Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 20 [Pesan Tersirat]


__ADS_3

Petra hanya berjalan kurang lebih 5 menit dari sana kerumah. Sesampainya ia di rumah, nampaknya mobil papah Lia masih terparkir disana. Petra berjalan memasuki rumah, melepas sepatu dan melepas jaketnya.


Saat ia berjalan ke ruang tengah, Petra mendapati jika papah Lia dan Lia sedang duduk di sofa bersama dengan sang ibunda disana. saat itu, Petra membawa pemukul tongkat baseball yang ia sembunyikan di lipatan jaket.


“a-aku pulang” ucap Petra.


“darimana saja kamu?” tanya mamah dengan suara tegasnya.


“ewmmm,… anu,… eehhh ca-cari angin hehe” jawab Petra begitu terbatah batah


“jangan bohong!” tegas sang ibunda


“sial. Tuh orang gabisa kontrol mulutnya. Bisa gak sih dia berhenti buat cepu” gumam Petra dalam hati.


“seperti yang mamah dengar sendiri dari papah Lia” jawab Petra.


Seketika sang mamah pun berjalan ke arah Petra. Dirinya menyahut jaket yang Petra bawa dan mengkibas kibaskannya. Nyatanya, tongkat baseball tersebut terjatuh. Tongkat baseball yang penuh akan darah itu mengejutkan mamah dan neneknya disana.


Spontan sang ibunda melempar keras tongkat baseball tersebut kearah jendela yang terbuka. Tongkat itu terlempar keluar rumah.


“sekarang, ikut mamah ke kamarmu. Mamah ingin melihat kondisi tubuhmu” tegasnya.


“baik mah” jawab Petra.


Saat itu juga, sang ibunda dan Petra berjalan ke lantai atas. Mereka berdua memasuki kamar Petra dan menutup pintu tersebut.


“sekarang, lepaskan semua pakaianmu” tegas mamah.


“ehh? Se-semua?” tanya Petra dengan pipi yang memerah.


“mamah ingin melihat semua kondisi tubuhmu” tegas sang mamah.


“tapi mah, tubuhku tidak apa apa” tegas Petra.


“mamah tidak akan tau jika melihatnya langsung” tegas sang mamah.


“ba-baik mah” jawab Petra menganggukkan kepala dan menghela nafas berat.


Saat itu pula, Petra melepaskan semua pakaiannya dan hanya pakaian dalam saja yang ia kenakan. Mamahnya mendapati jika terdapat luka lebam di punggung, paha atas kaki kanan, di pipi kanan dan lengan kiri Petra.


“kamu terlalu ceroboh. Lebammu banyak sekali” tegas sang mamah.


“jadi gimana mah?” tanya Petra.


“lebammu harus di kompres menggunakan air hangat semalaman, atau kalau tidak lebammu ini akan semakin parah jika terkena tekanan” jawab mamah.


“ehh? Semalaman?” tanya Petra begitu terkejut.


“jadi artinya, aku harus…”.


“yapp, kamu hanya pake celana pendek saat tidur” tegas sang mamah.


“apaaa? I-itu memalukan!. Aku tidak pernah melakukan hal se mesum itu”.


“mesum? Kamu itu sangat polos sekali. dasar Petra” ucap sang mamah mengelus kepala Petra.


“tapi, bagaimana jika orang lain melihatku?” tanya Petra balik.


“tenang saja, kamu akan tidur di kamarmu sendiri kok” jawab sang mamah.


“tidak akan ada orang yang masuk, kan?” tanya Petra.


“tidak” jawab sang mamah.


“kalau begitu, baiklah”.


Saat itu juga, sang ibunda keluar kamar dan mengambilkan sebaskom air panas dan beberapa handuk kecil. Saat itu, Petra dipaksa untuk tidur sembari mengompres beberapa luka lebamnya menggunakan handuk yang telah di rendam dengan air hangat.


Menurutnya, itu adalah satu hal yang sangat merepotkan. Petra harus tidur dengan beralaskan handuk hangat. di punggungnya telah tertempel handuk hangat. begitupula di lengan kiri dan paha atasnya. Seakan akan, itu malah membuatnya tidak tidur dengan nyenyak karena tidak bisa bergerak bebas saat tidur.


Setiap kali, mamahnya memasuki kamar Petra hanya untuk menghangatkan handuknya dan kemudian keluar kamar kembali. Hal itu mamah lakukan berkali kali di tengah malam. Petra sangat tidak enak dan sungguh merasa telah merepotkan mamahnya. Bahkan, mamahnya rela tidak tidur demi merawatnya semalaman.


