
“Apa kamu sudah selesai mengajarnya?” tanya Lia kepada Petra.
“sudah. Aku sudah memberikan ujian kepada mereka semua” jawabnya.
“jadi, apa hanya aku yang belum mengikuti ujiannya?” tanya Lia.
“yap” .
“maaf, aku malah keenakan tiduran di UKS ini”.
“jangan memaksakan diri. Istirahatlah disini sampai tubuhmu pulih. Aku tidak akan memaksamu untuk mengikuti ujian kalau tubuhmu masih belum pulih sepenuhnya”.
“jadi, kenapa kamu malah kemari?. Bukannya kamu masih harus-“ ucap Lia tersahut henti.
“aku sudah mengoreksi ujian mereka semua. Dan aku berhasil membuat mereka faham. Hanya saja Alex yang super bodoh itu masih saja tidak faham” sahut Petra.
“Alex? Dia lelaki yang lucu bukan?” tanya Lia sedikit tertawa.
“aku tidak terlalu akrab dengannya, tapi sepertinya dia sangat mampu untuk mengakrabkan diri kepada siapapun yang ditemuinya” jawab Petra.
“kepribadianmu dengan kepribadiannya berbanding terbalik” ucap Lia sedikit tertawa.
“kamu benar” jawabnya.
“maaf, apa kau tidak masuk kedalam kelas? Bagaimana jika guru di dalam kelas mencarimu?” tanya sang lelaki perawat UKS kepada Petra.
“tenang saja, pak. Dia adalah Petra” sahut Lia.
“ehh? Jadi kamu yang namanya Petra Charleston Prakasa. Kau benar benar anak yang jenius. Semua staff di sekolah ini membicarakanmu” ucap lelaki perawat UKS itu dengan begitu terkagum.
“ehh? Be-benarkah? Aku jadi malu, hehehe” ucap Petra.
“kalau begitu, ibu mau ke koperasi sebentar” ucap sang lelaki perawat tersebut.
“baik pak” jawab Petra menganggukkan kepalanya.
Saat itu juga, sang perawat UKS pun keluar dari ruangan UKS dan meninggalkan Petra dan Lia di ruangan tersebut.
“Petra, udaranya sedikit dingin” ucap Lia.
“jadi?” tanya Petra.
“dasar tidak peka. Tutuplah pintunya” tegasnya sedikit kesal.
“ohh, oke. Maaf” jawab Petra.
“jadi, kenapa kamu kemari?”
“sebenarnya, aku akan menjemputmu dan akan membawamu kembali kedalam kelas. Tapi sepertinya, kondisimu masih belum pulih sepenuhnya”
“kata siapa aku masih belum pulih. Aku sudah bisa berjal-“ ucapnya tersahut henti.
“jangan memaksakan diri” sahut Petra seketika menyahut tangannya.
“tanganmu, tolong” ucap Lia seraya menatap tangan Petra yang tengah menggandengnya.
“ma-maaf” sahut Petra seketika melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lia.
“tolong jangan lepaskan” ucap Lia.
“ehh?” tanya Petra sedikit terkejut.
“aku bilang jangan lepaskan peganganmu. Entah kenapa, aku ingin ada yang memegang tanganku untuk sekarang ini. Asal kamu tau, aku tipe orang yang takut sendirian” ucapnya seraya menundukkan kepala menyembunyikan wajah merahnya.
“hmm, okelah. Aku akan menemanimu di ruangan ini sampai pulang nanti” ucap Petra seketika kembali menggenggam erat tangan Lia.
“terimakasih banyak, hehehe…” ucap tawanya mengangkat wajahnya dan menatap hangat kedua mata Petra.
“tapi sebelum itu, kamu masih belum menjawabku. Kenapa kamu kemari dan ada apa di kelas?” tanya balik Lia.
“sebenarnya, akan ada yang menembakmu dan ingin menjadi pacarmu” jawab Petra.
“eh? Ke-kenapa? Siapa? Ada apa?” tanya Lia begitu terkejut.
__ADS_1
“Alex berkata kalau dia akan menembakmu dan ingin kamu menjadi pacarnya. Dia meminta tolong kepadaku agar membawamu kedalam kelas” jawab Petra.
“ohh, jadi Alex” jawab Lia sedikit menganggukkan kepalanya.
“apa kamu mau?” tanya Petra.
“mau apa?” tanya Lia.
“mau jadi pacarnya?” tanya balik Petra sembari membuang wajahnya kesamping kanan.
“kenapa? Apa kamu cemburu?” tanya Lia sedikit menggoda Petra.
“bu-bukan begitu. Aku hanya berfikir kalau kamu menerimanya, aku masih tidak habis fikir akan selera lelakimu” jawab Petra tergugup malu.
