Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Pengacara Menyebalkan


__ADS_3

"Dert."


"Dert."


Handphone Marvin berbunyi.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


"Hah."


Marvin mendadak terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia masih berada di kamar hotel namun sendirian.


Usai pertemuan serta saling memberi kenikmatan kemarin, Kinan pulang. Sebab salah satu karyawannya itu telah bersuami dan tak mungkin menginap sampai pagi.


"Dert."


"Dert."


"Papa?"


Marvin bergumam dengan nada malas sambil memperhatikan layar handphone. Ia berniat untuk tidak mengangkat, namun memikirkan resiko yang mengikuti dibelakangnya.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


"Hallo, Pa."


Akhirnya ia mengangkat telpon tersebut.


"Marvin!"


Seperti biasa suara sang ayah langsung menusuk ke gendang telinga Marvin.


"Santai dikit kenapa sih pa, elah." gerutunya kemudian."


"Suntai, santuy, suntai, santui. Kamu kan sudah janji hari ini kita akan pergi ke pertemuan para pengusaha."


"Oh iya, lupa."


Marvin menepuk jidatnya sendiri. Sang ayah menahan emosi, namun gagal.


"Kamu itu, setiap janji untuk perusahan selalu lupa. Coba kalau janjian dengan perempuan, pasti didahulukan"


"Iya, iya pa. Sorry, Marvin juga baru bangun." tukasnya seraya beranjak.


Hampir ia terjatuh, karena tanpa sengaja menginjak remote air conditioner yang terjatuh di lantai.


"Papa tunggu dalam lima belas menit."


"Kecepatan, pa. Sejam kek."


"Nggak ada, lima belas menit."


"Ya Marvin belum mandi, belum ganti pakaian."


"Lima belas menit atau di coret dari daftar ahli waris." ujar sang ayah.


"Oke, oke. Segera meluncur." ujar Marvin.

__ADS_1


Pria itu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi hotel dan mencuci muka serta menggosok gigi seadanya. Tak lama ia memakai pakaian dan bergegas untuk check out.


Ia masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin dengan segera. Tak lama ia pun terlihat meninggalkan pelataran parkir tersebut.


Marvin mengemudi dengan kecepatan yang membabi buta. Secara tiba-tiba ayahnya kembali menelpon dan mengabarkan jika ia telah berjalan dan meminta sang anak langsung menuju ke lokasi pertemuan saja.


Marvin yang semula mengarah ke rumah ayahnya itu pun kesal. Pasalnya kini ia harus memutar arah.


"Kenapa sih bapak gue ngeselin banget. Padahal bule, tapi kelakuan lokal. Kebanyakan nongkrong di warung pak RT sih sama bapak-bapak setempat, makanya gitu." Gerutunya sambil mencari tempat berputar.


"Mau gue sleding, durhaka. Nggak gue sleding, semena-mena." ujarnya lagi.


"Buruan ya!"


Sebuah notifikasi pesan singkat tertera di layar. Marvin makin kesal dan makin dalam menekan pedal gas mobilnya.


Tak lama ia pun tiba, mobilnya berhenti tepat di muka sang ayah yang habis merokok di pelataran parkir. Marvin buru-buru keluar dan menghampiri pria usia tua yang masih terlihat muda tersebut.


"Pa." ujarnya.


"Itu mobil kamu kenapa?" tanya sang ayah.


"Aduh, pake acara ngeliat segala lagi lord Bambang." gerutunya dalam hati.


"Kenapa, Marvin?"


Sang ayah kembali bertanya. Kali ini dengan nada lebih tegas hingga menyebabkan Marvin agak takut.


"Ditabrak orang songong, pa." jawab laki-laki tampan tersebut.


"Kenapa bisa?" tanya ayahnya lagi.


"Itu orang menerobos lampu merah, bodoh banget pokoknya. Udah gitu mobilnya butut lagi."


Marvin berdusta pada sang ayah. Padahal sejatinya ialah yang memulai duluan. Dan yang menabrak mobilnya itu bukan mobil butut tapi mewah.


"Mau ganti rugi gimana, pa. Orangnya aja keliatan dari kalangan menengah ke bawah koq. Mungkin mobilnya masih kreditan." tukas Marvin.


"Lagian malu-maluin, punya mobil semahal ini tapi minta ganti rugi. Marvin nggak mau kelihatan miskin di mata orang lain." lanjutnya kemudian.


"Ya sudah, ayo kita masuk!" ucap sang ayah.


Marvin lalu menuruti keinginan ayahnya tersebut. Mereka masuk ke dalam gedung pertemuan. Disana mereka bertemu dengan beberapa rekan bisnis dan juga teman lama.


Mereka saling sapa, membicarakan tentang pekerjaan, saham, dan juga hal penting lainnya.


"Pak Marcell."


