
Petra membaca isi surat tersebut dalam hati. Isi surat tersebut adalah “jika yang membuka surat ini adalah Petra, maka aku sangat senang. Terakhir kali kita bertemu adalah saat kau menyelamatkan nenekmu di rumahmu yang terbakar habis. Saat aku membawa nenekmu, kau malah membawa syal nya dan membawa bingkai foto kedua orangtuamu bersama surat pendonoran jantung untuk Lia. menurutku itu adalah satu hal yang sangat berani. Dan juga, mungkin saat kau membaca surat ini, aku tidak ada disampingmu, maka aku menyerahkan tugas dokter ini kepada Lia. tenang saja, dia sudah kuajari bagaimana caranya untuk merawat seseorang layaknya perawat. Perihal kau tau tidaknya mengenai penyakit jantung Lia, aku sudah merahasiakannya. Aku menyembunyikan kertas formulir pendonoran jantung untuk Lia di dalam bingkai foto kedua orangtuamu. Silahkan di cek sendiri. pada akhirnya, aku hanya bisa menolong anakku sebatas ini saja. aku sekarang ada di Ukraina bersama dengan istriku dan anak pertamaku. Maaf karena aku tidak akan pernah kembali ke rumah tersebut karena aku sudah dipecat karena gagal untuk menyelamatkan nyawa Lia. ini sekarang adalah tugasmu untuk merawat Lia sebaik baiknya. Papahmu ini meminta tolong kepadamu, jangan melakukan hal yang gila untuk keduakalinya. Papahmu pasti akan sangat bahagia dan bangga melihatmu telah menjadi dewasa. Salam dari dokter pribadi Lia”
Membaca surat tersebut, Petra sama sekali tidak paham mengenai apa yang dikatakan oleh orang itu. Yang Petra paham hanyalah mengenai surat formulir tersebut.
“terimakasih karena sudah membantuku sampai sejauh ini” fikirnya seraya melipat kembali surat tersebut.
Petra memasukkan surat tersebut kedalam amplop nya kembali dan melipatnya.
“apa yang dikatakan oleh dokter pribadi Lia kepadamu? Kenapa dirinya tidak ingin kita semua melihatnya?” tanya papah Lia kepada Petra.
“ti-tidak, dia hanya curhat kepadaku. Dia hanya kesal karena kau memecatnya hanya karena Lia sudah sembuh. seakan akan, kau mengundangnya saat kau butuh saja, dan saat Lia sudah sembuh, kau malah memecatnya” jawab Petra kepada papah Lia.
“jadi dia memberitahukan kepadamu kalau aku memecatnya? Dasar orang sudah gila” ucap papah Lia.
“iya, dia memberitahukan kepadaku kalau rumahnya ada di ukraina. Dia berkata kalau kau memecatnya karena Lia sudah sembuh. seharusnya, kau membiarkannya untuk merawatku dirumah ini untuk sebentar lagi” ucap Petra kepada papah Lia.
“mau bagaimana lagi? Lia sudah sembuh, maka dari itu aku sudah tidak membutuhkannya lagi” sahut papah Lia.
“terserahmu saja, dasar orang kaya” jawab Petra.
“kalau begitu, cepat kembali ke atas kasur dan istirahatlah” tegas mamah Lia.
“aku laper” sahut Petra.
“tunggu sebentar lagi, teman temanmu pasti akan kembali dengan membawa makanan” jawab mamah kepada Petra.
“maksud mamah, Issak, Anna, Alex, Emma dan Lucas akan kemari?” tanya Petra begitu terkejut.
“mereka berlima selalu menjengukmu sepulang sekolah. Dan kita akan makan bersama di sini” jawab papah Lia.
“kenapa tidak makan di meja makan saja?” tanya Petra balik.
“kurasa, makan di kamar lebih enak daripada makan di meja makan” sahut Lia.
“by the way, apa papah punya pakaian lain? aku sudah mulai kedinginan” tanya Petra kepada papah Lia.
“maaf, aku akan mengambilkannya di kamar papah” sahut sang papah Lia.
“baik” jawab Petra.
Papah Lia pun berlari keluar kamar Lia hanya untuk mengambilkan pakaian untuk Petra.
