Pena Hitam Di Kertas Putih

Pena Hitam Di Kertas Putih
Chapter 36 [Elmo]


__ADS_3

Isi dari koran tersebut adalah berita mengenai insiden 25 Desember 2010. Isi berita di dalam koran itu adalah menjelaskan tragedi yang akan menimpa Petra dan kawan kawannya.


“tidak mungkin. Teman temanku semua melakukan itu? itu sangat tidak mungkin. Kepada Lia di hadapanku? Itu sangat tidak mungkin. Benar benar berita yang tidak bisa dipercaya. Semuanya jahat, itu membuatku ingin membunuh mereka semua” ucap Petra dengan tetesan air mata yang mulai membasahi kertas koran.


Setelah membaca koran tersebut, Petra membaca koran satunya lagi. koran kedua yang Petra baca menjelaskan akan kondisi jantung Lia. Petra benar benar menangis tak tertahankan saat membaca kedua koran tersebut.


“jantung Lia berhenti berdetak di tanggal 25? Sangat tidak mungkin. Itu karenaku? Apa yang Petra masa depan lakukan di hari itu? kenapa Lia bisa kelelahan dan tidak melakukan transplantasi jantung? Apa Lia masih belum mendapatkan jantung hari itu?. sial, batas Lia tinggal 10 hari lagi” fikir Petra seraya memukul dinding di samping ranjangnya.


Hingga pada akhirnya, Petra beralih ke surat tulisan tangan Petra dari masa depan. isi surat terseut adalah “aku bersyukur karena kau bisa mengendalikan masa depanmu. Aku hanya ingin kau melakukan hal yang terbaik di hari itu. tepat tanggal 24 desember, kau dan teman temanmu. Aku ingin kau membalas apa yang telah mereka lakukan kepadamu. Aku ingin kau melakukan apa yang Lia inginkan kepadamu. Dan aku tau apa isi hatimu sendiri. biarkan hatimu membalas apa yang telah teman temanmu lakukan kepada Lia. isi koran tersebut tidak berbohong. Kau hanya perlu membalasnya. Lawanlah mereka semua dan bawalah pisau dapur untuk membunuh mereka semua demi Lia. dan buatlah berita baik di tanggal 25 desembernya. Aku menantikan hal itu”


Membaca surat tersebut, jiwa Petra menggebu gebu. Fikiran Petra menjadi sangat amat kacau. Hanya karena koran pertama yang Petra baca, itu membuat fikiran Petra seakan akan meluap. Terharu, terkesan, marah, sedih, kecewa, takut, bahagia, lega, dan semua perasaan yang Petra rasakan bercampur menjadi satu.


Petra melipat kembali kertas koran tersebut bersama dengan surat dari Petra masa depan kedalam amplop itu. Petra memasukkannya kebawah bantal dan kemudian tengkurap dengan wajah yang berada di atas bantal.


“aku akan membalas mereka semua. Hanya butuh belati dan pisau dapur, itu akan sangat cukup untuk membelah isi perut mereka semua. Tenang saja, Lia. aku pasti akan membuatmu hidup. Aku sudah memutuskan untuk melakukan apa kedepannya. 9 hari kedepan, aku akan membagikan semua formulir itu kepada penduduk kota, semua Rumahsakit yang ada, menempelkannya ke seluruh penjuru kota, dan pada tanggal 25 desember, aku akan melihat Lia yang telah menerima pendonoran jantung baru untuknya. Aku telah berambisi untuk menghabisi mereka semua di malam natal, dan aku sudah berjanji atas itu”


Detik itu juga, jantung Petra berdetak dengan sangat cepat. Petra merasa kalau Petra harus bergerak saat itu juga, namun dirinya teringat akan tamparan keras dari bang Mike. Tamparan keras bang Mike bagaikan alarm saat emosi Petra meluap dan terpicu.


Akibat tamparan itu, Petra dapat mengendalikan fikirannya dan mulai berfikir matang matang. Dan pada akhirnya, Petra memutuskan untuk melakukan rencananya dengan fikiran dingin.


KAMIS-16 DESEMBER 2010, 08:00 AM


Petra terbangun dari tidurnya. Dirinya terbangun karena Lia yang membangunkannya. Dirinya menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras. Saat ia berdiri, dirinya menatap wajah Lia yang terlihat begitu khawatir kepadanya.


“apa sekarang sudah pagi? Sial leherku sakit sekali” tanya Petra dengan suara lirih kantuk.


“kufikir kamu udah meninggal” ucap Lia menghela nafas lega.


“jahat sekali, kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Petra seraya memijat lehernya sendiri.


“bagaimana kamu bisa bernafas saat tertidur dalam kondisi tengkurap dengan bantal di bawah wajahmu. Apa kamu tidur semalaman dengan posisi bodoh seperti itu?” tanya Lia sedikit tertawa.


“dasar Petra bodoh!” ucap Lia tertawa menepuk pundak kanannya.


