
Petra mulai mengambil bingkai foto yang ada di meja samping ranjangnya dan kemudian membongkarnya. Petra mengambil lipatan kertas yang berada di balik foto bingkai tersebut dan mengambilnya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh dokter pribadi Lia yaitu dibalik foto tersebut berisi formulir pendonoran jantung Lia.
“aku akan meng-copy formulir ini dan akan kubagikan kepada seisi desa. Dan bahkan jika perlu, aku akan pergi ke kota untuk membagikannya. Aku tidak mau tau. Aku harus melihat Lia tetap hidup” tegas Petra seraya menatap tajam ke arah formulir tersebut.
Petra beranjak dari ranjang dan perlahan memaksakan dirinya untuk berdiri. Petra berjalan pergi ke kamar mandi dan mendapati jika kamar mandi tersebut tengah kosong. Petra mencuci muka dan menggosok gigi. Selepas itu, barulah Petra berjalan keluar kamar.
Petra berjalan menuruni tangga hingga mendapati papah Lia bersama dengan semuanya sedang duduk di meja makan hendak menikmati hidangan makanan mereka. Petra berjalan menghampiri mereka dan menemui papah Lia.
Melihat Petra yang secara tiba tiba saja berjalan menuruni tangga dan menemui mereka semua membuat seisi ruangan terkejut.
“apa yang kau lakukan disini?!” tanya Alex.
“Petra? Ada apa?” tanya Lia kepada Petra.
Petra dengan sengaja mengacuhkan mereka semua dan segera berjalan ke arah papah Lia yang duduk di ujung meja makan.
“papah, aku pinjam pakaian tebal untukku. Apa ada?” tanya Petra kepada papah Lia.
“kau mau kemana?” tanya papah Lia kepada Petra.
“sebentar saja, aku hanya ingin pergi ke supermarket” jawab Petra.
“tidak perlu, kamu bisa menikmati apapun di rumah ini” ucap papah Lia.
“aku ingin membeli barang pribadiku, ini priavasi” jawabnya.
“tidak perlu. Papah akan meminjamkannya untukm-“ ucap papah Lia tersahut henti.
“kumohon” ucap Petra dengan menundukkan kepalanya dihadapan papah.
“ba-baik” jawab papah Lia beranjak dari kursinya.
“terimakasih” jawab Petra kembali menganggukkan kepalanya.
“kamu mau kemana, Petra?” tanya Lia kepada Petra.
“aku ingin ke supermarket” jawab Petra.
“tidak boleh, kamu baru saja sadarkan diri. Dan kamu sama sekali tidak boleh melakukan hal berat. Mamah tidak akan pernah mengijinkanmu!” tegas mamah kepada Petra.
“mamah tidak tau barang pribadi milik pria bukan? Ini privasiku dan kumohon biarkan aku membelinya” jawab Petra.
“astaga kamu ini. sangat tidak bisa menahan diri” ucap mamah menepuk jidatnya.
__ADS_1
“kalau begitu, apa aku boleh ke supermarket?” tanya Petra kepada mamah.
“jangan terlalu lama” tegas mamah.
“terimakasih mah” jawab Petra menganggukkan kepalanya.
“aku ikut” ucap Lia mengangkat lengannya.
“tidak perlu, aku bisa sendiri” tegas Petra.
“tapi, aku mau iku-“ ucap Lia tersahut henti.
“tidak boleh melakukan hal yang terlalu berat. Istirahatkan dirimu sendiri. kamu masih sakit” sahut Petra.
“sakit? aku baik baik saja. aku sangat sehat” ucap Lia.
“aku tidak peduli. Jangan sampai kulitmu terkena salju” tegas Petra.
“kalau begitu, biarkan aku saja yang ikut denganmu” ucap Issak.
“aku bisa berangkat sendiri” tegas Petra.
“mamah tidak akan pernah membiarkanmu berangkat sendirian” tegas mamah.
“aku sangat mampu untuk berjalan sendirian” tegas Petra.
“kenapa mamah malah mengekangku untuk keluar rumah?” tanya Petra sedikit ngegas.
“ini dia jaket tebalnya dan sepatunya” ucap papah Lia memberikan pakaiannya.
“terimakasih pah” jawab Petra segera memakai pakaian tebal dan sepatu hangat tersebut.
“tunggu dulu, mamah masih belum mengijinkanmu untuk keluar rumah” tegas mamah sedikit ngegas.
“apaansih mamah, aku cuma pergi ke supermarket” ucap Petra seraya memakai jaket tersebut.