“mamah juga akan mengambilkan air putih. Setidaknya, kamu harus minum yang banyak” sahut mamah kepada Petra.
“baik” jawab Petra balik.
Mamahnya pun berjalan keluar kamar sembari mengambil gelas kosong Petra di atas rak meja samping ranjang. Pada akhirnya, di dalam kamar tersebut hanya ada Petra dan Lia seorang. Suasana pun berubah seketika menjadi canggung dan sunyi.
Petra duduk disamping Lia yang saat itu juga duduk di kasur dengan kedua kaki menyentuh lantai. Petra duduk disampingnya sembari meletakkan tangannya di atas pahanya sendiri. mereka berdua saling berdiam diri di tempat itu.
“anu” ucap Petra dan ucap Lia bersamaan.
“maaf, silahkan kamu dulu” sahut Petra dan sahut Lia bersamaan.
__ADS_1
“tidak, kamu dulu” sahut Petra dan sahut Lia bersamaan.
“kok kita barengan terus sih” ucap Petra dan ucap Lia bersamaan diikuti tawa kita berdua.
“yaudah biar aku dulu” ucap Lia dengan tawanya.
“baiklah” jawab Petra menganggukkan kepalaku.
“apa kamu yang memindah tubuhku ke atas kasur saat aku tidur? Bagaimana denganmu?” tanya Lia kepada Petra.
“setelah aku memindahkan tubuhmu di atas kasur, aku tidak melakukan apa apa kepada tubuhmu. Aku langsung mandi. Aku berani sumpah karena aku tidak melakukan apa apa” sahut tegas Petra dengan pipi yang memerah.
“benarkah?” tanya Lia dengan memeluk tubuhnya sendiri menggunakan kedua lengannya.
“aku tidak se mesum itu kepada perempuan. Aku tidak begitu tertarik dengan hal seperti itu” tegasnya.
“sekarang giliranmu. Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Lia kepada Petra.
“aku hanya ingin bertanya mengenai dokter pribadimu saja” jelas Petra.
“katakan apa yang ingin kamu katakan” ucap Lia.
“siapa nama dokter tersebut?” tanya Petra kepada Lia.
“ohh? Nama? Nama dokter tersebut?. namanya adalah-“ ucap Lia terhenti.
Seketika saat itu juga, Petra mendengar suara ketukan pintu yang terdengar dari pintu kamar itu. pada akhirnya, Petra pun gagal dalam mengetahui nama dari dokter pribadi Lia.
“biar aku saja yang membukanya” ucap Petra.
“akhirnya,… akhirnya kamu bangun, Petra” ucap Alex dengan nada begitu terharunya.
“aku fikir, aku fikir kamu sudah mati” ucap Anna dengan nada begitu terharunya pula.
“jha-jhangan pheluk akhu therlalu erath. Uueeghh…” ucap Petra dengan wajah membiru.
“ma-maaf” sahut Anna dan Alex spontan melepaskan pelukannya.
“tapi, kenapa kau tidak memakai baju? Dan juga didalamnya ada Lia. apa yang barus aja kalian berdua lakukan di dalam?” tanya Issak dengan begitu curiganya.
“ti-tidak, aku hanya habis mandi, tapi pakaianku terjatuh di kamar mandi dan basah. Jadi aku menunggu sampai papah Lia membawakanku pakaian untuk kupakai, hehehe” jawab Petra dengan tawa sedikit menggaruk kepala.
“kalau begitu, apa kau lapar? Kalau iya, pas banget kita sudah membeli beberapa mak-“ ucap Emma terhenti.
“tunggu dulu, kalian memakai syal siapa?” sahut tanya Petra ketika menyadari bahwa mereka semua memakai syal rajutan buatan tangan.
“ohh, ini? semua syal ini adalah pemberian dari nenekmu. Nenekmu sendiri yang memberinya kepada kita semua” jawab Lucas.
“wahh, kalau begitu, apa aku dan Lia juga mendapatkan jatah syal?” tanya Petra dengan riang semangat wajahnya.
“kau mendapatkan warna biru tua. Sementara aku mendapatkan warna putih” sahut Lia seraya berjalan ke arah Petra.
“kau mendapatkan warna putih? Itu sangat bersih. Dimana milikmu sekarang?” tanya Petra kepada Lia.
