
Pada akhirnya, mereka berdua pun melepaskan tangan mereka. Lia mengusap matanya begitupula dengan Petra. Lia meminum air putih yang telah Petra bawa dari bawah hingga habis tak tersisa setetespun.
“aku haus, aku pengen ambil minum. Apa boleh aku mengambilnya dibawah sebentar saja?” tanya Petra.
“silahkan saja. jangan lama lama” tegas Lia.
Petra segera berjalan ke lantai bawah dan kemudian mengambil segelas air putih di dispenser galon air. Ia mengambilnya dan kemudian meminumnya di tempat itu juga. di tengah tengah ruangan yang gelap gulita, ia meminum segelas air tersebut sambil duduk di sofa ruang tengah.
Di tengah tengah ia sedang meminum air putihnya, Petra mendengar suara ketukan pintu dari pintu luar. Ia berniat untuk membukakan pintu tersebut. setelah ia buka, begitu terkejutnya Petra ketika mengetahui kalau kembarannya dari masa depan datang lagi untuk memberikan satu surat.
Disaat Petra menatapnya, ucapan pertama yang kukatakan adalah “apa kau adalah Petra Charleston Prakasa dari masa depan?”
Setelah Petra mengatakan hal itu, dirinya terkejut sebab dirinya tidak membayangkan kalau Petra akan mengenalinya. Dirinya pun mulai membuka suara dan berbicara kepada Petra untuk pertama kalinya.
“iya, aku adalah kau. Aku adalah lelaki yang membawa obor di dalam mimpimu. Aku adalah kau sendiri di masa depan” tegasnya.
“akhirnya kau buka suara. Katakan, kenapa kau selalu menutup suaramu kepadaku?” tanya Petra.
“apa wajahku ini mengatakan kalau hal itu adalah hal penting?” tanya kembarannya balik.
Petra menatap wajahnya. Matanya merah dan bengkak. Rambutnya acak acakan serta pakaian yang lusuh. Petra melihatnya seakan akan dirinya dimasa depan adalah gelandangan yang tidak memiliki semangat hidup. Ia murung dan memiliki kantung mata, serta nadanya sedikit lebih rendah. Benar benar lelaki misterius seperti Levi Ackerman di serial Attack On Titan.
“aku mengingat kata katamu di mimpiku. Kau sudah tenggelam di dalam kubangan lumpur penyesalan seutuhnya. Apa yang kau sesalkan?” tanya Petra.
“yang aku sesalkan adalah aku tidak melakuan apa yang telah kutuliskan di dalam surat itu. aku menuliskan surat itu agar kau melakukan apa yang tidak kulakukan sebelumnya. Percayalah jika aku tidak ingin kau bernasib sama sepertiku. Seluruh surat yang akan kuberikan ini akan membawamu ke permukaan dari kubangan lumpur dan menyelamatkanmu” jelas kembarannya itu.
“apa kau bisa menceritakan semuanya kepadaku?” tanya Petra.
“aku tidak ingin berbicara denganmu. waktuku tidak banyak. Aku akan pergi setelah memberimu surat. Aku hanya berpesan untuk menancapkan satu hal ini kepadamu. Jangan sesekali membahas mengenai penyakit milik Lia di depannya maupun kepada teman temanmu” tegasnya.
“teman? Temanku? Siapa?” tanya Petra balik.
“mulai besok hari, kau harus menyesuaikan diri di kelas. Kau pasti akan mendapatkan banyak teman di kelas. Banyak yang ingin menngakabkan diri kepadamu. Banyak yang ingin berteman denganmu. Saat Lia tidak masuk sekolah, gunakan waktu semaksimal mungkin agar kau bisa sangat akrab kepada teman temanmu. Tapi jika Lia masuk sekolah, gunakan waktu semaksimal mungkin agar kau menghabiskan waktu bersama dnegan Lia bersama dengan teman temanmu. Jadi jangan sampai kau tidak masuk sekolah besok hari atau kau akan melewatkan semuanya" tegasnya dengan wajah begitu datar.
“aku faham, sangat paham. Tapi apa yang harus kulakukan saat 25 desember nanti?” tanya balik Petra.
