Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Warisan


__ADS_3

"Kinan, kamu ngapain disini?"


Marvin bertanya pada Kinan yang belum beranjak, dari tempat dimana tadi ia melabrak Dinda. Kinan tak menjawab sepatah katapun dan hanya berlalu saja dari hadapan Marvin.


"Hey, kamu kenapa?"


Marvin menarik dan mencekal lengan wanita itu. Kebetulan kantor telah sepi, sehingga tak ada satu orang pun yang melihat mereka.


Setidaknya itu menurut pandangan Marvin. Sebab di sekitar benar-benar tak ada manusia lain kecuali mereka berdua.


Ia tidak tau jika Daryanti bahkan belum pulang dan saat ini tengah mengintip dari suatu sudut.


"Lepasin saya, saya mau pulang!"


Kinan terdengar ketus dan berusaha menarik tangannya yang masih di cengkram oleh Marvin.


"Kamu kenapa, ada apa?" tanya Marvin dengan nada yang sangat ingin tau.


"Bapak ada hubungan apa dengan sekretaris baru itu?" tanya Kinan pada Marvin. Ia kini menatap pria itu dengan tajam.


Marvin sejatinya agak kaget mendengar pertanyaan tersebut. Namun dasar sikapnya yang dingin membuat ia tak banyak mengeluarkan ekspresi.


"Dia sekretaris saya dan kami nggak ada hubungan apa-apa." ujar Marvin.


"Tapi soal kalian yang menginap semalaman di kantor ini bagaimana?"


Marvin kembali kaget, kali ini sedikit terdiam. Sebab itu artinya telah ada yang melihat kejadian tersebut.


"Kami lembur dan memang ketiduran." ucapnya masih dengan nada yang tenang.


"Berdua dalam ruangan?" tanya Kinan lagi.


"Dia masuk ke ruangan saya, karena saya panggil pagi tadi."


Marvin mulai menunjukkan sikap manipulatif-nya pada Kinan.


"Dia tidur di luar, dan saya di dalam" dustanya lagi.


Kinan diam. Jika nada bicara Marvin sudah setengah marah seperti itu, biasanya ia tak akan balas meninggi.


"Kamu percaya kan sama saya?" tanya Marvin kemudian.


Kinan kembali diam.


"Hei."


Marvin mengangkat dagu wanita itu dengan tangannya. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain.


"I love you." ujar Marvin.


Ia lalu mencium bibir wanita itu dan Kinan pun membalasnya. Lalu keduanya saling berpelukan.


Dinda yang tanpa sengaja meninggalkan handphone di laci kini berlarian dan hendak kembali. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala melihat adegan tersebut.


Marvin tak melihat Dinda, namun Kinan bertatap mata dengan sekretaris baru itu. Kinan tersenyum penuh kemenangan pada Dinda.


Dinda pun hanya berlalu dan kembali ke ruangan, ia kemudian mengambil handphone miliknya yang tertinggal.


"Mbak."

__ADS_1


Daryanti muncul di hadapan Dinda, ketika ia sudah hendak nyaris beranjak.


"Nggak usah terlalu berharap terhadap pak Marvin." ujar Daryanti.


"Orangnya memang gitu." lanjutnya lagi.


"Kecuali mbak punya ketahanan hati dan mental kayak bu Kinan." tambah wanita itu.


Dinda diam, lalu ia melanjutkan langkah.


***


Esok hari.


"Gue berencana mau buat surat wasiat untuk Edgar."


Edward Panggabean berujar pada sahabatnya Andreas. Ketika mereka tengah berada di kantor advokat, yang didirikan oleh pria itu beserta beberapa rekannya yang lain.


"Lo takut ya, gara-gara kasus kemarin?"


Andreas menyinggung perihal kasus yang sempat ditangani oleh Edward. Mengenai satu keluarga yang berebut harta warisan.


"Ya." jawab Edward kemudian.


"Ini semua demi kebaikan Edgar." lanjutnya lagi.


Andreas menganggukkan kepalanya.


"Lebih cepat, lebih baik bro." tukas pria itu kemudian.


"Ya, kita nggak tau apa yang akan terjadi di menit berikutnya." ucap Edward.


***


"Edgar."


Angga, Ello, dan Dino berlarian, lalu memisahkan remaja yang tampak tengah berkelahi dengan siswa lain tersebut.


"Lo mau adu apa sama gue, ayo!" teriak Edgar.


