Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 12 [Mamah]


__ADS_3

“tidak apa apa. Jangan takut. kita berdua sudah lama tidak bermain main dengan perempuan secantik dirimu ini” ucapnya.


“tidak, lepaskan aku. kumohon lepaskan aku” teriak Lia melepaskan kedua lengan lelaki tersebut.


“Petra, tolong aku… Ohhh, aku tau. Ini pasti adalah takdir. Aku dipertemukan oleh dua orang penjahat, dan kemudian Petra menyelamatkanku dengan gagah beraninya. Petra akan berlari dan menyelamatkanku. Ini adalah skenario yang paling mainstream dari seluruh novel yang telah kubaca. Petra akan datang dengan membawa kuda dan pedang untuk menyelamatkan sang Putri dari dua monster jelek ini” fikir Lia dalam hati.


Disisi lain, Petra yang sedang asyik memakan es krim rasa pisang sembari berjalan jalan di sekeliling bazar tidak sengaja bertemu Lia bersama dua orang lelaki yang telah Petra kenali sebelumnya.


“ehh? Kenapa bang Fred dan bang Mike duduk disamping Lia? Dan kenapa Lia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya?. Apa jangan jangan, bang Fred dan bang Mike akan bermain main lagi? kenapa bang Mike dan bang Fred tidak mengajakku?” fikir Petra dalam hati.


Petra berjalan menghampiri Lia yang sedang menutup mukanya menggunakan kedua telapak tangannya sembari menundukkan kepalanya.


“apa yang kalian bertiga lakukan? Apa kalian sedang bermain?” tanya Petra dengan santai kalemnya.


“iya, kita bertiga akan bermain main. apa kau mau ikut?” tanya bang Mike kepada Petra.


“sepertinya seru. Aku akan ikut” jawab Petra seraya berlari kearah mereka bertiga.


Mendengar suara Petra yang sedang mengobrol dengan santainya bersama dengan dua preman pasar itu, Lia seketika begitu kesal dengan sikap Petra yang sepertinya begitu akrab dengan dua orang yang Lia rasa adalah preman kurang ajar tidak pernah menjaga atitude dan sikap.


Saat Petra berada di hadpaan mereka bertiga, spontan Lia berdiri dan menampar Petra dengan begitu keras dengan tatapan tajamnya.


“aww, itu sakit” ucap Petra memegang pipi kanan bekas tamparan kerasnya.

__ADS_1


“aku tidak mau tau. Mereka berdua adalah para lelaki bejad yang hanya berani dengan perempuan. Dasar mesum. Dasar jijik” ucapnya seraya menunjuk ke arah bang Fred dan bang Mike.


“ehh? Apa kalian menggoda Lia? Bang fred? Bang mike?” tanya Petra.


“dia sendirian di bawah pohon. Jadi kita berdua menemaninya” jawab bang Fred.


“sudahlah. Kalian berdua kembalilah jaga parkir motor. Aku yang akan menjaganya” jawab Petra.


“tunggu sebentar. Apa perempuan ini adalah kenalanmu? Apa perempuan ini adalah pacarmu” tanya bang Mike kepada Petra.


“sudahlah, kalian berdua jangan kepo. Cepat kembali atau aku akan adukan ke mamah” ancam Petra.


“ba-baik baik” jawab mereka berdua serentak.


Pada akhirnya, mereka berdua meninggalkan Petra bersama dengan Lia seorang diri di bawah pohon tersebut. Hanya ada Petra dan Lia disana. Lia hanya memandang Petra dengan tatapan begitu kesal dan bola mata yang berkaca kaca.



“mereka berdua temanku, dan aku tidak menyuruh mereka untuk menjahilimu” jawab Petra.


“bukan itu maksudku, dasar Petra bodoh” ucapnya.


“ohh, aku tau. Kamu juga pengen es krim sepertiku bukan? Tenang saja, aku sudah membelinya” jawab Petra seraya menunjukkan kantong kresek berisi es krim untuknya.

__ADS_1


“bukan begitu bodoh. Dasar bodoh! Petra bodoh! Benar benar bodoh!” ucapnya seraya melipat lengannya dan membalikkan badannya.


Spontan Petra faham akan apa yang dimaksudkan oleh Lia. Petra rasa, alasan mengapa Lia marah adalah karena Petra yang meninggalkannya di tengah bazar yang ramai akan pembeli. Seketika Petra memeluk tubuh Lia dari belakang seraya membisikkan sepatah kata di telinganya.


“maafkan aku karena sudah meninggalkanmu. Mulai sekarang, aku tidak akan berpaling dan meninggalkanmu apalagi di tengah keramaian seperti ini” bisik Petra di dekat telinga Lia.


Seketika itu juga, Lia membalikkan badannya dan kemudian memeluk tubuhnya balik. Dirinya memeluk erat tubuh Petra dengan tangan yang bergetar ketakutan. Nyatanya, Lia benar benar takut jika berjalan sendirian hingga kedua kakinya bergetar tidak karuan.


“aku terlalu takut untuk berjalan sendirian ditempat ini. Aku takut kalau kamu tidak akan kembali. Aku takut kalau kamu tidak menjemputku. Aku takut dengan kedua temanmu yang mesum kurang ajar itu. Aku takut keramaian. Aku takut sendirian. Aku takut kalau kamu tidak ada” bisiknya dengan pelukan dari lengan yang bergetar ketakutan.


“kamu lihat? aku sudah kembali. Tenangkan dirimu dan makan es krimmu” jawab Petra seraya mengelus kepala Lia.


“tidak mau” ucapnya seraya menggelengkan kepalanya di pelukannya.


“kalau kamu masih memelukku, semua orang dapat melihat dua anak kelas 1 SMA sedang berpelukan di tempat umum” ucap Petra.


“aku tidak peduli dengan ucapan orang. Biarkan aku memelukmu untuk sebentar saja” jawabnya.


“kalau begitu, makan es krim mu terlebih dahulu. Keburu leleh” tegas Petra.


“tapi, sekarang musim gugur, dan sore ini sangat dingin. Aku pengen makanan berkuah” ucapnya.


Namun, seketika saat itu juga, pundak kanan Petra dipegang oleh satu telapak tangan yang besar namun hangat dan halus. Saat Petra menoleh kebelakang, dirinya mendapati jika mamahnya sedang berdiri dibelakangnya sembari membawa kantong belanjaan yang super banyak.

__ADS_1


“ehh, mamah?” tanya Petra memasang raut wajah begitu panik dan gelisah.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2