
Saat itu juga, Petra membagi satu rim kertas formulir menjadi 9 map yang berbeda. Petra membawa salah satu map dari 9 map yang ada dan ia letakkan kedalam tas kecil. Petra segera memakai sepatunya kembali dan membawa uang yang telah bang Mike dan bang Fred berikan kepadanya.
Spontan ia membulatkan tekad, Petra keluar dari kamar sambil membawa tas kecilnya itu. saat Petra keluar, Petra dikejutkan dengan semua teman temannya yang keluar dari kamar Lia. mereka semua keluar di waktu yang sama. Anna, Alex, Emma, Lucas, Issak dan Lia keluar dari kamar Lia bersamaan dengan Petra yang keluar dari kamarnya pula.
“yo! Selamat siang, Petra!” ucap Alex melambai kepada Petra.
“apa kau baru bangun? Dasar pemalas?” tanya Anna.
“kau mau kemana? Kenapa sudah memakai sepatu dan membawa tas?” tanya Lucas kepada Petra.
“hey Petra, apa kau tau kenapa Lia menangis dari dalam kamar? Kenapa kau tidak ke kamar Lia?” tanya Issak kepada Petra.
Dengan tegas, Petra memalingkan pandangannya dari mereka. “bukan urusan kalian” ucapnya dengan tegas memalingkan wajahnya dari tatapan mereka semua.
Petra segera berjalan menuruni tangga dan kemudian sampai di lantai bawah. Petra berjalan keluar dan mendapati jika mamahnya dan papah Lia baru saja keluar dari mobil. saat mereka berdua menanyai Petra, dirinya merespon hal yang sama seperti apa yang ia lakukan kepada teman temannya.
“bukan urusan kalian” ucap Petra kepada mamahnya dan papah Lia.
Petra segera berjalan meninggalkan mereka semua dan berjalan keluar rumah. Pagar rumah yang besar, Petra berjalan layaknya keluar dari kerajaan istana yang mewah. Petra berjalan dan mulai menjauhi kompleks.
Bermenit menit Petra berjalan, wajahnya membeku saking dinginnya udara di luar sana. Namun ia masih harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan target. Maka dari itu, Petra memutuskan untuk pergi ke kota dengan berjalan kaki.
Kurang lebih 2 jam Petra berjalan kaki dengan sepatu yang sudah dipenuhi dengan salju, ia pun sampai di kawasan kumuh pinggiran kota yang dimaksud oleh sopir pribadi Lia.
“kurasa disini aku tidak mungkin untuk mendapatkan jantung. Tapi siapa tau dari mereka ada yang ingin mendonorkan jantung mereka” ucap Petra dalam hati.
Petra mulai membagikan formulir itu kepada orang disekelilingnya. Saat itu, Petra hanya membawa kurang lebih sekitar 55 lembar formulir, maka Petra harus memaksimalkan pembagian formulr tersebut kepada orang yang tepat.
__ADS_1
Petra berkeliling di kawasan kumuh hingga sampai Petra mulai memasuki wilayah perkotaan padat penduduk. Disana, Petra melihat banyaknya warga yang berjalan kesana kemari di samping jalan raya yang luas.
Dirinya menyebrangi jalan di zebra cross, berjalan kesana kemari, memasuki rumah sakit dan perkantoran, melewati supermarket dan restoran besar. Dirinya membagikannya kepada orang orang yang ia rasa adalah orang kaya.
Kurang lebih sekitar 5 jam Petra berkeliling, wajahnya begitu membeku dan nafasnya mulai tak terkontrol. Petra mulai kelelahan. Pada akhirnya, lembar terakhir di hari ini pun sudah ia bagikan kepada orang orang di kota. Petra selesai membagikan lembaran kertas tersebut di jam 5 sore.
Dikarenakan saat itu sedang musim salju, maka di jam 5 sore pun matahari sudah terbenam dan gelap. Lampu jalan menerangi seisi kota. bangunan bangunan besar memiliki pencahayaan yang luar biasa terang. Toko toko di samping jalanan mulai buka dan menjual keperluan rumah tangga di musim salju.
