
Pada akhirnya, Petra keluar dari rumah tersebut dengan keadaan yang jauh lebih baikan. Kedua matanya terbuka dan fikiranmu mulai tersadar. Fikirannya yang sebelunya tertutupi oleh ambisi telah berubah. Ia mampu berfikir jernih akan apa yang harus ia lakukan.
Petra keluar rumah dengan uang 50 dollar di saku celana kanannya. Nampaknya salju turun semakin lebat. Maka dari itu, Petra seketika berlari untuk pergi ke warnet haya untuk fotokopi formulir tersebut. benar saja jika Petra harus menghabiskan 5 dollar hanya untuk fotokopi 1 rim kertas banyaknya.
Petra keluar dari warnet dengan membawa satu kotak kardus yang cukup berat berisi lembaran fotokopi. Petra berjalan di tengah malam yang sangat dingin. Salju yang turun membuat Petra kesulitan bernapas. Kaki dan tangan yang mulai menggigil menjadikan perjalanan Petra sungguh berat.
Namun sebelum itu, Petra bersinggah di supermarket untuk sebentar dan membeli beberapa makanan ringan dan minuman hangat disana. pada akhirnya, bawaan Petra cukup banyak saat itu. bahkan Petra meletakkan kantong kresek dari supermarket di atas tumpukan kardus yang sedang ia bawa menggunakan kedua lengannya.
Petra sampai di depan rumah tepat jam 7 malam. Hari itu sudah sangat dingin. Dengan sergap pelayan rumah membukakan gerbang pintu untuk Petra. Petra segera memasuki rumah dan mulai berjalan menaiki tangga.
Namun disaat dirinya berada di tengah tengah tangga, terlihat jika semua orang hendak turun melewati tangga tersebut. Anna, Alex, Issak, Lia, Emma, Lucas, papah Lia dan mamahnya. Mereka semua berjalan menuruni tangga disaat ia berjalan hendak menaiki tangga.
Mereka bertemu di tengah tengah tangga, dan saat kita semua saling berhadapan, kita menghentikan gerak jalan kita. semuanya terhenti di tengah tangga tersebut.
“terimakasih pah karena telah meminjamkan jaket milik papah kepadaku” ucap Petra kepada papah Lia.
“itu tidak masalah” jawabnya.
Pada akhirnya, Petra memutuskan untuk hendak melangkahkan kaki kembali. namun nampaknya, Petra salah melangkahkan kaki dan tidak cukup untuk tumpuan kakinya. Telapak kakinya salah dalam menapak dan pada akhirnya kakinya sedikit tergelincir di tengah tangga tersebut.
Petra spontan melepaskan pegangan tangannya hingga kardus tersebut terjatuh dan isinya berantakan kesana kemari. Begitupula dengan segenggam uang yang sebelumnya berada di saku jaket yang tengah Petra pakai.
Semuanya berhamburan. Fotokopi formulir pendonoran darah tersebut berceceran dan untungnya hanya sebagian kecil yang berhamburan. Begitupula uang yang telah diberikan bang Mike dan bang Fred kepadanya. Puluhan dolar dari uang kertas pecahan uang kecil berhamburan kesana kemari.
Spontan Petra berlarian kesana kemari untuk membereskannya. Dengan sergap, Petra mencoba agar tidak ada satupun kertas yang tertinggal disana. bahkan Petra tidak peduli dengan uang yang berhamburan itu, Petra hanya terfokus dengan lembaran kertas tersebut.
Kurang lebih hanya belasan lembar saja yang terbang kesana kemari sementara sisanya masih utuh di dalam map yang ada di dalam kardus. Setelah Petra membereskan semua formulir tersebut, Petra kembali memasukkannya kedalam map dan kemudian menyatukannya kembali kedalam kardus.
“tunggu dulu, Petra. Itu uang siapa?” tanya sang mamah kepada Petra.
“ternyata uangku juga terjatuh” ucap Petra seraya mengelap keringat yang ada di dahi.
Petra kembali memungut uangnya yang hampir semuanya berhamburan. Semuanya hanya bisa melihati Petra dari atas tangga. Setelah Petra selesai memunguti semua uang tersebut, Petra kembali menghitungnya. Dan benar saja jika totalnya masih utuh berjumlah 41 dolar.
Setelah aku mengceknya kembali, nyatanya Petra teringat jika dirinya membeli beberapa snack untuk semua teman temannya. Petra telah membelinya dari supermarket dan berniat untuk memberikan semuanya kepada teman temannya.
“darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu?” tanya mamah kepadanya.
