Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 28 [Mimpi Buruk]


__ADS_3

Pada akhirnya, hampir sekujur tubuhnya tertimpa lemari kayu yang membara di atas tubuhnya. Tidak ada satupun orang yang tau jika Petra terjebak di tumpukan kayu lemari tersebut.


Petra tidak sadarkan diri di tempat tersebut. pada akhirnya, ia bermimpi sedang terjebak di sebuah kubangan lumpur di tengah hutan yang gelap nan dingin. Petra berusaha keluar dari kubangan lumpur tersebut namun nyatanya Petra terlalu lemah untuk itu.


Petra berteriak kesana kemari namun tidak ada satupun orang yang menjawabnya. Pada akhirnya, di saat Petra hampir menyerah, Petra melihat dua obor sekaligus berjalan melewati rindangnya pepohonan hutan. Saat Petra memanggil kedua orang yang memegang obor tersebut, untungnya mereka berdua berjalan kearahnya.


Saat Petra melihat wajah kedua orang tersebut, nyatanya mereka berdua adalah dirinya di masa depan bersama dengan neneknya. Spontan Petra begitu terkejut akan kehadiran mereka berdua.


“nenek? Diriku di masa depan?” tanya Petra begitu terkejut.


“apa kau takut ada di kubangan lumpur ini?” tanya dari masa depan.


“iya, aku sangat ketakutan” jawabnya.


“apa kau sedih?” tanya dirinya di masa depan.


“iya, aku sangat sedih” jawabnya.


“apa kau merasa bersalah?” tanya dirinya di masa depan.


“iya, aku sangat merasa bersalah” jawabnya.


“apa kau menyesal?” tanya dirinya di masa depan.


“iya, aku sangat menyesal” jawabnya.


“pada akhirnya, kau melakukan apa yang tidak kulakukan di masa laluku. Aku membiarkan nenekku meninggal di dalam rumahku dan aku tidak mampu melakukan apa apa selain melihat nenekku yang sudah tidak bernyawa keluar dari rumah. Saat itu juga, aku terjatuh dan tenggelam semakin dalam di dalam kubangan lumpur ini. namun berbeda denganmu. Kau berhasil menyelamatkan dirimu sendiri dari rasa penyesalan dan rasa bersalah dengan cara menyelamatkan nenekmu. Sekarang, nenekmu lah yang akan membantumu untuk keluar dari kubangan lumpur ini” ucap Petra di masa depan.


“apa itu benar?” tanya Petra balik.


“nak Petra sudah menjawab pertanyaan nenek. Nak Petra menginginkan pena dan kertas, dan nenek pun memberikan keduanya. Kau menuliskan keinginanmu untuk menyelamatkan Lia, dan pada akhirnya kamu melakukannya. Kamu mengambil formulir pendonoran jantung milik Lia, dan kamu sudah membuktikan kalau pena dan kertas yang telah nenekmu ini berikan kepadamu tidak kamu sia siakan. Nenekmu ini sangat bangga kepadamu. Nenek harap, kamu tidak lupa dengan janjimu untuk menyelamatakan Lia” ucap sang nenek kepadanya.


“ba-baiklah nek, terimakasih banyak” jawabnya.


“kalau begitu, ijinkanlah nenekmu ini yang membantumu mengangkatmu dari kubangan lumpur ini” ucap sang nenek menjulurkan tangannya.


“baik nek” jawab Petra menganggukkan kepalanya.


Hingga pada akhirnya, saat Petra memegang tangan neneknya yang begitu bersih menggunakan tangan kananku yang begitu kotor sebab lumpur, dengan mudahnya dan ringannya neneknya menarik tubuh Petra yang terjebak setengahnya di kubangan lumpur yang padat nan berat serta begitu kental dan pekat.


Namun sampai hingga lutut kakinya, sang nenek melepas tangannya dan membuatnya masih terjebak disana. neneknya membiarkan kedua lutut Petra tetap terjebak di dalam kubangan lumpur tersebut.

__ADS_1


“kenapa nenek tidak menarikku lebih? Kakiku masih ada di dalamnya” ucap Petra.


“bukan tugas nenek yang harus menarikmu keluar. Nenek hanya membantumu saja” jawab sang nenek.


“tapi nek, tinggal sedikit lagi” ucap Petra.


“itu bukan tugas nenek. Nenek hanya mengeluarkanmu agar tidak terlalu dalam. Nenek hanya ingin bertemu cucuku untuk yang terakhirkalinya” ucapnya seraya melepaskan syal yang tengah ia kenakan.


