
"Bapak mau ajak dia?"
Kinan bertanya dengan nada tak suka. Ketika Marvin mengatakan padanya jika sore nanti ada acara pertemuan antar sesama bos perusahaan. Dan ia berencana mengajak Dinda. Padahal sebelum-sebelumnya Marvin selalu mengajak Kinan untuk ikut ke acara tersebut.
"Iya, kan perut kamu udah gede begitu. Nanti kamu capek, terus kenapa-kenapa lagi. Suami kamu bisa marah." ucap Marvin.
"Sejak kapan bapak mempedulikan suami saya?. Biasa selalu cemburu." ucap Kinan dan itu seolah menyadarkan Marvin akan sesuatu.
Ya, ia mulai aneh saat ini. Kinan curiga apakah perasaan di hati Marvin terhadap dirinya kini mulai memudar. Jika iya, berarti ini gawat.
Ia tak ingin kehilangan aset berharganya itu. Sebab Marvin adalah ATM berjalan sekaligus kebanggaan bagi Kinan. Selain mencintai uangnya, ia juga mencintai fisik pria tersebut.
"Saya cuma nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, itu aja."
Marvin jujur, sebab biar bagaimanapun Kinan tengah mengandung saat ini. Ia tak ingin mengambil resiko. Lagipula acaranya akan berlangsung sampai malam.
"Jadi bapak akan pergi sama Dinda?" tanya Kinan lagi.
"Kemungkinan besar, iya." jawab Marvin.
Belum sempat ia mengungkapkan alasannya, Kinan sudah pergi meninggalkan ruangan kerja pria itu. Ia marah dan tak terima, namun protes pun sepertinya akan percuma. Sebab tak ada seorang pun yang mampu menghentikan langkah Marvin.
Sore hari menjelang, ketika jam kantor bubar. Marvin tak punya pilihan lain. Ia harus mendatangi pertemuan itu dengan membawa sekretarisnya. Sebab ada beberapa file yang harus di bawa.
Sementara Kinan tetap seperti terlihat marah. Kemudian ia dijemput oleh suaminya dan mereka pulang bersama di hadapan Marvin. Marvin merelakan saja saat hal tersebut terjadi.
Setibanya di lokasi acara, pertemuan pun diadakan. Ada semacam rapat akbar disana dan membahas berbagai topik yang berhubungan dengan kemajuan perusahaan. Jika dilihat agak sedikit mirip seminar namun dengan suasana yang lebih santai.
***
Malam sebelum itu di kediaman Dinda.
"Pepet aja terus beb, pura-pura nggak tau aja kalau si Kinan marah sama lo."
Zara berujar pada Dinda ketika ia menginap di kediaman sahabatnya itu.
"Ambil kesempatan besok buat godain si Marvin lagi. Kan kata lo si Marvin orangnya gampang nefsong." lanjut perempuan itu kemudian.
"Hmm, bukan lagi. Dia mah pantang di kasih yang kebuka dikit langsung nyamber." ucap Dinda.
"Nah ya udah, akhiri di hotel aja lagi besok. Kan lumayan kalau lo melendung anaknya. Marvin. Yang di perut Kinan kan bukan anaknya dia. Setidaknya lo melangkah satu step lebih maju ketimbang dia." ucap Zara.
"Hidup di kota besar itu harus nekat beb. Mau jalan lurus, lurus sekalian. Tapi jalan lurus tau sendiri kan susahnya gimana." lanjutnya lagi.
"Iya sih." jawab Dinda.
"Maka dari itu gunakanlah jalan ninja. Dosa urusan belakangan. Banyak koq yang lebih berdosa dari kita." tukas Zara.
__ADS_1
Dinda diam, memang seharusnya ia tidak mengambil langkah yang tanggung. Sebab hasilnya pun akan terkesan tanggung. Jika jalan lurus terasa sulit, maka carilah jalan pintas.
***
Sekolah Edgar bubar pada sore hari. Beberapa kali dalam seminggu, sekolahnya menerapkan peraturan seperti itu. Sebab hari Sabtu mereka libur, dan lagi banyak sekali les tambahan guna menunjang kemampuan siswa dalam bersaing di dunia nyata nantinya.
Di sekolah tersebut ada kegiatan seperti mempelajari bisnis, bagaimana caranya membangun usaha dari awal. Juga ada Les-les yang bermanfaat seperti mempelajari cara membuat animasi, game online dan lain sebagainya. Tak salah jika bayaran sekolah tersebut sangat fantastis. Sebab ada harga, ada kualitas.
