
"Kita mau kemana, bu?"
Dinda bertanya pada bu Tasya, ketika mereka telah masuk ke dalam sebuah mobil. Mobil tersebut kini berjalan meninggalkan pelataran parkir kantor.
"Pak Marvin menyuruh saya mengganti penampilan kamu." ujar bu Tasya.
"Di, di ubah?" tanya Dinda tak mengerti. Namun kemudian ia teringat ucapan Marvin tadi pagi.
"Ya, kita akan membelikan kamu beberapa baju, sepatu, dan tas untuk berkerja. Supaya kamu bisa sesuai dengan standarnya pak Marvin." jawab bu Tasya.
Dinda terdiam, namun hatinya sumringah.
"Gila hidup gue vibes-nya kayak di novel online CEO, anjir."
Dinda menelpon Zara di ruang ganti. Ketika mereka telah tiba di sebuah outlet, yang menjual baju dari sebuah brand ternama. Ia menceritakan semua yang terjadi pada temannya itu. Mulai dari Marvin yang ternyata bos dan kini penampilannya akan di ubah.
"Wah, gila cong. Serasa kayak di film-film ya." ujar Zara.
"Makanya, gue nggak nyangka banget. Setelah lepas dari sugar daddy, gue dapat sugar candy." ujarnya lagi.
"Hahah, ngemut candy-nya dese dapat jabatan dan kemewahan ya say. Lanjutkan, jangan nggak." ucap Zara penuh semangat.
"Yoi, eh cong gue ganti dulu ya. Ntar yang nungguin gue di luar sewot lagi." ujar Dinda.
"Oke, ntar kita cerita-cerita lagi ya cong." tambahnya.
"Sip, sip, sip." balas Zara.
Tak lama Dinda pun menyudahi telpon tersebut. Ia mulai memakai baju yang dipilihkan oleh bu Tasya. Setelah itu ia keluar dan memperlihatkan penampilannya. Bu Tasya mengambil foto perempuan itu.
"Cekrek."
Dan untuk baju-baju berikutnya, semua sama. Dinda memakai baju tersebut dan bu Tasya bertugas mengambil potret. Tak lama hasil foto-foto itu dikirim kepada team penilai khusus yang ada di kantor
Mereka memilih penampilan mana saja yang paling pas, dengan standar yang kantor terapkan selama ini.
"Beli yang ini, ini, ini, ini, ini, dan ini. Juga ini, ini, dan ini." ujar bu Tasya usai mendapat jawaban dari team penilai.
Dinda tercengang, sebab pakaian yang dibayarkan untuknya tersebut cukup banyak. Bila dihitung nominalnya bisa untuk makan Dinda selama satu tahun.
"Wah gila sih si Marvin, tajir mampus ini mah." gumamnya dalam hati.
"Gue harus bisa dapetin dia, kalau mau hidup enak." lanjutnya lagi.
"Oke, kita beli tas dulu habis itu sepatu." ujar bu Tasya.
Barang-barang belanjaan yang berisi baju tersebut dibawa oleh supir, untuk langsung dimasukan ke mobil.
__ADS_1
"Nanti samperin kita lagi, pak." ujar bu Tasya pada supir tersebut.
"Baik, bu." jawab sang supir.
Bu Tasya lagi-lagi membuat Dinda tercengang. Setelah pada awal kedatangan ke mall ini tadi, Dinda kaget karena diajak masuk ke outlet pakaian yang jadi impiannya.
Kini ia kembali diajak masuk ke outlet yang menjual sepatu serta high heels dari brand impiannya pula.
"Demi apa gue bisa masuk kesini."
Lagi-lagi hati yang terdalam Dinda berujar. Rasanya ia ingin sekali ia berjingkrak-jingkrak saking senangnya.
Namun demi menjaga image dan wibawa, ia pun mengurungkan serta menyimpan niat tersebut rapat-rapat dalam hati. Ia berusaha bersikap tenang meski jantungnya berdegup kencang.
Pasalnya bu Tasya kini meminta pekerja outlet untuk membawakan koleksi terbaik mereka.
Dinda mencoba sepatu yang direkomendasikan padanya itu satu persatu. Tentu saja ia sangat gembira sekali. Rasa-rasanya seperti ia melayang di udara dan tak lagi berpijak di bumi saking senangnya.
"Ambil yang ini, ini dan ini."
Bu Tasya menunjuk tiga pasang yang menurutnya paling pas, jika dipadu dengan pakaian kerja yang telah dibeli sebelumya.