*tiitt,.. tiitt,..tiitt


KAMIS-18 NOVEMBER 2010. 06:00 AM


Bunyi alarm paginya di samping kasur. Petra terbangun di jam 6 pagi. Disaat ia ingin menekan tombol untuk mematikan alarmnya, tanpa sengaja, ada tangan yang begitu besar sedang melakukan hal yang sama.


Tangannya dan tangan papah Lia mematikan alarm bersamaan.


“ehh? Nak Petra” ucap papah Lia yang terbangun dari tidurnya.


“ehh? Papah Lia” ucap Petra terbangun dari tidurnya.


Petra pun membuka selimut dan berjalan keluar kamar. Hal itu juga dilakukan oleh papah Lia yang juga membuka selimut dan berjalan keluar kamar. Petra dan papah Lia berjalan berdampingan menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, papah Lia dan Petra berjalan dan menemui Lia dan sang ibunda yang ada di ruang tengah tersebut. disaat Lia melihatku dan melihat papah Lia, spontan Lia berteriak dengan kencangnya hingga menyadarkan Petra dan menyadarkan papah Lia dari kantuknya.

__ADS_1


“aaaahhhhhhh‼” teriak Lia dengan begitu kencang.


Spontan Petra dan papah Lia pun ikut berteriak sebab Lia berteriak.


“aaahhhhhhh‼” teriak Petra dan teriak papah Lia bersamaan.


Spontan saat itu, Petra melihat ke arah pakaiannya. Ternyata Petra hanya memakai celana pendek. Papah Lia pun juga melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, Petra dan papah Lia berteriak bersamaan sembari menatap ****** ***** masing masing.


“aaahhhhhhh‼” teriak Petra dan teriak papah Lia bersamaan.


Seketika saat itu juga, Petra dan papah Lia saling melihat wajah mereka. Setelah mereka saling tatap wajah, mereka saling melihat celana pendek mereka berdua. Kepala Petra dan kepala papah Lia menunduk dan menatap celana pendek yang tengah mereka pakai saat itu. Spontan mereka berdua berteriak bersamaan sembari saling menatap ****** ***** mereka.


“aaahhhhhhh‼” teriak Petra dan teriak papah Lia bersamaan.


Seketika itu juga, mamah Petra melemparkan lipatan koran kepada Petra dan kepada papah Lia hingga mengenai wajah mereka berdua.


“kalian berdua begitu berisik!. Jangan teriak teriak di pagi hari. Cepat masuk kedalam kamar mandi!” tegas sang ibunda.


“si-siap laksanakan” jawab Petra dan papah Lia bersamaan sembari memberi hormat.


Petra dan papah Lia pun berlari ke arah kamar mandi membawa koran yang telah dilempar oleh mamahnya tadi. Pada akhirnya, mau tidak mau, Petra dan papah Lia mandi bersama.


“ma-maaf” ucap papah Lia memeagangi jidatnya.


“tidak, aku juga minta maaf” jawab Petra sembari memegang jidatnya pula.


“kenapa kau masih membawa korannya?” tanya papah Lia kepada Petra.


“tidak tau, itu hanya reflek. Sepertinya akal sehatku sudah hilang” jawabnya balik.


Pada akhirnya, Petra dan papah Lia pun selesai mandi. Petra dan papah Lia hanya menggunakan baju handuk disana. papah Lia dan Petra berjalan keluar kamar mandi menggunakan pakaian handuk yang bermotif boneka beruang winidepu berwarna pink.


“apa kalian berdua sudah selesai? Apa yang kalian berdua lakukan di dalam? Kenapa kalian lama sekali di dalam?” tanya mamah yang menunggu di depan pintu kamar mandi.


“ma-maaf, aku tidak menyangka kalau belalainya begitu mantap” ucap Petra menundukkan kepala dan bernada murung.


“maaf, entah kenapa perang pedang di dunia nyata tidak se mengasyikkan perang pedang di film action” jawab papah Lia bernada murung.


“perang pedang? A-apa yang telah kalian lakuk-“ ucap mamah terhenti.


“mamah tidak akan mungkin pernah paham mengenai jokes lelaki” sahut Petra dengan nada murung sembari berjalan ke lantai atas.


“iyap, anakmu benar sekali” tegas papah Lia bernada murung sembari berjalan ke lantai atas.


“apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar mandi? perang pedang?” fikir mamah sembari berjalan ke dalam kamar mandi.


