Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 29 [Surat Dokter Pribadi Lia]


__ADS_3

RABU-15 DESEMBER 2010. 05:39 PM


“huftt, aku kebelet pipis” ucap Petra seraya memegang joni nya menggunakan kedua telapak tangannya.


Ia pun mencari pintu untuk keluar dari kamar tersebut. nyatanya saat itu, di dalam kamar tersebut terdapat dua pintu sekaligus. Ia mencoba membuka salah satu pintu tersebut dan mendapati jika pintu itu adalah pintu masuk kamar mandi.


“buset, kamar Lia punya kamar mandi pribadi?” fikirnya dalam hati seraya menatap ke arah dalam kamar mandi.


Petra bergegas memasuki kamar mandi tersebut dan menggunakannya. Nyatanya, Petra tidak hanya menggunakan kamar mandi tersebut sebagai buang air kecil, melainkan juga sekaligus mandi dan buang air besar.


“kurasa, kamar mandi ini sangat bagus. Ada shower, ada toilet, ada bathtub, ada pemanas air, ada telfon. Tunggu dulu, ada telfon di dalam kamar mandi? aneh banget dan juga kenapa perban di sekujur tubuhku ini tidak segera dilepas, tubuhku sangat gerah” fikirnya dalam hati.


Petra perlahan melepaskan semua pakaiannya dan melepas perban yang membbungkus tubuhnya satu persatu hingga ber-meter meter panjangnya. Selepas itu, Petra mendapati bahwa tubuhnya benar benar sudah terkena lecet dan luka bakar yang cukup parah. Ia pun menggunakan air hangat dan kemudian mulai berendam di bathub kamar mandi tersebut.


Setelah Petra selesai mandi, Petra menggunakan handuk bermotif boneka pink lucu untuk mengeringkan tubuhnya. Ia meyakini bahwa pasti handuk tersebut adalah handuk milik Lia dan Petra sedang memakai kamar mandinya.


“aww, tubuhku banyak sekali yang lebam dan lecet. Itu sangat perih saat terkena kain handuk. Dan juga, apa kulitku benar benar terbakar?. Kalau di ingat ingat, mungkin ini benar luka bakar. Seingatku, aku memasuki rumah yang terbakar, dan aku terluka disana. apa luka ku ini tidak apa jika terkena air?” fikirnya dalam hati


Saat Petra mengeringkan tubuhnya di depan cermin kamar mandi, ia sedikit curiga akan cermin tersebut. pasalnya, cermin tersebut memiliki gagang di depannya. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk menarik gagang cermin tersebut.


Saat Petra menariknya, ternyata itu adalah sebuah almari kecil dengan cermin di depannya. Di dalam almari tersebut, hanya ada beberapa pelembab kulit, toner, cream wajah, masker, dan lain lain.


“jadi seperti ini barang barang milik perempuan di dalam kamar mandi?” fikirnya dalam hati.


Sampai pada akhirnya, ia sedikit terkejut saat mendapati jika terdapat sebuah kotak putih dengan simbol label hijau berbentuk layaknya tanda plus. Petra mengeluarkan kotak tersebut dan melihatnya.


Nyatanya, didalam kotak tersebut penuh dengan alat suntik dan botol kecil berisi obat cair. Disana juga terdapat secarik kertas. Petra membaca kertas tersebut dan ternyata secarik kertas tersebut berisi “aku sudah memberimu sebanyak 18 alat suntik dan 18 botol kecil berisi obat. Dengan suntikan ini, setidaknya jantungmu tidak terlalu parah dan tidak terlalu cepat kambuh. Saya yakin kamu sudah bisa cara menyuntikkan obat dengan benar. Saya sudah mengajari anda bagaimana cara menyuntiknya kemarin hari, dan pastikan kamu menyuntik obat ini selama sebulan tiga kali. dari dokter pribadimu, salam”


Saat Petra membacanya, ia begitu terkejut akan apa yang dikatakan oleh dokter pribadi Lia. dirinya membiarkan pasiennya menyuntik lengannya sendiri. seketika Petra berfikir kalau dokter tersebut adalah dokter yang sama sekali tidak bertanggungjawab.


