Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Terkejut


__ADS_3

"Jadi sistem imun ditubuhnya dia, menyerang trombosit yang dia punya?"


Marvin bertanya pada Dean yang menangani Edgar. Saat ini kondisi Edgar sudah lumayan stabil dan ia telah ditempatkan sebuah kamar VVIP.


"Iya, sistem imun dia menganggap kalau sel darah merah yang dia miliki itu adalah benda asing." Dean menjelaskan pada Marvin.


Pria berusia 36 tahun itu pun terpukul. Sebab sistem imun dan sel darah merah atau trombosit, adalah dua hal yang sama pentingnya bagi tubuh.


Marvin menarik nafas.


"Apa tadi namanya?" tanya pria itu pada Dean.


"Idiopatic Thrombocytopenyic Purpura." jawab Dean.


"Apa ini bisa sembuh?" Lagi-lagi Marvin bertanya.


"Untuk kasus yang akut, bisa. Tapi anak lo kronis."


Dunia Marvin seakan runtuh. Meski ia baru mengenal Edgar dan belum memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak itu. Namun hatinya begitu hancur.


"Jadi maksud lo?" Suara Marvin seakan tercekat di tenggorokan.


"Saat ini tubuhnya masih merespon obat yang diberikan dengan baik. Dan itu harusnya nggak menjadi masalah besar. Selama obatnya masih efektif dan Edgar sendiri bisa menjalani pola hidup sehat."


"Maksud lo, obatnya itu bisa aja nggak mempan lagi?" tanya Marvin kemudian.


Dean mengangguk.


"Kalau obatnya udah nggak berfungsi gimana?" Marvin terus bertanya.


"Ya, terpaksa kita akan melakukan operasi splenektomi atau pengangkatan organ limpa." jawab Dean.


"Limpa?" Marvin makin terkejut mendengar semua itu.


"Bukannya setiap orang yang limpa-nya diangkat, sistem imunnya akan terganggu?" tukasnya lagi. Sebab ia pernah tanpa sengaja membaca artikel mengenai hal tersebut di google.


"Ya, karena limpa memproduksi sel darah putih untuk melawan infeksi. Kalau organ limpa diangkat, tubuh seseorang akan rentan terhadap infeksi."tukas Dean.


Marvin benar-benar gamang kali ini. Seakan kedua kakinya sudah tidak lagi menapaki tempat dimana kini dirinya berada.


"Ini faktor penyebabnya apa, Dean?" Untuk kesekian kalinya ia bertanya.


"Bisa karena infeksi virus, atau karena autoimun bawaan."


Marvin memejamkan matanya sambil menghela nafas. Beberapa saat kemudian ia sudah terlihat menyambangi kamar tempat dimana Edgar dirawat.


Wajah remaja itu sudah tak begitu pucat seperti tadi, tetapi masih ada sisa-sisa bila diperhatikan lebih lanjut.


"Are you ok?" tanya Marvin pada remaja itu. Edgar mengangguk lemah. Marvin menarik kursi dan duduk disisi sang anak.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang sama papa, kalau kamu sakit?" tanya nya kemudian.


"Edgar pikir karena Edgar baik-baik aja beberapa waktu belakangan ini." jawab remaja itu.


"Baik-baik aja bukan berati sembuh total kan?. Harusnya kamu kasih tau papa, biar kalau ada apa-apa bisa dikasih tindakan secara cepat dan tepat." ucap Marvin lagi.


Edgar diam.


Tak lama Dean masuk beserta perawat untuk memeriksa kondisi remaja itu.


***


Di kantor.


Dinda dan Kinan tampak resah, sebab Marvin pun tak ada kabar sama sekali hingga detik ini. Biasanya bila memang tidak masuk, ada pemberitahuan dari bagian informasi ruangan.


"Pak dimana?. Bapak nggak masuk?"


Dinda ingin mengirim pesan tersebut namun ragu. Sebab kesannya jadi kepo terhadap keberadaan bos. Ia takut Marvin menjadi risih dan akhirnya tak suka pada sikap yang ia berikan. Tetapi ia sangat penasaran akan keberadaan pria tampan itu.


Tak melihat Marvin sehari saja, rasanya seperti sebuah kebutuhan yang gagal terpenuhi. Mengingat mereka memiliki ikatan batin, menurut versi Dinda. Lantaran mereka telah tidur bersama beberapa kali.


Sementara Kinan terlihat resah. Ia lebih berani mengirim pesan pada Marvin, sebab ia percaya diri jika dirinya adalah cinta mati Marvin.


