
"Sayang, kapan kita ketemu lagi?"
"Sayang kangen."
"Sayang, pengen peluk deh."
Beberapa wanita mengirimkan pesan singkat kepada Marvin melalui WhatsApp, di waktu yang nyaris bersamaan.
Pria itu hanya menatap pesan tersebut dari layar notifikasi. Kebetulan nomor yang selalu ia berikan pada para perempuan adalah nomor lain dan di handphone lain pula.
Sehingga handphone utamanya tidak dapat diganggu oleh siapa-siapa, kecuali untuk urusan bisnis.
Wanita-wanita yang mengirim pesan tersebut adalah wanita-wanita yang pernah bersenang-senang dengannya. Rata-rata dari mereka tak ada yang disudahi Marvin secara pasti.
Ia mengatakan pada wanita-wanita itu bahwa ia akan menemui mereka lagi di lain waktu. Secara tidak langsung sejatinya mereka di koleksi oleh Marvin.
Jika ia sedang senang, maka ia akan menemui salah satu dari mereka. Urusannya tak jauh-jauh selain urusan bawah perut. Marvin sangat suka memanjakan gairahnya dan berpetualang kesana-kemari.
"Sayang, aku lagi sakit."
Seorang wanita lain mengirim pesan singkat padanya. Marvin tak menjawab, sebab ia tau ujungnya pasti meminta uang. Ia hafal pada wanita-wanita yang telah ia kencani.
Rata-rata dari mereka menginginkan uang yang lebih. Padahal setiap pertemuan Marvin tak pernah pelit pada mereka.
Ada juga yang coba bersikap seolah ia adalah kekasih Marvin, sehingga ia banyak mengatur dan marah pada Marvin.
Kalau sudah seperti itu Marvin akan berkata dengan tegas bahwa mereka tidak terikat hubungan sama sekali. Dan apa yang telah terjadi diantara keduanya merupakan kesenangan sesaat semata. Seperti hubungan simbiosis mutualisme yang sama-sama menguntungkan.
Marvin tidak mau terikat dengan siapa-siapa. Sebab baginya berada dalam pelukan satu wanita merupakan peristiwa yang menyedihkan.
"Aku butuh berobat, sayang."
Wanita itu kembali mengirim pesan singkat pada Marvin. Dan lagi-lagi Marvin tak menggubris hal tersebut.
***
Di rumah sakit.
"Dok, koq pak Marvin nggak kesini-kesini?"
Seorang perawat yang biasa menemani Dean dalam memeriksa pasien kini bertanya. Ia mempertanyakan Marvin yang tak pernah terlihat lagi di minggu-minggu belakangan.
Padahal Marvin paling sering menyambangi rumah sakit tersebut, untuk memaksa Dean pergi bersamanya. Karena kadang adakalanya Dean lelah dan malas bepergian.
"Kenapa, kangen sama Marvin?" goda dokter Dean kemudian.
__ADS_1
"Ya, adem aja gitu kalau ngeliat dia mah. Kayak ubin rumah ibadah." lanjut si perawat.
"Hahaha."
Dean tertawa.
"Terluka suci kalau diibaratkan ubin rumah ibadah, sus." tukasnya kemudian.
"Pohon rindang lebih tepat mungkin ya." lanjutnya lagi.
"Yang tumbuh di pasang pasir. tambahnya.
Kali ini si perawat yang tertawa.
"Dokter bisa aja." ujarnya.
"Lagian suster tumben nanyain dia. Dia juga kalau disini cuek kan sikapnya, kecuali sama saya." lanjut Dean lagi.
"Iya. Tapi vibes-nya pak Marvin itu kayak visual CEO di novel online, dok. Gemes aja kalau ngeliat pak Marvin. Mau dia judes juga termaafkan."
Dean menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Jaman sekarang cewek kalau cari cowok, pasti kiblatnya ke Korea atau novel online ya. Ada apa sih sama kalian?" tanya-nya heran.
"Ya nggak tau ya, dok. Menurut saya aktor Korea, idol K-Pop, atau visual CEO dan mafia di novel online tuh pas banget buat dijadikan suami. Setidaknya membantu kami para cewek untuk merasa jadi princess dalam dunia khayal." jawab perawat itu dan lagi-lagi Dean merasa heran, namun ia terus tertawa.
