Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 24 [Mimpi Buruk]


__ADS_3

“a-apa yang telah terjadi? apa ini darah? Kenapa bau nya amis dan sangat bau bangkai. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Petra dengan begitu ketakutan.


“aku akan menunjukkannya kepadamu” tegasnya seketika menyahut tangan Petra dan kemudian menyeretnya kedalam ruangan mengerikan tersebut.


Petra berusaha untuk melawan papah Lia dengan cara menarik keras lengannya yang saat itu sedang di tarik paksa oleh papah Lia. jantungnya benar benar berdebar tak karuan, air matanya tak sengaja keluar dan ia pun menjerit dengan begitu kerasnya untuk meminta pertolongan.


Namun sepertinya, kekuatan orang lelaki dewasa tak mampu ia lawan. Mau bagaimanapun Petra melawannya, tubuhnya tetap saja terseret oleh tarikannya yang begitu kuat itu. pada akhirnya, papah Lia dan Petra masuk kedalam ruang kepala sekolah yang mengerikan itu.


Papah Lia mengunci ruangan dari dalam dan hanya ada Petra dan dirinya di dalam ruangan tersebut. pada akhirnya, dirinya melepaskan genggaman tangannyaa dan melepasnya dari genggamannya. Spontan Petra berlari dengan begitu cepatnya ke pintu luar dan menggedor gedorkan pintu tersebut dari dalam.


Namun sepertinya usahanya itu sia sia. Tidak ada satupun reaksi dari luar ruangan dan sepertinya, tidak ada satupun yang bisa mendengarkan teriakannya dari dalam ruangan.


Tidak lama setelah itu, papah Lia menyalakan lampu ruangan tersebut hingga ruangan tersebut begitu terang. Saat Petra membalikkan badan, Petra mendapati jika neneknya sudah duduk di kursi sambil memegang sebuah kertas dan pulpen.


“nak Petra, apa nak Petra baik baik saja?” tanya sang nenek kepada Petra.


“ehh? Ne-nenek? Kenapa nenek ada disini dan juga kemana perginya papah Lia?” tanya Petra begitu terkejut setengah mati.


“sudahlah, itu tidak penting. Nenek hanya ingin bertanya kepada nak Petra” ucapnya.


“ba-baik nek. Tanyakan saja” jawab Petra.


“nak Petra lebih menyukai kertas atau pulpen?” tanya sang nenek kepada Petra.


“kenapa nenek menanyakan hal tidak jelas seperti itu?” tanya Petra balik.


“kalau nenek memberi keduanya di kedua tangan nenek. Nak Petra memilih pulpen atau kertas?” tanya sang nenek.


“a-aku lebih memilih kertas, nek. Tapi aku juga membutuhkan pulpen. Jika salah satu dari kedua benda itu tidak kupilih, maka benda yang telah kupilih itu tidak akan berguna” jawab Petra.


“jadi, apa kamu memilih keduanya?” tanya sang nenek.


“iya nek” jawab Petra.


“kalau begitu, jika kamu sudah memiliki keduanya, apa yang ingin kamu tulis? Apa nak Petra bisa menulis masa depan?” tanya sang nenek.


“masa depan?” tanya Petra balik.


“iya, masa depan. jika nak Petra diberi pulpen dan kertas untuk memperbaiki masa depan, masa depan milik siapa yang ingin nak Petra perbaiki?” tanya sang nenek.


“aku ingin memperbaiki masa depan perempuan yang kucintai” jawab Petra dengan tatapan begitu tegas.


“apa kamu ingin menyembuhkan penyakit Lia?” tanya sang nenek.


“iya nek, aku sangat ingin menyembuhkannya” jawab Petra.

__ADS_1


“itu sangat bijak. Nenek benar benar bangga denganmu. Nenek hanya berpesan, jangan sampai keenam syal nenek terkena salju yang memerah. Nenek akan marah. Hanya syal mu saja yang boleh memerah. Kalau perlu, letakkan ke enam syal itu di atas pohon dan ikatlah itu. Syal milikmu adalah doa milik nenek. Jagalah ke enam syal rajutan milik nenek dan pakailah satu syal untukmu seorang” ucapnya dengan kedua tangan yang menjulur kearah Petra.


“a-apa yang nenek katakan?” tanya Petra balik.


Saat itu juga, nenek pun mengeluarkan air mata dari kedua bola matanya. Petra begitu terkejut mengapa sang nenek meneteskan air matanya saat mengatakan hal seperti itu. hingga pada akhirnya, saat tetesan air matanya menyentuh lantai ruangan, lampu di ruangan tersebut mati dan nenek terjatuh dari tempat duduknya.


spontan Petra berlari ke arah nenek yang terjatuh dan mencoba membangunkannya. Saat Petra mengangkat kepala milik nenek, Petra menatap dengan begitu jelasnya wajah Lia. dengan begitu jelasnya, Petra menjadikan kedua paha nya sebagai bantalan tidur Lia di lantai tersebut.


“tolong aku, Petra” ucap Lia di pangkuannya.


“iya, aku akan menolongmu. Tenang saja, aku akan membawamu ke rumah sakit” jawab Petra.


“tidak perlu. Itu tidak perlu. Lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan jangan ragu akan hal itu. itu pilihanmu” ucapnya dengan suara lirihnya.


“maaf, aku tidak mengerti” ucap Petra.


“mungkin kamu yang sekarang tidak akan mengerti, tapi nanti kamu pasti akan paham” jawabnya.


Seketika saat itu juga, pakaian Lia mengeluarkan darah. Lebih tepanya, di bagian dada yang menembus langsung di jantung dalam. Di titik itu juga, darah keluar begitu derasnya hingga membasahi kedua lengan dan seluruh pakaian Petra.


