
"Lagian gimana sih?. Anak di rumah, posisi depan mata lo sendiri, bisa kabur."
Dean yang saat ini tengah berada di rumah sakit, berbicara pada Marvin dengan nada marah melalui sambungan telpon. Ia tak habis pikir mengapa Marvin begitu teledor dalam menjaga seorang anak.
"Gue tadi lagi di telpon sama Kinan, Dean. Gue agak menjauh, takut anak gue dengar. Nggak taunya dia malah pergi dari rumah."
"Sebelum itu lo ada menyinggung perasaan dia nggak?" tanya Dean lagi.
"Ada." jawab Marvin.
Kemudian ia menceritakan bagaimana dirinya sampai menyinggung perasaan Edgar.
"Lagian ngapain coba, lo nanya hal kayak gitu ke dia?. Ya pasti dia bakalan merasa tersinggung lah. Merasa lo tolak kehadirannya." jawab Dean.
"Namanya juga gue belum pernah punya anak, Dean. Ya gue masih belajar untuk jadi seorang ayah. Gue nggak mungkin bisa langsung sempurna, hanya dalam waktu beberapa hari."
Dean menghela nafas panjang. Mencoba meredam emosi dalam jiwanya dan berusaha memahami Marvin.
"Ini lo dimana sekarang?" Dean kembali melontarkan pertanyaan.
"Di mobil, gue lagi cari dia." jawab Marvin.
"Walaupun gue nggak tau harus kemana." lanjutnya lagi.
"Ya udah, gue bentar lagi off. Gue juga akan cari dia." ucap Dean kemudian.
"Thanks, bro." tukas Marvin.
"Oke, sama-sama."
Marvin menyudahi telponnya terhadap Dean, setelah itu Dean menghubungi Igor. Igor kaget mendengar berita Edgar pergi dari kediaman Marvin.
"Si Kinan tuh emang pembawa petaka tau nggak. Lagian si Marvin masih sempat-sempatnya ngeladenin itu cewek, disaat dia lagi bermasalah sama anaknya." Igor menggerutu kesal.
"Ya lo kayak nggak tau si Marvin aja." ucap Dean.
"Ya udah deh, gue ikut cari Edgar." tukas. Igor kemudian.
"Oke, thanks ya bro." ucap Dean sekali lagi.
"Sama-sama." jawab Igor.
Tak lam Igor pun mengambil kunci mobil lalu bergegas meninggalkan kediamannya, untuk mencari Edgar.
***
"Si Marvin nggak ada agenda ngajakin lo jalan, Din?"
__ADS_1
Zara bertanya pada Dinda, ketika mereka makan bersama. Ini terjadi bersamaan dengan waktu hilangnya Edgar.
"Nggak ada tuh, lagi sibuk sama si Kinan kali dia." jawab Dinda seraya memakan burger yang tadi ia pesan.
"Agak sulit ya menaklukan hati bos lo itu." ujar Zara kemudian.
"Lebih gampang menaklukan anunya di ranjang, ketimbang perasaan dia. Cinta banget sama si Kinan kayaknya." tukas Dinda.
"Pake pelet kali tuh si kecoa bunting."
Zara membuat Dinda agak sedikit terdiam dan berpikir.
"Iya juga kali ya. " ujar Dinda.
"Lah iya, nggak masuk akal aja seorang Marvin yang tampan dan mapan, yang bisa mendapatkan perempuan mana aja yang dia mau. Tiba-tiba dia bucin sama cewek yang mukanya nggak seberapa."
Dinda makin terpikir akan ucapan sang sahabat. Zara sendiri bisa menyimpulkan hal tersebut, lantaran dirinya telah diperlihatkan oleh Dinda mengenai siapa Kinan. Dinda ada mengambil foto perempuan hamil itu secara candid.
"Tapi emang di jaman kayak sekarang ini, dunia perdukunan masih berfungsi baik.?" tanya Dinda.
