
Marvin tiba di kantor, Dinda bersiap untuk menghampiri dan mengambil tas CEO tersebut. Ia telah berpikir semalaman untuk meminta maaf atas perbuatannya.
Bukan karena ia memang tulus untuk melakukan hal tersebut. Ia hanya ingin mempertahankan jabatan yang ia miliki. Ia tak mau Kinan jadi menang dalam hal ini.
Sebab ia tak salah pada awalnya. Perempuan hamil itulah yang menyulut api, hingga terbakar sendiri dan merasa dirinya paling mengalami luka.
Marvin melangkah, Dinda menatap pria itu dan bersiap. Ia mendekat namun Marvin berjalan cepat, bahkan sedikit menabrak bahunya.
Hal tersebut disaksikan oleh banyak pasang mata, terutama Kinan. Perempuan hamil itu merasa menang atas diri Marvin. Sementara yang lain seperti di suguhi drama Korea.
Tentu saja Dinda malu, meski sulit namun akhirnya ia bersikap bodo amat. Wanita itu kembali ke meja kerjanya dan menunggu keputusan yang akan dibuat oleh Marvin.
Yang jelas ia akan berusaha bertahan, jika sampai dipecat oleh pria tampan itu. Sesuai apa yang dikatakan oleh Zara, yakni pikirkan tujuan yang lebih besar kedepannya.
"Kalau si Dinda sampai di pecat, nggak seru tuh. Masa iya Kinan menang."
Ira berujar pada Miranti, setelah Dinda terlihat kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Ntar malah makin ngelunjak." lanjutnya.
Miranti terdiam.
"Kita harus bergerak untuk mempertahankan drama ini, Mir." ucap Ira lagi.
***
"Bund, jangan lupa makan nanti ya."
Fadly suami Kinan mengirim pesan pada sang istri, tepat pada saat Marvin tengah menghampiri meja wanita itu dan mengawasi pekerjaannya.
Notifikasi pesan tersebut tertera di layar handphone yang terletak di atas meja. Karena sedang berada di sana, Marvin pun tanpa sengaja membacanya.
"Degh."
Batin Marvin tersentak, begitupula dengan Kinan. Wanita itu kini merasa tak enak pada sang selingkuhan.
Marvin yang tadinya biasa menjadi penuh emosi di wajahnya. Meski berusaha keras ia tahan serta sembunyikan. Mengingat di kantor ini ia merahasiakan hubungannya dengan Kinan.
"Nanti bawa ke ruangan saya kalau sudah selesai."
Ia berujar dengan nada yang tak begitu enak di dengar telinga. Kinan paham jika Marvin cemburu, namun ia malah senang. Sebab itu artinya akan semakin gampang untuk menguasai pria itu.
Marvin melangkah kembali ke ruangannya dan melengos begitu saja ketika melewati Dinda. Dinda pun jadi terusik kembali hatinya. Ia kian menunggu-nunggu keputusan.
Jam istirahat tiba, belum ada tanda-tanda bahwa dirinya akan dipecat. Meski ia tau sebuah perusahaan akan sulit memberhentikan pegawai yang sudah di kontrak.
__ADS_1
Namun ia juga tau jika Marvin memiliki power dan bisa melakukan apa saja. Ia bahkan bisa memecat siapapun jika ia menginginkan hal tersebut.
"Din, makan."
Zara mengirim pesan pada sahabatnya itu. Dinda pun akhirnya turun karena ini sudah jam makan siang.
Masalah boleh ada, tapi urusan perut lapar tak bisa ditunda. Apalagi ia adalah tipikal orang yang gemetaran jika terlambat makan.
"Sssttt."
Ira menyikut Miranti saat Dinda sudah keluar. Kinan sendiri sudah istirahat sejak tadi bersama bu Hilda. Kini Ira dan Miranti bersiap.
"Buruan sebelum pak Marvin keluar!" ujar Ira.
Ia dan Miranti pun menyambangi ruangan Marvin.
"Tok, tok, tok."
Ira mengetuk pintu ruangan bos mereka tersebut.
"Masuk!" perintah Marvin.
Ira dan Miranti kemudian masuk.
Ira dan Miranti mendekat, mereka saling lirik kemudian berhenti tepat di depan Marvin.
"Maaf pak." ujar Miranti.
"Kami mau membicarakan soal kejadian kemarin." lanjutnya lagi.