Darah tersebut begitu amis dan berbau bangkai. Begitu bau nya hingga Petra tidak mampu lagi menahan rasa mual nya disana. Bau amis menyebar di seluruh ruangan yang gelap nan dingin itu.


Melihat itu, Petra spontan ingin muntah. Bau amis yang sudah tak tertahankan dengan kedua tangannya yang sudah penuh akan darah membuatnya sudah tidak tahan lagi berada di dalam ruangan tersebut.


Pada akhirnya, Petra memuntahkan isi perutnya di tempat itu. Namun anehnya, Petra mengeluarkan darah yang begitu segar dari mulutnya. Petra memuntahkan darah yang begitu segar nan merah menyala dari mulutnya itu.


Hingga pada akhirnya, Petra terbangun dari mimpi buruknya itu. Spontan Petra begitu terkejut dan terbangun dari mimpinya. Spontan Petra duduk dan mendapati jika ia berada di sebuah ruangan layaknya kamar. Petra melihat dirinya sendiri di kaca cermin dan sepertinya, tubuhnya baik baik saja.


“itu benar benar mimpi yang sangat menyeramkan. Lagipula, sejak kapan aku tertidur? Dan juga aku dimana?” fikirnya dalam hati.


SABTU-27 NOVEMBER 2010. 09:00 AM


Petra memegang kepalanya yang begitu pusingnya. Jantungnya masih berdebar dengan kencangnya dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Tangan kiri Petra terpasang alat infus dengan cairan infus yang masih mengalir. Petra membuka selimut yang menutupi kedua kakinya, dan kemudian berjalan ke arah pintu luar. Kamar tersebut begitu luas, hingga disana terdapat dua buah pintu.


Petra berjalan ke salah satu pintu disana sembari membawa tiang infus dan hendak keluar dari ruangan kamar tersebut. namun nyatanya, saat Petra membuka pintu tersebut, ia melihat sang ibunda yang sudah ada di luar bersama dengan papah Lia hendak memasuki dalam kamar Petra.


Dikarenakan Petra baru saja memimpikan mengenai seram dan kejamnya papah Lia, ia sedikit terkejut saat melihatnya bersama dengan ibundanya di luar ruangan.


“aaaaahhhh‼” teriak Petra di hadapan papah Lia dan mamahnya.


“aaaaahhhh‼” teriak balik papah Lia kepada Petra.


“jangan teriak teriak!” sahut sang mamah.


“maaf, aku hanya terkejut” ucap mereka berdua.

__ADS_1


Spontan saat itu juga, mamahnya seketika memeluk tubuh Petra dengan begitu eratnya dan menangis di pelukannya. Dirinya memeluk tubuhnya begitu erat hingga muka Petra membiru.


“ja-jhangan pheluk akhu therlalu khuat. Uueeghh…” ucap Petra dengan nafas begitu sesak.


“ma-maaf, mamah hanya merasa terlalu lega saat melihatmu sudah baikan” ucap mamah seraya mengusap air matanya.


“sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Petra balik.


“penjelasannya nanti saja. sekarang, lebih baik kamu makan di ruang tengah di lantai 3” ucap papah Lia.


“lantai tiga? Apa ini mall?” tanya Petra begitu terkejut.


“bukan, ini rumahku” jawab papah Lia.


“rumah papah Lia ada 3 tingkat?” tanya Petra begitu terkejut.


“emm, sebenarnya ada 7. Dan kita sekarang ada di lantai 4” jawabnya.


“apa disini ada gim?” tanya Petra begitu bersemangat.


“gim? Apa maksudmu konsol game?” tanya balik papah Lia.


“iya, maksudku itu” jawabnya.


“tenang saja. kita akan bermain itu bersama sama nanti” jawab papah Lia.


“benarkah?” tanya Petra begitu bersemangat.


“kita akan main perang dunia” jawabnya seraya menjulurkan jempolnya.


“kalau begitu, cepat turun ke lantai 3 dan duduk di meja makan. kita berdua akan menyusul. Hati hati saat berjalan, mamah masih ada urusan dengan papah Lia” sahut sang mamah.


“baik” jawabnya menggangguk kepala.


Papah Lia dan sang ibunda pun berjalan ke arah sebaliknya dengan begitu tergesa-gesa. Petra tak tau apa yang membuat mereka berdua tergesa-gesa, yang pasti mereka memiliki urusan yang sangat amat mendadak. Petra bahkan begitu heran saat melihat sang ibunda tak biasa sebegitu terburu-buru seperti itu.


Petra pun bergegas untuk pergi ke lantai bawah. Nampaknya, Petra hanya mendapati akan adanya tangga yang menuju ke lantai bawah. Pada akhirnya, ia pun menuruni tangga satu persatu hingga ia berada di lantai 3 rumah papah Lia.


Dikarenakan tubuhnya begitu lemas, Petra merasa kalau ia sudah melewati jalanan yang begitu berat. Hanya menuruni tangga, nafasnya begitu terengah engah tak karuan.


Di lantai 3, Petra mendapati layaknya satu ruangan yang begitu luas, dengan pilar pilar rumah yang begitu megah dan interior yang luar biasa mewah. Dirinya melihat lampu tengah dengan gemerlapnya memancarkan pantulan dari bebatuan logam mulia. Seketika matanya terpesona saat melihat mewahnya di dalam rumah ini.


Saat ia berjalan ke arah meja makan bulat yang begitu luasnya itu, Petra mendapati jika di meja makan tersebut terdapat beberapa orang yang duduk di tempat tersebut. saat ia menghampirinya, begitu terkejutnya Petra saat melihat kalau semua teman temannya bersama dengan Lia sudah duduk di meja makan seraya menyantap hidangan yang luar biasa mewah disana.


“pe-permisi” ucap Petra menghampiri mereka semua.

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2