
Dinda melangkah dalam balutan pakaian kerja baru serta mahal, di padu dengan high heels dan tas yang juga tak kalah mewahnya.
Sekuriti apartemen tempat dimana ia kini tinggal sampai pangling dengan penampilan Dinda pagi itu. Sebab ia juga ada berdandan dan memakai perhiasan.
Ia melangkah keluar dari pintu lobi dan langsung melangkah ke arah mobil yang telah dipersiapkan oleh kantor. Tepatnya atas instruksi dari Marvin.
Supir membukakan pintu, Dinda melangkah masuk. Dirinya kini bagaikan princess yang disanjung dan dihormati.
Ketika tiba di kantor, semua mata tertuju padanya. Terutama mata Kinan dan bu Hilda yang masih saja tak bersahabat.
Tetapi bedanya bu Hilda punya ruangan sendiri, sehingga yang terlihat jelas sinis pada Dinda adalah Kinan.
Wanita hamil itu memperhatikan penampilan Dinda dari atas kebawah. Juga pada tas yang kini ditenteng oleh sekretaris baru Marvin tersebut.
"Kayaknya ada yang terbakar hati nih."
Ira berkata pada Miranti sambil memberi kode dan melirik pada Kinan, yang sedang menatap ke arah Dinda.
"Gue sebenarnya juga iri sih. Gue yakin itu sekretaris norak dibiayai sama pak Marvin demi mengubah penampilannya. Sama kayak si Kinan waktu itu. Tapi gue suka aja kalau ngeliat si Kinan jadi panas." ujar Miranti.
"Lumayan ada drama kantor." lanjutnya kemudian.
"Siapkan kacang goreng dan kita menonton say." ujar Ira.
"Eh beb, kayaknya si sekretaris baru di percantik sama pak marvin tuh."
Salah seorang karyawati yang duduk di dekat Kinan, berujar pada karyawati lainnya. Tentu saja hal ini makin membuat hati Kinan seperti disiram bensin.
Ia begitu meluap-luap, ditambah hormon kehamilannya yang memang saat ini sedang memuncak.
Dinda duduk di meja kerjanya lalu menghidupkan komputer. Ia benar-benar merasa cantik dan sangat berharga hari ini. Mendadak sikap insecure-nya pun berubah menjadi kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Dinda."
Marvin yang baru tiba langsung menghampiri meja Dinda. Namun kemudian pria itu tertegun sejenak, lantaran menatap perubahan penampilan Dinda yang begitu signifikan. Dari yang tadinya non eksklusif menjadi terlihat berkelas.
"Iya pak."
Dinda memperhalus suaranya namun mempertegas tatapan mata serta olah tubuh. Sehingga apa yang ia tampilkan di hadapan Marvin benar-benar sesuai dengan ekspektasi pria itu.
"Yang di file biru kemarin sudah kamu kerjakan?" tanya Marvin.
"Oh, sudah pak." jawab Dinda lalu menyerahkan file tersebut. Marvin memeriksanya sejenak.
"Good." ujarnya kemudian.
"Silahkan kerjakan yang lain." tukasnya lagi.
"Baik, pak." jawab Dinda.
__ADS_1
Tak lama Marvin masuk ke ruangannya dan Dinda kembali bekerja. Sementara Kinan makin tenggelam dalam kemarahan.
***
Saat jam istirahat tiba, para karyawan pergi ke kantin. Masing-masing dari mereka sudah memiliki teman, karena telah cukup lama bekerja di kantor tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan Dinda.
Jangankan menjalin pertemanan, baru di lihat sedikit saja para karyawan laki-laki langsung cuek. Sedang yang perempuan rata-rata terlihat judes dan tak bersahabat.
Hanya bu Tasya yang kemarin agak baik padanya. Tapi ia juga tak mungkin sok akrab pada wanita itu.
Sebab bu Tasya sendiri entah dimana letak ruangan kerjanya, dan sepertinya ia adalah orang yang memiliki jabatan tinggi di kantor tersebut.
Dinda tak ingin sok kenal dan sok dekat. Takut tak ditanggapi dengan baik dan akhirnya malu sendiri.
"Cong, lo udah istirahat?" tanya Zara.
"Gue lagi di dekat kantor lo nih." tiba-tiba saja perempuan itu mengirim pesan.
"Serius lo?" tanya Dinda.
"Iya, gue lagi ada event."