“apa maksudnya? Nenek mau kemana?” tanya Petra dengan jantung yang mulai berdegup kencang.


“mungkin, nenek hanya ingin istirahat. Nenek sudah lelah. Nenek sudah tua. Kedua kaki nenek tidak mampu lagi berjalan lebih jauh lagi. sekarang adalah tugasmu untuk menyelamatkannya. Jangan lupakan alasan mengapa kamu menginginkan kertas dan pena. Tulislah tujuanmu disana dan jangan sampai kehilangannya. Jangan sampai kehilangannya” ucap sang nenek seraya membalikkan tubuhnya.


“nenek? Nenek mau kemana?” tanya Petra kepada sang nenek.


“nenek sudah membantumu. Dan tugas nenek pun sudah selesai. Pada akhirnya, nenekmu ini bisa beristirahat dengan tenang” ucapnya dengan nada tawanya.


“apa yang nenek katakan? Nenek mau kemana?” tanya Petra balik.


“nenek hanya ingin istirahat. Nenek tidak akan pergi. Nenek akan selalu ada sampingmu. jangan merasa kehilangan nenekmu yang hanya bisa tiduran santai. Pada akhirnya, nenekmu ini bisa beristirahat dengan tenang” ucapnya dengan nada tawanya.


“apa yang nenek katakan? Nenek mau kemana?” tanya Petra balik.


“nenek hanya ingin istirahat. Biarkanlah saja dia” sahut Petra dari masa depan yang berada di samping nenek.


“nenek hanya minta kepadamu agar jangan hidup dengan keadaan merasa bersalah dan penyesalan. Hiduplah dengan keadaan tenang dan bahagia. Walau itu tidak bersama nenek, setidaknya nenekmu ini bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti apa yang kamu rasakan” jelas sang nenek.


“kalau begitu, sudah saatnya nenek untuk kembali” sahut Petra yang ada di samping nenek.


“baiklah, aku akan kembali” jawab sang nenek menggelengkan kepalanya.


“tunggu dulu, jangan pergi nenek!” sahut Petra seraya menjulurkan lengan kanannya ke arah nenek yang perlahan berjalan menjauh.


Petra berteriak berkali kali ke arah nenek yang berjalan bersama dengan kembarannya yang saat itu perlahan mulai menjauhinya dan meninggalkannya di tengah tengah hutan yang gelap nan dingin tersebut.


Lututnya masih terjebak di dalam lumpur yang lengket dan berat sementara Petra tidak mampu bergerak. Petra hanya bisa berteriak berkali kali memanggil nenek yang mulai tak tampak mata karena saking jauhnya.


Pada akhirnya, Petra pun kembali sendirian di tempat tersebut. dingin, gelap, nan sunyi. Semua itu mengelilinginya dari balik kegelapan yang menyeramkan.


Tetesan air mata bersama dengan bunyi dedaunan yang bergoyang tertiup angin dingin malam tersebut membuat melodi tersendiri. Petra hanya bisa terdiam saat melihat neneknya pergi. Petra tidak bisa berbuat apa apa dan tidak mampu menyelamatkan neneknya.


Hingga akhirnya, di detik itu juga, Petra terbangun dari mimpi buruknya. Perlahan Petra membuka mata, nampak tidak jelas sebab matanya dipenuhi air mata yang tak henti hentinya menetes dan berlinang di pipinya.

__ADS_1


Petra menatap langit langit kamar, nyatanya Petra kembali ke dalam kamar Lia. kepalanya sangat pusing sehingga Petra tidak mampu mengangkat tubuh dan duduk di ranjang tersebut.


Tubuhnya berkeringat dingin, demamnya sudah lumayan pulih. Petra terganggu dengan adanya keringat yang memenuhi jidatnya itu. dan Petra pun memutuskan untuk mengusapnya dengan tangan yang terbalut perban berwarna putih.


Saat Petra berniat mengusap keringatnya yang ada di jidatnya ini, spontan Petra merasa jika tangannya sedang dipegang begitu erat oleh seseorang. Petra pun mengangkat tangannya bersama dengan tangan tersebut dan melihatnya.


Petra mengangkatnya tinggi tinggi hingga tangannya dan tangan yang sedang memeganginya itu di depan wajahnya persis. Petra melihat tangan yang putih, jarinya panjang, telapaknya basah nan hangat, serta kuku nya yang mungil.


Saat itu juga Petra mengenal telapak tangan tersebut. spontan Petra mengangkat kepalanya yang sangat sakit tersebut dan melihat di samping kanannya. Ternyata, Petra mendapati jika Lia sedang tertidur sambil memegang telapak tangannya ini.


