
“mulai sekarang, aku hanya pengen ikutin Petra” ucap Anna dengan begitu semangatnya menggandeng lengan kiri Petra.
“ma-maaf, lenganku agak lebam. Tolong lepaskan” ucapnya kepada Anna.
“ma-maaf” jawab Anna.
“kenapa? Ada apa lenganmu?” tanya Issak yang berjalan ke samping kanan Petra.
“habis jatuh” jawabnya.
“jatuh? Dimana?” tanya Emma sedikit terkejut.
“di tangga” jawabnya.
“apa masih sakit?” tanya Lucas.
“sudah tidak, tapi kalau tidak sengaja di tekan, itu akan sangat ngilu. Jadi tolong untuk Anna, jangan memeluk lengan kiriku” ucap tegasnya.
“kalau begitu, aku akan memeluk lengan kananmu” ucap Anna dnegan nada manjanya.
“kenapa kau tidak memeluk Alex saja?” tanya Petra balik.
“gamau, lengannya terlalu panjang” jawab Anna.
“jahat… kamu menganggapku sebagai kurcaci dengan tubuh pendek dan tangan panjang” ucap Alex dengan nada kesalnya.
“kalau begitu, aku akan menggandeng lengan kalian berdua” ucap sergap Anna menyahut lengan kiri Alex.
Hingga pada akhirnya, Anna menggandeng lengan kanan Petra serta lengan kiri Alex bersamaan dan membuat mereka bertiga berjalan bersamaan.
“terserahmu saja” ucap Petra menghembuskan nafas dalam dalam.
Sesampainya di kantin. Mereka duduk di satu meja yang sama. mereka membeli beberapa minuman yang berbeda namun kita saling mencicipi minuman masing masing dari kita. dengan begitu, kita jadi mengetahui rasa dari minuman yang belum kita coba sebelumnya.
“hey, Alex. Kau meminum minumanku terlalu banyak” sahut Issak dengan nada begitu kesalnya.
“kalau begitu, biar aku yang membalasnya” sahut Anna spontan meminum minuman Alex hingga pipinya menggembung penuh.
“hey, kau! Dasar kurang ajar!” sahut Alex dengan begitu marahnya.
Kita semua hanya tertawa melihat kelakuan Anna dan Alex yang selalu membuat onar. Mereka semua bertengkar karena hal yang sepele, kemudian kita berbaikan dan tertawa kembali seperti semula.
Hingga sampai pada akhirnya, mereka terlambat saat masuk kelas. Mereka terlalu santai dan terlalu keasyikan saling mengorbol dan bercanda di kantin sampai mereka lupa kalau jam pelajaran sudah masuk.
Mereka semua berlari dari lorong demi lorong hingga sampai ke kelas mereka. Sesampainya disana, mereka telah mendapati jika pak walkel sudah mulai mengajar di depan kelas.
“darimana saja kalian semua? Apa kalian tidak tau kalau sekarang sudah waktunya untuk masuk jam pelajaran?” tanya pak walkel dengan tegas suaranya.
“ma-maaf pak. Kita habis ke perpustakaan karena kita malah keasyikan untuk mencari materi mengenai kelompok kerja kita” tegas Issak selaku ketua kelompok.
“apa kalian memang benar dari ruang perpustakaan?” tanya pak walkel dengan penuh rasa curiganya.
“baik. Kita baru saja membahas mengenai Laniakea Supercluster dan Multiple Universe. Kita hanya membahas mengenai status global dimana kita yang tinggal di bumi yang kecil ini dapat menembus luar angkasa dengan membandingkan skala internal dan eksternal melalui sumbu x dan y yang telah dibuat oleh para astronomi nasa demi menciptakan sebuah peta agar umat manusia dapat menjelajahi luar angkasa dengan lebih mudah. Hanya itu yang kita bahas. Apa ada pertanyaan lain?” sahut Petra dengan panjang lebarnya.
