
“aww, ti-tidak apa” jawabnya dengan sedikit kesakitan.
“sudah kubilang, kamu ini masih sakit. jangan terlalu memaksakan diri” tegas Petra sedikit memarahi Lia.
“ma-maaf” jawabnya dengan raut muka memelas.
“kenapa kamu terlalu memaksakan dirimu. Dasar Lia. ikutlah denganku, aku akan membawamu ke UKS” ucap Petra menjulurkan tangannya.
“ehh? Bagaimana caranya?” tanya Lia kepadanya.
“berpeganglah tanganku, akan kubawa kamu ke UKS dan akan dirawat disana” jawab Petra.
“tapi, kalau aku ke UKS, nanti ak-“ ucapnya tersahut henti.
“aku tidak perduli. Jika kamu takut ketinggalan materi, aku yang akan mengajarimu secara langsung” sahut tegas Petra dengan tegasnya.
“apa kamu janji akan mengajariku secara langsung materi ini?” tanya Lia dengan suara memelasnya.
“ikut aku ke UKS dan istirahatlah disana. saat pulang nanti, aku yang akan menelfon keluargamu untuk menjemputmu di UKS” tegas Petra menyahut tangan kanan Lia.
“pelan pelan, kurasa pergelangan tangan kananku terkilir” sahut Lia.
“Ma-maafkan aku. aku tidak tau” sahut Petra sedikit terkejut.
“kalau begitu, gendong aku” ucpanya dengan nada begitu manja.
“tidak mau” sahut Petra.
“ayolah, aku tidak bisa berjalan” ucapnya dengan nada begitu ngeyel.
“sudah kubilang tidak mau” sahutnya.
“jahat banget, padahal aku sudah memberikanmu obat dan makanan kemarin agar kamu tidak mengeluarkan lumpur lapin-“ ucapnya tersahut henti.
“hentikan itu, nanti mereka semua bisa dengar” sahut Petra.
“AYOLAHH‼ GENDONG AKU. PADAHAL KEMARIN LUMPUR LAPIN-“ spontan Lia berteriak dan berhasil Petra sahut.
“iissshhhttt‼ jangan teriak teriak” sahut Petra menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Namun dengan sengaja, ia menggigit kuku jari telunjuk Petra dengan begitu keras hingga kuku jarinya memerah. Seketika Petra berteriak dengan sangat kencang di kelas yang kosong nan menggema tersebut.
“aaagghhh, a-apa yang kau lakukan? Dasar orang gila!” teriak Petra menarik paksa jari telunjuknya.
“kalau kamu tidak mau menggendongku, akan ku beritahu masalah lumpur lapindo kepada semua orang” acncamnya kepada Petra.
“dasar orang gila. Baiklah, aku akan menggendongmu” ucap Petra seraya berdiri membelakanginya.
“eh? Kok gendong punggung?” tanya Lia.
“memangnya kenapa? Setidaknya dengan gendong punggung, berat badanmu tidak begitu menyiksaku” jawab Petra.
“memangnya aku gendut?” tanya Lia.
“tidak, kamu tidak gendut. Kamu gembrot” jawab Petra dengan sedikit tawanya.
“dasar kurang ajar. Pokoknya, aku mau di gendong depan” ucapnya.
“ehhh? Gendong depan? dengan kedua lenganku? Apa kamu tega melihat kedua tanganku patah. Lagipula, kita berdua akan menjadi bahan tatapan bagi seisi sekolah” tegas Petra.
“pokoknya, aku tidak mau tau. Aku pengen gendong depan” tegasnya.
“ba-baiklah” jawab Petra dengan wajah yang penuh keterpaksaan.
Petra menggendong tubuhnya. Lengan kanan Petra mengangkat punggungnya sementara lengan kirinya mengangkat kedua pahanya dari bawah. Dengan penuh keyakinan, Petra mengangkatnya dengan sekuat tenaga karena ia merasa kalau tubuh Lia pasti akan berat.
