
Usai menggosok gigi dan mencuci muka, Marvin membantu Edgar yang hendak pergi ke kamar mandi.
"Edgar mau mandi, pa." ucap Edgar setelah mereka sampai.
"Bisa sendiri, atau mau papa panggilkan perawat?" tanya Marvin kemudian.
"Nggak usah, Edgar sendiri aja. Malu soalnya." ucap Edgar.
Marvin lagi-lagi terkejut. Sebab selama ini jika dirinya sakit, ia selalu memanfaatkan situasi apapun itu. Termasuk dibantu mandi oleh perawat. Otak plus-plusnya memang selalu beraksi di setiap kesempatan. Sangat berbeda dengan sang anak yang tampaknya lebih berakhlak tersebut.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa panggil papa. Papa tunggu di luar." ucap Marvin.
Edgar mengangguk, kemudian Marvin keluar. Edgar menutup pintu, lalu pergi mandi.
"Hati-hati infusnya, Edgar." teriak Marvin dari luar.
"Iya pa." jawab Edgar.
Marvin lalu sedikit membereskan serta merapikan tempat tidur Edgar. Sejatinya itu adalah tugas dari team khusus yang ditugaskan untuk membersihkan ruangan. Namun Marvin telah melakukannya terlebih dahulu, agar nanti Edgar bisa kembali nyaman beristirahat.
Selang beberapa saat berlalu, Edgar selesai mandi dan berganti pakaian. Ia kembali ke tempat tidur dan Marvin membantunya. Termasuk mengecek dan memastikan infus dalam keadaan baik-baik saja.
Tak lama dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Edgar. Saat itu dokter lain yang bertugas, sebab dokter Dean sudah off dan telah pulang ke rumah untuk beristirahat.
"Kamu makan dulu."
Marvin membantu menyiapkan, saat sarapan pagi untuk sang anak telah tiba. Kemudian Edgar hanya menurut saja ketika ayahnya itu mulai menyuapi.
"Pa, papa tuh kerja apa?"
Tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan, setelah beberapa saat berlalu. Marvin kemudian menjawab dan menjelaskan sedikit tentang perusahaannya.
"Oh." Edgar menjawab singkat.
"Kamu tertarik untuk meneruskan perusahan papa sesuatu saat nanti?"
Marvin iseng bertanya, namun kemudian Edgar menggelengkan kepala.
"Loh kenapa?" tanya Marvin heran.
"Kan enak tinggal meneruskan doang, nggak harus susah payah merintis dari awal." ujarnya lagi.
"Edgar pengen banget jadi angkatan udara. Walau dengan kondisi penyakit Edgar yang kayak gini. Edgar masih pengen berusaha dulu."
"Kenapa harus jadi angkatan udara?"
Lagi-lagi Marvin bertanya seraya menyuapkan kembali makanan kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Edgar pengen bawa pesawat tempur, pengen jadi perisai negara."
Marvin terdiam, bahkan ia tak pernah terpikir jauh ke arah sana. Yang ia cita-citakan dari kecil hanyalah hidup enak, sukses, serta memiliki banyak uang dan kekuasaan. Plus digilai banyak wanita sebagai bonus.
"Tapi kan resikonya besar. Kenapa nggak mau jadi pengusaha aja?"
"Kata papa Edward, setiap pilihan hidup itu pasti ada resikonya. Tergantung kita mau ambil resiko yang mana."
Marvin menarik nafas, lalu ia meraih gelas berisi air minum dan memberikannya pada Edgar. Sejatinya ia ingin mengatakan pada anaknya itu, perihal apa yang dikatakan oleh Dean. Bahwa Edgar sangat sulit untuk disembuhkan. Namun Marvin tak mau mematahkan semangat anaknya itu.
"Kamu harus optimis bisa sembuh. Dan semoga apa yang kamu inginkan, bisa kamu capai suatu saat nanti." ucap Marvin.
Edgar diam, lalu meminum air di dalam gelas yang tadi diberikan oleh sang ayah.
"Habisin ya makannya." ucap Marvin lagi.
Edgar menggelengkan kepala.
"Nggak enak." jawabnya pelan.
"Ya udah, tapi buahnya di makan. Oke?"
Edgar mengangguk. Tak lama Marvin meletakkan mangkuk bubur ke atas meja dan menyerahkan potongan buah yang ada di mangkuk satunya lagi.
