
"Jangan beb, lo nggak harus makin memperparah emosi yang lo punya."
Zara mengemukakan pendapat. Ketika Dinda menceritakan kejadian yang ia alami tadi di kantor, melalui sambungan telpon.
"Gue udah bodo amat, beb. Kesel banget gue sok-sok di intimidasi gitu. Kayak sinetron anjir itu kantor."
Dinda memasukkan baju ke dalam mesin cuci. Sepulang kerja ia memang selalu mencuci baju.
"Lagian di pecat juga nggak apa-apa koq. Dari yang waktu sama Marvin di hotel itu aja, gue udah dapat duit. Sekarang gue dapat handphone baru. Bodo amat gue kalau sampai harus berurusan lagi sama orang kayak si Kinan. Ngeri ke cekek aja lehernya sama gue, pidana lagi ntar."
"Itu aja lo sebenarnya udah bisa di perkarakan ke pihak yang berwajib." ucap Zara.
"Makanya. Gue pengen pindah kerjaan aja ke tempat yang lebih tenang, yang lebih banyak orang kalemnya. Biar gue nggak jadi serem kayak setan." tukas Dinda lagi.
"Tapi kalau kata gue sih, sayang." ucap Zara.
"Dengan lo keluar dari sana, berarti lo kalah sama si kecoa bunting." lanjutnya kemudian.
"Lah kalau gue keluarnya dipecat, bukan resign gimana?. Kan bos gue itu keliatan cinta mati banget sama si Kinan."
"Ya, lo cari gimana caranya supaya Marvin maafin lo. Biar lo nggak di pecat.
"Gimana caranya?" tanya Dinda heran.
"Ya mikir dong beb, ini aja gue lagi mikir." ujar Zara.
"Masalahnya dia tajir say, sayang kalau di lewatkan. Minimal dapat apartemen mewah sama mobil dulu, kalau mau pergi. Jangan sekedar duit dikit sama handphone doang." Lanjut perempuan itu lagi.
Dinda berpikir ada benarnya juga ucapan sahabatnya tersebut. Kenapa dia harus kalah pada kejadian receh seperti ini. Jika Kinan bisa sebegitu drama-nya, ia pun tak kalah pandai dalam berakting.
Ya, meski harus menurunkan harga diri dengan meminta maaf. Tapi ia rasa itu tak terlalu buruk. Mengingat ada sebuah tujuan yang lebih tinggi lagi. Yakni menjadi kaya dengan nebeng pada kekayaan Marvin.
"Ya udah deh, gue mau mikir dulu." ucap Dinda pada Zara.
"Gue juga sama beb. Ntar kalau udah tercetus ide, gue kabarin lo." tukas Zara.
"Oke beb, thank you ya udah dengerin gue." ujar Dinda.
"Elah lo, kayak sama siapa aja. Biasa juga gue emang jadi tong sampah curhatan elo." Zara berseloroh, kemudian mereka tertawa-tawa.
Tak lama percakapan tersebut di sudahi dan mereka. Kembali pada kesibukan masing-masing.
***
Marvin akhirnya menemui Dean dan juga Igor. Kedua sahabatnya itu telah menghabiskan beberapa batang rokok dan juga dua gelas kopi.
"Gaes, sorry." ucap Marvin seraya menarik kursi.
__ADS_1
"Udah nganterin bini orangnya?"
Dean berseloroh dengan ceplas-ceplos. Sebab hal tersebut biasa di circle pertemanan mereka.
"Iya, tadi nemenin dia periksa dulu ke dokter kandungan. Abis di tampar dan di dorong sama si Dinda. Sampe badannya tersentak ke dinding." jawab Marvin.
"Dean dan Igor kaget mendengar semua itu.
"Ada masalah apa emangnya?" tanya Dean kemudian.
"Nggak tau, kayaknya Dinda ada curiga soal hubungan gue sama Kinan. Maybe dia cemburu." jawab Marvin lagi.
"Emangnya lo udah jadian sama si Dinda?" tanya Igor.
"Nggak." jawab Marvin.
"Tapi lo tau sendiri kan cewek-cewek gimana. Kalau udah di kencani sama cowok, mereka langsung berpikir bahwa kita itu suka dan cinta sama mereka." lanjutnya kemudian.