Namun nyatanya, Petra sedikit terkejut saat ia mengangkat tubuh Lia terlalu kencang. Pasalnya, berat badannya tidak seberat yang Petra fikirkan. Tubuhnya ringan namun padat. Layaknya mengangkat sebuah karung beras.
“bagaimana? Apa tubuhku berat?” tanya Lia sedikit tertawa.
“ternyata kurus” jawab Petra.
“dasar kurang ajar” sahutnya sedikit mengetuk jidat Petra.
“heyy, kalian berdua? apa yang kalian lakukan disana?” teriak Alex dari pojok ruangan bangku duduk Petra.
“aku akan mengantarnya ke UKS, tapi aku pengen ke kantin untuk membeli pisang. Apa kau bisa menggendongnya?” teriak Petra kepada Alex.
“boleh juga” jawab Alex.
__ADS_1
“kurasa itu tidak perlu. Mungkin Petra sudah cukup untuk menggendongku. Alex tidak usah repot repot. Biar Petra saja” sahut Lia dengan tawa jahatnya.
“ehh? A-apa yang kau katakan? aku pengen ke kantin” sahut Petra begitu kesalnya.
“kalau begitu, ajak aku ke kantin, atau kita bisa langsung ke UKS” ucap Lia.
“tapi bagaimana jika pacarmu melihat kita?” gumam Petra dengan membuang mukanya yang perlahan memerah.
“kenapa? Bicaralah dengan jelas dan jangan menggumam” tanya Lia.
Spontan Petra berjalan ke keluar kelas dan menutup pintu kelas dengan menggunakan salah satu kakinya. Dikarenakan pintu kelas berupa pintu geser, maka Petra dengan mudah mampu menutup pintu tersebut.
Petra menutup pintu kelas dari luar dan segera membawa Lia keluar. Dengan sedikit berjalan cepat, dirinya mengantarkan Lia ke UKS secepat cepatnya dan menghindari tatapan tajam semua orang kepada mereka berdua. Hingga pada akhirnya, Petra seketika masuk kedalam ruang UKS tanpa permisi dan dengan sekejap meletakkan tubuh Lia ke kasur kosong yang ada didalam ruangan itu.
“dasar Petra tidak sopan. Selalu saja masuk kedalam ruang UKS tanpa permisi” ucap salah satu penjaga UKS.
“ma-maaf, aku mengantarkan dia. Dia sedang sakit dan tolong rawatlah dia” jelas Petra kepada penjaga UKS tersebut.
“apa dia ini anak baru? Apa dia pacarm-“ ucap penjaga UKS tersahut henti.
“maaf, dia bukan pacarku. Dia hanya teman sebangku dan sekelas saja. dia sudah memiliki pacar. Tolong rawat dia. mungkin dia radang tenggorokan dan membuat batuk dan sedikit demam. Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi” sahut Petra seketika keluar dari ruangan UKS.
“hey, Petra. Tunggu dulu!” teriak Lia dari dalam kamar.
“aku pengen ke kamar mandi keburu lumpur lapindonya keluar” tegas Petra menutup pintu kamar UKS.
Petra berlari menuju kelas berniat untuk melanjutkan koreksi ujiannya. Sesampainya Petra di dalam kelas, nyatanya terdapat kepala sekolah yang saat itu sedang duduk di kursi guru dan berbincang dengan seisi kelas.
Faktanya, seisi kelas sudah masuk kedalam kelas dan berbincang bersama dengan kepala sekolah. Melihat hal itu, Petra begitu terkejut akan kehadiran sang kepala sekolah tersebut.
“pe-permisi, aku masuk” ucap Petra mengetuk pintu kelas.
“silahkan masuk, nak Petra. Kesini sebentar” jawab pak kepsek.
“baik pak” jawabnya.
Ia pun berjalan menghampiri pak kepsek yang tengah duduk di kursi guru. Sesampainya Petra di hadapan pak kepsek, beliau memberikan sebuah layaknya map kertas berwarna cokelat.