Seseorang muncul dan menyapa ayah Marvin.


"Pak Edward."


Marcell menjabat tangan pria itu dengan penuh keramahtamahan. Marvin yang penasaran dan baru saja selesai berbicara dengan salah satu rekannya itu menoleh. Tiba-tiba ia terkejut, begitupula dengan pria bernama Edward tersebut.


"Loh, anda ini kan yang nabrak mobil saya." ujar Marvin penuh emosi.


"Anda si anak muda yang tidak tau aturan itu kan. Main menerobos lampu merah dan membahayakan anak saya."


Marcell kaget melihat perdebatan tersebut. Beberapa pasang mata kini tertuju pada mereka.


"Saya melaju masih hijau ya lampunya." Marvin membela diri.


"Itu sudah detik terakhir. Mestinya anda tahan dulu karena itu membahayakan pengguna jalan lain." tukas Edward.


"Anda yang harusnya tahan dulu." Marvin ngotot.

__ADS_1


"Dan tidak seharusnya anda mengejar mobil saya, lalu menabrak bagian samping." ujarnya lagi.


"Anda mengacungkan jari tengah ke saya." tukas Edward.


"Anda yang..."


"Marvin."


Marcell berujar demi menghentikan sang anak. Seketika Marvin tersadar jika ada ayahnya di tempat itu.


"Orang ini duluan, pa." ucapnya membela diri.


Edward terkejut.


"Oh, ini anaknya pak Marcell?" tanya nya kemudian.


"Maafkan dia pak, emang agak kurang terdidik kadang. Padahal sudah disekolahkan sampai keluar negri." tukas Marcell pada Edward.


Sementara Marvin mak jleb seperti nyungsep ke dalam got. Ingin membela diri tapi takut semakin di pojokan lagi oleh ayahnya itu.


"Ini teman papa, Marvin. Harusnya kamu tidak menerobos lampu merah. Karena selain membahayakan jiwa orang, itu semua juga membahayakan buat kamu." Marcell kembali berujar.


"Jadi papa lebih percaya om ini ketimbang Marvin?"


"Oh pasti, karena papa tau sifat kamu yang manipulatif itu." tukas Marcell


Edward tersenyum, kini ia memandang Marvin seperti bocah kecil yang bertingkah. Sementara Marvin melihat Edward sebagai bapak-bapak yang menyebalkan.


"Minta maaf sama om Edward." Pinta Marcell.


Sambil menghela nafas dan berusaha menurunkan ego meski tak bisa, Marvin pun meminta maaf. Lagipula disini banyak rekan bisnis dan juga koleganya.


Jadi tak mungkin ia merajuk dan tak mau meminta maaf layaknya bocil yang suka bermain free fire. Ia harus melakukan pencitraan tingkat dewa.


"Maafkan saya, om." tukas Marvin.


"It's oke. Papamu dulu waktu muda juga bandel seperti kamu." ujar Edward sambil tertawa.


"Hei, jangan bocorkan masa lalu." ucap Marcell seraya ikut tertawa.


Marvin jadi tau kebiasaan ayahnya dulu berkat Edward.


"Bro."


Seseorang memanggil Marvin seraya menyentuh bahunya, ternyata Igor.


"Bro, hei."


Mereka kemudian menjauh dan mengobrol di spot lain. Sementara Marcell terus mengobrol dengan Edward.


***


Dinda juga baru membuka mata. Walau matahari sudah begitu tinggi dan sinarnya bukan lagi hangat, melainkan panas. Secara serta merta perempuan itu teringat, pada foto yang ia ambil kemarin.


Dinda meraih handphone dan membuka galeri. Ia melihat foto Marvin dan juga Kinan, saat keduanya berpelukan lalu berjalan masuk ke hotel.


Entah mengapa ada rasa cemburu yang tiba-tiba saja menyeruak. Padahal ia sadar betul kebersamaannya dengan Marvin sepulang dari klub malam tempo hari, hanyalah sebuah simbiosis semata. Tak seharusnya ia memiliki rasa yang kuat terhadap CEO tampan tersebut.


Sebab pria seperti Marvin akan selalu berpetualang serta tak mantap hatinya. Namun melihat pria itu memeluk Kinan dengan penuh cinta, entah mengapa Dinda ingin menggantikan posisinya. Ia ingin menjadi orang yang dipeluk dan di istimewakan oleh Marvin.


"Gue pengen ada di posisi itu." ucap Dinda.


"Eh, ralat. Gue harus ada di posisi itu." ujarnya lagi.


"Ya, harus." tambahnya.

__ADS_1


Dinda menatap foto tersebut sekali lagi. Kali ini rasanya sudah tak biasa, dan seperti penuh dendam.


Ia ingin segera membuat posisi Kinan tergeser. Bila perlu benar-benar terhapus dari kehidupan Marvin.


__ADS_2