Petra pun memasuki kamarnya terlebih dahulu hanya untuk bersiap pergi kesekolah pagi itu. memakai seragam, memakai kaus kaki dan mengambil tas persiapan sekolah. Hanya saja ia tidak mmakai tas punggung karena pundaknya masih sakit alhasil ia menggunakan tas gantung miliknya.


“maaf, sekarang papah sudah boleh menggunakannya” jawab Petra.


“terimakasih” jawabnya.


Petra pun berjalan sembari membawa tas dan menuruni tangga. Petra melihat mamah dan Lia yang saat itu sedang memakai celemek dapur. melihat Lia yang memakai celemek tersebut, Petra merasa seperti di surga dengan para pelayan surga yang luar biasa cantik.


“Lia cantik sekali” fikir Petra seraya menatapi wajahnya.


“kamu melamun kemana?” tanya Lia kepada Petra.


“ehh, ma-maaf. Aku tidak bermaksud mesum” tegas Petra dengan wajah yang memerah.


“mesum?” tanya balik Lia.


“bu-bukan mesum, tapi cuma anu,.. aarrhhhggg” ucap Petra terbatah batah dengan wajah yang begitu memerah.


“anu?” tanya balik Lia.


“su-sudalah, lupakan saja itu”. sahutnya memalingkan wajahnya


Petra pun berjalan ke arah sang ibunda dan kemudian memberikan surat yang diberikan kepsek kepadanya hari kemarin.


“mah, ada surat dari kepsek buat mamah” ucapnya memberikan amplop cokelat pemberian kepsek.


“ehh? Ada apa? Kenapa?” tanya mamah begitu terkejut.


“aku juga kurang tau isinya apa, tapi pak kepsek bilang kalau dia harus memberikan ini kepada mamah langsung” jawabnya.


“kalau begitu, letakkan kertas itu di atas meja makan, tangan mamah masih bau bawang” ucap mamah.


“ihh wibu” sahut gumamnya.


“eh? Kenapa?” tanya mamah.


“ti-tidak apa apa” jawabnya.


Ia pun meletakkan surat tersebut dan duduk di kursi meja makan di samping Lia yang sedang mengupas memotong pisang dan kiwi. Ia memakai sepatunya di samping Lia yang sedang membuat salad buah saat itu.


“apa kamu akan berangkat sekolah?” tanya Lia kepada Petra.

__ADS_1


“tidak, aku mau berangkat ke palestina untuk menyelamatkan goku yang sedang bertarung melawan madara demi mewujudkan perdamaian abadi di mugen tsukuyomi agar wanpis bisa tamat” jawabnya.


“oh, gitu” ucap Lia menatap wajahnya dengan mata yang terbuka lebar dan melongo.


“yaahh mau sekolah, lahhh!” tegasnya.


“apa kamu bisa mengijinkanku?” tanya Lia.


“kamu itu wakil kelas, siapa lagi kalau bukan ketua kelas yang mengijinkanmu” jawabnya seraya sibu mengikat tali sepatunya.


“baik, terimakasih ketua kelas, wakil mu ini masih sakit dan tidak bisa bersekolah” tegasnya.


“saat aku pulang nanti, apa kamu akan pulang kerumahmu?” tanya balik Petra.


“entah, mungkin iya. Saat siang nanti” jawabnya.


“padahal aku cuma pengen kasih kamu lembaran ujian yang sudah aku buat. Hanya kamu yang belum ikut ujian kemarin siang” ucap Petra.


“kalau begitu, berikan aku kertas ujiannya. Aku akan mengerjakannya di rumahku nanti. Atau kalau tidak, nanti sore kamu kerumahku untuk memberikan surat ujiannya” ucap Lia.


“aku kerumahmu? Yang benar? Apa boleh?” tanya Petra begitu bersemangat.


“hanya untuk memberikan kertas ujian dan menjadi pengawas ujianku. Aku tidak ingin bermain main dengan nilaiku” tegas Lia.


“ba-baik” jawab Petra dengan nada lesu.


“kalau begitu, makan dulu sarapanmu. Aku sudah memberikan saus mayo di dalam salad buah ini” ucap Lia memberikan sepiring salad buah kepada Petra.


“apa aku boleh membawanya ke sekolah?” tanya Petra.


“jadi kamu tidak ingin sarapan?” tanya Lia.


“tidak, aku akan memakannya di jam pertama” jawabnya.


“kalau begitu, aku akan membawanya sedikit lebih banyak” tegas Lia.


“makasih banyak” jawabnya.