“kalau Petra yang berkata seperti itu, bapak akan percaya” ucap pak walkel.
__ADS_1
“hufftt.. untung saja kita memiliki Petra. Kalau tidak, kita tidak akan bisa menjawabnya” ucap Lucas.
“kalau Petra yang berkata seperti itu, bapak akan percaya. Itu karena Petra sudah memiliki bakat di dalam dunia stronomi. Ibunya sendiri yang berkata kalau kamar Petra dipenuhi dengan gambar mengenai luar angkasa. Sekarang, coba kalian semua menjelaskan apa saja yang kalian bahas di di perpus” tegas pak walkel.
“biarkan saya yang menjawab” sahut Petra.
“selain Petra” sahut tegas pak walkel.
5 menit kemudian, mereka semua pun akhirnya dihukum termasuk Petra sendiri. Mereka di hukum berdiri di depan papan tulis sembari menjewer kedua telinga mereka masing masing dan berdiri dengan satu kaki. Petra berfikir fikir “kalau aku bisa menjawabnya, kenapa aku juga kena hukum”.
Hingga pada jam 1 siang, pada saat itu pada akhirnya mereka diperbolehkan duduk di tempat duduk masing masing. Namun, hanya Petra yang tetap berdiri di depan semntara semua nya diperbolehkan duduk di kursinya.
“untuk Petra, tetap berdiri di depan” sahut pak walkel.
“ehh? Kok hanya aku?” tanya Petra balik.
“sebentar lagi, akan ada tamu yang ingin mengunjungimu” tegas pak walkel.
“tapi kan aku juga bisa dud-“ ucap Petra tersahut henti.
Spontan terdapat suara ketukan pintu kelas dengan sedikit keras. Saat pak walkel membukanya, Petra begitu terkejut saat mendapati jika papah Lia sedang berada di depan pintu kelas.
“silahkan masuk, pak” ucap pak walkel.
“jadi orang ini adalah tamu yang akan menemuiku? Dasar orang tidak penting” ucap Petra.
“hahaha, kau lucu sekali, Petra. Akan ku tampar dengan belalaiku” ucap papah Lia dengan tawa gelagaknya.
“kenapa kau kemari?” tanya Petra balik.
“entah, kenapa aku kemari?” tanya balik papah Lia.
“tenang saja. dia sudah ada dokter pribadi” jawabnya.
“dasar orang kaya. Sekarang, apa perlumu?” tanya Petra dengan begitu juteknya.
“aku ingin mengatakan sesuatu denganmu empat mata dengan kepala sekolah dan denganmu. Apa kau bisa ikut denganku atau kau masih ingin berdiri disana dengan menjewer kedua telingamu dan mengangkat satu kakimu?” tanya papah Lia.
“jangan berisik. Aku hanya terlambat satu jam pelajaran” jawab Petra dengan begitu kesalnya.
“hahaha, tukang bolos” ucapnya begitu memancing emosi Petra.
“aku akan menggigit belalaimu sampai terputus” ucap Petra dengan nada begitu kesalnya.
“hehehe, ma-maaf. Jangan marah gitulah. Nanti aku tidak bisa memiliki masa depan” ucapnya.
“kalau begitu, untuk nak Petra. Silahkan ikut dengan papah Lia” ucap pak walkel.
“a-apa? Papah Lia!?” teriak Alex dari kejauhan.
“hop! Haloo semuanya. Apa kalian adalah teman sekelas Lia?” tanya papah Lia menyapa seisi kelas.
“ngapain sih malah bahas Lia disini” ucap Petra dengan nada begitu kesalnya.
“tidak apa kan? Aku kan papahnya” ucapnya seraya menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
“sepertinya, Petra sudah sangat akrab dengan papah Lia” ucap Anna kepada Alex.
“benar juga” jawab Alex balik.
“apa aku boleh membawa Petra?” tanya papah Lia kepada pak walkel.
“boleh saja” jawab pak walkel.
