Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Tersentil


__ADS_3

Malam itu Marvin kembali menginap di rumah sakit. Namun ketika pagi hari menjelang ia melihat Edgar tak ada di tempat tidur. Bahkan infusnya pun sudah dilepas.


"Hah?"


Marvin panik, pikirannya langsung tertuju pada adegan seperti dalam sinetron. Dimana pasien dengan mudahnya mencabut infus kemudian kabur.


Ia kini mendadak panik dan mencoba mencari Edgar kesana kemari. Namun kemudian ia menemukan Edgar yang baru keluar dari dalam kamar mandi, dengan berpakaian rapi.


"Edgar, mau kemana kamu udah rapi begitu?. Kondangan?"


Marvin bertanya seraya mendekat. Pandangan mata pria tampan itu seakan memperlihatkan jika ia heran pada penampilan sang anak.


"Edgar mau ibadah, pa. Ini kan hari Minggu. Sekalian mau mendoakan papa Edward." jawab Edgar.


Marvin diam sejenak. Ia kini paham dengan keyakinan yang dianut oleh sang anak.


"Kan kamu masih sakit, emangnya udah boleh kemana-mana gitu?" tanya Marvin lagi.


"Om Dean bilang, Edgar tuh udah boleh pulang hari ini."


Edgar terlihat menggulung lengan kemejanya.


"Kapan om Dean ngomongnya?" tanya Marvin.


"Tadi, waktu papa masih tidur." jawab Edgar.


"Kan kemarin kamu baru aja drop kondisinya. Koq hari ini om Dean mengizinkan kamu pulang?"


"Ya papa tanya aja sama om Dean langsung." ujar Edgar lagi.


"Ok, tunggu!. Jangan kemana-mana dulu, tetap disitu."


Marvin menahan sang anak agar ia tidak pergi. Kemudian pria itu mengambil handphone, dan ia segera menghubungi Dean. Panggilan tersebut pun lalu terhubung.


"Hallo, Dean."


"Hallo."


Dean menjawab telpon itu, namun dengan tubuh yang kini melangkah masuk ke ruangan yang sama. Marvin sontak melebarkan bibir melihat kehadiran temannya itu.


"Ngapain lo angkat telponnya dokter Karnadi, kalau lo nya juga ada disini." Marvin menjadi sewot, sementara Dean tertawa kecil.


"Ada apaan?. Ngapain nelpon gue." tanya Dean kemudian.


"Nih anak kenapa udah disuruh pulang?" Marvin balik bertanya.


"Ya, dianya mau pulang." jawab Dean santai.


"Ya tapi kan lo dokternya. Harusnya lo tau dong kapan nih anak boleh pulang atau belum."


"Kalau udah gue izinkan, berarti udah sehat." ucap Dean lagi.


"Lo yakin?. Kemarin aja kondisi dia drop, masa hari ini udah bisa di bawa pulang. Emang obat dari lo seajaib itu?" Marvin makin sewot.


"Dia udah nggak apa-apa, bro. Lagipula kan gue izinkan pulang ke rumah itu ya, artinya sambung istirahat di rumah. Bukan begitu pulang langsung pecicilan." jelas Dean.

__ADS_1


"Tapi ini dia mau ibadah katanya."


"Ya lo temenin." Lagi-lagi Dean berucap.


"Biar kalau ada apa-apa, lo sebagai bapaknya bisa sigap memberi pertolongan." lanjutnya kemudian.


Marvin menoleh dan menatap Edgar, sementara yang ditatap kini sedikit mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Lo ikut juga lah. Gue mana ngerti gimana tindakannya kalau ada apa-apa."


"Nggak bisa, Bro. Lo kan tau gue lagi tugas." ucap Dean.


"Edgar udah lebih sehat koq, lo tenang aja." lanjutnya lagi.


Marvin menarik nafas dan menimbang-nimbang dalam hati. Jujur ia masih belum yakin dan masih bergitu khawatir pada kondisi sang anak.


"Ya udah deh kalau gitu. Ada obat yang mesti gue bawa nggak?"'tanya Marvin.


"Edgar udah paham semuanya." jawab Dean.


"Ya udah."


"Soal administrasi dan lain-lain gimana?" tanya Marvin lagi.


"Udah gue urus." ucap Dean.


"Ya udah, ntar urusan gue ke lo berarti. Lo simpan aja struk pembayaran dan WhatsApp ke gue."


