Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 14 [Melemah]


__ADS_3

Petra menerima surat tersebut dan membiarkan kembarannya itu pergi menjauh dari rumah. Iapun kembali sembari menyimpan surat tersebut di saku celananya.


“siapa yang menekan bel rumah, nak Petra?” tanya sang mamah dari dapur.


“tidak ada siapa siapa, mah. Mungkin hanya orang usil yang menekan tombol rumah dan lari begitu saja” jawabnya berbohong.


Iapun seketika berjalan ke kamarnya dan mengunci pintu kamar dari dalam. Petra membuka surat tersebut dan membaca isi dari secarik kertas itu. isi dari surat tersebut adalah “kau melakukan apa yang tidak kulakukan di masa laluku. Aku tidak melakukan hal ini di masa laluku. Namun aku tau konsekuensi yang akan kau dapat ketika kau melakukan ini. Segera pulangkan Lia sekarang juga atau Lia akan kambuh”


Saat Petra membaca surat tersebut, dirinya merasa kalau ada yang tidak beres di dalam surat itu. Petra berfikir begitu keras, berfikir dan berfikir, mencerna setiap kata kata dan ucapan yang dituang kedalam tulisan di secarik kertas di dalam amplop surat yang diberikan oleh kembarannya. Hingga pada akhirnya, Petra menyadari sesuatu.


“apa jangan jangan, kembaranku itu adalah diriku sendiri di masa depan yang membantuku?” fikirnya dalam hati.


Saat Petra memikirkan hal itu, spontan sekujur tubuhnya merinding tanpa sebab. Ia hanya mampu menatap kertas tersebut dan kembali berfikir.


“kembaranku itu mengetahui apa saja yang akan terjadi, maka dari itu dia memerintahku, melarangku, menyuruhku dan memberitahukanku semua kejadiannya. Itu seperti pengulangan waktu. Kembaranku itu memberi surat yang benar benar akurat namun perintahnya sangat tidak masuk akal. Aku sudah pernah membuktikan akan kebenaran dari surat tersebut. namun entah kenapa, surat di sore hari ini adalah surat yang membuatku ragu. Surat di sore hari ini menyuruhku untuk memulangkan Lia sekarang juga, tapi kenapa?. Kembaranku menyuruhku seperti ini namun tidak pernah membertahukanku apa yang akan terjadi jika aku tidak melakukan apa yang ia suruh di dalam surat ini. dia mengetahui konsekuensinya? Aku melakukan apa yang tidak ia lakukan? Sebenarnya apa yang terjadi? sebenarnya apa yang kulakukan? Sebenarnya apa yang tidak ia lakukan?. Dia berkata kalau jika aku tidak memulangkan Lia sekarang juga, dia pasti akan kesakitan. Apa maksudnya kesakitan?. Tunggu dulu, sepertinya aku mulai paham akan apa yang terjadi. namun aku tidak bisa menjadikan fikiran bodohku ini sebagai acuan dari kebenaran surat ini. apakah aku harus membuktikan surat ini untuk yang kedua kalinya?” fikir tajam Petra seraya menatap tajam ke arah surat tersebut.


“aku melakukan apa yang tidak kembaranku lakukan. Kembaranku tidak melakukan apa yang kulakukan. Tapi dia mengetahui apa konsekuensi dari apa yang akan kulakukan jika aku melakukan itu. bagaimana dia tau konsekuensi dari apa yang akan kulakukan jika bahkan dia tidak melakukan apa yang kulakukan saat ini? sebenarnya siapa dia?. apa dia adalah benar benar diriku dimasa depan?. mukanya terlihat sedih dan penuh penyesalan. Apa jika aku tidak melakukan apa yang ada didalam surat ini, nasibku akan sama seperti kembaranku itu? atau jangan jangan, kembaranku itu adalah diriku dimasa depan yang ingin memperbaiki masa lalunya dengan cara memberikan arahan kepada masa lalunya yaitu aku sendiri agar aku terhindar dari malapetaka yang telah ia alami sendiri?. kalau itu benar, aku akan melakukan apa yang ada didalam surat ini. maka dari itu, aku sudah memutuskan sesuatu. Aku akan membuktikan kebenaran surat ini untuk yang kedua kalinya. Aku tidak akan menuruti kata kata didalam surat ini agar aku semakin yakin kalau kembaranku itu adalah diriku dimasa depan” fikir Petra sembari memasukkan secarik kertas tersebut kedalam amplopnya kembali.