“cepat ambil tas mu dan ikutlah denganku” ajak papah Lia kepada Petra.
“ehhh? Tunggu dulu. Kita mau kemana?” tanya Petra balik.
“kita akan pergi menjenguk Lia” jawabnya.
“hah? menjenguk Lia? Lia kenapa? Apa dia sakit?” tanya sahut Alex dengan lantangnya.
“ehh? Jadi Petra masih belum memberitahukan kepada kalian?” tanya balik papah Lia.
“dasar Petra kurang ajar” sahut Alex kepada Petra.
“kenapa jadi aku yang salah?” tanya Petra balik.
“sudahlah, jangan bertengkar di dalam kelas. Lebih baik Petra segera ikut dengan papah Lia” sahut pak walkel.
“baik” jawab Petra sembari menganggukkan kepalanya.
Petra pun berjalan ke kursinya sendiri dan kemudian membereskan semua barang barangnya yang berantakan di atas meja. Selama membereskan barang barangnya, Petra memikirkan tentang surat tersebut. Nyatanya, kedatangan papah Lia sama sekali tidak ada di dalam isi dari surat tersebut.
“surat itu biasanya menuliskan apa yang akan terjadi kepadaku kedepannya, namun entah kenapa surat ini tidak memberitahukanku jika papah Lia akan kesekolah dan menjemputku. Sebenarnya apa yang terjadi?” fikirnya dalam hati.
Setelah Petra selesai membereskannya, ia pun menghampiri papah Lia yang ada di depan kelas. Seisi kelas melihati Petra yang sedang berjalan keluar kelas sembari membawa tas gantungnya. Saat Petra keluar kelas, nyatanya spontan lengan kanan papah Lia merangkul lehernya dengan erat.
“lepaskan tanganmu. Itu berat” ucap Petra dengan begitu kesalnya.
“hehe, tenang saja, ketek ku ngga bau kok” jawabnya.
“bukan begitu, lenganmu mengenai luka lebamku” ucap Petra begitu kesalnya.
“ehh, ma-maaf” ucapnya spontan melepaskan rangkulannya.
“jadi, kemana kita akan pergi?” tanya Petra balik.
“sudahlah, ikut saja” ucapnya.
Setelah itu, petra dan papah Lia berjalan keluar kelas dan meninggalkan kelas tersebut. nyatanya Petra dan papah Lia di ajak olehnya ke ruangan kepala sekolah yang jaraknya tidak begitu jauh dari kelas.
“aku masih tidak tau apa yang harus kulakukan? Apa aku harus melakukan ini? pasalnya di dalam surat tersebut sama sekali tidak menerangkan mengenai kehadiran papah Lia kesekolah. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tau bagaimana caranya memanggil Petra masa depan kemari” fikir Petra dalam hati seraya berjalan di samping papah Lia.
Petra dan papah Lia pun berjalan kurang lebih 2 menit dari kelas hingga sampai kedepan kantor ruang kepala sekolah. Disana, Petra dan papah Lia berjalan berdua bersama-sama dan membuka pintu kantor tersebut bersamaan.
Disaat Petra melihat dalam ruangan, dirinya sangat amat terkejut dengan apa yang terjadi di dalam ruangan. Layaknya jantungnya hampir berdetak karena saking terkejutnya Petra. Dirinya melihat gelapnya ruangan kepala sekolah bersama dengan banjirnya cairan merah yang berlinang di dalam ruangan.
Petra mencium bau amis dari dalam ruang kepala sekolah dan bau bangkai yang sangat amat menyengat hidungnya. Ia pun spontan menatap ke arah wajah papah Lia dan mendapati jika dirinya tersenyum riang kepadanya.
“bagaimana? Apa kau tertarik?” tanya papah Lia dengan senyum begitu mengerikan.
__ADS_1
“a-apa yang telah terjadi? apa ini darah? Kenapa bau nya amis dan sangat bau bangkai. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Petra dengan begitu ketakutan.
-BERSAMBUNG-