
Pagi ini Dinda datang duluan. Ia tengah merapikan rambutnya yang sedikit kusut dengan menggunakan sebuah catokan.
Ia membeli dan membawa catokan rambut tersebut ke kantor. Sebab kantor ini ternyata selain tidak boleh berbau mulut, juga tidak boleh terlihat kusut.
Ia kemarin sempat di tegur bu Tasya lantaran sebagian rambutnya terlihat kusut, akibat terpaan angin kencang di depan lobi. Dan hari ini semua kembali terulang. Lagi-lagi ketika tiba di lobi, ia diterpa angin kencang.
Ia mencatok rambutnya dengan cepat. Kemudian membuang beberapa helai yang rontok ke tong sampah, lalu menyelesaikan semuanya. Ia menyimpan kembali catokan itu setelah dingin ke dalam laci meja.
Dinda menunggu kedatangan Marvin. Sebab ia akan membawakan tas bos sekaligus laki-laki incarannya itu ke dalam ruangan. Kemudian membantunya menyiapkan segala sesuatu yang berhubung dengan pekerjaan.
"Tap, tap, tap."
Marvin melangkah masuk pada beberapa saat kemudian. Dinda bersiap dan melangkah, namun kemudian dirinya menjadi agak oleng. Lantaran heels yang ia kenakan gagal berdiri tegak.
Akibatnya ia nyaris terjatuh dan buru-buru meluruskan tubuh serta memasang senyuman. Namun, Kinan mencuri start dan melangkah duluan ke dekat Marvin.
Perempuan hamil itu langsung meraih tas laptop sang selingkuhan, kemudian berjalan disisinya. Ia tersenyum penuh kemenangan atas Dinda. Sementara Dinda kini terasa panas hatinya.
"Sssttt."
Ira menyikut Miranti dan memberi kode pada temannya itu, untuk melihat ke arah Dinda. Miranti pun menoleh, beberapa pekerja lainnya juga menilik ke arah yang sama.
Mereka melihat betapa tatapan mata Kinan dan juga mata Dinda penuh dengan persaingan yang ketat.
"Anjay, udah mulai berani si bunting." tukas Miranti pada Ira.
"Udah mulai ketar-ketir sama si sekretaris, makanya begitu." Miranti menimpali.
Kinan tampak masuk ke ruangan Marvin dan merapikan, serta menyiapkan segala keperluan pria itu. Tak lama setelahnya ia pun keluar dan melintas disisi Dinda, dengan kepala tegak serta wajah yang sombong.
Dinda kesal pada dirinya sendiri karena merasa kecolongan. Kinan kembali ke meja kerjanya, sementara karyawati lain saling lirik dan memberi kode.
***
Siang hari di kantin.
Marvin tampak tengah duduk di sebuah meja sambil makan. Dinda dan Kinan yang juga sama-sama tengah mengantri makanan ditempat yang berbeda tersebut, tampak mengambil ancang-ancang.
Mereka berniat untuk duduk di depan Marvin, dengan meminta izin terlebih dahulu pada pria itu. Jika sudah di depan mata, mustahil Marvin menolak. Kecuali ia ingin dianggap sebagai bos yang sombong.
Apalagi Kinan merasa dirinya adalah cinta mati dari Marvin. Meski kemarin Dinda sempat mematahkan pikiran tentang hal tersebut.
Sementara Dinda sendiri merasa hubungannya dengan Marvin istimewa. Sebab Marvin memperlakukan dirinya dengan baik serta memanggilnya dengan sebutan "Sayang." Apabila mereka tengah berduaan.
Mereka berdua sama-sama bergerak ke arah pria itu. Dengan penuh percaya diri Dinda melangkah cepat, karena ia tak harus menjaga perut seperti Kinan.
Ia nyaris sampai ke meja Marvin. Sampai seorang petinggi kantor sekaligus orang kepercayaan Marvin yakni Keanu, datang ke meja CEO tersebut.
"Bro."
Keanu duduk dihadapan Marvin.
__ADS_1
"Hei, Bro." jawab Marvin lalu meminum air mineral yang ada di hadapannya.
Dinda yang nyaris tiba itu kini jadi pusat perhatian, ia malu sekali rasanya. Sebab Kinan membuat sebuah tawa cibiran yang membuat seisi kantin mengerti, jika Dinda tadi hendak mendekat pada Marvin.
