Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 26 [Lelaki Misterius]


__ADS_3

“maaf, saya sebagai dokter pribadinya sudah sangat amat bekerja luar biasa keras agar bisa menyembuhkan nona muda. Saya memanggil dua teman saya yang bekerja di bidang farmasi untuk membuat obat agar bisa menyembuhkan dan memperbaiki jantung Lia, namun sepertinya kita hanya memindahkan air laut menggunakan sebuah sendok” jelas lelaki tersebut.


“itu tidak benar. Anda sudah sangat bekerja begitu keras hingga Lia masih tetap bertahan sampai detik ini dan masih bisa bermain dan makan bersama di meja makan. aku angat berterimakasih kepada anda karena Lia masih tetap mampu memberikan senyum dari wajahnya. Itu semua berkat anda” jawab Petra .


“namun seperti yang saya katakan barusan, saya tidak mampu lagi menahan dan menjaga Lia lebih lama lagi. saya hanya memiliki satu kesimpulan dan dapat menyimpukan kondisi jantung Lia detik ini” tegasnya.


“apa kesimpulannya?” tanya Petra balik.


“buatlah nona muda tertawa untuk akhir akhir hidupnya. Masanya tidak akan kunjung lama. Kehidupannya akan di pangkas karena penyakitnya sedari lahir. Seorang anak perempuan tak berdosa yang harusnya selalu bermain bersama teman temannya dan tertawa bersama anak cucunya tidak bisa terpenuhi. Setidaknya, kita semua pernah melakukan penyesalan seumur hidup, namun rasa menyesal tidak akan pernah membuatmu benar. Lebih baik menghindari penyesalan daripada tidak melakukan apa apa” jawabnya.


Mendengar ucapan lelaki tersebut, spontan Petra terbujur kaku mematung di tempat tersebut. detak jantungnya begitu berdebar seakan dan nafasnya begitu sesak. Petra ingin menangis di tempat itu, namun ia tau kalau itu akan memperburuk kondisi.


“tolong rahasiakan ini dari papah Lia. tolong rahasiakan ini dan jangan sampai papah Lia tau kalau aku mengetahui kondisi jantung Lia. sekali lagi, aku ingin meminta tolong kepadamu” ucap Petra seraya menundukkan kepalanya di hadapannya.


Seketika saat Petra menundukkan kepala, lelaki tersebut spontan mengelus kepala dan rambut Petra dengan tangan besarnya. Rasanya, Petra seperti bermimpi pernah di elus oleh papahnya sendiri, dan saat itu juga Petra merasa bahwa ia sedang di elus oleh mendiang papahnya di atas sana.


“kamu sudah besar ya, nak Petra” ucap lelaki tersebut.


Tidak lama setelah lelaki tersebut mengelus kepala Petra, lelaki tersebut kemudian pergi meninggalkannya di tempat itu. walau dirinya telah meninggalkan Petra, entah kenapa elusan tangannya tetap terasa di kepalanya.


Elusan tangannya begitu halus, dari tangan yang besar nan kuat, dirinya mengacak acak rambut Petra itu. hangat dan besar tangannya seolah olah membuatnya tak mampu membendung air matanya itu.


Pada akhirnya, Petra duduk di samping pintu rumah tersebut. pintu rumah yang begitu besarnya itupun ia sandarkan bahu disana sembari jongkok dan menundukkan kepalanya. Air mata menetes tak karuan, bagaikan air hujan, tetesan air matanya tak henti hentinya membasahi lantai teras rumah itu.


“aku mencintai Lia, aku menyayanginya. Namun dirinya tidak mampu lagi hidup lama. Aku sangat ingin menangis di dalam kamarku sendiri sambil berteriak di ujung kasur, namun aku tau kalau itu tidak berguna. Kurasa, jika aku tidak melakukan apa apa, aku akan terjebak di dalam penyesalan sama seperti Ananda Petra Prakasa di masa depan. aku tidak ingin menjadi diriku yang itu, aku ingin menjadi diriku yang tanpa penyesalan” fikirnya sambil membiarkan air mata menetes di lantai teras itu.

__ADS_1


Petra masih membayangkan mengenai elusan tangan dari lelaki dokter pribadi Lia. entah kenapa, ia seperti pernah merasakan elusan dari tangan lelaki itu. Petra tidak sempat menatap wajahnya dan tidak sempat pula memegang telapak tangannya, namun setidaknya ia telah mendapatkan elusan kepala dari lelaki tersebut.


Pada akhirnya, di tengah tengah isak tangis petra, dirinya di datangi oleh dirinya dari masa depan. Petra Charleston Prakasa telah hadir di hadapannya sembari berdiri tegak dan membawa surat tulis tangannya.


