Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 27 [Kebakaran Hebat]


__ADS_3

“kurasa itu bukan api unggun. Asapnya mulai keluar dari jendela ruang tamu, dan ada cahaya berwarna jingga dari dalam rumah. Kurasa itu benar benar bukan api unggun” ucapnya mulai menyadari sesuatu.


“iya, kurasa itu bukan api unggun” jawab Petra juga mulai menyadari sesuatu.


Saat itu juga mereka berdua menyadari satu hal. Bukan api unggun yang membuat rumah Petra menjadi penuh dengan asap, tapi saat itu juga rumahnya kebakaran. Spontan Petra berteriak dari luar rumah dan memanggil neneknya yang ada di dalam rumah.


Petra menatap rumahnya yang perlahan asap dari dalam rumah mulai bertambah banyak seiring dengan berjalannya waktu.


“apa yang terjadi? nenekku. Nenekku ada di luar rumah bukan? Jangan bilang nenekku terperangkap di dalam rumah. Itu bercanda. Nenekku ada di luar rumah kan?” fikir Petra dengan tetesan air mata yang mulai membasahi pipi.


Seketika Petra teringat di dalam surat yang diberikan oleh dirinya dari masa depan. ucapan “selamatkanlah nenekmu” menggerakkan hatinya. Derasnya air matanya tidak mampu lagi ia bendung namun getarnya jantung dan jiwanya pun tidak mampu lagi ia tahan.


Pada akhirnya, Petra berteriak dengan sangat kencang dari luar rumah memanggil neneknya yang ada di dalam rumah. Spontan Petra melepas kaus piyama miliknya dan berlari ke arah kran air depan rumah. Petra membasahi kaus tersebut dan kemudian mengikatnya di wajahnya agar menutupi mulut dan hidungnya.


Spontan saat Petra hendak berlari memasuki rumah, dokter pribadi Lia menarik paksa tangannya dan tidak membiarkannya memasuki rumah.


“apa yang kau lakukan, dasar bodoh!” tegas lelaki tersebut berteriak di depan wajahnya.


“aku ingin menyelamatkan nenekku yang ada di dalam rumahku” jawab Petra kepada dokter pribadi Lia dengan isak tangis air matanya.


“jangan bertindak gegabah dan jangan panik. Nenekmu pasti akan baik baik saja” ucapnya.


“jika aku tidak masuk dan menggendong nenekku dari dalam, nenekku akan kehabisan nafas dan terbakar hidup hidup di dalam sana” teriak Petra di hadapan wajahnya.


Pertengkaran Petra dengan dokter Lia benar benar sengit. Lelaki itu berusaha menarik tangan Petra dan memaksaku untuk tetap diam di luar.


“jangan bodoh! Kau tidak mampu menyelamatkannya. Tunggulah sampai pemadam kebakaran datang” tegasnya.


“kalau kita terlambat beberapa detik saja, nenekku meninggal. ia adalah nenekku, dan bukan nenekmu. Jika kau berada di posisiku, kau pasti akan mengerti!” teriak Petra di depan wajahnya langsung.

__ADS_1


“walau begitu, aku tetap tidak ingin membiarkanmu masuk” tegasnya dengan mata yang begitu memelototi Petra.


“alasanku mengapa aku ingin pulang segera kerumahku adalah aku sudah tau kalau akan terjadi seperti ini. jika kau menghalangiku, itu sama saja seperti aku tidak pergi kerumah ini. kenapa kau begitu mengekangku dan menghalangiku” teriak Petra di hadapan wajahnya.


“karena aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya” ucapnya seraya menurunkan intensitas nada bicaranya dan menundukkan kepalanya.


“a-apa maksudnya?” tanya Petra sedikit curiga.


“jika aku adalah papahmu, aku tidak akan pernah membiarkan anakku sendiri masuk kedalam rumah yang tengah terbakar” ucapnya seraya menundukkan kepalanya.


“ma-maaf, tapi kau bukanlah papahku!” ucap Petra spontan menendang kepala lelaki tersebut yang tengah memakai helm.


Lelaki tersebut pun pada akhirnya terpental jauh dan terjatuh di halaman rumah. Spontan Petra berlari membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu itu.


Saat ia memegang gagang pintu dan hendak membukanya, nyatanya tangannya seperti memegang setrika yang menyala. Tangannya terpanggang dan spontan ia berteriak kesakitan.


Mau tidak mau, Petra harus menendang pintu tersebut sekuat tenaga. Kepalanya begitu pusing, tubuhnya lemas dan tak berdaya. Petra berkali kali menendang pintu tersebut namun sepertinya pintu tersebut tidak bisa terbuka.


Spontan Petra menoleh kebelakang dan melihat dokter pribadi Lia. beliau sudah melepas kausnya dan membasahinya kemudian mengikatnya untuk menutupi hidung dan mulut. Beliau juga memakai kacamata hitam dan semacam syal yang telah dibasahi untuk menutupi rambutnya. Spontan lelaki tersebut berlari ke arah Petra dan menendang pintu itu dengan sekuat tenaga hingga pintu itu jebol dan runtuh.


“kalau kau masih bersih keras ingin menyelamatkan nenekmu, aku akan membantumu” tegasnya kepada Petra.


“aku sangat berterimakasih” jawab Petra menganggukkan kepala dan mengusap air matanya.