"Edgar."
Seorang guru mendekat padanya, dan Edgar menoleh. Saat itu posisi Edgar sudah akan keluar dari pintu gerbang sekolah.
"Iya bu Cassey, ada apa?" tanya Edgar pada gurunya yang cantik itu.
"Kamu sekarang tinggal dimana?"
Bu Cassey bertanya pada Edgar sekali lagi. Dan Edgar menganggapnya sebagai sebuah bentuk perhatian. Sebab bukan hanya bu Cassey saja yang mempertanyakan hal tersebut. Beberapa guru yang mengajar dikelasnya pun seperti itu. Mereka telah mengetahui kisah saat Edgar di usir oleh adik Edward.
Hal itu terjadi ketika rumah duka masih dipadati pelayat dan ada beberapa guru yang masih disana. Tentu kekhawatiran akan nasib Edgar menjadi perhatian mereka semua.
"Saya, tinggal di rumah papa kandung saya bu." jawab Edgar.
"Oh, baguslah. Ibu senang mendengarnya." ucap bu Cassey.
"Sebab kalau kamu butuh tempat tinggal, banyak orang tua siswa disini mau menjadikan kamu anak asuh." tukasnya lagi.
Bu Cassey menarik nafas dan tersenyum.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan."
"Iya bu."
Edgar berlalu. Pandangan mata bu Cassey berubah seperti penuh dendam. Padahal Edgar sama sekali tak memiliki salah terhadapnya. Tak lama guru lain mendekat dan bertanya.
"Bu Cassandra ngeliatin apa?" tanya guru tersebut.
Seketika bu Cassey atau Cassandra itu split. Berpindah dari wajah yang penuh dendam ke wajah yang ramah dan manis.
"Iya pak, ini saya mau pulang." ujarnya sambil tersenyum.
Tak lama mereka pun sama-sama menuju ke ruang guru.
***
Marvin dan Dinda masih berada di tempat acara, sementara hari telah menjelang malam. Dinda berpikir di hotel mana mereka akan berakhir malam ini. Namun otak plus-plus sang CEO mendadak teringat pada anaknya Edgar.
Ia meraih handphone dan mengirim pesan singkat pada anak itu. Kemarin ia ada sempat meminta kontak Edgar.
__ADS_1
"Kamu udah pulang?" tanya nya kemudian.
"Udah." jawab Edgar.
"Di kulkas ada bahan makanan. Tapi kalau kamu nggak bisa masak itu semua, ada mie instan. Atau beli aja, nanti papa isi saldo ojek online kamu."
"Iya."
Setelah itu tak ada jawaban lagi.
"Pak ke floor yuk."
Dinda mengajak sang bos untuk ajojing di floor. Puncak dari acara malam ini adalah dengan menghadirkan DJ dan juga minuman keras.
Marvin tak mau kehilangan kesempatan yang bagus. Ia pun mengajak Dinda kesana dan ia menjadi sedikit lupa diri.
Malam beranjak naik, keduanya memang berakhir di kamar hotel sesuai harapan Dinda. Kini mereka tengah berciuman dan siap melakukan hal yang nikmat. Namun kemudian Dean menelpon.
"Iya Dean."
"Lo dimana, bro?"
"Gue lagi ada pertemuan." ucap Marvin dengan sedikit berdusta. Pertemuan itu memang ada namun sudah selesai.
"Oh, gue kira di rumah. Gue mau mampir soalnya."
"Lo dimana emangnya?" Marvin balik bertanya.
"Di dekat rumah lo."
"Lo samperin aja, bentar lagi gue balik."
"Serius?. Ntar gue lama lagi nunggunya." ucap Dean.
"Kagak, ini udah mau balik."
"Oke deh."
Marvin kemudian merapikan kembali pakaiannya. Sebab ia mendadak kehilangan gairah.
"Maaf, mungkin lain waktu." ucap Marvin.
Dinda kecewa, sebab misinya kali ini gagal total. Padahal ia berhenti meminum obat pencegah kehamilan.
"Tapi kamu kalau mau sampai besok disini nggak apa-apa. Kan aku udah bayar hotelnya." ucap Marvin.
Lalu pria itu berpamitan dan Dinda tak punya pilihan lain selain merelakan.
__ADS_1