“jangan memikirkan masa depan. jangan fikirkan besok hari. Fikirkan cara bagaimana caramu memaksimalkan upayamu hari ini. setaip hari, aku akan memberikanmu surat, dan surat itu adalah jalan untuk menuntunmu. Ikutilah arahanku, dan kau tidak akan pernah menyesal di kemudian hari” ucapnya dengan wajah datarnya.
“baik, aku mempercayaimu. Sekarang, kenapa kau pergi malam malam sekali kemari? Apa kau ingin memberiku surat?”.
“aku memberimu surat yang akan menuntunmu setiap harinya. Tugasmu tidak perlu memikirkan esok hari. Tugasmu memaksimalkan hari ini. ingatlah hal itu” tegasnya.
“kalau begitu, berikan suratmu kepadaku”.
Kembarannya itupun memberikan suratnya kepada Petra dan spontan ia meletakkannya kedalam saku celananya.
“aku akan kembali. jangan lupakan kata kataku. Jangan menyesal di akhir nanti” ucapnya
__ADS_1
Pada akhirnya, dirinya berjalan meninggalkan rumah. Petra tak tau dimana dia tinggal, bagaimana caranya bisa bertemu dengannya, apa yang dia lakukan saat tidak bertemu dengan Petra, dan lain lain. Namun, Petra yakin jika ia menghampirinya demi kebaikannya sendiri.
Petra kembali masuk kedalam rumah. Ia menutup pintu rumah, berjalan ke lantai atas, dan kembali berjalan memasuki kamar.
Disaat ia memasuki kamar, dirinya mendapati jika Lia sedang menuliskan kata kata seolah olah tembok di kamar Petra adalah papan tulis. Dirinya menulis menggunakan jari telunjuknya di tembok itu.
“apa yang sedang kau tulis?” tanya Petra kepada Lia.
“ka-kamu lama banget. katanya cepet, kenapa minum air putihnya lama banget” upcanya mengembungkan pipi dan memasang ekspresi marah.
“ma-maaf. Aku sedikit kebelet, jadi aku ke kamar mandi sebentar”.
“ohh, ke kamar mandi” ucapnya menggelengkan kepala.
“sekarang, sudah waktunya untuk memeriksa kondisi tubuhmu” tegas Petra.
“a-apa yang akan kau lakukan? Dasar lelaki cabul, lelaki mesum!” ucapnya memeluk tubuhnya sendiri.
“aku bukanlah ibu ibu UKS yang harus membuatmu melepaskan pakaian dalammu. Aku hanya akan memeriksa suhu tubuhmu. Masukkan ini kedalam mulutmu” ucap Petra seraya memberikan termometer kepadanya.
“ohh, jadi begitu” ucapnya.
Dirinya pun mulai memasukkan termometer tersebut kedalam mulutnya. Selepas itu, Petra melihat suhu dari termometer tersebut. nyatanya, demamnya sudah mulai turun dari 41 derajat hingga 39 derajat celcius. Namun mau bagaimanapun juga, angka 39 derajat adalah angka yang begitu tinggi.
“demammu sudah mendingan, tapi ini masih tinggi”.
“tidak, tapi aku akan menyuruh papahmu untuk membawamu pulang segera agar kamu dirawat di kamarmu sendiri” tegas Petra.
“pa-papah? Yang bener?” tanya Lia sedikit terkejut.
“dia ada dirumah ini. dia menunggu hingga kondisimu membaik, barulah papahmu bisa membawamu pulang kerumahmu” jawab Petra.
“sekarang, dimana papah?” tanya Lia.
“dia ada di dalam kamar mamahku bersama dengan nenek. Mereka bertiga sepertinya sedang membicarakan hal yang penting, jadi aku tidak berani mengganggunya” jawab Petra.
“sekarang, apa aku boleh menemuinya?” tanya Lia balik.
“aku akan memanggilnya untukmu” jawabnya.
“aku minta tolong”.
“siap, ratu ku” jawab Petra memberi hormat kepadanya.
