
Esok hari Dinda tiba di kantor pada jam yang sama dengan kemarin. Namun ia terkejut melihat ada sebuah paper bag yang terletak di atas meja kerjanya.
Dinda membuka paper bag tersebut dan ternyata isinya adalah satu unit handphone baru.
Dinda terdiam, pikirannya langsung tertuju pada Marvin. Ya, siapa lagi yang akan membeli handphone semahal ini dan menghadiahkannya secara cuma-cuma kecuali pria itu. Ia tak mengenal siapapun di kantor ini kecuali bosnya tersebut.
Dinda tersenyum, dan Kinan melihat semua itu. Bahkan sejak bu Tasya tadi datang dan meletakkan paper bag berisi handphone tersebut.
Di kantor ini semua pengeluaran adalah urusan bu Tasya. Jika bu Tasya mengantarkan sesuatu kepada siapapun, berarti itu adalah pemberian dari Marvin. Karena hanya Marvin yang bisa memerintah wanita itu untuk melakukan apa saja.
"Ssssttt."
Ira seperti biasa melihat duluan apa yang terjadi dan seperti biasa pula ia menyikut Miranti. Miranti yang tengah sibuk itu sedikit planga-plongo.
"Apaan?" tanya nya pada Ira.
"Noh."
Ira memberi kode untuk melihat ke arah Dinda, tampak Dinda sedang sumringah menerima iPhone terbaru.
Secara otomatis kepala Miranti dan kepala Ira menoleh pada Kinan. Dan benar saja, wanita hamil itu tampak tengah marah sekali melihat Dinda.
"Dari pak Marvin?" bisik Miranti pada Ira.
"Tau, iya kali." jawab Ira.
"Kalau bukan dari pak Marvin, dari siapa lagi coba. Sampe Kinan segitu julidnya ngeliat." lanjutnya kemudian.
Kedua sahabat tukang gosip itu sama-sama tersenyum penuh maksud. Para penghuni kantor lainnya mulai ada yang notice dan ikut-ikutan bergosip.
Dinda memindahkan kartu ke handphone barunya dan menyimpan handphone lama di dalam tas. Ia begitu senang, namun ekspresinya sengaja ia lebih-lebihkan. Agar Kinan semakin panas dan berasap ubun-ubunnya.
***
"Bapak kasih Dinda handphone?" tanya Kinan ketika ia ada kepentingan di ruangan bos sekaligus selingkuhannya tersebut.
__ADS_1
Ia memang tidak dibiasakan memanggil nama atau kata apapun oleh Marvin. Sebab ia telah bersuami dan Marvin takut perempuan itu keceplosan.
Marvin masih percaya jika belum ada yang tau perihal affair yang ia jalin bersama karyawannya tersebut. Ia tak pernah mengira jika mata-mata kepo serta telinga-telinga panjang ada di sekitarnya.
"Iya, kan kamu lihat kemarin handphone dia jatuh terus rusak. Masa sebagai atasan saya diam aja." Marvin membela diri.
"Tapi kan dia bisa beli sendiri dengan uang gaji dia nanti." ujar Kinan.
"Sampai ke tanggal gajian itu masih lama, Kinan. Sedangkan segala pekerjaan yang harus di handle oleh Dinda, itu nggak mengenal waktu. Kadang malam saya masih kirimkan kerjaan ke handphone dia, atau ke email. Kalau handphonenya rusak, dia nggak bisa cepat tanggap ke saya. Lagipula kamu juga sering saya belikan ini itu, nggak ada yang protes kan?"
Kinan diam.
"Jangan terlalu jauh atau terlalu dalam mengatur saya. Apa yang terjadi diantara kita berdua, itu diluar pekerjaan. Sedangkan handphone Dinda ada hubungannya dengan pekerjaan. Paham kamu?"
Kinan makin diam, tak lama ia pun meninggalkan ruangan Marvin. Jujur kadang ia sangat bingung dengan pria itu. Sebentar-sebentar seperti orang yang tergila-gila dan cinta mati. Sebentar-sebentar bersikap seperti orang lain.
Ia kadang tak segan menegaskan jika hubungan mereka itu hanyalah simbiosis mutualisme yang tanpa status. Tetapi bila Kinan hendak meninggalkannya, ia akan berubah dan meminta pada Kinan untuk tidak melakukan hal tersebut. Biasanya ia akan marah, hingga Kinan menangis.