Namun secara tidak sengaja, saat Petra memasukkan lengan kanannya di jaket tersebut, saku celana yang berisi kertas formulir pendonoran jantung untuk Lia tersebut terjatuh ke lantai dan spontan seisi ruangan melihat lipatan kertas tersebut.
Saat Petra mengambilnya, nyatanya Alex pun melakukan hal yang sama. Petra memegang sisi atas kertas sementara Alex memegang sisi bawah kertas. Pada akhirnya, Petra dan Alex pun saling berebut kertas.
“ini kertas apa?” tanya Alex dengan begitu curiganya.
“lepaskan ini” tegas Petra menatap tajam kedua matanya.
__ADS_1
“tidak akan kulepaskan sampai kau menjelaskan kertas apa ini” tegas Alex menatap balik kedua matanya dengan begitu tajam.
“ini bukan urusanmu” tegas balik Petra seraya sedikit menarik kertas tersebut.
“tentu saja ini termasuk urusanku” tegas Alex sedikit menarik kertas tersebut.
“SUDAH KUBILANG CEPAT LEPASKAN!” bentak Petra sembari menarik kertas formulir tersebut dengan begitu kerasnya.
“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN TEMANKU SENDIRI MELAKUKAN HAL YANG BODOH SEPERTI INI” teriak balik Alex menarik begitu kencangnya kertas tersebut.
Mereka berdua saling tarik menarik kertas dan bergaduh disana. hingga pada akhirnya, karena kelalaian mereka sendiri, kertas tersebut sedikit sobek dan mengeluarkan suara sobekan kertas. Hanya karena sobekan kecil di tengah tengah kertas, hal itu sudah sangat membuat Petra sangat amat murka.
*kreekk
Mendengar suara sobekan kertas tersebut, Petra dan Alex berhenti saing tarik menarik kertas. Alex melepaskan pegangan kertas tersebut sementara Petra melepaskan pula kertas tersebut. kertas tersebut pun pada akhirnya terjatuh kembali ke lantai.
“ma-maaf Petra. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyobeknya” ucap Alex dengan begitu terkejutnya.
“itu alasan mengapa kau jangan ikut campur urusanku” gumam tegas Petra menundukkan kepala dan kemudian membungkukkan badan mengambil kertas tersebut.
Kertas tersebut robek. Satu satunya cara untuk menyelamatkan Lia telah sobek. Petra sangat amat menyayangkannya. Air mata mulai berlinang di pipi Petra namun spontan dirinya mengusapnya.
“tunggu dulu, apa kau menangis karena kertasmu sobek? Kalau iya, aku sangat meminta maaf karena tidak sengaja menyobeknya” ucap Alex.
Namun Petra sama sekali tidak menghiraukannya. Dirinya berdiri setelah mengusap air matanya, kemudian meletakkan kertas tersebut di saku jaket tebal tersebut.
“tunggu Petra. Apa kamu benar benar tidak apa apa?” tanya Lia kepada Petra.
“sekali lagi, jangan campuri urusanku” tegas Petra berjalan menjauhi mereka semua dan berjalan ke lantai bawah.
Pada akhirnya, Petra meninggalkan mereka semua di ruangan tersebut tanpa menghiraukan siapapun lagi disana. Petra berjalan dengan cueknya dari ruangan tersebut dan menuruni tangga.
“aku sangat khawatir dengan isi fikiran Petra. Sebenarnya apa yang mengganggunya?’ tanya papah Lia kepada seisi ruangan.
“Tatapan matanya, dia memiliki masalah pribadi” jawab Alex.
“dia membentakku di kamar. Dia bukan seperti Petra yang ku kenal. Petra yang ku kenal berbicara dengan halus dengan siapapun” ucap Lia.
“apa kamu tidak apa?” tanya Issak.
“tidak apa apa” jawab Lia.
Disisi lain, Petra yang sudah sampai di gerbang luar rumah berjalan di tengah tengah hujan salju. Dingin yang mencekam yang begitu pekatnya, serta udara yang luar biasa dingin memuat Petra kesusahan untuk bernafas. Namun itu tidak membuat niat Petra terhalangi. Petra tetap berjalan di pinggir jalan dan terus berjalan. Petra mulai hafal dengan kompleks di sekitaran rumah Lia.
__ADS_1
Pada akhirnya, Petra mulai mengenali wilayah tersebut. sampai pada ujung simpang lima, dengan banyaknya mobil yang melintas dan lampu merah jalanan yang sedikit tertutup salju. Nyatanya itu adalah akses jalan satu satunya untuk pergi ke kota besar dari desa tersebut.
-BERSAMBUNG-