“hooaammm, sekarang jam berapa?” tanya Petra dengan menguap kantuk.


“sekarang jam 8 pagi. Mandilah dan siapkan dirimu. Kita akan makan bersama hari ini” ucap Lia.


“dimana papah dan mamah?” tanya Petra.


“kau menanyakan mereka berdua saat pagi hari? Jangan tanya aku, bahkan aku tidak tau apa yang mereka lakukan di pagi hari dan kenapa mereka menghilang” jawabnya.


“jadi kita hanya berdua di rumah ini?” tanya Petra.


“kau menanyakan hal yang sangat tidak penting” jawabnya.


“ohh iya benar juga. di rumah ini sangat banyak pembantu” ucap Petra.


“segera mandi dan makan di lantai bawah. Aku akan menunggumu di lantai bawah” ucapnya seraya berjalan keluar kamar.


“terimakasih” jawab Petra.


Petra segera berjalan ke kamar mandi. Membasuh badan menggunakan air hangat dan menggosok gigi. Petra segera mengambil pakaian dari dalam lemari dan berjalan kebawah untuk menemui Lia yang tengah menunggu di meja makan.


Hanya ada dirinya dibawah. Petra yang hanya memakai kaus dan celana training panjang merasa kalau hari ini tidak seperti musim dingin yang biasa ia rasakan. Selama ini, Petra tinggal di rumahnya yang hanya menggunakan kayu bakar sebagai penghangat ruangan, dan saat ia tinggal di rumah Lia, ia sama sekali tidak merasa kedinginan.


“kemari dan makan bersamaku. Setelah itu, minumlah obat dan kembalilah tidur” ucap Lia memanggil Petra dari kejauhan.


“kenapa tangga dan meja makan jaraknya sangat jauh. Benar benar rumah orang kaya” ucap Petra dengan menghela nafas kelelahan.

__ADS_1


Petra duduk di hadapan Lia. memakan panekuk hangat yang diberi madu dan anggur diatasnya. Benar benar sarapan orang kaya dimana susu yang diminum adalah susu low fat berkualitas yang harganya mampu menghidupi biaya kuLiah satu semester.


“bagaimana keadaanmu, apa baik baik saja?” tanya Lia.


“aku merasa begitu segar” jawab Petra.


“ohh iya, foto bingkai kedua orangtuamu masih ada di kamarku. Apa kamu tidak ingin mengambilnya?” tanya Lia kepada Petra.


“setelah ini aku akan mengambilnya” jawab Petra.


“omong omong, kenapa wajah papahmu sangat mirip dengan wajah dokter pribadiku?” tanya Lia kepada Petra.


“aku tidak tau. Bahkan aku tidak tau namanya dan wajahnya” jawab Petra.


“dan juga aku tidak tau dimana rumahnya” ucapnya.


“sama aku juga” jawab Petra.


“bagaimana kalau kita pergi keluar bersama?” tanya Lia mengalihkan pembicaraan.


“ehh? Pergi?” tanya Petra sedikit terkejut.


“boleh juga bukan? Sesekali aku ingin kencan bersamamu” ucapnya.


“ke-kencan?” tanya Petra dengan pipi yang mulai memerah.


“aku ingin pergi ke mall kota” ucapnya.


“hah? kota? aku sama sekali tidak pernah ke kota” ucap Petra sedikit berteriak.


“kalau begitu, biarkan aku membawamu pertama kali untuk pergi ke kota” ucapnya.


“tidak apa apa. Memangnya salah?” tanya Lia.


“aku sedikit tidak berminat untuk pergi ke kota” ucap Petra.


“hmm, okelah kalau begitu. Kalau kamu tidak ingin pergi ke kota, aku akan berangkat sendir-“ ucap Lia Petra sahut henti.


“aku akan menemanimu ke kota. aku akan mengganti pakaianku” ucap Petra seketika beranjak dari kursi meja makan.


“terimakasih Petra ku” ucap Lia sedikit tertawa.


Petra berjalan ke lantai atas, memasuki kamar, mengganti pakaian dan memakai sepatu kemudian mengetuk pintu kamar Lia. tidak lama setelah itu, Lia keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaiannya.


Mereka berdua memakai syal yang telah di buatkan oleh nenek dan memakai sarung tangan. Setelah itu, mereka berdua berjalan bersama turun kebawah dan kemudian menemui sopir.


Tidak lama setelah itu, mereka memasuki mobil. mereka berdua saling bergandengan tangan dan tidak pernah melepas pegangan tangan mereka sekalipun. Mereka berdua duduk di kursi belakang sementara sang sopir duduk menyetir di kursi depan. nyatanya, Lia memiliki sopir pribadi sekaligus bodyguard nya. itu dikarenakan meminimalisir jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


Mereka berdua pergi menuju perbatasan kota dan desa. Disamping kanan dan kiri sudah mulai banyak perumahan. Dan pada akhirnya mereka melewati sebuah perumahan para penduduk elit yang bahkan rumahnya jauh lebih besar dari rumah Lia.