Kinan sendiri cuci tangan dengan berpura-pura menuju ke bangku lain. Padahal tadi ia juga ingin berebut ke dekat sang selingkuhan.
"Kita yang udah karyawan lama aja nggak berani nyamperin bos, eh dia pede banget."
Sebuah suara bisik-bisik terdengar di telinga Dinda. Sementara Marvin sama sekali tak menyadari hal tersebut, sebab ia kini terlibat obrolan serius dengan Keanu.
Dinda beralih ke meja lain dan makan disana sambil menahan rasa malu yang teramat sangat.
***
"Ya elah dimanfaatin banget kebuntingannya. Yakin tuh anak bos?" tanya Zara yang akhirnya bergabung di beberapa menit kemudian.
Ia masih ada event dan kembali menemani Dinda makan siang. Setelah tadi Dinda dipermalukan oleh Kinan.
"Kata lo dia punya suami kan?" tanya Zara lagi sambil melirik ke arah Kinan.
"Iya dan bisa aja itu anak lakinya?" ujar Dinda pada Zara.
Ia belum mengetahui perkara yang sebenarnya. Sebab tak ada teman
bergosip di kantor tersebut.
"Pokoknya lo jangan mau kalah, Din. Masa iya, kita yang biasa jadi sugar baby kalah sama kecoa kantor berbadan kerempeng dan perut buncit kayak dia." ujar Zara lagi.
"Iya, menang hamil doang anjir." tukas Dinda lagi.
"Cakepnya standar lagi." lanjut perempuan itu kemudian.
"Eh, by the way lo sama Igor gimana?" tanya Dinda pada Zara.
"Lanjut." jawab Zara sambil tersenyum.
"Ntar malem kita mau ketemuan lagi." tambah perempuan itu kemudian.
Dinda tersenyum.
"Good." ujarnya.
"Ternyata Igor pengusaha batu bara." ujar Zara.
"Oh ya?"
"Iya, makanya gue makin mau."
"Bagus dong." ucap Dinda.
"Pepet terus, jangan kasih celah cewek lain buat mendekat." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Beres pokoknya. Makanya gue bilang tadi, kita jangan sampai kalah saing sama cewek lain." tukas Zara.
"Sip, tenang aja." ujar Dinda.
Mereka kemudian melanjutkan makan, sebelum jam istirahat berakhir.
***
Sore hari, saat jam kantor bubar. Entah mengapa Kinan yang biasanya pulang sendiri, kini berjalan dekat-dekat dengan Marvin.
Dinda melihat hal tersebut. Sepertinya Kinan tengah berusaha mengawasi Marvin dan seolah ingin menegaskan hubungan yang ada diantara mereka.
Marvin sendiri tak begitu menyadari. Sebab ia juga berjalan diantara karyawan yang lain. Kinan melirik ke arah Dinda, Dinda memperlambat langkah untuk menghindari emosi jiwa.
"Buuuk."
Seseorang yang terburu-buru menabrak bahunya.
"Braaak."
Handphone Dinda terjatuh dan,
"Yah, layarnya retak."
Dinda mengeluh seakan hendak menangis. Ia melihat ke arah si penabraknya tadi, namun pemuda itu sudah jauh.
Tak lama mobil jemputan tiba di depan muka. Marvin ada sempat menatap kejadian tersebut. Sebelum akhirnya Dinda masuk ke dalam mobil.
"Duh pake acara retak segala lagi nih LCD."
Dinda menggerutu ketika mobil telah jauh merayap.
"Kenapa bu?" Supir bertanya padanya.
"Ini pak, handphone saya retak layarnya gara-gara tadi jatuh. Saya lagi pegang hp, ditabrak sama orang dari belakang." jawab Dinda.
"Mau saya temani untuk ganti LCD nya bu?" tanya supir itu lagi.
"Nggak usah pak, jauh soalnya. Mana macet juga kan."
"Iya sih, tapi nggak apa-apa kalau ibu mau di antar kesana."
"Saya pesan online aja nanti pak. Terus ntar minta tolong pasang sama counter handphone yang ada di bawah apartemen." ujar Dinda.
"Nanti ibu pesannya lewat apa?. Kan itu handphonenya rusak." tanya si supir.
"Lewat web bisa pak, dari laptop." jawab Dinda lagi.
"Oh ya udah kalau gitu." tukas si supir.
Mobil tersebut terus berjalan, dan mengantar Dinda hingga tiba di muka apartemen yang ia tempati.
__ADS_1