“dari bang Mike dan bang Fred” jawab Petra.
“untuk apa uang sebanyak itu?” tanya papah kepada Petra.
“aku ingin melihat seseorang menjadi ibu rumah tangga yang baik” jawabnya.
“hah? apa yang kau katakan?” tanya Anna begitu terheran.
“apa kau sedag bermimpi?” tanya Emma.
__ADS_1
“tidak apa apa. Tidak usah terlalu difikirkan. Aku sudah terlalu kelelahan. Aku membawa beberapa snack untuk kalian semua sebagai permintaan maafku karena telah membentak kalian semua” ucap Petra seraya memberikan sebuah kantong kresek penuh berisi chiki dan makanan supermarket.
“baik, terimakasih banyak. Waahh ini banyak sekali” ucap Alex menerima kantong kresek tersebut dengan raut wajah yang begitu sumringah.
“maaf, tapi apa aku boleh tidur lebih awal?” tanya Petra kepada mereka semua.
“mulai sekarang, kau memiliki kamar sendiri dan tidak lagi tidur di kamar Lia. kau memiliki ruangan sendiri untuk kamarmu pribadi. Mau bagaimanapun juga, kau sudah bisa bergerak secara mandiri dan keadaan tubuhmu mulai membaik” tutur papah Lia kepada Petra.
“aku tidak keberatan akan hal itu” jawab Petra.
“kalau begitu, kamarmu ada di samping kanan dari kamar Lia” ucap papah Lia.
“waahh enak sekali Petra bisa tinggal di rumah Lia” ucap Anna.
“itu karena rumah Petra baru saja terkena musibah. Lebih pekalah terhadap keadaan” jawab Issak.
“itu tidak apa. Lagipula aku sudah mulai melupakan kejadian itu” jawab Petra.
“kalau begitu, apa aku sudah boleh menggunakan kamarku?” tanya Petra balik.
“tidak apa, itu tidak masalah. Di sebelah kamar Lia sudah terdapat beberapa pembantu yang sedang membersihkan kamarmu. Letakkan semua barang barangmu disana agar mereka semua membantumu menatanya” ucap papah Lia.
“baik, terimakasih pah” jawab Petra menganggukkan kepala.
Petra pun segera mengangkat kardus tersebut dan berjalan ke atas. Begitupula dengan mereka semua yang tengah berdiri disana.
Dan pada akhirnya, Petra sampai di depan kamarnya. Terlihat banyak sekali pembantu disana, dan Petra merasa bahwa itu adalah kamar yang papah Lia maksud.
“walau aku adalah korban kebakaran rumah, tapi memberikan fasilitas kamar sebesar ini menuruku adalah sebuah hal yang terlalu berlebihan” fikir Petra dalam hati seraya memandang kedalam kamar.
Hingga salah satu pembantu didalam kamar tersebut menyadari keberadaan Petra, dirinya spontan berjalan menghampiri Petra dan mulai menawarkan bantuan kepadanya.
“apa anda adalah Petra yang telah disebutkan oleh tuan besar?” tanya salah seorang pembantu disana.
“iya itu benar” jawab Petra menganggukkan kepala.
“kalau begitu, biarkan saya membawakan barang bawaan anda dan menyimpannya” ucap pembantu tersebut.
“baik” jawabnya memberikan kardus tersebut.
Tidak lama setelah itu, mereka semua berhasil merapihkan kamarnya dengan begitu rapih dan bersihnya. Bau ruangan yang wangi bersama dengan interior yang begitu megahnya membuat Petra merasa mual.
Bagaimana tidak, bahkan Petra tidak kuat dengan bau pengharum isi mobil, apalagi di dalam kamarnya terdapat penghangat ruangan yang memancarkan bau bunga Mawar yang membuatnya terasa seperti kebun bunga Raflesia.
“ka-kalian boleh keluar sekarang. Terimakasih atas semuanya” ucap Petra seraya memberikan masing masing dari mereka 1 dolar.
“ehh? Ya-yang benar? Apa ini tip untuk kita?” tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
“bukan tip. Ini adalah ucapan terimakasih kepada kalian semua karena telah membantuku” jawab Petra.
“te-terimakasih banyak” ucap mereka semua menundukkan kepala masing-masing.
“angkatlah kepada kalian semua. Aku lebih muda dari kalian, dan sudah sepatutnya aku berterimakasih kepada kalian semua” ucap Petra dengan hati tidak enak.
“kau sungguh anak yang baik” ucap seorang pembantu disana.
“terimakasih. Sekarang kalian semua sudah boleh keluar ruangan” ucap Petra.
