
"Aaaaah."
Dinda dan Kinan sama-sama berteriak. Ketika laki-laki yang menggarap mereka, mengisi rahim dengan aliran kenikmatan.
Bedanya Dinda berteriak puas, karena yang melakukan hal itu adalah pria yang juga ia sukai.
Berbeda dengan Kinan yang hanya merasakan nikmat secara fisik, namun batinnya teriris. Ia mencintai Marvin, tapi terjebak dengan pernikahan yang didasarkan atas paksaan orang tua.
Dengan dalih melakukan hal yang terbaik untuk anak, orang tua di negri ini kerapkali memaksakan sebuah kehendak.
Padahal yang jadi korban justru anak-anak mereka sendiri. Melakukan hal terbaik untuk anak selalu jadi tameng dalam hal perjodohan. Padahal hanya ingin agar tetangga memuji-muji, lantaran anaknya tak lagi dikatakan perawan tua.
Lebih mementingkan anggapan orang lain ketimbang perasaan anak sendiri. Itulah potret yang banyak terjadi di sekitar kita.
"Aku sayang kamu, Kinan."
Fadly mencium kening istrinya dengan lembut. Sedang Kinan hanya diam saja dan pasrah.
Malam itu Dinda tertidur lelap di sisi Marvin. Ia mungkin adalah satu dari sekian banyak perempuan gampangan yang pernah di temui oleh pria itu.
Namun Dinda sendiri tak peduli. Toh di luar sana banyak yang lebih gampangan dari dirinya. Dengan dalih atau kedok pacaran, banyak yang di jamah oleh pacarnya secara gratis. Bermodal kata cinta dan dibalas chat WhatsApp, perempuan-perempuan itu sudah kesenangan.
Sedangkan Dinda fokus meraih keuntungan dari pria yang menidurinya. Setidaknya uang ataupun gadget.
Apakah Dinda lebih tinggi statusnya?. Tentu saja tidak. Ia tetap tergolong gampangan dan juga murahan. Tetapi murahan dibayar lebih baik daripada gratisan. Setidaknya itulah prinsip yang Dinda dan teman-temannya anut selama ini.
Dinda menjadi nakal lantaran masalah ekonomi. Sebuah alasan klasik yang sering menjadikan seseorang salah langkah.
Ia dilahirkan dari kedua orang tua yang menikah muda tanpa persiapan ekonomi yang matang. Hanya menikah-menikah saja secara ugal-ugalan. Tak ada kesiapan mental dan finansial yang baik.
Akibatnya sedari kecil Dinda masuk dalam daftar keluarga kurang mampu. Namun ia memiliki cita-cita yang tinggi.
Setamat SMP ibunya mendesak ia menikah dengan seorang pria tua kaya-raya di daerah mereka. Sebab pria tua itu menyukai Dinda yang montok.
Ibunya berkata pada Dinda untuk menerima saja, sebab itu semua untuk mengangkat derajat keluarga dan membiayai hidup adik-adik Dinda.
Sebuah pelemparan tanggung jawab oleh kebanyakan orang tua di negri ini. Mereka beranak seenak jidat dan melemparkan tanggung jawab nafkah serta kepengurusan anak lain kepada anak sulung.
__ADS_1
Anak sulung biasanya dipaksa membiayai adik-adiknya. Sedang orang tua tugasnya hanya mencetak anak.
Saat itu Dinda menolak dinikahkan, namun ibunya memaksa. Akhirnya Dinda kabur dari rumah dan luntang-lantung di kota orang.
Ia ditemukan oleh seorang wanita kaya dan di ajak bekerja di rumahnya, menjadi seorang pengasuh anak. Ia juga disekolahkan hingga tamat SMA.
Namun Dinda seperti tidak tau terima kasih. Ia malah terlibat hubungan dengan suami dari wanita yang telah menolongnya tersebut.
Akhirnya setelah ketahuan, Dinda di usir dari rumah itu saat dirinya telah kuliah semester pertama. Dinda sangat-sangat menyesali perbuatannya tersebut dan tak pernah kembali lagi pada suami si penolong.
Meski suami si penolong masih mengejar-ngejar dan memohon pada dirinya untuk tidak ditinggalkan.
