Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 7 [Kurang enak badan]


__ADS_3

“kali ini, kita akan melanjutkan materi kemarin. Apa ada yang masih ingat tentang materi terasering?” tanya Petra.


“sudah” jawab mereka semua.


“aku juga memberikan materi tentang cangkok dan pembuahan pada tumbuhan. Apa kalian masih ingat?” tanya balik Petra.


“masih ingat” jawab mereka semua.


“kalau begitu, sekarang sudah waktunya untuk masuk kedalam materi akar gantung di pohon beringin. Sebenarnya, materi ini harus diajarkan kemarin hari, namun setiap materi memakan waktu 3 jam. Pada akhirnya, kalian harus mempelajari materi ini secara individu dirumah masing masing agar lebih paham kedepannya” tegas Petra.


“permisi, aku ijin ke kamar mandi” sahut Lia berdiri di tempat.


“baik, cepat kembali” jawab Petra menganggukkan kepala.


Pada akhirnya, Lia pun keluar kelas untuk ke kamar mandi di jam sepagi itu. Petra melanjutkan materi dengan membahas mengenai akar gantung pohon beringin kepada seisi kelas. Tidak lama kemudian, Lia pun kembali kedalam kelas seraya mengeringkan tangannya menggunakan tisu.


“permisi, aku masuk” ucap Lia.


Pada akhirnya, Petra kembali melanjutkan menggarap materi didepan seperti biasa. Perlahan, seisi kelas mulai paham akan materi yang telah ia berikan kepada mereka. Bagaimana tidak, Petra menjelaskan begitu detail hingga memberikan contoh kepada mereka agar mereka mampu memahaminya dengan mudah.


Tidak lama setelah itu, Lia pun kembali berdiri dari tempat duduknya dan meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi untuk yang kedua kalinya. Petra sama sekali tidak menyalahkannya dan mempersilahkannya karena Petra tau kalau Lia memang tidak enak badan sejak tadi.


“permisi, aku ijin pergi ke kamar mandi” sahut Lia mengangkat tangannya tinggi tinggi.


Petra berfikir kalau Lia benar benar sakit sama seperti apa yang telah dituliskan didalam surat. Dirinya berfikir fikir, apa mungkin Lia mual di dalam kamar mandi. namun Petra tidak ingin memikirkannya terlalu panjang dan memutuskan untuk kembali melanjutkan memberi materi kepada seisi kelas. Hingga sampai Lia kembali masuk kedalam kelas, Petra menyuruh Lia untuk segera duduk di tempatnya.


“jadi, seperti yang kalian tau, pohon membutuhkan karbondioksida untuk menjadi bahan bakar dalam fotosintesis. Maka dari itu, salah satu fungsi akar gantung di pohon beringin adalah untuk-“ tutur Petra terhenti.


“permisi, aku masuk” sahut Lia memasuki ruangan.


“cepat duduk di tempatmu” tegas Petra.


“baik” jawab Lia.


Petra seketika meletakkan buku catatan materi semalam di meja guru dan mengambil obat di dalam tas-nya. Setelah Petra mengambil obat tersebut, Petra berjalan menghampiri Lia yang sedang duduk di samping Alex.


“minumlah obat ini” ucap Petra memberikan obatnya kepada Lia.


“ehh? Ke-kenapa?” tanya Lia sedikit terkejut.


“kenapa kau malah menyuruh Lia meminum obat?” sahut tanya Alex.


“kau sedang demam. Lebih baik kamu istirahat di UKS” tegas Petra membuka bungkusan obat miliknya.


“tapi, aku tidak dem-“ ucap Lia tersahut henti.


“kalau merasa mual, minumlah air hangat” sahutnya seketika memegang dahi Lia.


“minumlah air putih yang sudah kuberikan kepadamu. Jangan minum obat dulu, kamu masih belum sarapan” ucap Petra sembari membuka botol air mineral pemberiannya.


“dan juga, kamu masih harus sarapan, aku akan memberlikanmu bubur di kantin. Setidaknya pertumu tidak kosong saat meminum obat. Kamu juga harus minum minuman hangat. Akan kubuatkan teh hangat saat di ruang UKS bersama dengan-“ ucap Petra terhenti.


“heh, Petra. Kamu adalah guru sekarang. Dan semuanya melihatimu. Kenapa kamu malah kemari dan melakukan hal yang tidak penting?. Aku tidak apa apa, sungguh” sahut Lia kepada Petra.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Petra tersadar akan apa yang baru saja ia lakukan. Petra melihat seisi kelas. Nyatanya, mereka semua memandangnya dengan tatapan tajam.


