Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Gosip dan Trik


__ADS_3

"Lo ngerasa aneh nggak sih sama pak Marvin hari ini."


Miranti sengaja berujar pada Ira di dekat Kinan, yang saat ini tengah menunggu jemputan sang suami.


"Iya, tumben banget datang siang terus pulangnya kayak buru-buru gitu." timpal Ira.


"Ada apa ya?. Mukanya juga lesu kayak orang lagi banyak pikiran."


Miranti lagi-lagi mengusik perasaan Kinan. Sementara Kinan tampak diam namun terlihat mulai resah.


"Apa pak Marvin mau di jodohkan ya sama orang tuanya." tanya Miranti lagi.


Pilihan akan dugaan tersebut terlintas begitu saja dibenaknya. Bukan karena memang ia menduga ke arah sana, melainkan sengaja agar Kinan makin terganggu.


"Ih, iya ya. Kan pak Marvin udah umur 36 tahun dan belum menikah. Kayak cerita-cerita novel online gitu, ada aja kan CEO yang di jodohkan tuanya." ucap Ira.


"Ada sih. Tapi gue yakin pak Marvin bakalan dijodohkan dengan yang sepadan. Bukan sama cewek miskin yang cantik luar biasa kayak di novel." timpal Miranti.


"Iya, setiap cewek miskin digambarkan cantik luar biasa. Padahal cewek kaya lebih punya kesempatan untuk skincare-an." Ira nyeletuk sambil tertawa.


"Novel-novel kayak gitu umumnya ditulis untuk menghibur para Upik abu. Supaya mereka berkhayal ada laki-laki kaya yang mengejar mereka. Padahal pada kenyataannya cowok kaya tuh pemilih banget kalau nyari istri." Miranti kembali berujar.


"Buktinya pak Marvin masih betah jomblo sampai sekarang." lanjutnya lagi.


"Iya, apalagi keluarga orang kaya akan sangat memperhatikan bibit, bebet, bobot, dan juga reputasi keluarga si calon menantu. Mana ada yang tiba-tiba memilih golongan rendahan, apalagi karyawan biasa kayak kita. Nggak usah mimpi deh." ucap Ira.


"Iya nggak usah khayalan Cinderella." tukas Miranti.


"Karena cerita Cinderella adalah dongeng." lanjutnya lagi.


Keduanya tertawa. Kinan tampak melangkah menjauh dengan wajah yang sangat asam. Miranti menyikut Ira dan mereka kini senyum-senyum sendiri.


"Pasti kepikiran tuh." ucap Miranti.


"Bukan lagi. Bakalan nggak bisa tidur nyenyak pemirsa." Ira sangat senang.


Untuk yang kesekian kali keduanya kembali cekikikan. Lalu taksi online yang mereka pesan pun tiba. Mereka sama-sama naik dan pulang ke rumah.


***


Di sepanjang jalan, Kinan tentu saja terngiang akan apa yang di ucapkan Ira dan Miranti tadi. Pikiran tersebut benar-benar mengusik hingga membuat sang suami, Fadly bertanya-tanya.


"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?. Koq aku lihat kayak resah gitu."


"Nggak apa-apa." jawab Kinan ketus.


Jika pikiran tengah berkecamuk dan orang yang kita tidak sukai bertanya. Itu akan menjadi double combo yang membuat hati semakin emosi.


"Kamu sakit atau apa?" tanya Fadly lagi.

__ADS_1


"Bisa nggak mas, jangan nanya dulu. Ini tuh aku nggak tau kenapa, kayaknya karena hormon kehamilan aku jadi sensitif."


Kinan mengalaskan kandungannya. Padahal yang membuat ia marah adalah ucapan dua orang perempuan tadi terhadap Marvin.


"Ya udah, aku diem. Kalau kamu ada pengen sesuatu, bilang ya."


Kinan tak menjawab, ia muak pada Fadly. Sementara Fadly kini memilih untuk tidak berbicara dulu, guna menetralkan amarah dari sang istri.


***


Bu Cassey tiba di rumah sakit, ia melangkah sambil membawa bunga. Namun ketika sampai di muka ruangan tempat dimana Edgar dirawat, ia mendengar ada banyak suara di dalam.


Wanita itu kemudian mengintip. Tak lama ia meletakkan bunga yang ia bawa ke atas kursi ruang tunggu, kemudian ia berbalik arah dengan begitu tenang.