Kinan kembali ke meja kerjanya, sementara Dinda masih terlihat mengutak-atik handphone baru. Terutama menguji kameranya.
"Ulala, the power of pikiran. Baru aja berpikir buat ganti handphone ini bulan depan, udah dapat aja." ujarnya dengan suara super kecil.
Ia terus mengambil foto hingga beberapa kali.
***
"Kamu harus minta kepastian sama Marvin, jangan lembek."
Bu Hilda berbicara pada Kinan, ketika jam Istirahat telah tiba. Kedua orang itu sengaja memilih makan di tempat yang agak jauh dari kantor. Tadi alasannya bu Hilda mengajak Kinan keluar untuk sebuah keperluan.
"Aku nggak ngerti sama Marvin, mbak. Dia itu aneh." ujar Kinan.
Seisi kantor tak ada yang tau jika bu Hilda dan Kinan adalah saudara sepupu. Kinan bisa masuk ke kantor tersebut lantaran the power of orang dalam. Seperti kebanyakan kasus para pencari kerja di negri ini.
Yang tidak punya koneksi, maka akan tersisih. Mau seberapapun skill yang di miliki. Tetap yang menang adalah orang yang punya kenalan.
__ADS_1
Tak punya skill tapi punya tampang atau orang dalam, maka semuanya akan menjadi mudah layaknya ibu peri.
Marvin sendiri tak begitu rewel masalah rekruitmen pegawai. Ia serahkan semua itu pada jajarannya. Yang terpenting bagi pria itu adalah hasil kerja yang maksimal. Plus good looking dan juga stylish.
"Kamu nggak ada minta kepastian. Apa nantinya dia akan menikahi kamu, kalau kamu bercerai dari suamimu atau apa?" tanya bu Hilda lagi.
Kinan menghela nafas agak panjang, lalu menjatuhkan pandangan ke suatu sudut. Tangannya yang memegang sendok, kini tampak berputar-putar di atas piring.
Tak ada selera makan lagi, meski saat ini dirinya tengah mengandung dan seharusnya ia memiliki tingkat rasa lapar yang tinggi.
"Hubungan kami itu nggak jelas, mbak. Makanya waktu itu aku memilih perjodohan. Karena sudah di desak oleh ibu, dan Marvin sama sekali nggak ada kepastian. Tapi giliran mau aku tinggalkan, dia marah sama aku." ucap Kinan.
"Kamu harus tegas ke dia. Bilang aja kamu harus memilih antara dia dan suami kamu. Kalau memang si Marvin nggak ada kejelasan, bilang kalau kamu mau fokus sama rumah tangga kamu dan nggak bisa melanjutkan hubungan ini."
"Kalau dia marah gimana?" tanya Kinan.
"Ya biarin aja. Kuat mana sama marahnya kamu. Kalau kamu nggak meminta kepastian, bakalan kayak gini terus ke depannya." ujar bu Hilda lagi.
Kinan kembali diam. Dia memang adalah tipikal wanita yang penuh pemikiran serta keragu-raguan atas sesuatu. Ia juga merupakan budak cinta dan gampang di manipulasi oleh laki-laki semi arogan seperti Marvin. Ia kurang bisa tegas terhadap banyak hal, kecuali pada wanita yang coba mendekati Marvin.
Bukan Dinda saja yang pernah ia labrak. Dulu juga ada beberapa karyawan maupun sekretaris ia datangi dan ia intimidasi. Karena tercium memiliki hubungan dengan Marvin. Baru dinda saja yang songong dan berani terhadapnya.
***
Di kantin.
"Anjay, gercep ya beb. Udah dapat handphone baru aja."
Zara mengomentari handphone baru Dinda. Tadi ada sempat perempuan muda itu bertanya mengenai Dinda yang ia kira telah membeli handphone baru.
Dinda mengatakan jika itu dibelikan oleh Marvin, lantaran kemarin handphonenya jatuh.
"Besok, lusa apa lagi nih?" tanya Zara.
"Waduh nggak tau deh gue. Yang jelas keinginan gue untuk memiliki dia jadi makin menggebu." tukas Dinda dengan nada setengah berbisik.
__ADS_1
Sebab takut di dengar karyawan lain, yang juga tengah makan di kantin tersebut.
"Pepet terus beb, jangan kasih kendor." ucap Zara sambil tertawa, lalu melahap makan siangnya.