Zara saat ini bekerja di kantor yang selalu mengadakan event. Ia sendiri kadang menjadi koordinator dari event tersebut.
"Makan bareng yuk, beb. Gue nggak ada temen di kantor ini." tukas Dinda kemudian.
"Iya emang niat gue dari tadi mau ngajak lo makan bareng." ucap Zara.
"Ya udah buruan turun. Di samping kantor lo ada bebek Haji Mukri tuh." ujar Zara.
"Ya udah, gue kesana deh." tukas Dinda.
"Oke, oke. Gue duluan ke sana, lo samperin gue aja." ucap Zara lagi.
"Oke."
Dinda pun bergegas. Namun langkahnya di cegat oleh bu Tasya.
"Mau istirahat makan kan?" tanya bu Tasya kemudian.
"I, iya bu?. Kenapa bu?" Dinda balik bertanya.
Bu Tasya menyerahkan satu kotak kecil sikat gigi lipat beserta pasta gigi mini di dalamnya. Lalu ia juga menyerahkan sebungkus permen strip penyegar mulut yang less sugar.
"Sehabis makan nanti, gosok gigi, dan makan permen strip ini. Jangan lupa lipstik dan makeup yang terkena air di touch up lagi." ujar wanita itu.
Dinda tercengang, baru kali ini ia bekerja di kantor yang memiliki peraturan sedemikian rumit.
"Oke, baik bu." ujarnya lalu menerima sikat gigi tersebut.
__ADS_1
"Ingat ya, mulut tidak boleh beraroma makanan. Baik itu petai, jengkol, pecel ayam, bebek goreng dan lain-lain. Silahkan kalau mau makan, tapi setelah itu hilangkan baunya dari mulut, dengan cara apapun." tukas Bu Tasya lagi.
Dinda yang masih merasa aneh tersebut kini mengangguk, kemudian ia keluar meninggalkan ruangan dan menyusul Zara.
Sesampainya disana, Zara sempat tertegun dengan penampilan Dinda yang berubah 180 derajat dari sebelumnya.
"Lo cantik banget beb." ujarnya kemudian.
"Masa sih?" tanya Dinda sambil tertawa.
"Beneran beb, lo cantik banget. Outfit lo keren, anjay." tukas Zara lagi.
Dinda makin tertawa lalu duduk. Mereka memesan makanan dan terus berbincang. Zara bertanya detail mengenai kejadian yang dialami Dinda. Mulai dari soal Marvin sampai pekerjaan dan belanja-belanja kemarin.
Dinda menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Tentu saja Zara antusias mendengarkan itu semua.
"Wah, parah sih. Bener-bener kayak cerita CEO di novel online, anjir." ujar gadis itu.
"Makanya, gue aja nggak nyangka bakal gini." ucap Dinda.
Tak lama pesanan mereka pun datang, keduanya lalu makan bersama sambil terus membahas banyak hal.
Usai makan dan ketika jam istirahat mereka telah berakhir, Dinda pamit pada Zara. Ia kembali ke kantor sedang Zara kembali ke lokasi event.
Di atas Dinda buru-buru menggosok gigi, serta membenarkan makeup serta lipstik yang telah terhapus air, akibat berkumur. Tak lama setelah itu ia pun memakan permen strip dan kembali ke meja kerja.
"Dert."
Reni mengirim pesan padanya. Reni adalah teman yang dari awal merekomendasikan ia untuk melamar ke perusahan ini.
Ia dulu mantan karyawan Sievert.co, namun sekarang ia telah resign. Semenjak memutuskan untuk masuk sekolah penerbangan dan telah menjadi pilot untuk sebuah maskapai.
"Beb, gimana?" tanya Reni pada Dinda.
"Keterima nggak lo?" tanya nya lagi.
"Iya beb, gue udah kerja disini." Balas Dinda.
"Makasih banyak ya." lanjut perempuan itu.
"Wah, selamat ya beb. Gue senang banget ujar Reni.
"Iya beb, lo lagi dimana?" tanya Dinda.
"Baru mau berangkat, ada flight siang nanti."
"Oh oke deh, tetap hati-hati dalam pekerjaan ya beb." tukas Dinda.
"Iya beb, lo juga." ucap Reni.
__ADS_1
Setelah itu Reni tak lagi membalas. Mungkin tengah bersiap pikir Dinda. Akhirnya ia pun melanjutkan pekerjaan.
***