“jadi kamu menanyakan apa aku menerimanya atau tidak. Apa itu benar?” tanya Lia.
“hmm” jawabnya menggumam.
“kalau aku menyuruhmu untuk memberikan jawabanku kepada Alex, mungkin dia tidak akan percaya kepadamu” ucap Lia.
“jadi, apa kamu akan menjawabnya langsung kepadanya?” tanya Petra.
“iya jelas” jawab Lia.
“kalau begitu, apa kamu mau menjawabnya langsung sekarang juga?” tanya Petra.
“nanti saat kita akan pulang sekolah. Aku akan menjawabnya” jawab Lia.
“baiklah. kalau begitu, aku akan kembali kedalam kelas” ucap Petra seraya melepas genggaman tangannya.
“kamu sudah bilang kalau kamu tidak akan pergi dari sini. Aku takut sendirian” sahut Lia seraya menyahut kembali tangan Petra.
“tapi aku juga harus kembali kedalam kelas” tegas Petra.
“tolong sedikit lebih lama disini dan temani aku” ucapnya dengan memasang raut wajah begitu memelas.
“sampai kapan aku akan menemanimu disini?” tanya Petra.
“sampai kamu mau membiarkan tanganku ini berkeringat sebab terlalu lama menggandeng tanganmu” jawab Lia.
“husss, jangan teriak teriak. Berisik tau” ucap Lia membesit layaknya ular dan mengacungkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“ma-maaf. Tapi itu sudah keterlaluan” ucap Petra.
“yaudahlah, kalau kamu memang tidak ingin menemaniku. Pergilah dari si-“ ucapnya tersahut henti.
“bercanda. Aku hanya bercanda. Aku akan menemanimu sampai pulang nanti” sahut Petra balik.
“wahh, benarkah? Terimakasih banyak” jawabnya dengan tawa senyumnya.
“buset, aku bakal mati karena menunggu tangannya berkeringat” fikir Petra dalam hati.
“heh Petra” panggilnya.
“ada apa?” jawab Petra.
“apa kamu sudah punya pacar?” tanya Lia.
“belom” jawab Petra.
“sama, aku juga belom” ucap Lia.
“sepertinya aku salah dengar mengenai percakapan kalian di kelas tadi” ucap Petra.
“kau tau, di sekumpulan perempuan, berbohong adalah hal yang sangat wajar jika mengenai lelaki” jawab Lia.
“jadi, apa kamu masih belum punya pacar?” tanya balik Petra.
“masih belum juga” jawabnya.
Tidak lama setelah itu, ibu perawat di UKS pun datang. Ibu tersebut melihat Petra yang sedang menggenggam tangan Lia. Spontan Petra dan Lia melepaskan pegangan tangan mereka berdua dan berpura pura seolah olah tidak terjadi apa apa.
“ehh, kalian masih ada disini. Untuk nak Lia, bukannya ibu sudah memperbolehkanmu keluar dari ruangan?” tanya ibu tersebut.
__ADS_1
“Lia sudah boleh keluar, bu?” tanya Petra dengan begitu terkejut.
“ibu sudah menyuruhnya untuk keluar dari ruangan ini dari tadi” jawab ibu perawat.
“tapi, Lia berkata kalau….“ ucap Petra berhenti.
“tunggu dulu. Jadi kamu berbohong kepadaku?” tanya Petra dengan begitu amarahnya kepada Lia.
“kamu tau, semua manusia memiliki hubungan dengan kasur. Semakin erat hubungan itu, semakin akrab pula kita dengan aura disekeliling. Hal itu bisa memacu laju interval konsistensi dalam berfikis kritis dan fokus serta kedisiplinan agar tercipta perilaku yang mandiri dan tegas. Hal itu hanya karena kita rebahan” tutur tegas Lia.
“aku sangat tidak peduli dengan itu semua. Aku sangat lapar dan aku ingin ke kantin, tapi kamu malah menahanku disini untuk menemani seseorang yang bahkan hanya ingin rebahan santuy. Kurasa aku ingin membeli belati untuk memenggal kedua pahamu itu. Dasar bocah tengik biadab kurang ajar” tegas Petra dengan amarahnya.
“ehh, heheheh. Ma-maaf. Aku hanya pengen rebahan. Sekarang, apa kita harus kembali ke kelas?” tanya Lia.
“harus dan cepat!” tegas Petra sedikit berteriak.
Petra dan Lia pun segera berjalan ke ruangan kelas dimana saat itu sudah jam setengah 3 sore dan sudah waktunya untuk berbenah serta bersiap untuk pulang. Petra mengetuk pintu ruangan kelas dan kemudian memasukinya bersama dengan Lia.