“berikan ini kepada orang tua atau wali mu dirumah” tegas pak kepsek.
“kalau boleh tau, ini apa pak?” tanya Petra dengan begitu penasaran.
“ba-baik pak” jawab Petra.
“sekarang, aku mau kembali. aku tadi melihatmu menggendong anak baru ke UKS dan tidak sempat memanggilmu. Apa dia sekarang baik baik saja di UKS?” tanya pak kepsek itu.
“sekarang, dia pasti akan baik baik saja” tegas Petra.
“baiklah. bapak percayakan keselamatan anak perempuan itu kepadamu. Bapak akan menjenguknya” ucapnya.
“ehh? Ma-maksudnya pak? Keselamatan? Apa maksudnya?” tanya balik Petra begitu terheran.
“mamahmu pasti akan tau jawabannya” jawab pak kepsek.
“ba-baiklah pak” jawab Petra.
“apaan sih, kok aneh banget. kesalamatan Lia? apa maksudnya?” fikir Petra dalam hati.
“kalau begitu, bapak sangat amat bangga memiliki anak murid yang sangat jenius sepertimu. Kamu bisa mengajari teman sekelasmu ini dengan caramu sendiri. Apa itu benar anak anak?” teriak pak kepsek kepada seisi kelas.
“benar pak” jawab seisi kelas dengan teriak mereka.
“apa Petra mengajar kalian dengan marah marah?” tanya pak kepsek kepada seisi kelas.
“tidak pak” jawab seisi kelas.
“apa Petra mengajar kalian dengan benar?” tanya pak kepsek.
“benar pak” jawab seisi kelas.
“apa kalian setuju kalau Petra harus mengajari kalian satu semester di kelas ini?” tanya pak kepsek.
“setuju pak” jawab seisi kelas.
“haaahhh, satu semester? Apa kalian semua sudah gila?” teriak Petra diikuti tawa seisi kelas.
Tidak lama setelah itu, setelah berbincang santai, pak kepsek keluar dari kelas dan kembali ke kantornya. Petra masih menyimpan surat yang diberikan kepada pak kepsek. Dan Petra merasa tidak enak jika membukanya sekarang. Antara penasaran yang begitu dalam bersama dengan hausnya keingin tahuan di dalam surat tersebut. Namun, semua perasaan itu Petra kubur dalam dalam sebab pak kepsek sendiri yang menyuruhnya untuk menjaga surat tersebut hingga Petra pulang nanti.
Jam 1 siang, Petra kembali mengajar di kelas. Berbeda dengan sebelumnya, Petra memberikan ujian kepada mereka semua. Dirinya menuliskan soal dari materi yang baru saja ia buat dan telah ia ajarkan saat lalu. Hal itu bertujuan untuk mengetahui seberapa paham mereka akan materi yang telah Petra berikan saat lalu.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Petra tidak melihat Lia di dalam kelasnya. Dirinya hanya melihat Alex yang sedang melamun melihat jendela luar sembari berkonsentrasi untuk memancing emas di dalam hidungnya. Yappsss, dia mengupil dalam-dalam untuk mencari batuan mulia.
“hey, Alex” teriak Petra dari meja depan.
“hoh? Apa?” tanya Alex dengan kodisi jari kelingking yang masih berada di dalam lubang hidung.
“bisakah kau berhenti melakukan hal menjijikkan itu di sini?” tanya Petra.
“ini adalah kelakuan yang sangat manusiawi, bro. Semua orang wajib mengupil agar emas mereka bisa keluar” jawab Alex.
“bukan begitu maksudku. Apa kau tidak mengerjakan soal ujian?. Semuanya masih mengerjakan dan kau masih sibuk mencari perhiasan” tegas Petra.
“aku udah selesai” jawabnya.
“haahh? Seryus?”.. “hah? yang bener?”..
“hwoah? Buset udah selesai?” ucap seisi kelas begitu terkejut.
“kenapa? Apa kalian ingin mencontekku?” tanya Alex dengan santainya.