“aku tidak membayangkan seberapa kaya orang orang di kota” fikir Petra dalam hati.


Tidak lama setelah itu, Petra mulai memasuki wilayah pingggiran kota. banyak ruko di samping kiri dan kanan jalan dengan lusuh dan kotornya pinggiran jalan. Banyak pemulung dan pengamen yang berada di pinggiran jalan.


“aku tidak tau kalau di kota terdapat wilayah seperti ini” ucap Petra.


“kita semua memanggilnya wilayah lusuh dan kumuh yang kondisi ekonominya menengah kebawah dan tidak memiliki pekerjaan tetap” ucap pak sopir Lia.


“ehh, jadi begitu. Tapi memangnya orang orang seperti ini tidak melakukan kekerasan? Aku sedikit takut kepada orang orang yang menggunakan tato dan merokok di pinggir jalan” ucap Petra.

__ADS_1


“bahkan mereka duduk di kursi taman langsung di bubarkan oleh petugas” jawab pak sopir.


“ehh? Kenapa?” tanya Petra.


“karena petugas menganggap kalau mereka akan melakukan hal yang negatif. Padahal kita hanya duduk dan minum kopi. Hanya sekedar nongkrong” jawab pak sopir.


“kenapa bapak bisa tau?” tanya Petra.


“karena dulu aku juga hidup di kehidupan keras jalanan” jawabnya.


“ohh, ma-maaf pak aku tidak bermaksud-“ ucap Petra tersahut henti.


“tidak apa apa. Itu bukan masalah” jawabnya.


Pada akhirnya, merek mulai sampai di pertengahan kota. banyak sekali gedung gedung tinggi, pepohonan tumbuh di samping jalan dan halte bus yang bersih, serta trotoar rapih dengan orang berjalan menggunakan pakaian rapih.


Hampir di samping kanan kiri kanan jalan dipenuhi banyaknya gedung dan bangunan tinggi. Bangunan kantor hampir memenuhi perkotaan. Jalanan yang begitu luas dan banyak sekali mobil sedan keren di tengah jalanan.


“ini benar benar kota yang indah” ucap Petra.


“hah? kota? indah? Hahahaha, sangat lucu sekali” ucap Lia tertawa terbahak bahak.


“ehh? Kan emang bener indah” ucap Petra.


“tapi aku tidak suka perilaku semua orang di kota. mereka terlalu merendahkan orang disekitarnya. Aku tidak mengatakan kalau semua orang kota seperti itu. banyak dari orang kota yang baik dan sopan dalam berperilaku maupun berkata. Tapi tidak sedikit pula yang melakukan sebaliknya” jawab Lia.


“ohh, jadi begitu” ucap Petra menganggukkan kepala.


Tidak lama setelah itu, kita sampai di depan mall, Petra merasa kalau bangunan ini adalah bangunan terbesar yang pernah ia lihat. Pak sopir memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah dan kemudian membiarkan mereka berdua memasuki mall.


“bapak disini saja. aku dan Petra hanya sebentar di dalam” ucap Lia kepada bodyguardnya.


“baik nona muda” jawabnya menganggukkan kepala.


“wahh, dipanggil nona muda” ucap Petra kepada Lia.


“aku benci panggilan itu” jawabnya.


Pada akhirnya, mereka berdua keluar dari mobil dan kemudian berjalan bersampingan menaiki lift. Baru pertama kali ini Petra menaiki lift, namun agar tidak terlihat terlalu norak dan kampungan, Petra berusaha untuk menutupi rasa gugupnya itu.


Setelah naik di lantai 1, Petra mendapati banyak sekali pakaian yang dijual didalamnya. Dikarenakan saat ini sedang musim salju, banyak di lantai 1 yang menjual pakaian tebal musim dingin.


“disini hanya menjual pakaian. Apa kita bisa naik keatas?” tanya Lia.


“ada berapa tingkat?” tanya Petra balik.


“aku biasa mengunjungi mall ini. di mall ini kurang lebih 7 lantai dan aku paling sering pergi ke lantai 4” jawabnya.


“kalau begitu, bagaimana jika kita langsung pergi ke lantai 4?” tanya Petra.


“boleh juga” jawabnya.


Petra dan Lia pun kembai memasuki lift dan hendak menuju ke lantai 4. Seperti biasa, Lia selalu menggenggam tangan Petra dengan begitu eratnya. Di lantai 3, pintu lift terbuka dan kemudian mulai dimasuki oleh beberapa orang.


Saat salah seorang hendak masuk kedalam lift, tanpa di sengaja mereka berdua bertemu dengan seorang lelaki yang nampaknya lelaki tersebut kenal dengan Lia.


“ehh, Lia?” tanya lelaki tersebut dengan begitu terkejutnya.


-BERSAMBUNG-

__ADS_1


__ADS_2