***
Waktu berlalu, Marvin akhirnya pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Kemudian ia pun berangkat, lalu tiba di kantor.
Dinda menyapa dengan begitu ramah, dan langsung menyambut tas Marvin untuk dibawa ke dalam. Perempuan itu agak sedikit over acting dibanding hari-hari sebelumnya. Bahkan ia beberapa kali mengkibas-kibaskan rambut bak duta sampo lain.
"Pak, bapak mau minum apa?" tanya nya sambil menyiapkan pekerjaan Marvin. Dan tentu saja Marvin merasa makin aneh. Sebab hari-hari sebelumnya tak ada pelayanan soal minuman. Hanya sebatas menyiapkan pekerjaan lalu pergi.
"Aaa, nanti saya pesan aja sama Daryanti." ucap Marvin pada perempuan itu.
"Oh nggak apa-apa pak, bilang aja ke saya. Nanti saya yang minta ke OB buat siapkan minuman bapak."ucap Dinda.
Marvin menatap wanita itu.
"Kamu nggak kesambet setan kan pagi ini?" tanya nya kemudian.
Dinda tersenyum.
"Ya nggak dong, pak. Emangnya kenapa?. Ada yang aneh sama saya?" tanya nya kemudian.
Marvin menarik nafas agak dalam.
"Ya sudah, saya mau kopi susu." ucap pria itu.
__ADS_1
"Oke."
Dinda segera keluar. Kebetulan ia telah selesai menyiapkan pekerjaan untuk Marvin. Perempuan itu kini menyambangi pantry dan meminta dibuatkan kopi susu kepada OB yang bertugas.
Tak lama setelah kopi susu tersebut jadi, ia bermaksud mengantarkan. Namun tiba-tiba ia ingin sekali ke toilet. Lalu perempuan itu beranjak menuju tempat tersebut.
***
"Tok, tok, tok."
"Masuk!"
"Kreeek." terdengar suara pintu yang dibuka.
Marvin kaget mendapati Kinan yang membawa nampan serta gelas, yang tampaknya berisi minuman.
"Ini minuman yang bapak pesan."
Kinan berujar seraya meletakkan minuman tersebut ke atas meja kerja Marvin.
"Koq kamu yang bawa?. Kan tadi saya minta tolong sama Dinda." ujar Marvin heran.
"Dia sibuk nyariin office boy, pak. Karena nggak bisa bikin kopi. Tapi office boy-nya lagi repot semua, jadinya saya deh yang bikin."
Kinan berdusta, sementara Marvin ingat jika Dinda memanglah tidak bisa membuat kopi. Waktu itu saja ia membuat asal-asalan untuk Marvin, maka Marvin pun percaya.
Sementara di pantry, Dinda yang baru keluar dari toilet kini celingukan. Ia mencari-cari dimana kopi yang tadi telah selesai dibuat. Namun sepanjang mata memandang, kopi tersebut tidak ada.
"Ah, udah dibawa sama office boy kali." Pikir Dinda.
Perempuan itu kemudian beranjak. Ia dengan santainya kembali ke meja. Namun kemudian ia kaget, ketika melihat Kinan yang keluar dari dalam ruangan Marvin sambil membawa nampan.
Kinan menatap Dinda dengan penuh kemenangan. Dinda tau pastilah kopi tadi telah diantarkan oleh perempuan penjilat tersebut.
Kinan melangkah dengan sombongnya melintasi Dinda, Sementara Dinda dongkol setengah mati dibuatnya.
"Eh, Cong. Ada persaingan apa lagi diantara mereka?" Miranti bertanya pada Ira seraya melirik Dinda dan juga Kinan.
"Perang kopi kayaknya."jawab Ira.
"Tadi gue lihat si Kinan bawain kopi ke pak bos. Dan gue perkirakan itu adalah buatan si sekretaris." lanjutnya lagi.
"Dari mana lo tau?" Miranti kembali bertanya.
"Nebak aja. Soalnya perkara kopi aja sampe sebegitu drama-nya mereka berdua." Ira berkata sambil tertawa, diikuti tawa Miranti.
"Ada-ada aja sih." ucap Miranti kemudian.
__ADS_1
"Namanya juga udah pada kesengsem, jadinya norak. Apapun diperbuat untuk cari perhatian." tukas Ira lagi.
Keduanya kembali sama-sama tertawa. Sementara Kinan terlihat melangkah menuju pantry, untuk mengembalikan nampan.