
Marvin masuk ke ruangan tempat dimana sang anak dirawat. Ia melangkah di belakang Dino dan juga Ello.
"Kemana aja, Bambang?" tanya Angga pada kedua remaja itu.
"Biasalah, ada urusan sedikit." jawab Dino seraya tertawa dan menaikkan alis.
"Hilih, urusan apa urusan." goda Edgar kemudian.
"Lo kayak nggak tau mereka aja." celetuk Angga.
"Emang kenapa kita berdua?" tanya Ello sambil turut tertawa. Mereka kini telah berada di dekat Edgar.
"Pacaran mulu lo berdua." ucap Angga lagi.
"Yoi, emang lo sama Edgar, jomblo." Dino berseloroh.
"Eh tadi, kak Tania kesini." ucap Angga.
"Serius?"
"Demi apa?" tanya Ello dan Dino dengan nada terkejut sekaligus tak percaya. Namun terlihat jelas mereka sangat senang. Hal yang berbeda dirasakan oleh Marvin. Pria berusia 36 tahun tersebut benar-benar merasa terganggu saat mereka semua membahas soal Tania.
"Iya, serius. Lumayan lama lagi disini." ucap Angga.
Edgar berusaha keras menahan senyum. Namun kulitnya yang putih bersih seperti Marvin, tak bisa menyembunyikan rona merah tatkala nama Tania disebutkan.
"Muka lo merah, bro. Kayak bo'ol monyet." ucap Angga.
"Anjeng." Edgar berseloroh sambil tertawa.
"Nggak segitunya juga ya, sat." ujarnya lagi.
"Sayang tadi om Marvin nggak bicara langsung sama Tania."
Kali ini Angga berkata pada Marvin. CEO tampan itu pun sedikit tersentak.
"Iya, padahal tadi Tania pengen kenal." ucap Edgar.
"Cie yang udah mau mengenalkan gebetan." ledek Dino pada Edgar.
"Namanya orang mau kenalan, masa nggak boleh." seloroh Edgar.
"Nggak boleh, tapi kalau Tania pengecualian." Ello menimpali.
Tak lama mereka pun sama-sama tertawa. Sementara Marvin hanya diam dan terus terpikir akan masalah ini.
***
Malam beranjak naik, bu Hilda yang tinggal sendirian di rumahnya kini terpikir akan Cassandra yang ia sempat temui tadi.
__ADS_1
Ia benar-benar masih belum percaya seratus persen pada apa yang ia alami tersebut. Mengingat dulu Cassandra adalah sosok yang lugu, serta terlihat tak mungkin untuk bersikap seperti itu.
"Bu, jangan bu!"
"Ayo minum!"
"Bu, saya lagi hamil bu. Ini anaknya pak Marvin."
"Minum!"
Suara-suara itu kini membuat ingatan bu Hilda berkecamuk.
"Kamu tau, Marvin itu sudah pernah tidur sama saya. Marvin adalah milik saya." ucap bu Hilda dengan nada penuh kemarahan.
"Bu, saya mohon."
"Plaaak."
Sebuah pukulan mendarat, dan pemaksaan pun terjadi. Selang beberapa saat darah mengalir dan Cassandra berteriak histeris.
"Pletak."
Terdengar suara dari arah jendela. Bu Hilda kaget dan menoleh. Wanita itu tinggal di sebuah perumahan cluster yang di kelilingi pagar tembok dan di jaga sekuriti. Namun di setiap rumah-rumah itu sendiri tak ada pagar.
Letak kediamannya ada di tanah Hook bagian blok paling pojok. Serta tetangga dua kesamping dan juga dua di seberang kosong tak berpenghuni.
"Pletak."
Bu Hilda kembali mengencangkan kunci dan memastikan jendela tersebut benar-benar tak bisa di buka. Kemudian ia beralih ke jendela lainnya dan melakukan hal yang sama.
"Pletak."
Terdengar lagi suara dari arah pintu belakang. Bu Hilda kian terkejut, ia mendekat perlahan ke arah belakang dan memastikan. Tampak gagang pintu bergerak-gerak, seperti dipaksa buka dari luar.
"Braaak."
"Braaak."
"Braaak."
Karena ketakutan bu Hilda segera berlarian ke dalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam. Kebetulan tak ada jendela di kamarnya tersebut. Ia menghalangi pintu kamar dengan menggeser lemari. Kemudian ia pun lalu menelpon sekuriti.