__ADS_1
“itu syal yang begitu bagus, maka dari itu aku sudah membungkusnya menggunakan plastik dan hanya kubuka saat aku akan keluar rumah” jawab Lia.
“kalau begitu, dimana milikku?” tanya Petra kepada mereka semua.
“milikmu? Milikmu telah disimpan oleh mamahmu di ruangannya. Aku tidak tau dimana mamahmu menyimpannya, yang pasti syal itu akan baik baik saja” jawab Lucas.
“waahh, itu sangat keren sekali. masing masing dari kita memiliki syal rajutan dari nenekku. Aku jadi tidak sabar untuk menggunakan syal milikku itu” ucap Petra dengan aura semangat yang membara.
“itu urusanmu dengan ibumu nanti. Lebih baik, untuk sekarang kita akan makan bersama. Kita semua sudah membeli makanan yang super banyak dari bazar” ucap begitu semangat Anna.
“yaaappp, kita akan makan sepuasnya sampai perut kita meledak” teriak Alex dengan begitu semangat.
“tunggu dulu, apa itu makanan musim dingin?” tanya Petra kepada mereka semua.
“kita membeli beberapa sup kaldu hangat, roti isi melon dari toko roti milik Issak, beberapa aneka teh hijau dari kedai dekat rumah pak kepala sekolah, minuman jahe buatan ibu Emma, susu kedelai buatan langsung dari ibu Lucas, beberapa macam ikan panggang, semur jamur buatan ibu Petra, dan masih sangat banyak lagi” jelas Alex.
“kalau begitu, ayo kita makaaann‼” sahut teriak papah Lia yang tiba tiba saja berdiri di belakang tubuh mereka semua.
Teriakan papah Lia itu mengejutkan seisi ruangan disana. seketika tatapan kita tertuju kepada papah Petra yang sedang membawa pakaiannya.
“bikin kaget aja!” sahut Issak.
“iyatuh, bisa ngga sih kalo datang jangan berisik” sahut tegas Emma.
“yaelah, kita harus semangat di setiap harinya. Benar bukan, Anna?” tanya papah Lia kepada Anna.
“yapp, itu sangat benar, kita semua harus semangat dan selalu ceria setiap harinya” teriak Anna dengan begitu semangatnya.
“kalau begitu, ayo kita maakaaannnn‼” teriak Alex dengan begitu semangatnya.
“ayo kiitaaa maakkkaaannn‼” teriak Anna dengan luar biasa semangatnya.
“AYOOO KITAAHH MAKHAANNN‼” teriak papah Lia dengan super kencang di dalam kamar itu.
“huusss! Jangan teriak teriak, berisik!” mamah memasukkan gumpalan tisu kedalam mulut papah Lia hingga tersumbat.
Maka dari itu, dikedarlah sebuah tikar besar untuk kita semua makan di dalam kamar tersebut. di tikar itu, semuanya duduk di bawah tikar sementara hanya Petra dan Lia yang duduk di atas kasur. Petra mengenakan pakaian yang telah diberikan papah Lia kepada Petra, dan ia pun mengenakannya di dalam kamar mandi.
Saat Petra hendak memasuki kamar mandi sembari membawa pakaiannya, ia terkejut setengah mati saat melihat kembarannya dari masa depan berdiri di dalam kamar mandi. spontan Petra sedikit berteriak saat melihat dirinya di dalam kamar mandi.
“wooaahh‼” teriak Petra di tempat itu.
Teriakannya itu membuat tatapan semua orang seketika tertuju kepadanya.
“apa yang terjadi?” tanya Issak.
“ti-tidak ada apa apa. Sungguh” jawabnya seketika memasuki kamar mandi.
Petra segera memasuki kamar mandi dan menutup pintu tersebut dari dalam. Pada akhirnya, Petra menemui kembarannya dari masa depan setelah beberapa hari tidak bertemu.
“sudah lama tidak bertemu” ucapnya kepadanya.
Seperti biasa, dirinya memberikan sebuah amplop surat kepadanya dan Petra pun menerimanya. Petra membuka surat itu di tempat itu juga dan membaca surat tersebut. dan ternyata Isi surat itu adalah…
__ADS_1
-BERSAMBUNG-