"Udah gampang." ucap Dean lagi.


"Kamu, ketempat ibadah yang wilayah mana?" tanya Marvin ketika mobil mulai melaju.


Edgar lalu menjawab dengan memberitahu dimana tempatnya.


"Kamu selalu ibadah tiap minggu?" tanya Marvin pada Edgar lagi. Dan Edgar menjawabnya dengan menganggukkan kepala.


"Papa emangnya nggak?" Edgar balik bertanya.


Marvin agak membeku, sebab bingung harus memberi jawaban apa. Jangankan ibadah, menganut yang mana saja ia tidak jelas.


"Papa nggak percaya gitu-gituan." ucap Marvin.


"Loh kenapa?. tanya Edgar heran.


"Ya, nggak aja. Boleh dong punya pandangan beda." jawab Marvin kemudian.


"lah terus di KTP papa?"'


"Ada sih." jawab Marvin.


"Tapi nggak pernah dijalani juga." lanjutnya lagi.


"Sama dengan Edgar?.


Lagi-lagi Edgar bertanya guna memastikan. Apakah keyakinan yang dia anut sama dengan apa yang tertera di kartu tanda penduduk milik Marvin.

__ADS_1


"Beda." jawab Marvin.


"Oh." jawab Edgar singkat.


"Nggak masalah kan?" Marvin balik bertanya.


Edgar menggelengkan kepalanya.


"Terus kalau papa nggak percaya, papa lari kemana kalau lagi ada masalah?"


Edgar kembali melempar pertanyaan.


"Ke klub malam." jawab Marvin polos.


Namun kemudian suasana pun berubah canggung. Marvin menyadari kebodohannya dalam menjawab pertanyaan.


"Krik, krik, krik."


Seolah ada jangkrik yang tiba-tiba bersuara.


"Maksud papa..."


"Edgar udah dengar, nggak usah dialihkan lagi." Edgar memotong alibi Marvin yang belum sempat diutarakan secara lengkap oleh pria itu.


Dan seperti sebelum-sebelumnya, suara Edgar tetap terdengar dingin. Marvin kemudian menghela nafas panjang. Sepertinya mulai hari ini ia harus benar-benar hati-hati bila berbicara pada anaknya itu.


"Papa nggak mencontohkan loh ya, cuma cerita." ujarnya kemudian.


Ia tetap ingin dipandang sebagai sosok ayah yang tegas. Meski ia sendiri yang terlalu jujur membuka aibnya di depan sang anak.


"Ngerti kamu Edgar?" tanya Marvin.


Edgar menghela nafas dan mengangguk. Selang beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat ibadah yang dimaksud. Usai memarkir mobil, Marvin pun membuka lock pintu lalu mereka sama-sama keluar.


"Papa mau ikut masuk ke dalam?" tanya Edgar pada Marvin.


"Mmm, tapi kan papa nggak menganut keyakinan yang sama dengan kamu." jawab pria itu.


"Ya ikut aja, nggak apa-apa." ujar Edgar.


"Lagian kalaupun masuk, bukan berarti otomatis langsung pindah keyakinan koq. Keyakinan itu kan ada di dalam diri masing-masing." lanjutnya lagi.


"Ntar kalau papa ikut masuk terus nyaman gimana?"


Marvin bertanya dengan mimik serius, namum Edgar malah tertawa. Sebab semua itu terdengar seperti sebuah candaan baginya.


"Ya kalau nyaman, lanjut." seloroh Edgar.


"Emang nggak apa-apa kalau papa ikut masuk?"


"Ya nggak apa-apa, ayo!"


Marvin lalu mengikuti langkah sang anak dan masuk kedalam. Mereka memilih tempat duduk di bagian belakang, karena depan rata-rata sudah penuh.


Marvin agak celingukan, apalagi ketika sang anak mengeluarkan semacam kitab suci yang entah isinya apa. Sebabnya Marvin tak pernah membaca kitab suci dari kepercayaan manapun selama ini.

__ADS_1


Ketika puji-pujian terdengar, Marvin hanya diam. Sebab ia tak mengerti apa yang harus ia katakan. Yang jelas ia melihat anaknya begitu khusyu dan seperti begitu taat pada apa yang diyakininya. Marvin mendadak jadi malu pada dirinya sendiri.


__ADS_2