"Gar, udah Gar." Angga menahan tubuh sahabatnya itu. Meski Edgar lebih tinggi dari dirinya.


"Nih anak brengsek tau nggak."


Edgar memberontak dan hendak kembali menghajar siswa tersebut. Namun Angga kembali menahan laju tubuhnya.


Kemudian yang menjadi lawan Edgar di jauhkan oleh Dino. Ia juga masih hendak berkelahi, meski ia telah banyak lebam dibuat oleh Edgar.


"Nelson, udah!" perintah Dino.


"Gue nggak takut sama temen lo itu." teriak Nelson.


"Dia juga nggak takut sama lo." tukas Dino lagi.


Tak lama seorang guru melintas. Nelson pun menjauh karena takut kejadian ini akan ketahuan.


"Lo kenapa ribut sama Nelson?"


Ello bertanya pada Edgar ketika suasana sudah mulai tenang. Dino datang dan memberikan sebotol air mineral pada Edgar. Edgar pun lalu meminumnya.

__ADS_1


"Dia duluan yang cari masalah sama gue." ucap remaja itu.


"Ngata-ngatain bokap gue di sosmed." lanjutnya lagi.


"Dia ngatain bokap lo?" tanya Ello.


"Iya, terang-terangan lagi nyebut nama bokap gue."


"Gue nggak berteman sama dia sih sosmednya. Jadi nggak tau." Ello kembali berujar.


"Sama, gue juga." Angga dan Dino sama-sama menimpali.


"Gue juga nggak berteman tapi di mention sama orang." ujar Edgar.


"Mana sih, ngomong apaan dia di sosmed?" tanya Angga penasaran.


Edgar lalu memperlihatkan screenshot postingan Nelson di sosial media Twitter. Ketiga temannya kemudian sama-sama membaca.


"Ini sih emang udah murni nantangin." ujar Angga kemudian.


"Makanya gue hajar." ucap Edgar.


"Biasalah, bapaknya punya jabatan. Jadi merasa super power." tukas Dino.


"Eh, bapaknya Edgar pengacara terkenal loh. Lo lupa?" tanya Angga.


"Jangan main-main dia sama bapaknya Edgar." lanjutnya kemudian.


"Kan yang punya jabatan biasanya banyak bekingan, jadinya songong." ujar Dino lagi.


"Beking Soda kali ah." celetuk Ello.


Mereka kemudian serentak tertawa. Tak lama bel tanda masuk ke kelas kembali berbunyi. Mereka bertiga lalu bergegas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.


***


Di sebuah tempat.


"Kamu itu adik satu-satunya, Yang. Walau kalian beda bapak, kamu berhak atas sebagian harta bang Edward."


Seorang pria pengangguran berujar pada istrinya, yang berjualan jajanan serta minuman di samping rumah.


Pria itu adalah saudara ipar dari Edward Panggabean. Dan istri dari pria itu adalah adik satu ibu dengan Edward, namanya Erni.


Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Bukan tanpa alasan dan bukan karena Edward seorang kakak yang jahat. Edward sudah pernah membelikan adiknya itu rumah di kawasan kompleks perumahan.


Tapi dijual dan katanya untuk modal sang suami membuka usaha. Mereka mengganti dengan rumah yang lebih murah, namun nyatanya tak ada usaha yang dilakukan.


Pernah Edward mendapati iparnya tersebut berjudi. Ia sudah beberapa kali menyuruh adiknya meminta cerai, namun si adik cinta mati.


Lalu Edward ada beberapa kali memberikan modal usaha pada mereka. Uangnya habis sementara usahanya tak terlihat.


Kini Edward sudah lelah membantu mereka dan masa bodoh. Tapi sang saudara ipar mengompori istrinya untuk harta warisan. Dimana bahkan Edward pun saat ini masih hidup.


"Kita nggak akan bisa berbuat banyak selama anak pungut itu masih ada dalam kehidupan bang Edward. Sudah pasti dia akan mewariskan hartanya untuk anak itu." tukas Erni.


"Anak itu nggak berhak, dia cuma anak angkat. Nggak ada pertalian darah. Dan dalam hukum apapun anak adopsi tidak bisa diberi warisan."


Suami Erni mengeluarkan pendapat yang menurutnya paling pintar sejagat raya. Dan Erni pun kini berpikir. Apalagi kekayaan sang kakak sangat banyak. Bila ia berhasil memiliki setengahnya saja, maka ia akan kaya-raya.

__ADS_1


__ADS_2