Tak lama beberapa orang sekuriti tiba. Bu Hilda menginstruksikan agar pintu depan rumahnya di buka saja secara paksa. Agar ketahuan ada atau tidaknya seseorang di dalam.
Pembukaan itu melibatkan RT setempat dan juga beberapa warga cluster yang masih menonton bola di salah satu rumah di blok lain. Mereka membuka paksa pintu dan masuk serta memeriksa ke dalam. Setelah dirasa aman bu Hilda pun keluar dari kamar.
Bu Hilda di evakuasi ke pos pengamanan dan disana mereka mencoba memeriksa CCTV. Namun CCTV yang mengarah ke rumahnya mati. Sama seperti saat ia berada di toko tadi sore.
Bu Hilda benar-benar ketakutan dan malam itu ia menghabiskan waktu di pos pengamanan dan berencana lapor polisi pada keesokan harinya.
__ADS_1
***
Waktu berlalu, matahari beranjak naik. Edgar yang baru saja bangun mendapati Marvin tertidur disisinya dengan posisi duduk. Tampak kepala dan tangan pria itu tertumpu pada pinggir tempat tidur.
Kembali hati Edgar seperti pilu. Mengingat dulu Edward seringkali melakukan hal ini, apabila ia tengah berada di rumah sakit.
"Pa."
Edgar membangunkan Marvin. Seketika CEO itu pun terjaga dan langsung menatap Edgar.
"Kenapa?. Kamu butuh sesuatu?" tanya nya Kemudian.
Edgar menggelengkan kepala.
"Ini udah jam 7 pagi." tukas remaja itu.
Marvin kemudian menarik nafas panjang, lalu ia beranjak meski masih sangat mengantuk. Ia kemudian mencuci muka, lalu kembali ke luar.
"Papa mau ambil sikat gigi dulu di mobil. Kamu ada mau sesuatu nggak?. Nanti papa beli di minimarket depan."
Lagi-lagi Edgar menggelengkan kepala. Marvin kemudian melangkah menuju halaman parkir.
"Eh, itu kan pak Marvin."
Salah satu perawat berujar pada perawat yang lainnya. Satu diantara mereka adalah perawat yang sering mendampingi Dean dalam merawat pasien.
"Lah iya, ya. Ngapain pak Marvin disini pagi-pagi?" tanya perawat yang satu itu.
"Apa ada keluarganya yang sakit?" tanya nya kemudian.
"Ehem."
Dean yang baru tiba langsung nimbrung dan berpura-pura gangguan tenggorokan.
"Akun gosip udah bikin konten aja nih pagi-pagi. Gosipin orang lewat." selorohnya kemudian.
"Ah, dokter. Namanya juga usaha, dok." ujar salah satu dari perawat itu sambil mesem-mesem.
"Iya dok, siapa juga yang nggak terpesona sama pak Marvin." timpal yang satu lagi.
Dean pun hanya tertawa lalu lanjut berjalan. Dokter itu kini menuju ke ruangannya. Sementara Marvin telah tiba dihalaman parkir dan membuka pintu mobil.
Ia mengambil set sikat gigi yang selalu ia bawa kemanapun itu. Tak lama ia menutup pintu mobil dan kembali berjalan ke arah lobi. Namun tiba-tiba ia merasa jika dirinya tengah diikuti seseorang.
Marvin pun menoleh, namun ia tak menemukan siapa-siapa disana. Ia pun melanjutkan langkah, dan perasaan tersebut kembali muncul.
Seolah orang yang mengikuti dirinya tersebut kian dekat. Marvin kembali menoleh. Kali ini ia benar-benar mencari ke sekitar, tak hanya sekedar melihat saja.
Namun lagi-lagi pria itu tak menemukan siapa-siapa. Hanya ada beberapa keluarga pasien serta perawat yang baru tiba. Mereka tampak berjalan ke masing-masing arah tujuan.
__ADS_1
Marvin menghela nafas, mungkin ini akibat tidur yang kurang berkualitas pikirnya. Sebab ia saja tidur tak tidur saat menjaga Edgar semalam.
Marvin kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam. Tanpa ia ketahui jika dari sebuah sudut, sepasang mata penuh dendam kini tampak menatapnya.