Pada akhirnya, Petra dan lelaki itu berjalan memasuki rumah. Mereka berdua berjalan perlahan dan mendapati jika esbes rumah, lemari, pintu, meja, kursi, dan segala perabotan di dalam rumah terbakar oleh api yang begitu besar.


Dikarenakan dinding rumah ini terbuat dari batu bata yang disusun kuat, maka dari itu tembok dalam rumah tidak ikut terbakar melainkan hanya menghitam sebab abu yang memenuhi ruangan.


Matanya begitu pedih dan tak henti hentinya mengeluarkan air mata. Pada akhirnya, Petra dan lelaki tersebut berjalan ke ruang tengah yang luasnya menyerupai aula kantor desa. Disana, hampir semua perabotan rumah terbuat dari kayu, dan hampir semuanya pula terbakar habis.

__ADS_1


“dimana kamar nenekmu?” tanya lelaki tersebut.


“kamarku dan kamar mamahku ada di lantai atas, sementara kamar nenekku ada di lantai bawah. Lebih tepatnya di samping gudang” jawabnya seraa menunjuk menggunakan jari telunjuk.


“kalau begitu, cepat masuk kedalam kamar nenekmu” tegas lelaki tersebut.


Pada akhirnya, mereka berdua berlari ke arah kamar nenek yang ada di dekat gudang penyimpanan. Mereka berdua melihat jika neneknya sudah terbaring lemah di lantai sementara kasurnya habis terbakar begitupula dengan lemarinya.


Saat di dalam kamar, Petra mengingat isi dari surat tersebut. aku mengingat jika pekerjaan nenek sudah selesai di atas meja tenun. Dan benar saja jika di atas meja tenun, terdapat 7 syal disana.


Saat dokter pribadi Lia itu menggendong tubuh nenek, Petra malah mengambil ketujuh syal tersebut dan membawanya. Pada akhirnya, Petra dan lelaki tersebut berjalan keluar kamar. Disaat lelaki tersebut berlari sembari membawa neneknya di dalam rumah, Petra terhenti di tengah perjalanan.


Petra teringat di dalam surat tersebut jika aku harus menggunakan otaknya untuk membawa semuanya yang penting baginya. Dan Petra teringat satu hal yang sangat amat penting buatnya. Seketika Petra berlari ke lantai atas dan kemudian berlari ke arah kamar mamahnya yang ada di samping kamar Petra.


Seketika Petra menendangnya dan mendapati jika kebakaran di dalam kamar mamahnya itu tidak begitu parah. Ia pun mencari barang yang sangat penting baginya. Petra mencari di setiap sudut kamar, di ujung kasur dan dimanapun, pada akhirnya ia pun berhasil menemukan barang yang paling penting tersebut. barang itu adalah surat formulir pendonoran jantung untuk Lia yang diberikan oleh papah Lia kepada mamahnya saat lalu.


Setelah itu, Petra melipatnya, ia menggenggamnya begitu erat dan kemudian berjalan keluar kamar mamahnya. Ia melihat isi dari dalam kamarnya untuk terakhirkalinya. Petra melihat bantal dan kasurnya terbakar api, ia melihat lemari pakaiannya hangus terbakar, ia melihat meja belajarnya yang juga telah runtuh, dan juga Petra melihat kalau bingkai foto kedua orang tuanya terbakar habis.


Petra berlari memasuki kamarku hanya untuk mengambil bingkai foto tersebut. Petra mengibas-kibaskan bingkai foto tersebut agar apinya tidak terlalu membakar bingkai foto tersebut, dan kemudian barulah ia berlari pergi meninggalkan kamarnya yang hanya akan tinggal kenangan.


Petra berlari keluar kamar dan menuju ke tangga bawah. Saat ia ingin melangkah ke lantai tangga bawah, nyatanya esbes rumah di atasnya secara tiba tiba terjatuh dan mendorongnya kebelakang. Esbes tersebut mengenai wajah dan kepalanya sehingga tubuhnya terdorong kedepan dan pada akhirnya ia terjatuh saat menuruni tangga.


Pada akhirnya, Petra mendarat di lantai bawah. Sekujur tubuhnya menghitam sebab abu, bersama dengan kepalanya yang sangat amat pusing, ia pun tergeletak disana dan tak bisa melakukan apa-apa lagi.


Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah tengkurap, sembari melindungi bingkai foto kedua orang tuanya dan formulir pendonoran jantung Lia di genggamannya. Ia memeluk keduanya dan melingdunginya menggunakan punggungnya yang saat itu aku tidak memakai pakaian atas.


Matanya mulai berkunang kunang, kepalanya benar benar sangat pusing, tubuhnya kelelahan hebat, telinganya berdengung dengan sangat kencang dan hidungnya mulai mengeluarkan darah. Pada akhirnya, ia pun tak sadarkan diri di tempat tersebut.


Di detik detik kesadarannya, ia mendapati jika lemari koleksi piring antik milik mamahnya yang saat itu sedang berada di sampingnya mulai roboh. Pada akirnya, lemari yang ada di samping kanannya tersebut terjatuh dan menimpa tubuhnya. Kayu yang terbakar membara itupun menimpa tubuhnya yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


Pada akhirnya, hampir sekujur tubuhnya tertimpa lemari kayu yang membara di atas tubuhnya. Tidak ada satupun orang yang tau jika ia terjebak di tumpukan kayu lemari tersebut.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2