“ma-maaf semuanya. Aku malah anu, itu..” ucap Petra sedikit menundukkan kepala kepada mereka semua.


“ekhem ekhem,.. sepertinya, ada guru yang meninggalkan tugasnya” ujar Lucas dengan nada sedikit menyindir.


“bu-bukan begitu. Ba-baiklah, A-aku akan melanjutkan materiku” tegasnya seraya spontan berjalan kembali ke meja guru.


Ia kembali berjalan kembali ke meja guru dan mengajar kembali. Hingga pada akhirnya, satu jam pun berlalu. Saat itu sudah jam setengah 9 pagi, dan Petra memutuskan untuk memberikan mereka semua tugas.


Petra menyuruh mereka untuk membuat soal mengenai materi yang baru saja ia ajarkan kepada mereka. Dan setelah selesai membuat soal, Petra menyuruh mereka untuk saling menukar soal oleh teman sebangku.


“kalian hanya memiliki waktu kuranglebih 30 menit. Selama itu, kalian harus menyelesaikan membuat soal dan menjawab soal dari teman sebangku kalian. Selepas itu, kumpulkan ke meja depan, biar aku saja yang mengoreksi dan memberi nilai sementara kalian istirahatlah” tutur tegas Petra.


“baik” jawab mereka semua.


30 menit berjalan, nyatanya Petra hanya duduk sembari melihat seisi kelas mengerjakan soal di meja mereka masing masing. Tidak sedikit siswa yang mengobrol dan bercanda dan tidak sedikit siswa pula yang saling mencontek.


Diantara kurang lebih 30 siswa yang ia ajar, Petra hanya berfokus kepada Lia dan Alex seorang. Entah kenapa, tapi Alex seakan akan terlalu dekat kepada Lia. Petra tidak henti hentinya menatap mereka berdua yang sedang asyik mengobrol sembari mengerjakan tugas dari apa yang telah ia berikan.


Pada akhirnya, tepat pada jam 9 pagi, jam istirahat pertama berbunyi. Petra menyuruh mereka untuk mengumpulkan tugas mereka ke meja depan dan mempersilahkan mereka untuk bersitirahat. Sudah waktunya untuk Petra mengoreksi tugas dari ketigapuluh siswa di kelas itu.


Bahkan Petra tidak sempat untuk pergi ke kantin sebab ia harus menilai tugas mereka masing masing. Hingga pada buku terakhir yang harus Petra koreksi, dirinya begitu bersyukur karena ia bisa pergi ke kantin sekolah.


“hufftt, akhirnya” ucapnya menghela nafas begitu lega.


Namun, tidak lama setelah itu, bell masuk di jam pelajaran kedua pun berbunyi. Untuk kesekian kalinya Petra berfikir. “mungkin menjadi guru sangat susah melebihi menghitung angka phi”


Semua murid memasuki ruang kelas. Ia menyuruh mereka untuk segera duduk di kursi mereka masing masing sebab materi kedua akan segera dimulai.


Materi kedua, Petra mulai membahas tentang materi lain. Saat itu, ia mulai mengajari mereka mengenai materi getah pohon dan macam macam bentuk akar. Masing masing dari mereka sudah mulai paham akan pelajaran yang telah ia berikan.


Namun sepertinya, masih banyak murid yang tidak paham akan materi yang Petra berikan. Maka dari itu, dirinya membuat sebuah soal ujian yang Petra tuliskan sendiri di papan tulis. Petra ingin mengetahui, bagian mana dari materinya yang belum dipahami. Petra membuat 20 soal, dan seluruhnya adalah materi yang baru saja ia ajarkan kepada mereka.


Petra menyuruh mereka untuk mengerjakan semua soalnya demi mengetahui bagian mana dari mereka yang belum dipahami. Hingga pada jam 12, jam istirahat kedua berbunyi. Petra menyuruh mereka untuk mengumpulkan tugas mereka di meja depan untuk ia koreksi benar tidaknya.


Satu persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan kelas. Seluruh murid keluar dari kelas terkecuali Lia, Issak, Lucas, Emma, Alex, Anna dan Petra sendiri. Mereka semua berkumpul di bangku Petra dan bangku Lia sementara hanya Petra seorang yang sedang duduk di meja guru sembari mengoreksi jawaban milik seisi kelas. Dan secara tidak sengaja pula, di dalam kelas yang hening, Petra dapat mendengar topik pembicaraan mereka semua.