Dino keluar untuk menerima telpon dari ibunya. Ia melihat bunga yang ditinggalkan oleh bu Cassey tersebut. Ia kemudian membawa bunga itu ke dalam.


"Ini bunga siapa ya?" tanya Dino pada Edgar dan yang lainnya.


"Dapat dari mana lo?" Angga balik bertanya.


"Ada di depan." ucap Dino.


"Siapa ya?" Edgar kini bertanya.


"Dari pacar kamu kali." Marvin nyeletuk.


Ketiga teman Edgar tersenyum sementara Edgar tampak sewot.


"Ada tau, om. Kakak kelas." ucap Ello.


"Oh ya?"


"Nggak, bukan. Cuma temen aja." Edgar membela diri.


"Tapi cara lo senyum kalau ketemu dia itu, beda Gar." tukas Dino.


"Iya, apalagi kalau dia nggak sengaja lewat sama cowok lain." Angga menimpali.


"Edgar langsung emosi tingkat dewa." lanjutnya lagi.


"Apaan sih, kalian. Jangan suka berspekulasi secara sepihak." ucap Edgar.


Marvin makin tersenyum menyaksikan semua itu. Entah dari dimensi mana Edgar berasal. Jika menilik dari dirinya sendiri, harusnya Edgar menjadi playboy layaknya Marvin di jaman remaja dulu.


Marvin benar-benar memanfaatkan ketampanannya, tapi tidak untuk Edgar sendiri. Anak itu malah terlihat lebih kalem dan tidak barbar dalam menyikapi perempuan.


"Siapa sih orangnya, papa boleh ketemu nggak?" tanya Marvin.


Seketika wajah Edgar pun memerah, dan ia berusaha menyembunyikan itu semua.

__ADS_1


"Boleh banget, om. Ntar kita ajak kesini deh." ucap Angga.


"Jangan coba-coba ya, Ngga." Edgar mengancam.


Marvin benar-benar tertawa kali ini. Tak lama Dean masuk, sebab jam kerja dokter itu telah usai. Ia mengetahui kedatangan Marvin dan kini mendatanginya. Selang beberapa saat Igor juga turut datang sambil membawa banyak makanan.


***


"Yah gagal tekdung dong."


Zara berseloroh ketika ia bertemu dengan Dinda dan akhirnya Dinda curhat perihal kemarin. Saat dirinya gagal di ehem oleh Marvin, lantaran Marvin mendadak mendapat telpon lalu pulang.


"Padahal gue udah stop minum obat biar jadi." ujar Dinda kemudian.


Mereka tampak sama-sama menyedot minuman yang mereka pesan. Zara di dan tampak berpikir.


"Coba mulai besok, lo dekati Marvin dengan cara yang lain. Bikin supaya dia klepek-klepek dan memohon untuk bisa pacaran sama lo." Zara memberi saran.


"Gimana caranya?" tanya perempuan itu.


"Ya dengan cara lo bersikap semanis mungkin, kasih dia perhatian dan kasih sayang. Peka terhadap apa yang tengah dia hadapi. Pokoknya lo buat sampai dia tergila-gila sama lo." ucap Zara.


"Jangan gampang cemburuan atau ngambek. Buat seolah-olah lo itu rumahnya dia, tempat dimana dia lari." lanjut perempuan itu.


Dinda berpikir.


"Iya juga ya. Lama-lama cowok juga luluh kalau di gituin." ucapnya kemudian.


"Makanya."


Dinda manggut-manggut. Ia kini mengambil handphone dan mengetik pesan untuk Marvin.


"Bapak jangan lupa makan, dan jaga kesehatan."


Ia memberanikan diri mengirim pesan tersebut, meski kini hatinya harap-harap cemas. Sebab ia belum tau respon seperti apa yang akan diberikan Marvin.


"Terima kasih."


Tiba-tiba Marvin menjawab dan hati Dinda langsung berbunga-bunga.


"Di bales dong." ujarnya sumringah.


"Ada apaan sih?" tanya Zara penasaran.


Dinda lalu menunjukkan pesan tersebut pada sahabatnya itu.


"Gue perhatiin gini aja, bisa ngena." ujarnya lagi.


"Apa gue bilang. Cowok tuh bakalan luluh sama yang beginian." ucap Zara.

__ADS_1


"Bukan cuma cewek doang." tambahnya.


Dinda pun jadi makin senyum-senyum sendiri kali ini.


__ADS_2