
“apa? Apa yang terjadi? kenapa hal ini bisa terjadi?” fikir Petra dalam hati.
Dengan tegas, sang mamah menyuruhnya untuk mencari barang barang yang ada di dalam tas milik Lia. Siapa tau, di dalam tas milik Lia terdapat satu informasi yang sedikit membantu.
Hingga pada akhirnya, setelah Petra mencari sekian menit, dirinya menemukan kartu identitas milik papah Lia. Di kartu tersebut, Petra mendapati jika papah Lia bekerja di sektor pertambangan menjadi salah satu kepala ketua koordinator. Di dalam kartu tersebut dituliskan nama, alamat dan nomer telfon.
Spontan ia memberikannya kepada sang ibunda dan menyuruhnya untuk menelfon. Pada akhirnya, beliau pun turun ke lantai bawah sembari membawa kartu identitas tersebut. Sang ibunda kemudian menelfon menggunakan ponsel Nokya jadul miliknya itu dan hendak memberitahukan kondisi Lia kepada papahnya.
Petra yang saat itu sedang berada di dalam kamarnya bersama dengan Lia tak kunjung henti menatap wajah Lia yang begitu memucat. Warna pada bibirnya menghilang, kelopak matanya begitu keriput, alisnya seringkali berkedut dan Lia tidak henti hentinya mengeluarkan suara lirih kesakitan.
Saat Petra melihat termometer yang terpasang di mulut Lia, nampaknya Lia dalam kondisi demam tinggi. Suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius dan itu adalah suhu yang tidak beres. Petra mencabut termometer tersebut, mengelap bekas mulut Lia menggunakan alkohol swab dan kemudian meletakkan kembali termometer kedalam tempatnya.
Petra sempat berfikir sembari menatap wajah Lia yang terbaring lemah di kasurnya. “apa mungkin, ini adalah salahku?. Apa mungkin, ini adalah konsekuensi yang telah diketahui oleh diriku di masa depan? apakah ini adalah konsekuensi yang telah tertulis di kertas tersebut? apa mungkin, kertas tersebut telah mengetahui masa depanku. Tidak, bukan kertas itu yang mengetahui masa depanku, tapi diriku dimasa depan lah yang mengetahui masa lalunya. Dirinya berkata kalau dirinya tidak pernah melakukan apa yang kulakukan saat ini dan aku telah melakukan apa yang dirinya tidak lakukan di masa lalu, namun dirinya tau akan konsekuensi ini. apa jangan jangan, diriku di masa depan tidak pernah mengajak Lia untuk pergi ke bazar? Apa jangan jangan, Lia di masa depan tidak pernah bertemu dengan mamah dan nenek?. Diriku di masa depan tidak pernah melakukan ini namun mengetahui konsekuensi ini, jadi bisa disimpulkan kalau diriku dimasa depan lebih mengenal Lia hingga diriku dimasa depan mengetahui jika Lia sedang sakit. setidaknya itu yang harus kupercayai untuk saat ini” fikirnya dalam hati.
Tidak lama setelah itu, terdapat suara ketukan pintu dari pintu kamarnya yang tertutup rapat. Setelah Petra membukanya, dirinya sedikit terkejut saat melihat kalau papah Lia telah datang di depan kamarnya.
“pa-papah? Papah Lia?” ucapnya dengan tatapan mata yang mulai berkaca kaca.
“apa Lia baik baik saja? ada apa dengan Lia?” tanya papah Lia kepada Petra.
Petra tidak sanggup lagi untuk menahan isak tangis air mata penyesalannya. Ia menyesal karena tidak mengikuti isi dari surat tersebut. Ia menyesal sebab dirinya tidak melakukan apa yang telah tertulis di surat itu. Dan ia sangat menyesal karena tidak mempercayai dirinya sendiri di masa depan.
__ADS_1
Dengan suara serak basahnya, hanya ada bola mata yang menahan jatuhnya air mata tersebut. Petra menatap mata papah Lia dan papah Lia juga menatap matanya. Dengan ucapan penuh penyesalan, Petra mengatakan curahan isi hatiku kepada papah Lia.
“maafkan Petra, papah. Petra-lah yang mengajak Lia untuk pergi berbelanja. Petra-lah yang mengajak Lia untuk memasak bersama di rumah. Petra-lah yang mengajak Lia untuk bermain kemari. Petra-lah yang telah membuat tangan Lia tergores pisau. Petra-lah yang tidak memikirkan tentang kesehatan Lia. Dan juga, Petra-lah yang membuat Lia sampai sakit seperti ini” ucapnya dengan air mata yang sudah tak kuat lagi tuk terbendung.