Marvin yang entah tengah menulis apa tersebut, menghentikan aktivitasnya dan menatap dua karyawan itu.
"Kejadian kemarin?" tanya nya seraya mengerutkan dahi.
"Iya pak, yang soal sekretaris bapak sama Kinan." jawab Ira.
Marvin agak kaget mendengar semua itu, sebab ia mengira mereka berdua tak melihat. Namun seperti biasa Marvin selalu bersikap cool dihadapan siapapun, sehingga tak banyak ekspresi yang ia keluarkan.
"Ada apa soal itu?" tanya nya kemudian.
"Mmm, begini pak."
Miranti menarik nafas agak dalam.
"Kemarin itu kami melihat sendiri gimana kejadian sebenarnya." tukas wanita itu lagi.
__ADS_1
Marvin terus menatap pegawainya tersebut.
"Kinan yang nyamperin duluan dan marah sama Dinda, sambil dorong bahunya Dinda. Dan Kinan juga yang menampar Dinda duluan, pak."
Marvin kembali terkejut. Meski wajahnya masih cool, namun kali ini hal itu agak terlihat di mata sang pegawai.
"Iya pak. Intinya yang kita dengar, Kinan bilang supaya Dinda jangan makin sok kecakepan dan kepedean di depan bapak. Kinan kayak cemburu gitu sama Dinda." timpal Ira.
Marvin nyaris membeku. Ia kini menuding peristiwa tersebut telah membentuk spekulasi di benak karyawannya.
Mengenai hubungan terlarang yang ia jalani bersama Kinan. Padahal Dimata Marvin para karyawannya ini tidak ada yang mengetahui sama sekali.
"Saya sama Kinan nggak ada hubungan apa-apa. Hanya saja saya lebih sering membutuhkan dia dalam menyelesaikan pekerjaan. Karena pekerjaan dia memang berurusan langsung kepada saya."
Marvin tampak jelas mencari alasan. Ira dan Miranti bisa merasakan semua itu, namun mereka berpura-pura lugu. Marvin tidak tau betapa mudahnya wanita mencurigai dan mengendus sesuatu.
Ditambah lagi jika ada bantuan si tukang bergunjing alias biang gosip. Maka semua hal yang dirahasiakan seseorang, bisa dengan mudah mereka akses.
"Kita nggak mau ngurusin soal itu pak, bapak mau ada hubungan dengan siapapun kami nggak berhak menghakimi." ucap Ira.
"Iya pak, yang jelas kami merasa harus menyampaikan kejadian yang sebenarnya. Karena kami melihat sendiri dan ini sangat mengganggu pikiran kami." Miranti menimpali.
"Dan karena kemarin kami lihat, bapak datang di saat posisi sekretaris bapak lagi memukul si Kinan. Kami takut bapak salah menyimpulkan sesuatu." lanjut Ira lagi.
Marvin diam, lalu menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.
"Ya sudah."
Marvin menggerakkan jari tangannya, tanda menyuruh Ira dan Miranti keluar. Maka tak lama kedua pegawai tinggi semampai itupun pergi meninggalkan ruangan sang CEO.
Marvin kembali menghela nafas kali ini. Sementara di kantin, Dinda makan seperti biasa. Hanya saja selera makannya tak begitu menggebu seperti kemarin.
Lantaran masalah ini sedikit banyak mengganggu pikirannya dan belum ada kabar apapun mengenai nasib dirinya di kantor ini.
"Udah, lo sabar aja. Ntar abis makan ini, lo temui aja si Marvin. Langsung aja bilang maaf. Kalau dia nggak terima ya udah, yang penting usaha dulu." ujar Zara.
Dinda pun tampak memperhatikan piringnya lalu mengangguk.
***
Selang beberapa saat setelah Ira dan Miranti keluar dari ruangannya. Marvin tampak melakukan hal yang sama dan langsung masuk ke dalam lift. Ia menuju ke ruang monitor CCTV, yang kebetulan penjaganya juga tengah istirahat makan siang.
Disana Marvin mengutak-atik dan mencari rekaman kejadian kemarin. Kemudian ia menemukan dan benar saja. Apa yang dikatakan oleh kedua orang pegawainya tadi, memanglah benar.
Kinan yang mencegat Dinda kemudian menyulut permasalahan. Sampai akhirnya Dinda membalas dengan membabi buta.
__ADS_1