“apa apaan dokter ini. kenapa Lia harus menyuntik tangannya sendiri?. kenapa bukan dia yang menyuntik tangan Lia?” fikirnya dengan begitu emosi.


Petra mengeluarkan seluruh barang yang ada di dalam kotak tersebut dan mendapati jika kotak tersebut diberikan tanggal 1 Juni 2010. Dan juga, yang paling mengejutkan adalah, seluruh obat yang ada di dalam botol tersebut masih penuh begitupula dengan alat suntik yang masih ada di dalam plastik yang steril.


“kenapa obat dan alat suntiknya masih utuh? Jumlahnya ada 18, dan seluruhnya masih tidak tersentuh sama sekali. bahkan alcohol swab nya pun masih utuh. Apa jangan jangan, Lia tidak menggunakan obat ini?. jika dihitung, obat ini dipakai 3 kali dalam sebulan. Dan jumlah obat ini ada 18 buah. Maka dari itu, obat ini akan habis selama kurang lebih 6 bulan. Obat ini diberikan bulan juni, seharusnya obat ini sudah berkurang kurang lebih 15 buah dan hanya tinggal 3 buah. Sebenarnya sekarang bulan apa? Dan aku tertidur berapa lama? Atau jangan jangan hari ini sudah bulan desember? Aahhhh,.. aku pusing” fikirnya seraya mengacak acak rambutnya sendiri.


Petra kembali merapihkan obat obatan tersebut dan meletakkannya di dalam almari. Ia menutup pintu almari tersebut dan kembali mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk milik Lia. namun, fikirannya masih tertuju pada obat tersebut dan memikirkan mengenai alasan mengapa Lia tidak menggunakan obatnya.


Setelah itu ia memakai celana dalamku kembali. namun saat Petra hendak mengambil pakaian dan celananya, secara tidak sengaja atasan dan bawahannya itu terjatuh ke lantai yang basah.

__ADS_1


“astaga, kenapa aku sangat ceroboh seperti ini?” fikirnya dalam hati.


Celana dan baju tidur yang tadi ia pakai pun seketika basah kuyup terkena genangan air yang tak kunjung surut. Mau tidak mau, ia harus memakai handuk itu sebagai penutup bawahan. Hingga pada akhirnya, ia pun kembali keluar dari kamar mandi.


Dari ujung depan saat ia membuka pintu, Petra mendapati orang orang yang mengerumuni ranjang. Petra benar benar kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi. disana, terlihat mamahnya dan papah Lia sedang melihat Lia duduk di atas kasur seraya menangis ketakutan. Disana juga terdapat beberapa pembantu rumah tersebut yang saat itu sedang memakai seragam pembantu rumah tersebut.


Ia berjalan hanya dengan handuk yang menutupi bawahanku. Pada akhirnya, Petra berdiri di samping papah Lia.


“apa yang terjadi dengan Lia?” tanya Petra kepada papah Lia.


“Petra sudah kabur dari rumah. Kita sudah mencarinya kemana mana, tapi sepertinya dia berhasil kabur” jawabnya.


“aku kabur?” tanya Petra dengan begitu kebingungan.


“iya, kau kabur. Lia ketakutan dan spontan memanggil semua orang di rumah ini untuk mencarimu. Pada akhirnya, dia menangis karena dia merasa bersalah sebab dirinya yang bertugas menjagamu saat kau tidak sadarkan diri” jawabnya.


“ehh, jadi Lia yang mengurusku selama ini?” ucap Petra seraya menggelengkan kepalanya.


Itu adalah percakapan antara dua orang bodoh yang otaknya memiliki daya berfikir yang luar biasa lemot. Pada akhirnya, papah Lia pun perlahan menoleh ke arah wajahnya. Dirinya menoleh perlahan ke arah kanan dengan tatapan mata yang melotot.


“tunggu dulu, kau Petra??” teriak papah Lia kepada Petra di hadapan wajahnya langsung.


“maaf, aku hanya habis mand-“ ucap Petra tersahut henti.


Seketika saat itu juga, sang ibunda itu memeluk tubuhnya erat hingga terdorong kebelakang. Beliau memeluk Petra sangat amat erat hingga Petra susah nafas.


“jha-jhangan pheluk akhu therlalu erath. Uueeghh…” ucapnya dengan wajah yang membiru.