Setelah itu, Petra mengambil jaketnya di gantungan jaket ruang tengah dan memakainya. tidak lupa ia juga mengambil syal karena tanggal tua musim gugur benar benar membuatnya menggigil. Ia meletakkan kotak bekal makanan kedalam tas nya dan kemudian berangkat pergi kesekolah.


Seperti biasa, saat ia membuka pintu depan rumah, dirinya melihat kembarannya sedang menatapnya dengan tajam. Tidak seperti biasanya, kali ini dia melempar surat itu dan seketika pergi dari sana.


Saat ia membuka surat tersebut dan membacanya, isi dari surat tersebut adalah “hari ini adalah hari yang cerah. Kau akan menjadi murid dan tidak menjadi guru lagi. Lia akan pulang saat siang nanti, jadi saat kamu pulang, Lia sudah tidak ada di dalam rumah. Gunakan hari ini sebagai hari terbaik dalam mencari kawan. Carilah teman sebanyak banyaknya teman yang paling bisa akrab denganmu. Kalau bisa, berbagilah salad dengan mereka. bawalah 5 syal dari rumah karena kau akan membutuhkannya. Kau juga melupakan air hangatmu pagi ini. dan juga, jangan sampai kau pergi ke rumah Lia hari ini. jangan kerumah Lia hari ini, pergilah lain hari”


Setelah Petra melihat isi surat tersebut, ia pun kembali kedalam rumah. Petra berjalan menemui Lia dan mengatakan satu hal kepadanya.


“ehh, sebenarnya aku lupa kalau aku ada janji dengan pak santoso walkel. Jadi mungkin aku tidak bisa pergi kerumahmu” ucapnya.


“apa kamu masuk kedalam rumah hanya untuk memberitahukanku itu?” tanya Lia sedikit tertawa.


“aku tidak ingin berbohong jika nanti aku tidak pergi kerumahmu” tegas Petra.


“baik baik, lain kali saja” jawab Lia sedikit tersenyum kepadanya.


“siap” jawab Petra.


Ia pun kembali berjalan ke ruangan nenek. Petra melihat jika nenek seringkali membuat syal rajutan. Maka dari itu, Petra meminta ijin kepada nenek agar Petra membawa syal-syal miliknya.


“permisi, nek. Apa nenek masih tidur?” tanya Petra kepada nenek yang sedang tidur telentang di kasurnya.


“kenapa nak Petra? Nenek tidak tidur, nenek hanya rebahan santuy” jawabnya.


“apa Petra boleh meminjam syal milik nenek? Hanya beberapa” ucap Petra.


“bawalah” jawab sang nenek.


“terimakasih banyak, nek” ucap Petra.


Saat itu juga, Petra membawa 5 syal dengan warna yang berbeda beda. Petra membawa warna jingga, merah, pink, cokelat dan hijau. Petra melipatnya, dan kemudian meletakkannya kedalam tas.


“terimakasih nek” ucapnya seraya menutup pintu kamar nenek dari luar.


Ia berlari ke arah pintu luar dengan tergesa gesa. Petra segera mengambil botol minumnya dan memasukkan susu bubuk kedalamnya. Petra menuangkan air panas kedalamnya dan kemudian mengocoknya. Benar,.. Petra gemar mengocok saat pagi hari.


Setelah itu, Petra bergegas berlari ke pintu luar dan takut jika Petra terlambat masuk sekolah. Ia berteriak berpamitan kepada mereka semua dan menutup pintu luar dengan begitu kencangnya.


“dasar Petra. Dia tidak pernah disiplin mengenai waktu” ucap mamah.


“tapi dia tidak pernah terlambat kesekolah kok, mah” ucap Lia.


“dia tidak pernah terlambat sekolah karena dia berlari dengan kencang ke sekolah. Seperti yang baru saja dia lakukan” ucap mamah.


“dia memang anak yang unik. Seakan akan dia memiliki jalur masa depannya sendiri. aku iri dengan anak yang sepertinya” ucap papah Lia dengan memakan salad milik mamah.


“hey, itu punyaku! Cepat muntahkan!” tegas mamah dengan menatap tajam wajah papah Lia.


“ma-maaf” ucap papah Lia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Disisi lain, ia pun berhasil masuk kedalam sekolah di jam 06:45 AM. Untungnya ia tidak terlambat. Petra berjalan memasuki kelas, meletakkan tasnya di kolong meja bangku Lia, dan seperti biasa Petra menuliskan buku jurnal dan buku absen hari itu.


-BERSAMBUNG-


__ADS_2