“Alex yang bodoh ini bisa menyelesaikan ujian dari Petra yang super sulit ini? apa kau benar benar Alex yang ku kenal?” tanya Issak.
“kalian terlalu meremehkanku. Kita lihat, nilai siapa yang paling tinggi diantara kita nanti” tegasnya.
1 jam kemudian…
“baiklah, aku sudah mengoreksi semua kertas jawaban kalian semua. Aku akan mengumumkan nilai tertinggi dan nilai terendah diantara kalian semua” tegas Petra.
“hooh” jawab mereka semua.
Petra mulai menuliskan daftar nama dari nomer 1 hingga 35. Total dari siswa di kelas itu adalah 35 siswa, dan hanya Petra dan Lia saja yang tidak mengikuti ujian tersebut. Satu persatu dari nama mereka semua ia tuliskan di papan tulis. Dan benar saja, nama Alex tertulis nomer satu…. Dari belakang
“lihat, namaku ada di angka 35. Angka 35 adalah angka terbesar dari kalian semua” ucap Alex dengan lantangnya.
“dasar kau ini. kau harus lebih teliti saat mengerjakan” ucap Petra menepuk jidat.
“padahal Petra sudah bersusah payah mengajarkan kita materi ini, dan kau malah tidak mengerjakan ujian dengan baik?” tanya Issak.
“aku hanya tidak semangat jika tidak ada Lia disampingku” ucapnya.
“apa kau mulai menyukai Lia?” tanya Anna.
“jelas suka lah. lelaki yang tidak menyukai Lia adalah lelaki yang sudah rabun penglihatannya” tegas Alex.
“kau jujur sekali, apa kau benar benar suka kepadanya?” tanya Lucas.
“aku jelas suka. Kalau kalian tidak percaya, aku akan menembaknya di depan kelas langsung” teriaknya dengan begitu semangat.
“benarkah? Wahh, berani sekali” ujar Emma.
“jelas berani lah. aku bukanlah lelaki yang hanya memendam perasaan yang menggangguku. Lebih baik aku mengatakannya daripada ada lelaki lain yang mengatakannya lebih dahulu” ucap Alex dengan begitu lantangnya.
“hey, Petra!, aku menantangmu. Jika aku mampu mendapatkan hati milik Lia, dan aku berhasil berpacaran dengannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Alex kepada Petra.
“aku tidak akan melakukan apa apa” jawab Petra seraya membereskan mejanya.
“aku yang akan menggendongnya ke UKS dan aku juga yang akan memberinya obat” ucap Alex.
“terserahmu” jawab Petra seraya memasukkan kertas surat pemberian pak kepsek kedalam tas ranselnya.
“kalau begitu, cepat panggil dia dari UKS dan bawa dia kemari” ucap Alex.
“panggil saja sendiri” jawab Petra dengan menata kertas ujian seisi kelas.
“yaelah bro, panggilkan tolong” ucap Alex begitu memohonnya.
“kenapa harus aku?” tanya Petra.
“karena kau yang sudah menggenongnya ke UKS dan pastinya kau juga yang harus menjemputnya. Sebentar lagi juga akan masuk jam pulang” jawab Alex.
“huufftt, o-okelah kalau begitu” ucap Petra dengan nada begitu terpaksa.
Petra mulai berjalan keluar kelas dan kemudian berjalan dari lorong demi lorong menuju UKS. Dan pada akhirnya, saat dirinya masuk kedalam UKS, Petra mendapati jika seorang perawat sedang merawat Lia di kasur.
Nampaknya, kondisi Lia begitu rapuh. Dirinya diberi kompres di jidatnya sementara Lia tidak berhentinya meneteskan air mata. Saat Petra memasuki ruang UKS, dirinya melihat Lia yang spontan mengusap air matanya yang berlinang di pipi.
“kenapa dia menangis? Apa yang terjadi? sebenarnnya Lia sakit apa?”
-BERSAMBUNG-
__ADS_1