
Isi surat itu adalah “sudah lama tidak bertemu. Di kehidupanku sebelumnya, aku tidak pernah merasakan sekalipun bagaimana rasanya pingsan. Sekali lagi, kamu melakukan apa yang belum kulakukan sebelumnya. Tidak akan ada hal yang terjadi di beberapa hari kedepan, dan aku tidak bisa memprediksikannya seperti apa yang kulakukan sebelumnya. Itu karena kau yang sekarang sangat berbeda dengan aku yang dahulu. Maka dari itu, semuanya akan kuserahkan sepenuhnya kepadamu. Aku hanya ingin mengingatkanmu satu hal. Jika kamu ingin menyelamatkan Lia, selamatkanlah dari sekarang. Buatlah dan susunlah rencana, fikirkanlah matang matang, dan juga jangan menyia-nyiakan waktumu yang sangat berharga ini. detik ini juga, jika ada kemauan untuk menyelamatkan Lia, lakukanlah sekarang juga. karena percayalah, kau akan berhasil jika kau sudah mengetahui hasil akhirnya seperti apa. Jadikanlah hasil akhir tersebut sebagai pacuan dari apa yang harus kau lakukan mulai dari sekarang. lakukanlah apa yang sekiranya kau harus lakukan, karena sedetikpun kau tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya”
Setelah Petra membaca surat tersebut, seketika tubuh dari kembaran dari masa depannya itupun menghilang sekejap mata. Hanya dengan satu kedipan mata, tubuhnya menghilang dari hadapan Petra. Ia pun terkejut akan menghilangnya kembarannya itu, namun sepertinya ia tidak terlalu menghiraukannya.
Petra hanya menghiraukan mengenai kondisi Lia dan bagaimana caranya agar Petra bisa menyelamatkannya. Hanya itu saja yang ia fikirkan. Petra memakai pakaian yang telah ia bawa dan kemudian kembali keluar dari kamar mandi menuju ranjang.
Petra kembali duduk disamping Lia yang saat itu juga duduk di atas ranjang kasur sembari menikmati jus buah. Petra duduk di atas kasur dan mulai menyuap sup hangat di satu mangkuk kecil. Di setiap detiknya, Petra selalu melamun memikirkan tentang tanggal 24 Desember esok hari.
“apa yang seharusnya kulakukan?. Aku sama saja seperti menyelamatkan seekor semut di tengah tengah gurun pasir yang panas. Apa yang seharusnya kulakukan dan bagaimana aku bisa menyelamatkannya? Apa aku harus menceritakan ini kepada teman temanku agar mereka bisa membantuku? Tidak,kurasa itu ide yang sangat amat buruk. Aku tidak ingin melibatkan mereka. ini adalah kewajiban yang diberikan kepada diriku dimasa depan untukku” fikirnya dalam dalam.
“Petra, apa kau masih sakit?” tanya Issak kepada Petra.
“iya juga, kenapa kamu daritadi melamun. Apa masih lemes?” tanya Lia kepada Petra.
Petra tersadar dan mulai kembali menatap mata mereka semua. Petra melihat wajah mereka yang begitu khawatir kepadanya. Bisa dibilang, mereka terlalu mengkhawatirkan Petra.
“maaf, aku masih lemas dan tidak enak badan. Tidak banyak yang bisa kulupakan jadi aku ingin tidur” dengan menundukkan kepalanya, Petra menghindari pembicaraan lebih lanjut.
“tapi Petra, kau masih harus makan” ucap Lucas.
“tidak, aku tidak selera makan” jawab Petra seraya membaringkan tubuhnya dan menghadap berbalik dari arah mereka semua.
Petra mulai menidurkan tubuhnya dan menghadap tembok membelakangi mereka. dengan begitu, mereka tidak dapat melihat wajahnya yang saat itu sedang begitu tertekan.
“aku tidak mencemaskan diriku sendiri, tapi hari ini adalah hari dimana seharusnya aku tidak ada disini. aku harus bersiap untuk melakukan penyelamatan Lia. aku bersumpah, mulai hari ini, aku yang akan menyelamatkan Lia apapun yang terjadi” fikirnya dalam hati.
Namun tidak lama setelah itu, sang mamah menepuk pundaknya dan melihat wajahnya yang dengan sengaja ia sembunyikan dari mereka. hanya sang ibunda seorang yang mengerti apa yang sedang terjadi kepadanya, dan Petra sedikit terkejut saat beliau menepuk pundaknya.