“kamu tidak salah. Lia sakit karena tubuh Lia yang lemah. Semua orang pasti ingin memiliki waktu berdua dan waktu bermain bersama. Kamu tidak salah, Lia juga tidak salah. Kalian berdua ingin bermain bersama dan ingin memiliki waktu berdua. tapi Lia adalah anak yang lemah. Tubuh Lia tidak bisa memaksakan dirinya yang sedang demam. Lain kali, kalian harus bisa mengatur waktu yang tepat dan melihat kondisi. Papah tidak menyalahkan kalian berdua jika kalian berdua ingin bermain, papah hanya berpesan agar kalian berdua harus mampu membaca situasi dan melihat waktu main. sampai sini, Petra paham?” tanya papah Lia dengan senyum tulusnya kepadanya.
Spontan Petra memeluk tubuh papah Lia yang saat itu sedang berhadapan langsung dan menatap wajahnya. Petra memeluknya dengan begitu erat. “Rasanya, baru kali ini aku merasa kalau aku mendapat nasihat kepada papah kandungku. Rasanya baru kali ini aku merasakan bagaimana anak seusiaku diberi ceramah oleh papah mereka. dan aku merasa, aku sedikit senang”.
“maafkan aku, pah. Maafkan aku karena aku membiarkan Lia sakit” ucap Petra mengusap kedua matanya.
“Lia akan baik baik saja. dia hanya demam biasa” jawabnya seraya mengelus kepala Petra.
“apa papah akan memasukkan Lia ke rumah sakit?” tanya Petra.
“ba-baik pah, terimakasih banyak”
Ia melepaskan pelukannya dan membiarkan papah Lia berbincang kepada sang ibunda.
Sebelum berbincang, papah Lia sempat memegang jidat Lia menggunakan punggung telapak tangannya.
“Lia sudah keterlaluan parah sekali, ini sudah kelewat batas” gumam papah Lia.
__ADS_1
“ehh? Ke-kenapa om? Suara om tidak jelas” tanya Petra meendekatkan telinganya.
“tenang saja. demam Lia tidak begitu parah kok” jawabnya dengan senyum tulusnya.
Saat itu juga, papah Lia bersama dengan sang ibunda pergi keluar dari kamar sembari menutup pintu kamar tersebut dari luar. Saat itu juga, Petra mengambil kursi di meja belajarnya kemudian duduk di kursi tersebut.
“maaf, Lia. sebenarnya aku tau kalau kamu itu sedang sakit, tapi kenapa aku tidak memulangkanmu sama seperti perintah di surat itu” fikir Petra dalam hati.
Petra menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Ia mencoba menenagkan fikiran dan hatinya agar tidak begitu terlelap dalam emosi sesaat.
“tadi pagi, kamu seringkali bolak balik ke kamar mandi. hingga saat jam siang, kamu malah masuk kedalam UKS. Seharusnya aku tau kalau kamu itu sedang sakit, tapi kenapa aku malah mengajakmu untuk pergi ke bazar. Dasar Petra bodoh” ucap Petra sembari memegang telapak tangan kiri Lia dan memejamkan matanya.
“iya memang. Dasar Petra bodoh” ucap Lia dengan lirih suaranya.
Saat Petra mendengar suara Lia yang mengatakan bahwa Petra bodoh, Petra spontan membuka matanya dan menatap ke arah wajah Lia. namun nampaknya, suara itu adalah suara dari imajinasinya saja. Petra tidak melihat tanda tanda kalau Lia sudah siuman.
“ternyata aku hanya salah dengar. jujur saja, aku benci dibenci olehmu” fikir Petra dalam hati sembari menghela nafas begitu dalam.
Petra tidak henti hentinya memegang tangan kiri Lia. entah kenapa, ia mengingat perkataan Lia saat dirinya berada di UKS bersamanya.
“aku akan memegang tanganmu hingga tanganmu berkeringat. Hingga sampai saat itu, kamu akan terbangun dari siumanmu dan mengelap kedua telapak tangan dari keringat menggunakan tisu” ucapnya kepada Lia yang masih tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pada akhirnya, saat Petra duduk disamping Lia sembari memegang tangan Lia selama sekian menit lamanya, hal itu membuatnya sedikit mengantuk. Dan akhirnya, dirinya tertidur disamping Lia yang tengah pingsan.
-BERSAMBUNG-