Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Steak Ala Marvin


__ADS_3

Marvin dan kedua sahabatnya terus berbincang, bahkan setelah sekitar setengah jam berlalu. Kemudian tanpa sengaja Dean mendengar notifikasi di handphonenya. Ia pikir itu pesan WhatsApp, tapi ternyata notifikasi Instagram.


"@edgarpanggabean mengunggah sesuatu. Cek untuk melihat.


Dean yang memang sejak lama telah berteman dengan sosial media remaja itu pun, menjadi penasaran. Ia lalu membuka unggahan Edgar dan terdiam.


"Bro."


Ia menunjukkan insta story Edgar pada Marvin. Remaja itu tengah berada di makam Edward. Marvin kaget, begitupula dengan Igor.


"Tuh anak nggak bisa di biarin sendirian, bro." ucap Igor.


"Dia masih terguncang dan takutnya macem-macem." lanjutnya lagi.


Seketika kekhawatiran Marvin pun melonjak naik. Mendadak ia takut jika Edgar akan mengakhiri hidupnya, lantaran terlalu sedih.


"Lo berdua tau nggak, makam itu dimana?" tanya nya kemudian.


"Gue tau, gue datang soalnya pas pemakaman tempo hari." tukas Dean.


Tanpa banyak bicara lagi mereka pun lalu bergegas. Selang beberapa menit, setelah melewati jalan demi jalan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ketiganya tiba di muka makam dan langsung memarkir mobil.


Dean berlarian, sebab ia yang tau letak dari makam Edward tersebut. Sedang Marvin dan Igor menyusul di belakangnya sambil berlarian pula.


Dean berhenti di suatu titik. Lalu mengangkat tangannya guna menahan pergerakan Marvin serta Igor yang ada di belakang. Keduanya menghentikan langkah dan mengikuti arah pandangan mata dokter tersebut.


Tampak Edgar tengah terdiam membisu disisi makam sang ayah. Ia tidak menangis sama sekali, hanya saja lidahnya begitu kelu dan tatapan matanya terlihat kosong.


Ingatan remaja itu seperti tertarik ke belakang. Ke masa dimana Edward sang ayah masih ada. Edgar terus menyesali diri, mengapa pagi itu dirinya marah di telpon. Harusnya ia biarkan dulu sang ayah tiba di rumah.


Setidaknya jika memang itu adalah hari terakhir Edward. Paling tidak ia bisa melihat sosok ayahnya itu untuk yang terakhir kali.


Dean menoleh pada Marvin. Kemudian Marvin langkah dengan masih menatap ke arah Edgar. Ia mendekat lalu duduk disisi remaja itu.


Edgar mungkin kaget dalam hatinya dengan kehadiran Marvin. Namun seperti biasa ia terlihat dingin.


"Kita pulang." ujar Marvin kemudian.


Tak lama mereka pun beranjak. Edgar berdiri dan melangkah tanpa perlawanan. Saat masuk ke mobil ia tak banyak berubah. Tetap bisu seperti tadi dan ujungnya ia membuang pandangan ke sisi jalan.


Marvin sendiri enggan banyak bicara. Sebab ia tak tau seberapa dalam rasa sakit yang dimiliki anaknya itu.


***


Kinan mengiris bawang sambil mengingat sikap Marvin yang begitu aneh hari ini. Pria itu bahkan tak mengiriminya pesan WhatsApp sama sekali. Boro-boro mengajak makan ataupun mengantar pulang. Menanyakan kabar saja tidak.


"Tak, tak, tak."


Ia terus mengiris bawang dan...


"Aaaawww."

__ADS_1


Akhirnya jari telunjuk kiri perempuan itu tergores pisau, dan mengeluarkan darah. Kinan refleks mencuci tangannya di wastafel. Ia lalu beralih ke kotak P3K dan mengambil plester serta obat merah. Maka ia mengobati luka tersebut lalu menutupnya.


"Sayang."


Tiba-tiba Fadly sang suami muncul. Dalam keadaan apapun Kinan sangat malas berurusan dengan suaminya itu. Namun jika ia menunjukkan wajah tidak senang, dikhawatirkan justru Fadly akan semakin bertanya-tanya lalu menuntut jawaban.


Kinan tak mungkin mengatakan jika ia muak dengan rumah tangga ini dan menginginkan Marvin menjadi suaminya. Sebab itu merupakan cikal-bakal dari sebuah huru-hara besar.


"Kamu kenapa tangannya?"


Fadly bertanya pada Kinan, seraya memegang tangan istrinya itu.