“mamah tau kamu tidak ingin tidur, tapi hanya ingin sendiri. apa yang ingin kamu katakan, katakan kepada mamah. Mamah akan mendengarkan semuanya” ucap sang mamah seraya menatap wajah Petra dari belakang.
“maaf, tapi aku tidak ingin semuanya mendengarnya” jawab Petra.
“mamah sudah menyuruh mereka untuk keluar dari kamar ini. karena mamah tau kalau ada yang mengganjal darimu. Mamah putuskan untuk hanya mamah yang boleh mendengar cerita dari anak lelakinya” jelasnya dengan senyum tulusnya.
Seketika saat itu juga, Petra berbalik badan dan mendapati jika mereka semua berjalan beriringan keluar dari kamar. Begitu terkejutnya Petra jika Lia juga ikut keluar dan menutup pintu kamarnya dari luar. Pada akhirnya, hanya Petra dan mamah seorang yang ada di dalam ruangan itu.
“mereka sudah keluar. Hanya ada aku dan mamah. Apa itu benar?” tanya Petra balik.
“keluarkan semuanya kepada mamah. Mamah akan mendengarkan dan menjawab semuanya” jawab sang ibunda dengan senyum indahnya.
__ADS_1
Pada akhirnya, Petra duduk di atas ranjang bersama dengan mamahnya yang juga duduk di atas ranjang pula. Mereka berdua duduk berhadap hadapan dengan Petra yang memeluk guling milik Lia.
“aku ingin menanyakan hal ini kepada mamah semenjak aku terbangun dari tidur” ucap Petra dengan nada merendah.
“apa itu?” tanya sang ibunda.
“nenek dimana?” tanya Petra seraya menundukkan kepala.
Sang ibunda sedikit terkejut saat Petra tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. hanya dengan tatapan mata terkejut, Petra sudah dapat menyimpulkan jawaban dari apa yang akan dikatakan oleh mamahnya.
“maaf, mamah masih merasa kalau hari ini bukanlah waktu untuk memberitahukannya kepadamu” jawab sang ibunda.
“sepertinya sudah cukup sampai disini, aku sudah tau jawabannya” sahut Petra seraya menggenggam tangan milik mamah.
Spontan mamahnya pun memeluk tubuh Petra dengan begitu eratnya dan menangis di pelukan Petra. Bagaimana tidak, beliau kehilangan sesosok ibu yang telah ia jaga selama ini. dan beliau juga kehilangan sang nenek dengan cara yang tak terduga sama sekali.
“nenek sudah memberitahuku sendiri dari dalam mimpi. Maafkan Petra karena tidak bisa menyelamatkan nenek hari itu” ucap Petra seraya memeluk tubuh mamah dengan begitu kencangnya.
“tidak, itu tidak salah. Kamu sama sekali tidak salah. Bagi mamah, kamu adalah pahlawan. Dokter Lia sudah menceritakan semuanya soal keberanianmu. Tapi mamah sama sekali tidak bisa bertindak” jawab mamah dengan isak tangis air matanya membasahi pakaian Petra.
“dimana pemakaman nenek?” tanya Petra balik.
“aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhirkalinya. Setidaknya, aku tidak ingin merasa menyesal” jawab Petra seraya melepaskan pelukan mamah dan mengusap air matanya.
“mamah tidak akan pernah mengijinkanmu untuk berziarah ke makam nenekmu untuk sekarang. Tubuhmu masih belum sehat sepenuhnya. Kamu masih butuh maka-“ ucap mamah Petra sahut henti.
“mah, aku didatangi oleh nenek dari mimpiku, dan nenekku sendiri yang berkata bahwa dirinya akan segera pergi. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa apa disana, dan biarkan anakmu ini untuk terakhirkalinya mengucapkan selamat tinggal kepada nenek. Setidaknya, aku tidak terlalu merasa bersalah dan menyesal karena gagal telah menyelamatkannya” jelas Petra menatap ke arah kedua mata mamahnya.
“tapi nak-“ ucap mamah kembali Petra sahut henti.
“tidak perlu khawatir, mamah hanya memberitahukan lokasinya, aku hanya akan pergi sendiri” sahut Petra.