***
Sebuah pesan singkat yang nada notifikasinya dibedakan oleh Marvin tertera di layar. Marvin tak bisa tak menjawab untuk yang satu ini. Ia lalu menghubungi nomor tersebut.
"Kamu dimana?" tanya nya kemudian.
"Ditempat biasa."
Marvin tau dimana tempat tersebut.
"Oke, oke. Tunggu!." ujarnya kemudian.
Tak lama telpon tersebut di sudahi, Marvin segera bersiap lalu berangkat.
Marvin mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan cukup tinggi. Dan memang mobil tersebut sejatinya tidak di peruntukkan bagi mereka yang tidak suka adrenalin.
Harusnya ia lebih cepat lagi. Tapi berhubung jalanan yang dilewati sering mengalami kemacetan. Dan lagi ada beberapa area yang berlubang serta penuh genangan air. Akhirnya ia pun menyesuaikan dengan medan.
Ia terus menyusuri jalan demi jalan. Sampai tiba di sebuah perempatan, ia menerobos lampu merah dan hampir tertabrak oleh mobil mahal lainnya.
__ADS_1
"Woi, punya mata nggak?. Rambu tuh patuhi."
Seorang bapak-bapak berwajah tegas dan masih lumayan muda, tampak menongolkan kepala dari kaca mobil yang hampir bertabrakan dengannya.
Penuh kesombongan Marvin pun mengacungkan jari tengah, lalu meneruskan perjalanan.
Merasa panas hati si bapak-bapak membelokkan arah dan menyusul Marvin. Marvin yang melaju dengan kecepatan tinggi itu berhasil di susul oleh si bapak-bapak. Lalu si bapak-bapak menyenggol bagian depan mobil Marvin kemudian menyalip.
Marvin yang emosi mobilnya di sentuh tersebut langsung menepi dan keluar. Ia mengeluarkan sebuah senjata api dan menodong si bapak-bapak yang juga kini telah keluar dari mobil.
Sejenak Marvin terdiam, karena ternyata si bapak-bapak juga melakukan hal serupa. Ia juga memiliki sebuah senjata api di tangannya.
Berhubung itu jalan yang sepi, mereka tak begitu takut di viralkan oleh seseorang. Mereka sama-sama bertahan dalam ego masing-masing.
"Kenapa anda menabrak bagian depan mobil saya?" tanya Marvin dengan penuh kemarahan.
"Anda lihat di dalam mobil saya ada siapa?" ujar si bapak-bapak tak kalah marahnya.
Marvin menilik kesana, tampak seorang remaja laki-laki berusia belasan tahun yang tak begitu jelas wajahnya. Akibat kaca depan terbias cahaya matahari.
"Itu anak saya dan dia menderita gangguan darah. Perbuatan anda yang menerobos lampu merah tadi, bisa saja membuat kami kecelakaan dan membuat anak saya mengalami hal buruk." ujar si bapak-bapak lagi.
Marvin setengah tertawa kali ini.
"Anda mengkhawatirkan anak anda, tapi barusan anda membahayakan nyawa dia. Anda menabrak mobil saya, have you lost your mind?" tanya Marvin kemudian.
Tak lama handphone Marvin kembali berbunyi, dan ternyata itu panggilan dari orang yang hendak ia temui.
"Saya nggak akan lupa sama anda." tukas Marvin.
Pria berusia 36 tahun itu kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Sedang si bapak-bapak juga melakukan hal serupa.
Marvin tiba di lokasi dalam beberapa menit. Kemudian ia memarkir mobil dan menemui seorang perempuan. Mereka langsung berpelukan.
Sementara dari suatu sudut, Dinda yang baru saja keluar dari sebuah kafe tanpa sengaja melihat Marvin.
"Marvin?" ujarnya tak percaya.
Ia memperhatikan wanita yang dipeluk oleh Marvin. Dan refleks ia pun menutup mulut karena kaget.
"I, itu kan?. Cewek hamil di kantor yang suka judes sama gue." ujarnya.
Sampai saat ini ia belum mengetahui jika nama perempuan itu adalah Kinan. Tampak Marvin kemudian mengajak perempuan itu masuk ke dalam sebuah hotel yang ada di dekatnya. Buru-buru Dinda mengambil handphone dan,
"Cekrek."
__ADS_1
Entah mengapa ia ingin memotret hal tersebut. Lalu kemudian ia tersenyum penuh maksud.
***