Hal yang mengejutkan terjadi, dimana saat itu Alex sudah menyiapkan perayaan dan penyambutan Lia dikelas. Alex menata bunga hingga berbentuk Love di depan kelas.
Sampai pada akhirnya, saat mereka berdua memasuki kelas, Petra dan Lia dikejutkan akan Alex yang sedang menggigit bunga dan berdiri tegak di depan kelas seraya menghadap pintu kelas sembari melipat kedua tangannya.
“aku sudah menunggumu, Lia” ucap Alex dengan sok tampannya.
“me-menungguku? Ada apa?” tanya Lia.
“kurasa Petra masih belum memberitahukannya kepadamu di ruang UKS. Kemana saja kalian berdua? kenapa kalian lama sekali?” tanya Alex.
“sekarang, katakan apa yang ingin kau katakan kepadaku?” tanya Lia.
“seperti yang kamu tau sendiri, aku adalah lelaki yang sempurna. Aku tampan, baik, tidak sombong, pengertian, murah senyum, humoris, tidak tempramental, sering berbagi, periang, hemat dan pastinya memiliki kedua orangtua” ucap Alex dengan nada satirnya.
“apa kau menyindirku?” tanya Petra dengan tatapan tajamnya ke arah Alex.
“maaf, aku tidak bermaksud seperti itu” jawabnya dengan sedikit tawanya.
“sekarang apa yang ingin kau katakan?” tanya Lia kepada Alex.
“aku hanya ingin menatap indah wajahmu itu. Aku ingin mendengar merdu suaramu. Ingin membau harum parfum pakaianmu. Aku ingin meraba-“ ucapnya tersahut henti.
“mesum” sahut Lia.
“bu-bukan itu maksudku. Maksudku adalah aku ingin meraba kasur di rumah tangga kita” ucap Alex sedikit berteriak.
“aku tidak ingin berdiri lebih lama lagi, kakiku udah capek” tegas Lia.
“baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal kepadamu. Aku menyukaimu, dan aku ingin kamu menjadi pacarku” tegas Alex dengan wajah begitu percaya dirinya.
“kurasa aku sudah pernah berkata kalau aku sudah memiliki pacar” jawab Lia.
“iya aku tau itu, tapi aku tidak tau siapa nama dari pacarmu itu. Jadi aku merasa kalau ucapanmu itu hanya gertakan dan hanya kebohongan saja agar kamu terlihat keren di hadapan semuanya” jawabnya.
“kalau kau berkata seperti itu, aku ingin meminta ijin kepada pacarku itu apakah aku boleh menerimamu atau tidak” ucap Lia.
“boleh juga. Mintalah ijin dari pacarmu itu dahulu” jawab Alex.
“bagaimana, Petra? Alex mau menembakku, apa aku harus menerimanya?” tanya Lia kepada Petra.
Melihat hal itu, Alex begitu terkejut sekejut kejutnya sebab Alex tidak pernah menyangka bahwa Petra dan Lia sudah memiliki hubungan sendiri di belakangnya.
“tu-tunggu dulu. Pe-Petra?” ucap Alex begitu luar biasa terkejutnya.
Respon Petra hanya menghela nafas dalam sembari menggaruk alisnya sendiri. Dikarenakan matanya sedikit gatal, jadi Petra menggaruknya tanpa memperhatikan ucapan Alex sedikitpun.
“bagaimana, Petra? Dia mau menembakku, apa aku harus menerimanya?” tanya Lia kepada Petra.
“aku tidak habis fikir lagi. Aku pengen makan pisang di kantin tapi sekarang jam istirahat sudah habis. Padahal aku masih belum makan dari tadi pagi” ucap Petra sedikit memelas.
Namun dari balik wajah yang sok biasa saja dan tenang seperti tidak terjadi apa apa itu terdapat batin yang membara. Fikiran Petra kacau balau setelah Lia secara tiba tiba menunjuknya sebagai pacar.
“Lia menganggapku sebagai pacarnya? Gawat!.. aku tidak bisa mengendalikan wajahku yang tidak kunjung berhenti memerah. Apa aku memang pacarnya Lia atau itu hanya gertakan Lia saja? Sudahlah, aku laper dan tidak bisa mengendalikan perilakuku sendiri. aku butuh pisang” fikir Petra dalam hati.
Namun secara tiba-tiba pak Jimmy mengetuk pintu kelas dan memasuki ruang kelas yang kotor dan penuh akan kelopak bunga itu.
__ADS_1
“permisi anak anak, aku tidak tau apa yang terjadi disini, tapi bapak tidak mau tau. Dalam 5 menit kelas ini sudah harus bersih” tegas pak walkel.
-BERSAMBUNG-