"Bukannya sekarang banyak dukun palsu ya yang beredar?" lanjutnya lagi.
"Mana tau masih ada dukun sakti. Bisa aja kan satu diantara 100 dukun yang ngibul, ada yang bener." ujar perempuan itu.
Dinda mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.
"Ya, harus dibawa ke dukun lagi." ucap Zara.
Dinda kini menggaruk-garuk kepalanya.
"Au ah, ribet gue sama yang begitu-begituan." lanjutnya kemudian.
***
Sementara itu di jalan, Marvin terus mencari kesana kemari. Sama halnya dengan Dean dan juga Igor. Mereka bertiga lalu bertemu di kediaman Angga, salah satu teman Edgar.
Dean ada memberitahukan alamat remaja itu pada Marvin dan juga Igor. Ketika tiba disana, Angga kaget dan ia mengatakan jika dirinya tak tau dimana Edgar kini berada.
"Kamu yakin, Edgar beneran nggak ada disini?" tanya Marvin.
"Yakin, om. Kalau om nggak percaya bis langsung masuk dan cari sendiri aja. Angga nggak ada ngumpetin Edgar." ujar remaja itu.
Marvin agaknya yakin jika Angga tidaklah berbohong.
"Oke, om percaya sama kamu. Tapi om minta tolong kamu hubungi teman kamu yang lain. Tolong tanyakan ada nggak Edgar disana. Masalah ini harus diselesaikan sesegera mungkin." ujar pria itu.
"Oke."
__ADS_1
Angga lalu menelpon teman dekat Edgar lainnya dan menanyakan perihal teman mereka tersebut.
"Nggak ada, Ngga. Beneran gue nggak bohong." ujar Ello.
"Lo coba aja kesini kalau nggak percaya." lanjutnya kemudian.
Sama halnya dengan Ello, teman Edgar yang lain juga mengatakan jika mereka tidak tau mengenai keberadaan anak itu. Marvin jadi semakin kalut dan kian dihantui rasa bersalah.
"Ya udah kalau gitu, segera kasih tau om kalau kau dihubungi sama Edgar." ujar Dean.
"Iya om, ini juga lagi Angga chat si Edgar-nya. Tapi belum dibalas sama dia." ujar Angga lagi.
"Oke, makasih ya. Om mau lanjut cari Edgar ke tempat lain." ucap Marvin.
Angga mengangguk, Marvin dan yang lainnya hendak beranjak.
"Om."
Tiba-tiba Angga teringat akan sesuatu.
"Ya." jawab Marvin seraya menoleh.
"Edgar itu biasanya kalau lagi kesel, dia suka ke Dojo tempat kita latihan judo. Om coba kesana aja, barangkali dia ada disana."
Marvin seperti menemukan titik terang.
"Dimana alamat Dojo nya?" tanya Marvin kemudian.
Angga pun memberitahukan alamat Dojo tersebut dan Marvin beserta dua rekannya bergegas menuju ke sana.
***
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
Lagi-lagi Marcell ayah Marvin mendapat jawaban yang sama. Padahal ada hal penting yang ingin ia bicarakan.
"Kemana sih tuh anak. Pasti party lagi nih sama perempuan-perempuan yang haus duit itu." gerutunya kemudian.
Ia mencoba sekali lagi, namun tetap jawaban yang ia terima sama saja.
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
Marcell pun kesal, lalu ia meraih kunci mobil dan berlalu meninggalkan kediamannya. Ia berniat menemui Marvin.
Sementara tak lama setelah itu Marvin, Dean dan juga Igor tiba di Dojo yang dimaksud. Benar apa yang dikatakan Angga, Edgar memang ada di tempat tersebut. Tapi saat ini ia tidak menyadari kehadiran sang ayah.
Ia tampak tengah saling banting membanting dengan seorang pelatih. Marvin memperhatikan hal tersebut dan bisa melihat betapa besarnya emosi yang Edgar rasakan saat ini.
__ADS_1