung bersama agar Lia akan tetap hidup” sahut sang mamah.
“terimakasih banyak, aku sangat amat berterimakasih banyak. Aku akan memberikan beberapa kertas. Kertas itu adalah formulir pendaftaran pendonoran jantung bagi siapapun yang ingin mendonorkan jantungnya. Mau berapapun biaya dan harganya, aku akan membelinya semahal apapun itu” ucap papah Lia.
“baik, aku akan menyimpannya di dalam kamarku. Aku akan mencari siapapun juga yang bisa mendonorkan jantung bagi Lia” ucap mamah.
“terimakasih banyak. Aku sangat amat luar biasa berterimakasih” ucap papah Lia.
__ADS_1
“kalau begitu, jelaskan lebih rinci lagi mengenai kinerja jantung Lia” ucap sang mamah.
“baik, ini akan sedikit panjang, jadi kumohn sedikit bersabarlah saat mendengarkan ceritaku” ucap papah Lia.
Setelah Petra merasa cukup mengupingnya, ia pun kembali kedalam kamarnya sembari membawa segelas air putih. Saat Petra memasuki kamar, ia menatap wajah Lia yang sudah begitu pucat. Saat tu, Lia dalam kondisi duduk dan bersandar di dinding.
Petra jadi membayangkan dari ucapan papah Lia mengenai jantung dan kondisi kesehatan Lia. disaat Petra melihatnya, dirinya sudah tidak mampu lagi menahan isak tangis air matanya lagi. spontan Petra meletakkan gelas berisi air putih tersebut dan kemudian seketika memegang kedua tangan Lia.
“ehh, ke-kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?” tanya Lia begitu terkejut.
“entah kenapa, aku bermimpi jika aku telah kehilanganmu. Aku bermimpi kalau aku mendatangi makam dengan bingkai foto wajahmu. Saat itu, aku sangat ingin berteriak kalau aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu. Tapi ternyata, aku sadar kalau itu hanyalah sebuah mimpi. Aku sangat takut. entah kenapa, tapi aku ingin selalu bersamamu dan aku sangat takut kehilanganmu. Tolong jangan meninggalkanku dan tolong jagalah dirimu sebaik mungkin. Jaga kesehatanmu dan jangan berolahraga terlalu berat. Aku memegang tanganmu karena aku tidak ingin kehaangatan dari kedua tanganmu ini memudar dan mendingin” ucap Petra seraya memegang kedua tangan Lia serta menundukkan kepalanya dihadapan Lia.
“hey, apa yang kamu katakan? Aku baik baik saja kok. Aku sudah sehat sekarang. Itu semua berkat kamu yang selalu menggenggam tanganku. Aku baik baik saja sebab kamu yang tidak pernah membiarkanku sendirian. Aku baik baik saja sebab kamu selalu menggenggam tanganku hingga mengeluarkan keringat. Dan buktinya, setiap kali kamu menggenggam tanganku, tangan kita berdua selalu basah sebab keringat” jawab Lia.
“kamu tau kenapa tangan seseorang selalu berkeringat tanpa alasan?” tanya Petra kepada Lia.
“kenapa?” tanya balik Lia.
“setahuku, tangan seseorang tiba tiba berkeringat tanpa alasan sebab jantung orang tersebut lemah. Tapi aku yakin kalau jantung milik Lia pasti akan kuat” ucap balik dengan senyum dari Petra.
“apa kamu tau, setiap kali aku menggenggam tanganmu, aku merasa kalau jantungku berdetak sangat cepat. Kuharap jantungku selalu seperti ini” ucap Lia dengan senyum tulusnya.
“sama, aku juga. aku menyukai ini” jawab Petra.
“aku ingin meberitahukan kepadamu mengenai sesuatu yang sedikit menyedihkan bagi kita berdua” ucap Lia.
“katakan saja”.
“sebenarnya, aku tidak akan tinggal selamanya di desa ini. aku akan kembali ke kota asalku pada tanggal 25 desember bulan besok. Bisa dibilang, aku hanya akan pindah sekolah lagi” ucap Lia.
“ehh? Kenapa?”.
“karena,… itu karena,… itu karena memang dari awal aku sudah merencanakan hal ini. jadi, aku dan kamu hanya memiliki waktu kurang lebih 1 bulan lagi untuk bersama di desa ini” tegas Lia.
“apa aku tidak bisa menemuimu di kota yang akan kau tinggali nanti?”.
“kemungkinan besar, aku akan pindah ke luar negeri, dan akan sangat mustahil bagi kita untuk saling menatap muka kembali. maka dari itu-“ ucap Lia tersahut henti.
“maka dari itu, aku akan membuat hari hari terakhir kita ini menjadi hari hari terakhir yang paling menyenangkan dalam hidup kita berdua” ucap Petra begitu menahan isak tangis air mata.
“itu benar. Kita akan bersenang senang” jawab Lia dengan senyumnya yang semakin lebar.
“maafkan aku, Lia. aku hanya bisa melakukan ini” fikir Petra dalam hati.
“maafkan aku, Petra. Aku terpaksa berbohong kepadamu” fikir Lia dalam hati.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1