Lia duduk di kursi samping ranjang yang tengah Petra pakai dan kepalanya bersandar hingga tertidur di kasur. Saat Petra melihatnya, tidak sedikit rambut yang menutupi pipi dan wajahnya. Maka Petra pun menyingkirkan rambut tersebut hingga Petra dapat menatap wajahnya yang begitu membuat jantungnya berdegup kencang.


“ternyata dia sedang tertidur disampingku. Seperti biasa, dia memegang tanganku hingga telapak tanganku berkeringat deras” ucapnya seraya menatap ke arah wajah Lia.


Saat itu, Petra berfikir fikir mengenai apa yang tengah terjadi. pasalnya, Petra sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi kepada Petra dan bagaimana bisa Petra tertidur kembali kedalam kamar ini. Petra berusaha mengingat kejadian lalu dengan berfikir keras. Pada akhirnya, Petra merasa sedikit haus, maka dari itu Petra pun berniat mengambil air putih yang ada di meja samping ranjang kasurnya.


Namun, saat Petra hendak mengambil air yang ada di meja samping ranjang tempatnya tidur itu, Petra mendapati jika bingkai foto pernikahan kedua orangtua Petra berdiri tegak disamping gelas berisi air putih tersebut.


Petra begitu terkejut dan spontan mengingat segalanya. Petra mengingat jika rumahnya terkena kebarakan. Petra mengingat jika Petra membawa bingkai foto tersebut. Petra mengingat jika Petra membawa formulir pendonoran jantung untuk Lia. dan bahkan Petra mengingat kalau Petra berusaha menyelamatkan nenek bersama dengan dokter pribadi Lia.


Spontan Petra begitu terkejut akan semua itu. Petra mengingat semuanya. Petra menatap kembali foto tersebut dan mengambilnya. Seketika saat itu juga, Petra meneteskan air mata dan begitu terharu akan perjuangannya menyelamatkan bingkai foto sebagai salah satu kenang kenangan dari kedua orangtua kandungnya.


“Aku berhasil menyelamatkan ini. sangat bangga akan kemampuanku sendiri. untung saja tidak ada yang rusak dan tergores dari bingkai foto ini” ucapnya seraya memeluk erat bingkai foto tersebut.


Petra pun kembali meletakkkan bingkai foto tersebut di tempat asalnya kemudian meminum segelas air putih disampingnya. Setelah Petra memuasakan dahaganya, Petrapun kembali menatap ke arah Lia.


“apa dia yang merawatku selama ini?” fikir Petra dalam hati seraya menatap ke arah wajah Lia disampingnya.


“dia pasti kelelahan dan ketiduran. Dia juga sakit, bahkan kondisinya lebih rentan daripadPetra. Mungkin aku harus memprioritaskan kesehatannya” fikirnya dalam hati.


Saat itu juga, Petra membuka selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Nampaknya, Petra telah dirawat di rumah sakit dan memakai pakaian pasien. Petra beranjak dari kasur dengan kondisi kepala Petra yang masih begitu pusing dengan sekujur tubuh yang terbalut perban. Pada akhirnya, Petra pun berhasil berdiri disamping Lia yang tengah tertidur.


“dia lucu sekali kalau tidur” ucapnya dengan sedikit tertawa menatap Lia yang tengah tertidur.


Seketika Petra pun mengangkat tubuhnya dengan cepat dan meletakkannya ke atas ranjang. Dikarenakan tubuhnya yang masih benar benar belum pulih, Petra terlalu memaksakan diri untuk mengangkat tubuh Lia dan meletakkannya di atas ranjang.


Pada akhirnya, setelah perjuangan yang sangat amat luar biasa keras, Petra berhasil meletakkan tubuh Lia di atas ranjang dan menyelimutinya menutupi sekujur tubuhnya. Petra kembali meneguk air putihnya hingga habis dan kembali meletakkan gelas tersebut di tempatnya.


Setelah itu, Petra membuka kaca jendela. Angin berhembus begitu kuat dan cahaya senja mulai memberikan kehangatannya di dalam ruangan tersebut. jingga bersama dengan warna merah menyala seketika menghangatkan tubuhnya. Mata Petra sedikit sialu dan kepala Petra bereaksi akan cahaya tersebut.


“aku agak migrain. Apa rumah ini ada obat?. Hufftt, cahaya senja ini begitu hangat, aku jadi kebelet pipis” fikirnya dalam hati.

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2