"Mereka terlalu pake perasaan, padahal kita nggak punya perasaan apa-apa dan kadang cuma mau have fun aja. Akhirnya mereka suka cemburu dan ngatur-ngatur." Tambah Marvin lagi.
Dean dan Igor tampak sama-sama menghela nafas.
"Lo sih, jadi playboy ceweknya dekat-dekatan. Orang kek satu di mana, satu lagi dimana gitu. Ini nggak, malah sekantor." seloroh Dean.
"Yang ada ya berantem." lanjutnya lagi.
Marvin bertanya dengan nada cool, namun cukup ekpresif dari segi tatapan mata.
"Ya iya, Bambang."
Dean dan Igor berujar di waktu yang nyaris bersamaan.
"Lo pikir salahnya siapa coba?. Bapak gue gitu?" tanya Dean sewot.
"Salah ketua RT di rumah lo, bro." seloroh Igor sambil tertawa.
Marvin menghela nafas lalu menghidupkan sebatang rokok.
"Kenapa gue punya temen kayak emak-emak semuanya." Seloroh pemuda itu kemudian.
"Ya karena lo kayak bocah SMPkelakuannya. Dan yang bisa menghadapi bocah kan cuma emak-emak." ucap Igor.
Marvin pun tertawa kecil lalu mereguk sisa kopi di gelas Dean.
"Udah ah, gue mau makan." ujarnya lagi.
Tak lama mereka bertiga pun terlihat makan bersama.
__ADS_1
***
"Sebaiknya tahan dulu emosi bapak."
Bu Tasya berbicara pada Marvin, setelah acara makan dengan Dean dan juga Igor telah usai. Marvin memang ada menelpon bu Tasya untuk bertemu. Tentu saja mereka membahas soal Dinda
Mereka kini tampak tengah berada di sebuah minimarket plus. Yang ada tempat duduknya di samping.
"Dia udah kasar banget sama Kinan. Mau nggak mau kita harus cari sekretaris baru." ucap Marvin lagi.
"Dia kerjanya cukup bagus sejauh ini pak. Saya juga mengamati dan memeriksa." ucap bu Tasya.
"Kalau kita cari pengganti, takutnya nanti nggak akan sama." lanjut wanita itu.
"Kalau dia nggak di keluarkan, nanti kasus ini jadi polemik. Karyawan lain bisa saja menuntut saya memberhentikan dia. Saya akan dianggap mempekerjakan orang yang membahayakan." tukas Marvin.
Bu Tasya tampak menghela nafas agak panjang.
"Sekarang gini deh." ujarnya.
"Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api. Bapak udah tanya benar-benar sama yang terlibat?"
"Kinan bilang sih, Dinda itu cemburu. Dinda nggak suka lihat-lihat saya dekat dengan perempuan lain."
"Memangnya bapak ada hubungan apa dengan Dinda dan juga Kinan?" tanya bu Tasya.
"Ya nggak ada, hanya sebatas karyawan dan sekretaris. Tapi mereka berdua yang saling cemburu satu sama lain." ujar Marvin lagi.
"Ini bapak hanya mendengar dari Kinan saja?" Bu Tasya kembali bertanya
"Ya, dan karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Kalau Dinda itu menampar dan mendorong Kinan."jawab Marvin.
"Bapak cek CCTV aja dulu. Siapa tau Kinan yang duluan nyolot."
Marvin terdiam mendengar semua itu.
"Tapi seburuk-buruknya kelakuan Kinan, nggak pantas Dinda membalas dengan cara seperti itu. Terlebih kepada perempuan yang sedang hamil." tukas Marvin.
"Dan sebagai perempuan hamil sebaiknya jangan cari masalah. Kalau memang dia mau melindungi bayi yang tengah dia kandung. Saya yakin dalam hal ini Kinan juga salah." ucap bu Tasya.
"Sebaiknya bapak selidiki benar-benar dulu, baru membuat keputusan. Masalahnya Dinda sudah tanda tangan kontrak juga. Kita nggak mungkin memberhentikan dia secara sepihak." lanjut wanita itu kemudian.
Marvin menghela nafas, lalu menghisap batang rokok yang telah ia bakar sejak tadi.
"Besok saya bantu tanya deh, ke Dinda-nya langsung." ucap bu Tasya.
Dan Marvin masih terus menghisap batang rokok tanpa memberikan reaksi apa-apa.
__ADS_1