“ma-maafkan mamah, mamah hanya terlalu khawatir” sahut mamah seketika melepaskan pelukannya.


“kemana saja kau ini? semua orang mengkhawatirkanmu” tegas tanya papah Lia kepada Petra.


“aku? aku hanya habis mandi dan pipis” jawabnya.


“tapi seharusnya kau membangunkan Lia terlebih dahulu. Lia terlalu khawatir saat kau tidak ada di atas kasur. Bahkan dia yang tertidur diatasnya” sahut mamah kepada Petra.


“ma-maaf” jawab Petra.


“dasar Petra bodoh!” sahut Lia dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


“kalau begitu, kalian semua boleh kembali bekerja” tegas papah Lia kepada seluruh pelayan disana.


“baik tuan besar” jawab serentak semua orang disana.


Pada akhirnya, sekitar 30 orang yang menjadi pelayan dan pembantu di rumah tersebut keluar kamar. Kamar tersebut seketika hening tanpa adanya semua orang tersebut. Petra hanya bisa melihat Lia yang tengah duduk di atas kasur tersebut.


“hanya karena aku mandi dan kekamar mandi, papah Lia memanggil semua pelayan dirumah ini? benar benar sangat hebat. Pelayannya sangat banyak. Pasti gaji nya sangat besar” sahut Petra.


“itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu. Kembalilah tidur di atas kasur dan istirahatlah” sahut tegas mamah kepada Petra.


“tapi mah, aku tidak bisa tidur. Lagipula, tubuhku ini sudah sangat lama tidak berolahraga” bantah Petra.


“itu tidak masalah” sahut mamah kepada Petra.


“biar kutanya, sekarang tanggal berapa?” tanya Petra balik.


“sekarang tangga 15 desember. Dan tanggal 20 desember kelak kamu akan ikut ujian. Jadi, untuk lima hari ini, mamah akan menyewakan guru privat untuk mengajarimu. Dan kamu benar bear harus istirahat total dan jangan sampai melakukan hal yang bodoh” tegas mamah kepada Petra.


“haaahhh!? Tanggal 15? Aku tidak sadarkan diri berapa lama?” tanya Petra dengan begitu terkejut setengah mati.


“pada awalnya, kamu tidak sadarkan diri pada hari kamis, tanggal 18 November di sekolah dan bangun pada hari sabtu tanggal 27 november. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama kurang lebih 9 hari. Dan pada tanggal 27 November itupula, kamu kabur dari rumah ini dan pergi kerumahmu yang terbakar habis. Pada akhirnya, setelah insiden itu, kamu tidak sadarkan diri lagi sampai tanggal 15 Desember sekarang ini. kamu tidak sadarkan diri kurang lebih 19 hari. Jika dijumlahkan, kamu di atas kasur selama 28 hari atau hampir 1 bulan penuh” jawab papah Lia.


“buset, aku tidak sadarkan diri selama itu? benar benar tidak bisa dipercaya. Hahahaha” teriak Petra begitu tertawa lepas disana.


“kenapa malah ketawa? Kamu sudah merepotkan papah Lia” sahut mamah kepada Petra.


“itu tidak apa apa. Itu tidak merepotkan kok. Petra sudah ku anggap sebagai anakku sendiri” jawab papah Lia ikut tertawa pula.


“dan juga, dimana dokter pribadi Lia? aku ingin bertemu dengannya sekarang” tanya Petra kepada papah Lia.


“ohh iya, dokterku bilang kalau dia punya surat untukmu seorang. Tenang saja, tidak ada yang berani membukanya selainmu. Dan dia juga bilang kalau hanya kamu seorang yang boleh membawa surat tersebut” sahut Lia.


“ehh? Surat? Itu keren” ucap Petra.


“nih suratnya” tegas Lia memberikan surat tersebut kepada Petra.


Pada akhirnya, ia pun menerima surat tersebut dan membuka amplop itu. Petra mengeluarkan secarik kertas berisi tulisannya yang begitu berantakan. “wajar saja dia dokter, pasti tulisannya sangat mantap” fikir Petra saat itu.


Petra mulai membaca isi surat tersebut dalam hati. Isi surat tersebut adalah…

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2