Dinda makin terperangah. Sebab ia berekspektasi hanya di belikan sepasang, tapi ternyata malah tiga. Tentu saja ini membuat ia makin bahagia.
"Oke Dinda, sekarang kita beli tas." ujar bu Tasya.
Dinda yang kadung gembira itu sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain mengangguk. Ia dibawa ke sebuah counter dari brand yang menjual tas mewah.
Pikir Dinda, dibelikan tas yang harganya paling bawah pun tak mengapa. Namun ternyata ia dibelikan dua, di range harga yang menengah.
"Oh my God."
Tulang belulang Dinda rasanya meleleh. Ia lumer bagaikan Mozarella yang dipanaskan. Sungguh semua ini seperti membuat tubuhnya terasa ringan. Ia benar-benar terbang seperti kapas yang tanpa beban.
"Ah, gue mimpi nggak sih ini?"
Dinda mencubit lengannya sendiri, namun terasa sakit. Ternyata ia benar-benar berada di alam nyata. Dunia per-CEO-an di dalam novel online itu nyata adanya. Dinda mengalaminya sendiri di depan mata.
"Kamu punya perhiasan?" tanya Bu Tasya setelah tas yang mereka beli usai dibayar.
Dinda memperlihatkan anting emas yang ia pakai. Bu Tasya mengerutkan dahi karena menilai modelnya yang tak ekslusif.
"Kita beli perhiasan." ujar bu Tasya.
Dinda terkejut karena ternyata masih ada lagi.
"Gila si Marvin, duitnya banyak banget anjay. Buat dandanin satu sekretaris kayak gue aja dia nguras dompet segini banyak." gumamnya.
__ADS_1
Sontak keinginan untuk memiliki Marvin kian menggebu dalam diri Dinda.
"Fix, gue harus jadi bininya ini orang. Harus!" ucap Dinda.
"Ayo Din!"
Bu Tasya mengajak Dinda masuk ke sebuah toko perhiasan. Lagi-lagi ini bukan toko sembarang toko. Perhiasan merk ini banyak dipakai oleh artis-artis dan juga para sosialita.
Dinda sering melihat postingan mereka di sosial media tengah menggunakan perhiasan merk ini. Entah di endorse atau beli sendiri. Yang jelas mereka sering mencantumkan brand tersebut di caption.
"Ayo pilih, kamu dapat kuota satu set kalung, gelang, anting dan cincin." ujar bu Tasya.
Dinda pun lalu memilih, sebab ia tak ingin membuang kesempatan. Setelah kesempatan sebelumnya ia ambil dengan baik.
Usai memilih, perhiasan tersebut di bayar. Seumur-umur dipelihara sugar daddy, ia belum pernah belanja sebanyak ini.
"Baik, semuanya sudah. Sekarang yang terakhir, perawatan di klinik kecantikan plus skincare dan makeup." ujar bu Tasya.
"Hah, ada lagi?" Dinda terus saja tercengang.
"Iya." Jawab bu Tasya.
"Ini terakhir." lanjutnya lagi.
"Anjay, gue princess anjay."
Dinda kembali berjoget-joget dalam hati, dengan tampilan yang terlihat diam di luar.
Mereka pergi ke sebuah klinik kecantikan yang ada di lantai 3 mall. Disana Dinda dan bu Tasya menjalani beberapa prosedur kecantikan, termasuk infus whitening.
Dan setelah semuanya usai, Dinda kembali diberi hak istimewa untuk membeli skincare serta makeup. Usai melakukan konsultasi dan pemilihan, skincare serta makeup tersebut kemudian dibayar.
"Ingat ya, Din. Pak Marvin sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk penampilan kamu. Sebagai gantinya bekerjalah dengan baik dan cekatan, serta usahakan zero mistake. Karena pak Marvin sangat tidak suka dengan orang malas, bekerja asal-asalan, atau tukang pembuat kesalahan."
Bu Tasya mengingatkan Dinda ketika mereka telah kembali masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk mengantar Dinda pulang.
"Baik, bu." jawab Dinda.
"Kalau begini sih, gue mah semangat kerjanya." gumam perempuan itu dalam hati.
"Mulai besok akan ada mobil dan supir yang menjemput kamu." ujar bu Tasya lagi.
"Yes." Dinda senang.
Namun kemudian ia sadar jika harus menjaga sikap.
"Maaf bu, saya terlalu gembira." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Tak lama mobil yang membawa mereka mulai berjalan dan meninggalkan pelataran parkir mall.
***