“Terimakasih banyak atas tip nya” ucap mereka semua.
“sama sama” jawabnya.
Mereka semua pun berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar dari luar. Petra mencuci kakinya di kamar mandi pribadinya yang ada di dalam kamar menggunakan air hangat.
“benar benar hari yang melelahkan. Tapi besok akan lebih melelahkan lagi” ucapnya seraya menggosokkan kedua kakinya di lantai.
Setelah itu, Petra berniat untuk keluar dari kamar mandi. saat ia membuka pintu kamar mandi, dirinya begitu terkejut akan kedatangan Petra dari masa depan yang secara tiba tiba saja berdiri di hadapannya.
Spontan ia melompat begitu terkejut karena secara tiba tiba ia muncul di hadapannya tanpa adanya suara sedikitpun.
“wooaahh! Ka-kau mengejutkanku” ucap Petra kepadanya.
Kembarannya dari masa depan hanya memberikan sebuah amplop yang berisi kertas surat untuk Petra. Setelah diterima, dirinya spontan memeluk tubuh Petra dengan erat. Dirinya meneteskan air mata dengan begitu deras di pelukan Petra itu dan mulai membuka suaranya.
“ini adalah kali terakhirnya aku bertemu denganmu. aku sudah memasukkan semua yang kutahu tentang masa depanku. Tapi mau bagaimanapun juga, masa depanku sudah berbeda dengan masa depanmu. Kau melakukan apa yang tidak kulakukan sebelumnya, dan aku berharap masa depanmu akan menjadi masa depan dengan ending yang bahagia. Jika aku terus memberikan masa depanku, itu tidak akan membantumu karena masa depanku jauh berbeda dengan masa depanmu. Biarkan dirimu sendiri yang melakukannya dan lakukan seperti apa isi hatimu. Aku telah memberikan ending dari masa depanku kepadamu di dalam surat, dan pastikan kau baca dengan baik baik isi dari masa depanku itu. itu akan menuntunmu ke masa depan yang lebih baik lagi. aku akan pergi dari sekarang, dan berjanjilah kepadaku satu hal. Jangan sampai ending masa depanmu sama seperti ending masa depanku” tutur Petra dari masa depan.
Mendengar dirinya berkata seperti itu, Petra memeluk tubuhnya kembali dan mengelus kepalanya. Petra mulai menenangkan hatinya dengan mengucapkan “aku akan mendapatkan ending yang bahagia. Itu semua berkatmu. Aku berjanji akan membuat Lia akan tetap hidup dan mampu melihat dirinya menua hingga menggendong anaknya di masa depan. aku berjanji kepadamu dan atas nama nenekku sendiri. terimakasih banyak karena telah menuntunku selama ini. dan pastinya, semua ini berkatmu dan berkat pena dan kertas pemberian nenek”.
“baiklah, terimakasih banyak. Aku akan pergi. Aku percayakan kehidupan Lia kepadamu” ucap Petra dari masa depan mulai melepaskan pelukannya.
“serahkan padaku” jawab Petra menganggukkan kepalanya dan menatap tajam kedua mata kembarannya itu.
Pada akhirnya, hanya dalam satu kedipan mata saja, tubuhnya menghilang dari hadapannya. Petra seperti memeluk angin dan tidak ada siapa siapa di hadapannya. Namun Petra masih memegang surat yang telah kembarannya berikan kepadanya.
Seraya menggenggam erat surat tersebut, Petra berkata kepada diriku di masa depan dan menghadap ke atas, “nyawa Lia pasti akan tertolong”
Setelah itu, Petra mulai berjalan ke atas ranjang dan duduk di atasnya. Dirinya membuka amplop tersebut dan sedikit terkejut akan apa yang ada di dalam isi dari amplop tersebut.
Amplop tersebut berisi sangat banyak kertas. Itu sebabnya amplop tersebut terasa berat dan tebal. Petra mulai mengeluarkan satu persatu isi dari amplop tersebut dan membongkarnya. Nyatanya itu adalah sebuah surat tulisan tangan dari Petra masa depan dan beberapa lipatan koran.
Petra mulai membaca koran yang berada di dalam amplop tersebut terlebih dahulu. Disana terdapat kurang lebih 2 koran yang terlipat dan rapih namun kertas koran yang sudah mulai menguning. Petra perlahan membacanya dengan kompleks dan lengkap hingga dirinya mulai meneteskan air mata dan membasahi koran tersebut.
Isi dari koran tersebut adalah
-BERSAMBUNG-
__ADS_1