Dirinya memasukkan amplop tersebut kedalam laci meja belajar dan kemudian kembali keluar kamar. Petra berjalan ke lantai bawah dan kembali menemui sang mamah dan Lia yang saat itu sudah bersiap di meja makan bersama dengan sang nenek disana.

__ADS_1


“apa yang kamu lakukan berlama lama di dalam kamar? Apa kamu tidak apa apa?” tanya sang mamah kepadanya.


“emm, a-aku oke. Aku,.. a-aku tidak apa apa. Sungguh” jawabnya dengan nada terbatah-batah.


Iapun duduk di kursi bersama dengan sang nenek sementara Lia duduk di kursi samping mamah. Petra duduk bersebrangan langsung dengan mamah sementara sang nenek duduk bersebrangan langsung dengan sang nenek.


Mereka semua mulai memakan sup buatan mamah dan Lia. Di atas meja makan juga terdapat roti, telur rebus, madu, beberapa sosis panggang, dan salad sayur.


Petra mulai memakan salad di satu mangkuk kecil. Dia memakannya dengan fikiran yang masih saja mengganggu. Nyatanya Petra maish tidak berhenti berfikir akan kembarannya di masa depan dan isi surat yang baru saja ia dapatkan.


“bagaimana jika dia benar benar berasal dari masa depan? bagaimana jika Lia benar benar sakit? apa yang terjadi jika aku mengabaikan perintah dari surat tersebut. sebenarnya, apa yang terjadi?“ fikirmua dengan tatapan mata yang kosong bak melamun memandang meja.


“Petra? Apa yang terjadi? kenapa kamu melamun?” tanya sang mamah kepada Petra.


“Petra? Apa kamu baik baik saja?” tanya mamah mulai khawatir kepadanya.


“kalau dia memang benar benar berasal dari masa depan, bagaimana caranya dia bisa pergi ke masa lalu?. Dan juga, dimana sekarang dia tinggal? Apa dia tinggal di satu rumah? Kalau iya, aku sangat ingin menemuinya dan menanyakan semuanya” fikir Petra dengan muka datar, tidak mengunyah, tatapan kosong dan hanya memandangi meja sembari memegang garpu di tangan kirinya.


Spontan saat itu juga, disaat Petra sedang memikirkan semua itu, tubuh Lia seketika terjatuh dari kursi meja makan tersebut. suara terjatuhnya tubuh Lia terdengar dan menyadarkan Petra dari lamunannya. Petra melihat Lia yang saat itu tergeletak di lantai.

__ADS_1


Spontan sang mamah begitu terkejut. dirinya melemparkan sendok garpunya dan kemudian mengangkat tubuh Lia.


“nak Lia, apa kamu baik baik saja?” tanya sang mamah spontan mengangkat tubuh Lia.


“cepat bawa dia ke kamar Petra dan tidurkan dia di kasurnya” ucap sang nenek.


“ba-baik oma” jawab sang mamah spontan berlari ke lantai atas dan membawa Lia ke kamar Petra.


Petra hanya bisa mengikuti mamah yang sedang berlarian ke atas tangga hendak meletakkan tubuh Lia kekamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, mamah seketika meletakkan tubuh Lia di kasur Petra dan kemudian menyelimuti tubuh Lia dengan selimut.


“cepat ambil termometer dan bawa juga tas milik Lia yang ada di dalam ruang tamu” tegas sang mamah kepada Petra.


“ba-baik mah” jawanya spontan berlari kembali ke lantai bawah.


Iapun kemudian berlari menuju ke ruang tamu dan mengambil tas milik Lia. ia juga mengambil termometer yang ada di dalam kotak P3K di ruang tengah. Petra memberikannya kepada mamah dan kemudian mamahpun menggunakan termometer tersebut di mulut Lia.


Beberapa saat setelah itu, pada akhirnya, Petra menyadari kalau saja, Lia benar benar sedang sakit. Dirinya melihat raut wajahnya yang kesakitan sedang berbaring di kasur yang biasanya tempat untuknya tidur.

__ADS_1


“apa? Apa yang terjadi? kenapa hal ini bisa terjadi?” fikir Petra dalam hati.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2