Iapun berjalan ke kamar sang ibunda yang ada disamping dan kemudian mengetuk pintu kamarnya. Selepas itu, tanpa sengaja, ketukannya itu terlalu keras hingga berhasil membuka pintu kamar mamahnya hanya dengan pukulan ketukannya saja.
Saat Petra melihat isi kamar, ia mendapati jika papah Lia spontan mengusap air matanya dan kemudian bersikap kepada Petra seperti biasa.
__ADS_1
“ehh, na-nak Petra. Ada apa nak?” tanya papah Lia spontan mengusap air mata.
“apa papah baik baik saja? apa papah pusing?” tanya Petra.
“ti-tidak, mataku hanya sedikit perih” jawabnya.
“ohh sedikit perih. Emm, anu. Lia sudah siuman”.
“anakku sudah siuman?”.
“papah sudah boleh membawa Lia untuk pulang”.
“apa aku boleh menemuinya?” tanya papah Lia.
“kenapa tidak” jawabnya.
Pada akhirnya, mamah, papah Lia, nenek dan Petra pun kembali memasuki kamar Petra yang ada di sebelah. Mereka semua begitu lega saat mendapati jika saja demam dari Lia sudah menurun dan tidak separah tadi.
Setelah itu, Petra meminjamkannya jaket tebalnya untuk Lia kenakan. Pada saat itu juga, papah Lia menggendong tubuh Lia dan kemudian membawanya kedalam mobil yang tengah terparkir di depan rumah.
Papah Lia kembali masuk kedalam rumah hanya untuk mengambil jaketnya dan kemudian berpamitan kepada mereka bertiga.
“terimakasih banyak atas semuanya. Aku tidak tau harus membayar kalian dengan cara apa” ucap papah Lia.
“tidak apa apa. Kalau ada kendala, silahkan mampir kerumah. Aku akan selalu membuka pintu untuk kalian” jawab sang ibunda.
“dan juga untuk Petra. Terimakasih karena telah menjaga dan merawat Lia di kamarmu. Kamarmu keren, aku jadi terinspirasi untuk memodifikasi kamarku menjadi mirip dengan kamarmu. Sekali lagi, terimakasih banyak” ucap papah Lia.
“ti-tidak apa apa, pah. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku yang terlalu memaksa Lia untuk bermain sedangkan aku sama sekali tidak tau kalau Lia masih belum sembuh” jawabnya.
“tenang saja, itu tidak apa. Lia akan sembuh kok” ucap papah Lia mengelus kepala Petra.
“apa Lia akan baik baik saja? apa Lia akan sembuh?” tanya balik Petra.
“Lia pasti akan sembuh. Lia akan menemuimu jika dia sudah sembuh” jawabnya.
“apa kalian akan pindah rumah? Lia bilang kalau Lia akan pindah rumah pada tanggal 25 desember. Apa itu benar? Apa kita tidak bisa bermain bersama Lia saat malam natal?” tanya Petra.
“iya, kita akan pindah rumah. Tapi kita akan membiarkan Lia untuk bermain di hari terakhirnya bersamamu saat malam natal nanti. Dan juga, tolong agar bahagiakanlah Lia di saat saat seperti itu. aku yakin Lia pasti akan senang saat dia telah berpindah nanti” ucap papah Lia kepada Petra.
“ba-baik. Aku akan berusaha” jawab Petra menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, papah Lia pun kembali kedalam mobil dan seketika menginjak gasnya. Petra hanya bisa melihat dari kejauhan saat Lia memberinya lambaian tangannya dari jendela tengah. Hingga sampai mobil tersebut tidak nampak dari rumah, mereka pun kembali masuk kedalam rumah.
Nenek dan mamah masuk terlebih dahulu kedalam rumah sementara Petra harus mematikan lampu teras depan. Saat ia menaiki kursi dan hendak memutar bola lampu agar lampu tersebut mati, tanpa sengaja kertas yang diberikan oleh kembarannya dari masa depan itu keluar dan terjatuh dari saku celananya. ia pun teringat dan bergegas mengambilnya kemudian membukanya.
Saat Petra membacanya, dirinya sangat amat luar biasa terkejut. Isi dari surat tersebut adalah
__ADS_1
-BERSAMBUNG-