Petra pergi ke supermarket hanya untuk membeli minuman hangat dan sepotong roti.
Nyatanya, sepotong roti di kota dapat membeli tiga buah cup mie ramen kesukaan Petra di supermarket yang ada di desa. Dan menurutnya itu adalah harga yang sangat tidak masuk akal.
Jam 6 sore, Petra memutuskan untuk pulang kerumah Lia. ia berjalan membawa tas yang kosong. Petra menghemat uang dengan cara berjalan kerumah dan tidak memesan ojek atau taksi untuk pulang maupun berangkat. Petra berjalan di tengah dinginnya malam hingga sampai di rumah tepat pukul setengah depalan malam.
Saat Petra hendak memasuki rumah, terlihat papah Lia berdiri di depan rumah ditemani oleh Issak dan Lucas. Petra pulang dengan tubuh yang super kelelahan dan kedinginan. Namun tekadnya yang membara tidak mungkin bisa dipadamkan hanya dengan sebuah bola salju yang ia tapak di jalanan kota.
Saat mendengar suaranya, mereka bertiga begitu terekjut akan kehadiran Petra. Sepertinya mereka berdua menunggunya untuk pulang.
“nak Petra? Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang!?” tanya papah Lia begitu emosi melihat Petra.
“maaf, aku kelelahan. Aku ingin langsung tidur” jawab Petra berjalan meninggalkan mereka tanpa adanya kontak mata sedikitpun.
Petra berjalan meninggalkan mereka dan mulai menaiki tangga. Di tengah tangga, Petra mendapati Lia, Emma, Alex dan Anna sedang berjalan menuruni tangga dan hendak menuju ke lantai 3 ruang makan. mereka semua berhenti sejenak dan saling menatap satu sama lain.
Lia begitu terkejut akan kehadirannyya. Kekhawatiran Lia begitu berlebihan kepada Petra dan begitu terkejut saat Petra berjalan ke lantai atas berhadapan dengannya langsung.
“Petra!? Kemana saja kamu?” tanya Lia.
__ADS_1
Petra hanya diam dan menundukkan pandangan serta wajahnya disana.
Lia segera berjalan kesamping Petra dan menyentuh pipi Petra. Tangannya yang begitu hangat menyentuh pipi kiri Petra yang sangat dingin sebab terlalu lama di luar rumah saat salju.
“pipimu dingin. Kamu kemana aja?” tanya Lia begitu khawatir.
“itu bukan urusanmu” tegas Petra seraya seketika melanjutkan menaiki tangga.
“tunggu, katakan dulu kamu habis kemana!” tegas Lia menyahut telapak tangan Petra yang super dingin itu.
“sudah kubilang itu bukan urusanmu!” sahut tegas Petra sedikit berteriak di tengah tangga.
Teriakan Petra sedikit mengejutkan mereka semua. Mereka melihat kepribadiannya berubah drastis dimana Petra yang penyabar, murah senyum, mudah tertawa dan periang seketika kehilangan jati dirinya.
“tunggu Petra!” sahut Alex.
“aku capek. Aku tidur duluan” sahut Petra berjalan meninggalkan mereka semua.
Sesaat setelah itu, Petra memasuki kamar dan kemudian mengunci pintu kamar dari dalam. Petra melepas semua pakaiannya dan berjalan memasuki kamar mandi pribadi di dalam kamar. Petra berendam di air hangat untuk menghangatkan tubuhnya.
Selepas itu, Petra mengganti pakaian tidur dan menyalakan penghangat ruangan. Mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. selepas itu, Petra mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan melemaskan kedua kakinya.
“apakah aku sudah benar? Kurasa aku harus bertahan di jalan ini. aku tetap harus menjadi Pena Hitam di Kertas Putih. Mau bagaimanapun caranya, aku akan tetap di jalan itu.”
Perlahan tubuh Petra mulai melemas. Rasa kantuk mulai tak tertahankan dan pada akhirnya Petra tertidur dalam kondisi yang begitu kelelahan di malam hari.
-BERSAMBUNG-
__ADS_1