“kalau begitu, biar mamah akan menemanimu” tegas sang ibunda.
“lebih baik kita berangkat sekarang juga, aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi” ujar Petra.
“iya nak” jawabnya.
Pada akhirnya, Petra pun beranjak turun dari kasur dan memakai sandal yang hangat. ia meminum segelas air yang telah dibawa mamahna di dalam gelas hingga habis dan kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Petra membuka pintu kamar, nyatanya semua orang sudah menunggu berdiri di luar ruangan. Saat itu, Petra sudah memakai masker wajah dan topi, hampir semua wajahnya tertutup oleh kedua benda itu. mereka hanya dapat melihat salah satu matanya, dan itupun tidak begitu jelas.
Mereka semua memandang Petra. Memandang dirinya yang sedang menunduk dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh mamahnya dari belakang.
“hey, Petra. Mau kemana?” tanya Alex kepada Petra.
“kamu mau kemana? Aku ikut” tanya Lia kepada Petra.
Namun Petra sama sekali tidak merespon akan kehadiran mereka. fikirannya saat itu hanyalah tentang kepergian nenek dan upaya menyelamatkan Lia. selain itu, tidak ada satupun topik yang memenuhi otaknya.
Petra segera menyahut tangan kanan sang ibunda dan sedikit menariknya agar Petra dan mamahnya tidak terjebak di pembicaraan mereka yang bagi Petra terlalu membuang waktu.
“ayo mah, cepetan” ucap Petra seraya menyahut tangan kanan mamah secepat mungkin.
Pada akhirnya, Petra dan mamah sama sekali tak memperhiraukan ucapan mereka semua dan bergegas untuk meninggalkan mereka semua. Petra tidak sempat untuk melihat wajah dan ekspresi wajah mereka semua saat Petra dan mamahnya berjalan meninggalkan mereka semua dan keluar tanpa memperdulikan mereka.
Jujur saja, Petra tidak enak hati karena meninggalkan mereka semua tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Apalagi Petra meninggalkan tuan rumah yang bahkan bagi Petra dirinya sudah begitu merepotkan Lia.
“maafkan aku, teman teman. Tapi aku tidak memiliki waktu lagi” fikir Petra dalam hati.
Pada akhirnya, Petra dan mamahnya berjalan ke lantai bawah. Dengan kondisi tubuhnya yang begitu lemas tak berdaya, Petra memaksakan diri untuk menuruni tangga ke lantai bawah.
“apa kamu tidak apa apa? Kamu tidak perlu memaksakan dirimu. Di hari lain tidak akan apa. Mamah akan tetap menemanimu” ucap mamah kepada Petra.
“Petra baik baik saja kok mah” jawabnya.
Petra dan mamah pun sampai di lantai bawah. Disana, kita berjalan menemui seorang sopir yang sedang istirahat di taman rumah bersama dengan sopir lainnya.
“pak, mohon izin. Antarkan saya dan anak saya untuk pergi ke makam di dekat jalan Harmonika. Apa anda bisa?” tanya mamah kepada salah satu sopir di rumah itu.
“ohh, silahkan ibu. Saya akan mengantarkan anda dan anak anda sesuai tujuan yang anda inginkan” jawab sang sopir dengan sopannya menundukkan kepala dan memberi hormat.
“baiklah, kami sangat berterimakasih” jawab sang mamah juga menganggukkan kepalanya.
Pada akhirnya, lelaki tersebut pun berjalan ke arah garasi mobil sementara Petra dan mamah menunggu di gerbang depan. hingga pada akhirnya, pak sopir pun keluar dengan membawa sebuah mobil sedan putih dan mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
Petra dan mamah pun memasuki mobil tersebut. dan akhirnya, mereka berdua berangkat ke makam nenek yang bisa dibilang agak dekat dari rumahnya. Mungkin tidak. Bisa dipanggil juga mantan rumahnya yang telah terbakar habis.
Hanya membutuhkan waktu kuranglebih 5 menit untuk sampai di makam umum tersebut. mamah menyuruh pak sopir untuk memarkirkan mobilnya di luar area pemakaman sementara Petra dan mamah berjalan memasuki makam. Mereka berdua berjalan di tengah dinginnya salju yang tengah turun. Putihnya salju menutupi perjalanan mereka untuk menemukan lokasi tepat makam sang nenek.
__ADS_1
-BERSAMBUNG-