Dinda kemudian mencari pekerjaan untuk biaya kuliah. Namun karena biaya yang dikeluarkan sangat besar termasuk membayar kos-kosan. Ia pun menerima saat bertemu dengan seorang sugar daddy di sebuah kafe.
Sugar daddy tersebut membiayai hidup dan kuliah Dinda. Namun menjelang tugas akhir, perselingkuhan itu terendus oleh istri sah sang sugar daddy. Hingga Dinda pun di labrak dan dipermalukan di kampusnya.
Ia kembali mencari pekerjaan dan bersusah payah menyelesaikan kuliah. Setelah itu ia melamar pekerjaan, dan malah jadi simpanan calon bosnya.
Tetapi belakangan sugar daddy-nya itu kepincut sugar baby baru dan Dinda ditinggalkan begitu saja. Kini disisi Marvin ia tertidur nyenyak dan sudah tak peduli pada apa yang tejadi dalam hidupnya.
Sementara Marvin sendiri tak pernah memiliki perasaan lebih pada perempuan-perempuan yang ia kencani, kecuali Kinan.
Tetapi malam ini Kinan tertidur, karena habis melayani suaminya. Marvin terus menunggu hingga cukup lama, sampai akhirnya ia pun tertidur.
***
Pagi hari Marvin mentransfer sejumlah uang untuk Dinda. Sebagai bayaran karena telah di layani semalam. Dinda tentu saja senang, sebab uang adalah segalanya untuk wanita itu.
"Saya dipecat apa nggak pak?" tanya Dinda pada Marvin, ketika ia sudah hendak beranjak dari hotel.
Marvin menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. Meski tatapan mata pria itu tertuju ke lain sudut.
Dinda lega, kemudian mengambil tas dan keluar dari kamar hotel. Sementara Marvin menyusul tak lama kemudian.
Dinda pulang dengan di jemput supir kantor. Sedang Marvin kini menyusuri jalan demi jalan sambil menunggu kabar dari Kinan.
Biasanya setiap pagi Kinan pasti menelpon Marvin sejenak atau minimal mengirim ucapan selamat pagi. Tapi hari ini wanita itu tidak melakukannya.
__ADS_1
***
Sementara di sebuah jalan di jam yang sama dengan saat Marvin mengemudi. Edward Panggabean tengah menerima telpon dari sang anak, Edgar.
Pria itu baru akan pulang ke rumah setelah mengurusi klien di sebuah kota. Ia mengemudikan mobil sendiri setelah selama beberapa hari ia parkir di bandara.
"Kenapa papa rahasiakan ini semua dari Edgar. Kenapa Edgar bukan anak papa?. Edgar ini anak siapa?"
"Edgar, dengarkan papa dulu!. Nanti kita bicara dirumah. Kamu jangan kemana-mana, ambil sikap yang tenang dan tunggu papa." tukas Edward.
Di lain pihak, Marvin kian dalam menekan pedal gas mobilnya. Sedang kini Edward mengemudi dalam keadaan jantung yang berdegup kencang.
Sebab Edgar ternyata sudah menemukan surat adopsi, dan meminta penjelasan. Edward tak siap untuk hal ini.
"Edgar dengar papa kan?" tanya Edward pada anak itu.
Marvin menambah kecepatan lagi.
"Edgar dengar, pa. Tapi Edgar pikir Edgar nggak baik-baik aja sekarang. Edgar belum bisa menerima semua ini dan Edgar......"
"Braaak."
Sebuah benturan keras terdengar. Edgar tersentak dan mencoba mencari tau.
"Pa, papa."
"Pa."
Tak dan jawaban.
"Papa?"
Edgar mulai panik. Tak lama terdengar suara orang yang berkerumun. Di ikuti oleh suara sirine mobil polisi lalu lintas.
"Pa."
"Papaaaa."
__ADS_1
Teriakan Edgar memecah, namun tetap tak ada jawaban. Sebuah breaking news muncul pagi itu. Dan menyatakan jika seorang pengacara terkenal tewas seketika di tempat, setelah mengalami tabrakan dengan bos dari Sievert.co.
Dean, Igor serta orang tua Marvin dan juga adik Edward yang melihat kejadian itu di televisi, langsung bergegas menuju lokasi kejadian.