"Kena pisau, mas." jawab Kinan mencari aman.


"Astaga." ujar Fadly.


"Ya udah, kamu istirahat aja. Biar aku yang masak."lanjut pria itu lagi.


"Tapi mas."


"Udah sana!. Nggak apa-apa koq." Fadly meyakinkan. Meski ragu Kinan akhirnya memilih pergi ke kamar sedang Fadly lanjut masak.


***


"Nyuuuus."


Terdengar suara sesuatu yang dimasukkan ke dalam teflon berminyak. Fadly memasak menggantikan Kinan, sedang kini Marvin pun melakukan hal yang sama dan di jam yang sama pula.


Ia membolak-balikkan daging tersebut hingga asapnya mengebul dan membuat dirinya terbatuk-batuk.


"Uhuk, uhuk."


Ini pertama kali ia memasak dalam hidupnya.


"Anjrit, kenapa sih asapnya ah elah."


"Uhuk, uhuk."


Marvin menghidupkan penyedot asap yang ada di atas.


"Uhuk-uhuk."


Ia mengangkat daging tersebut setelah sekian lama, kemudian memanggang beberapa lagi. Tak lama ia pun merebus kentang serta sayuran. Selang beberapa saat, ia memanggil Edgar.


"Edgar, makan dulu!" teriaknya dari bawah.


Edgar pun lalu turun, dan berjalan ke arah meja makan.


"Krik, krik, krik."


Suara jangkrik seakan mendominasi keheningan. Pasalnya kini Edgar telah duduk dan disuguhi menu barbar bin ajaib oleh Marvin.

__ADS_1


Edgar terdiam dengan bibir sedikit menganga. Ketika melihat potongan daging agak gosong, dengan satu kentang rebus ukuran cukup besar, namun tak dikupas ataupun dijadikan mashed potato.


Tidak juga dibelah empat atasnya agar memudahkan untuk dimakan. Di sebelahnya terdapat jagung dan kacang polong yang banyak sekali.


Edgar tak memberi komentar apa-apa. Hanya mengambil garpu dan pisau yang telah disediakan. Kemudian ia mulai makan.


"Uhuk-uhuk."


Edgar batuk di suapan pertama.


"Loh, kenapa?" tanya Marvin heran.


"Lada." jawab Edgar singkat.


"Oh."


Marvin kemudian pergi ke dapur dan mengambil kecap manis dan tissue. Lalu secara sepihak ia mengelap daging steak ala-alanya itu dengan menggunakan tissue di kedua sisi. Ia juga kemudian membubuhkan kecap manis disana. Edgar diam, dan merasa horor.


"Coba, masih kerasa banget nggak ladanya?" tanya Marvin.


Edgar pun mencobanya dan menggeleng. Tak ada masalah daging bertemu kecap manis. Yang jadi masalah adalah keberadaan kentang rebus serta jagung dan kacang polong.


Rasa kecap manisnya kurang pas ke arah sana. Namun karena lapar, ia pun melanjutkan makan hingga habis.


***


Waktu berlalu.


"Apa-apaan ini bro?"


Dean dan Igor yang didaulat untuk datang, kini sama merasa horornya seperti Edgar tadi. Pasalnya dengan kepercayaan diri tingkat dewa, Marvin menyuguhi kedua sahabatnya itu dengan makanan yang sama.


"Ini masakan perdana gue." ujar Marvin dengan bangga.


Tak lama kedua sahabatnya itu maupun Marvin sendiri, akhirnya memotong daging dan,


"Hap."


"Haaaah!"


"Rasa terbakar terjadi di suapan pertama. Sebelumnya Marvin mengira Edgar hanya lebay, namun ternyata memang mereka membutuhkan perbaikan.


Marvin memberikan tissue pada kedua sahabatnya itu dan juga memberikan sebotol kecap manis.


Marvin mengelap kedua sisi daging yang ada di atas piringnya. Hal tersebut membuat Dean dan Igor kaget.


"Lo ngapain, bro.?" tanya Dean kemudian.


"Biar ladanya keangkat, bro." jawab Marvin santai.


Dean dan Igor tak punya pilihan. Jika berhenti makan, mereka takut Marvin akan tersinggung nantinya. Tetapi jika lanjut rasa ladanya seperti di bibir neraka.

__ADS_1


Akhirnya mereka turut mengambil tissue dan mengelap kedua sisi dari daging tersebut. Marvin menambah kecap. Sedang kedua temannya tidak. Mereka makan begitu saja dan untung saja tak terlalu pedas seperti tadi.


__ADS_2