“heh, Lia. Apa kamu mau cokelat?” tanya Anna kepada Lia.


“tidak perlu, aku agak tidak enak badan” jawab Lia.


“kalau kamu sakit, bagaimana caramu untuk pulang nanti?” tanya Lucas.


“aku diantar dan dijemput oleh teman papah aku” jawab Lia.


“wahh, enaknyaa” ucap mereka semua serentak.


“itu tidak enak. Mobilnya bau pewangi ruangan rasa jeruk. Bikin mual” sahut Lia.


“apa kamu tidak memiliki kenalan sebelumnya di sekolah ini? siapa tau di sekolah ini ada temanmu atau saudaramu” ucap Anna.


“apa kamu punya teman? Atau bahkan kamu sudah punya pacar di sekolah ini?” tanya Alex kepada Lia.

__ADS_1


“aku sudah punya” jawab Lia.


“siapa?” tanya Alex begitu penasaran.


“aku memiliki keduanya” jawab Lia sedikit tersenyum tulus sedikit melirik ke arah Petra.


Mendengar hal itu, spontan tubuh Petra bergerak dan sikunya terbentur ujung meja membuat layaknya tersetrum listrik. Secara tidak sengaja, Petra menjatuhkan penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu dan menghasilkan suara sedikit keras sebab terbentur keramik lantai.


“ma-maaf, hanya penghapus papan tulis” ucap Petra kepada mereka sembari meletakkan penghapus tersebut di dalam laci meja guru.


“apa kamu ngga istirahat? Dari awal kamu belum istirahat sama sekali loh” ucap Lia dengan lantang kepada Petra.


“tenang saja, yang harusnya istirahat itu kamu. Kamu itu sedang radang tenggorokan, tapi malah masuk sekolah. Dasar” jawab Petra seraya memasukkan penghapus tersebut di laci meja.


“aku tidak radang tenggorokan, aku hanya bat-“ ucap Lia tersahut henti.


“itulah kenapa aku membawa obat batuk untukmu” sahut Petra seraya mengambil obat batuk dari dalam tas.


Petra membawa obat batuk tersebut dan kemudian diberikanlah kepadanya. Semuanya melihati Petra layaknya melihat dukun yang bisa tau apa yang terjadi kepada Lia.


“bagaimana kau bisa tau kalau dia batuk? Padahal dia tidak batuk sama sekali di kelas tadi?” tanya Alex kepada Petra.


“aku hanya tidak sengaja membawanya” jawabnya.


“tidak sengaja membawanya sampai membawakan air mineral dan obat batuk kepada seseorang yang sedang terlupa untuk membawanya? Itu bukanlah suatu kebetulan” sahut Lucas dengan begitu curiga.


“sudahlah, terserah apa kata kalian. Aku pengen ke kantin. Aku pengen pisang” ujar Petra seraya berjalan hendak keluar ruangan.


“aku mau ikut” sahut Lia.


“tidak usah. Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas” tegas Petra.


“tapi aku pengen pisang” sahut Lia.


"aku ada pisang tapi agak beda" sahut Lucas.


"dasar bejad!" tegas Lia.


“aku akan membelikanmu. Tunggu saja” tutur Petra berjalan keluar ruangan.


“tidak mau, pokoknya aku mau ikut” ucap Lia begitu ngeyel berlari menyusul Petra.


“sudah kubilang tidak usah” jawab Petra dengan nada lemas kelelahan.


“tapi aku cuma mau ik-“ ucap Lia terhenti.


Saat itu juga, Lia tidak sengaja terpeleset di lantai yang saat itu begitu licin. Entah bagaimana caranya lantai tersebut terbasahi air, Lia terpeleset di tempat tersebut. Dirinya terjatuh dalam kondisi duduk dan pantatnya terbentur dengan cukup keras.


Spontan Petra berjalan menghampirinya dan melihat kondisinya. Nampaknya, tidak ada cedera serius yang dialami oleh Lia, namun mau bagaimanapun juga, jatuh dengan tumpuan tulang belakang sangat amat berbahaya dan beresiko.


“a-apa kamu tidak apa?” tanya Petra spontan menghampiri tubuh Lia yang terjatuh.


-BERSAMBUNG-

__ADS_1


__ADS_2