Seperti biasa, dirinya memberikan surat tersebut dengan wajah yang sedih, rasa bersalah dan penuh penyesalan. Matanya memerah dan bengkak dengan rambut yang begitu acak acakan. Petra menerima surat tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun dan membiarkan dirinya pergi dari sana.


Saat dirinya membuka amplop surat dan membaca surat tersebut, di dalam surat tersebut tertulis “sudah 9 hari kau tidak terbangun. Pasti tubuhmu saat ini sedang lemas. Kau melakukan dan mengalami apa yang sebelumnya tidak kulakukan dan tidak kualami. Aku harap ini menjadi ending bahagia untukmu. Namun di ending bahagia, pastinya akan ada pengorbanan di setiap perjalananmu. Pergilah kerumahmu sekarang juga dan selamatkan nenekmu disana. di dalam kamar nenekmu, lihatlah di atas meja tenun bahwa nenekmu sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan juga, gunakan otakmu saat pergi kedalam rumah. Kau akan mengingat semuanya. Psatikan kau harus mengingat apa saja yang penting dan apa saja yang tidak penting bagimu. Setidaknya, kau harus menggunakan otakmu untuk membawa semuanya yang begitu penting bagimu”


Saat Petra membaca surat tersebut, dirinya sedikit takut dan ambigu mengenai ucapan “selamatkan nenekmu”. Spontan Petra berfikir fikir bahwa neneknya saat itu dalam bahaya. Detak jantungnya terlalu cepat hingga ia kesulitan untuk bernafas. Fikirannya kacau dan tidak bisa berfikir dengan jernih.


“namun aku juga harus melakukan apa yang ada di dalam surat itu. aku tidak bisa terus terusan duduk dan menangis di tempat ini” fikirnya dalam hati.


Pada akhirnya, ia berdiri dari tempat tersebut. Petra mengusap air matanya yang berlinang di pipi dan menatap tajam ke arah depan. ia perlahan melepas perekat infus yang menempel di tangannya dan kemudian perlahan melepaskan infusnya secara manual.


Ia menggunakan perekat dari infus tadi sebagai penutup lubang infus miliknya agar darahnya tidak keluar berceceran. Setelah itu Petra berlari dari tempat itu ke arah gerbang depan untuk menyusul motor milik dokter pribadi Lia.


Saat Petra sudah berada di samping motornya, dengan nafas yang terengah engah dan kepala yang begitu pusing, Petra berkata jika ia ingin meminta tolong agar mengantarnya ke rumah.


“tholong pak, tholong aku. akhu mohon tholong aku. Uueeghhh…” ucapnya dengan nafas ngos ngosan.


“kenapa? Apa kau di kejar anjing? Kenapa kau melepas infusnya” tanya lelaki tersebut begitu khawatir dan panik.


“bukan begitu. Tolong antar aku secepatnya kerumahku yang ada di Pianika, dekat dari jalan Saxophone. Tolong antar aku secepatnya kerumahku. Ini keadaan genting” ucap Petra kepada lelaki tersebut.


“itu tidak terlalu jauh bagiku… Baiklah. Naiklah cepat” ucapnya.

__ADS_1


“terimakasih banyak” jawabnya seraya menganggukkan kepalanya.


Pada akhirnya, Petra menaiki motor milik lelaki tersebut dan membiarkannya pulang dengan cepat. Jujur saja, ia tidak tau letak rumah Lia, maka dari itu dirinya tidak tau arah jalan pulang.


Ternyata, hanya 10 menit perjalanan menggunakan motor yang berkecepatan 50KM/Jam, Petra dan lelaki tersebut sampai di depan rumah.


“terimakasih banyak, pak” ucap Petra seraya menganggukkan kepalanya.


“sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya lelaki tersebut.


“ti-tidak terjadi apa apa, pak. Lebih baik anda segera pergi ke panggilan anda, saya takut karena saya, bapak jadi terlambat untuk menemui panggilan bapak” ucap Petra.


“tidak apa apa” jawabnya.


“sekali lagi, aku berterimakasih banyak atas bantuan bapak” ucap Petra kembali menundukkan kepalaku.


“tenang saj-“ ucapnya terhenti.


“kenapa pak?” tanya Petra.


“apa kau menyalakan api unggun di rumahmu sehingga asapnya keluar dari cerobong asap?” tanya lelaki tersebut sedikit curiga.


“aku tidak tau sama sekali” jawab Petra seraya menatap rumahnya tajam tajam.


“kurasa itu tidak hanya api unggun. Asapnya mulai keluar dari jendela ruang tamu, dan ada cahaya berwarna jingga dari dalam rumah. Kurasa itu benar benar tidak hanya api unggun” ucapnya mulai menyadari sesuatu.

__ADS_1


-BERSAMBUNG-


__ADS_2