Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Mengapa Marvin


__ADS_3

"Heh, Din."


Kinan mencegat Dinda di sebuah spot kantor yang sepi. Saat sore hari tiba dan para karyawan sudah mulai membubarkan diri.


"Lo nggak usah makin sok kecakepan dan kepedean ya di depan bos."


Kinan mendorong bahu Dinda. Dan pada saat yang bersamaan, Daryanti, Ira, Miranti, serta beberapa orang lainnya tengah melintas di dekat tempat itu.


Mereka melihat kejadian tersebut, dan sontak saja mereka langsung bersembunyi di balik tembok, sambil mengintip.


"Lo nggak usah dorong-dorong gue!"


Dinda berkata dengan nada setengah berteriak, sambil melotot pada Kinan.


"Lo kegatelan soalnya." ucap Kinan penuh berapi-api.


"Apa kabar elo, yang udah punya laki tapi masih aja di tindihin sama bos?"


"Plaaak!"


Kinan menampar wajah Dinda. Ira, Miranti, dan yang lainnya kaget. Beberapa diantaranya refleks menutup mulut dengan tangan. Belum usai keterkejutan mereka tiba-tiba Dinda membalas.


"Plaaak!"


"Plaaak!"


"Buuuk!"


Dinda menampar Kinan bolak-balik, lalu mendorong wanita itu hingga tubuhnya tersentak ke dinding. Pada saat yang bersamaan Marvin tanpa sengaja melihat kejadian itu.


"Kinaaan."


Teriaknya memecah. Beberapa karyawan yang melintas didekatnya, kini menoleh ke arah CEO tampan tersebut.


"Apa-apaan kamu?"


Marvin menarik dan membentak Dinda. Kemudian ia menjauhkan Kinan yang kini terlihat syok.


"Sampai Kinan dan anaknya celaka, saya perkarakan kamu ke pihak yang berwajib."


Marvin terlihat begitu murka. Andai Dinda adalah laki-laki, mungkin sudah ia tinju wajah wanita itu sejak tadi. Saking marahnya ia melihat Kinan disakiti.


"Ayo ikut saya!"


Marvin membawa Kinan menjauh, setelah sebelumnya memberi tatapan yang mengerikan pada Dinda. Dinda sendiri berkeringat dingin dan kini ia mulai dilanda ketakutan. Takut kalau kejadian ini akan mempengaruhi pekerjaannya.


Untuk penyesalan atas apa yang ia perbuat, sama sekali ia tidak menyesal telah memukul Kinan. Bahkan ia merasa belum begitu puas.


Dinda melangkah, meninggalkan tempat itu. Sementara Ira, Miranti, dan yang lainnya kini menarik nafas dalam-dalam.


"Gila, parah juga ya tuh sekretaris." Daryanti si office girl berujar pada yang lainnya.


"Kasar, anjir." lanjutnya lagi.


"Iya, emang kasar." ucap Miranti.


Mereka memperhatikan Dinda yang mulai menjauh.


"Tapi si Kinan juga sama aja." lanjutnya kemudian.


"Bener." Ira dan yang lainnya menyetujui.


"Kalau dia nggak nampar duluan, mungkin Dinda nggak akan membalas." tambah wanita itu.


"Ia dan lagi bukan baru sekali ini koq, si Kinan melabrak sekretaris pak Marvin."


Salah satu karyawan lain nyeletuk.


"Oh ya?" tanya Ira padanya. Ia dan Miranti serta beberapa orang disana tak pernah mengetahui hal tersebut.

__ADS_1


"Iya, yang sebelum-sebelumnya juga pernah. Gue bahkan ada yang ngeliat sendiri." ujar karyawan itu.


"Astaga." ucap Ira.


"Emang cemburuan parah orangnya. Secara nggak langsung dia menunjukkan kalau antara dia sama pak Marvin itu memang ada apa-apa." lanjut karyawan itu lagi.


"Pak Marvin tau sendiri kan?. Setiap ada karyawan atau sekretaris baru yang bisa di prospek lebih lanjut, nggak bakal di lewatin sama dia." tambahnya.


"Iya sih. Kita aja nunggu koq di prospek sama dia. Tapi nggak melirik-melirik ke kita." jawab Miranti.


Mereka pun tertawa sejenak.


"Nah si Kinan kayaknya nggak terima." ujar karyawan itu lagi.


"Kayak pengen jadi satu-satunya gitu ya." ucap Ira.


"Iya, padahal orang kayak pak Marvin ya mana bisa ditundukkan." lanjut si karyawan.


"Mau menundukkan pak Marvin dengan tampang segitu, ya mimpi." Miranti nyeletuk.


"Gue aja yang lebih cakep dari si Kinan, nggak dapat anjir." lanjutnya kemudian.


Lagi-lagi mereka semua tertawa.


"Eh tapi ngeliat pak Marvin segitu marahnya, jangan-jangan bener lagi kalau si Kinan bunting anaknya dia." Daryanti kembali bicara.


"Ih mbak Dar, mah. Jangan ah, amit-amit." ucap Miranti sewot.


"Nggak rela gue pak Marvin punya anak sama dia." ujarnya lagi.


"Cemburu nih ye!" celetuk Ira dengan nada menggoda.


"Ih pokoknya semoga bukan. Nggak terima gue soalnya." Lagi-lagi Miranti berkata.


Tak lama mereka pun keluar dari kantor dan menuju ke kendaraan masing-masing. Sebagian dari mereka naik angkutan umum.


"Kamu nggak apa-apa?" Marvin bertanya pada Kinan ketika mereka telah berada di mobil.


"Butuh ke rumah sakit nggak?" tanya nya lagi.


Kinan menggeleng.