"Kamu dimana?. Nggak masuk?"


Ia lupa harus memanggil Marvin dengan sebutan "Bapak." Saking ia ingin tahu keberadaan dari selingkuhannya tersebut.


Sedang untuk Edgar sendiri, perlakuan Marvin mengingatkan ia pada Edward. Ia ingin menangis saat itu juga lantaran mengingat ayah angkatnya tersebut.


Namun semua itu ia tahan dengan sangat. Mengingat ia juga di didik cukup keras oleh Edward selama ini.


"Papa nggak kerja?" Edgar tiba-tiba bertanya pada Marvin.


"Kenapa?. Kamu nggak nyaman ada papa disini?" Marvin balik bertanya.


Edgar cukup kaget melihat respon dari ayahnya tersebut.


"Edgar nanya, kenapa jadi melebar ke hal lain." ucap remaja itu.


Marvin diam dan memperhatikan Edgar. Ia ingin mencari kejujuran dimata anaknya itu.


"Sorry, papa emang terbiasa curiga terlebih dahulu terhadap orang lain. That's why papa selalu selamat dari orang-orang jahat." tukasnya kemudian.


"Nggak mau jawab juga nggak apa-apa." ujar Edgar seraya mengambil air putih dan meminumnya hingga setengah.


"Koq kamu jadi kayak ngambek gitu mentang-mentang nggak papa jawab."


Marvin benar-benar terlihat seperti bocah SMP yang tengah berdebat dengan teman sepermainannya. Ia sangat jauh berbeda dengan Edward yang tegas, penyayang, dewasa, dan mampu menanggapi segala sesuatu dengan kepala dingin.

__ADS_1


"Kamu pikir aja, gimana papa mau kerja kalau kamu sakit kayak gini?"


Edgar menatap Marvin.


"Kan kita baru kenal. Papa harusnya nggak usah khawatir berlebihan gitu sama Edgar."


"Taaak!"


Marvin meletakkan mangkuk bubur yang ada di tangannya ke atas meja samping dengan penuh penekanan, hingga hal tersebut menimbulkan suara. Ia melakukan semua itu dengan mata yang masih menatap mata sang anak.


"Kamu meremehkan kekhawatiran papa terhadap kamu. Papa juga mau untuk nggak begitu peduli sama kamu. Tapi papa juga nggak ngerti kenapa tiba-tiba papa begini."


Marvin berkata dengan penuh emosi, tak lama ia pun segera beranjak meninggalkan ruangan. Saat keluar dari pintu ia mendapati Dean, yang tengah berdiri di muka sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Gue denger semuanya." ucap Dean pada Marvin.


"Lo nggak boleh emosi kayak gitu menghadapi dia." lanjutnya lagi.


"Ya, lo bisa dengar kan dia tadi bilang apa. Gimana gue nggak tersinggung coba." ucap Marvin berapi-api.


"Bro, ingat umur lo berapa dan dia berapa. Lo bapak, sedang dia anak yang baru lo temui setelah dia besar. Pahami dulu situasinya." ucap Dean dengan nada yang begitu tenang.


Marvin kini diam.


"Gue cuma mau berusaha bersikap baik." ucapnya kemudian.


Dean menghela nafas panjang.


"Yang sabar ngadepinnya. Kalian baru beberapa hari ini tinggal serumah. Wajar kalau hubungan kalian nggak sebaik bapak dan anak pada umumnya." tukas dokter itu lagi.


Marvin kini mulai mereda emosinya. Tak lama Dean pergi ke dalam dan dia juga menasehati Edgar.


"Edgar nggak boleh kayak gitu sama papa. Dia berusaha keras loh untuk menerima kamu."


Edgar diam. Dari muka pintu Marvin bisa mendengar semua itu.


"Edgar kangen papa, om."


Remaja itu berujar sambil tertunduk dalam. Dean kini duduk di sisi tempat tidur dan memperhatikannya.


"Om tau." jawab pria itu kemudian.


"Tapi dia nggak akan kembali." lanjutnya lagi.


Edgar kini menatap dokter tersebut dengan mata berkaca-kaca.


"Om tau ini sakit. Tapi satu-satunya cara supaya papa kamu tenang di alam sana, kamu harus hidup dengan baik. Kamu jangan buat dia merasa bersalah sudah meninggalkan kamu."


Edgar kembali tertunduk.

__ADS_1


"Om rasa kamu paham sama apa yang om katakan." ucap pria itu sekali lagi, dan lagi-lagi Edgar hanya bisa terdiam.


__ADS_2