"Padahal tadi saya cuma lewat aja di dekat dia." ucap Kinan.


Ia sengaja menggunakan sisi lemahnya untuk berpura-pura menjadi yang teraniaya.


"Besok saya mungkin akan bicara dengan bu Hilda untuk mencari sekretaris baru. Nanti dia akan saya pecat." ujar Marvin.


"Dia kayaknya tau hubungan diantara kita dan cemburu. Kayaknya dia suka sama bapak." ujar Kinan kemudian.


"Saya nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Semuanya biasa aja." jawab Marvin.


"Jadi salah kalau misalkan dia mau bersikap seperti ini terhadap kamu." lanjutnya lagi.


Kinan makin melengkapi dramanya dengan menitikkan air mata. Marvin kemudian menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


"Saya mau peluk kamu, tapi takut ada yang melihat. Tunggu di jalan lain aja." ujar Marvin.


Kinan mengangguk. Marvin mulai menghidupkan mesin mobil. Tak lama ada sebuah chat WhatsApp yang masuk, ternyata dari Igor.


"Bro, jadi kan?" tanya nya pada Marvin.


"Iya, tapi gue nganter Kinan dulu. Lo sama Dean duluan aja." Balas Marvin.


Mereka ada janjian untuk makan bersama.


"Ini gue udah sampe di lokasi, udah ada Dean juga." balas Igor.


"Ya udah, tunggu disana!. Gue akan tiba kurang dari tiga puluh menit." tulis Marvin lagi.

__ADS_1


"Oke." jawab Igor.


Marvin melanjutkan perjalanan, sedang Igor menyudahi percakapan.


"Udah di jalan dia?" tanya Dean pada Igor.


"Lagi nganter si Kinan." jawab Igor.


"Oh." Dean menghidupkan sebatang rokok.


"Gue heran deh sama Marvin, kenapa sih dia takluk banget sama si Kinan?. Cakep banget juga nggak tuh cewek." tanya Igor kemudian.


"Padahal sebelum Kinan kerja di perusahaan dia, perasaan nggak ada dia kayak gini. Dia playboy, kesana sini. Kebanyakan nggak peduli sama cewek-cewek yang udah dia kencani. Tiap minggu party sama para pegawainya yang cantik-cantik, sambil ngajakin kita." lanjutnya lagi.


"Ini tuh masalah psikologis aja sih, kalau menurut gue." Dean mengungkapkan pendapatnya.


"Psikologis?" tanya Igor heran.


"Dulu, waktu kita SMA. Ada cewek yang Marvin tuh suka banget, namanya Feby. Marvin tergila-gila banget sama si Feby ini, tapi Feby nya nggak mau sama dia. Dia menganggap Marvin tuh cuma teman doang. Tapi Marvin nggak berhenti sampai disitu."


Dean menghisap batang rokoknya, kemudian lanjut bercerita.


"Sampe si Feby itu kuliah di Amerika, Marvin juga bela-belain kuliah disana."


"Terus?" tanya Igor penasaran.


Ia memang berteman dengan Marvin setelah mereka sama-sama menjadi pengusaha. Sedang dengan Dean, Marvin berteman sejak awal SMP. Tepatnya setelah Dean dan keluarganya pindah ke kota ini.


"Tetap aja Feby-nya begitu. Orang nggak ada perasaan apa-apa, gimana sih."


Igor mengangguk-anggukan kepala.


Nah lama setelah itu, pas udah pada tamat kuliah dan merintis bisnis. Sepupunya Marvin tiba-tiba mau nikah. Dan ternyata calon istri si sepupunya itu ya Feby." ujar Dean lagi.


"Terus, hubungannya bucin dengan Kinan apa?" tanya Igor.


"Si Kinan itu agak mirip sama si Feby. Jadi pas ngeliat Kinan, dia inget sama Feby."


"Oh gitu." Igor kembali mengangguk-anggukan kepalanya.


"Waktu itu dia sempat heboh ngasih tau ke gue. Bahwa di kantornya ada karyawan baru yang mirip Feby. Dia semangat dan seneng banget pokoknya." ucap Dean.


"Eh tapi, kenapa dia nggak nikahin si Kinan aja dulu?. Bukannya mereka udah ada hubungan dari saat Kinan belum nikah kan?" ujar Igor lagi.


"Dia itu masih ngarep si Feby bakal cerai, terus nikah sama dia. Plin-plan orangnya." jawab Dean.


"Makanya dia belum mau nikah sama siapapun?" tanya Igor.


"Ya gitu deh, agak nggak ngerti juga gue soal itu. Tapi dia selalu bilang nggak mau nikah, karena takut ntar nggak bebas lagi kan?" Dean balik bertanya.


Igor menarik nafas panjang.


"Iya, iya. Selalu itu alasan dia." ujarnya kemudian.


Keduanya tampak meminum kopi secara serentak.


"Pantas aja ya, dia bucin parah sama si Kinan. Walau dia keras dan kelihatan dominan sama tuh cewek, tapi sebenarnya yang lemah tuh dia." tukasnya lagi.


"Emang." jawab Dean.


"Gue udah sering ngomong ke dia pelan-pelan. Cuma kayaknya omongan gue belum masuk. Mungkin harus lebih sabar lagi sampai dia sadar, kalau yang dia lakukan itu salah banget. Banyak cewek nggak apa-apa deh, tapi jangan bini orang juga. Ribet urusannya." ucap Dean.


"Bener-bener." jawab Igor.


"Salah-salah urusannya ke pihak yang berwajib." ujarnya lagi.


"Makanya." tukas Dean.


Mereka berdua terus menghisap batang rokok, sambil menunggu kedatangan Marvin.

__ADS_1


__ADS_2