
Beberapa tahun lalu.
"Sukses di usia muda, siapakah Marvin Sievert?"
"Marvin Sievert, pengusaha muda dan single yang kini sukses membangun bisnis diberbagai bidang."
"Yuk kenalan dengan Marvin Sievert. Si tampan sukses yang akan membuat kamu jadi kesengsem."
"Marvin Sievert : Saya membangun bisnis dari nol."
Beberapa headline news terlihat di berbagai media cetak dan elektronik saat itu. Nama Marvin menjadi trending, lantaran kesuksesannya membangun perusahaan.
Marvin senang, karena impian terbesarnya kini menjadi kenyataan. Meski masih mewarisi perusahaan sang ayah. Namun Marvin juga memiliki bisnisnya sendiri di bidang jasa ekspor-impor, properti serta beberapa bisnis lainnya.
Muda, sukses, dan single. Membuat Marvin sedikit lupa diri. Ia mulai sering berpesta, padahal dulunya ia hanya sesekali menghabiskan waktu di klub malam.
Sekedar untuk menghibur diri dari kekecewaannya terhadap Feby. Namun setelah ia sukses hal tersebut menjadi kebutuhan. Marvin mulai mengenal wanita-wanita cantik yang menggoda.
Meski sebelum itu ia pernah melakukan hubungan terlarang dengan perempuan bernama Elina. Namun Marvin agaknya sudah melupakan peristiwa tersebut. Kini dengan segala uang yang ia miliki, ia bisa membeli kesenangan.
Makin lama nama Feby makin mengabur dari benak pemuda itu, meski cinta masih tersimpan dalam relung hatinya yang terdalam. Marvin mulai sering peluk sana dan peluk sini pada wanita manapun yang menempel padanya.
Lama kelamaan arogansi pun mulai menguasai pria itu. Sebab ia melihat dengan kesuksesan seorang pria, wanita banyak yang menurunkan harga dirinya demi mengejar-ngejar dan berharap kecipratan harta.
Betapa kuatnya pengaruh uang pada orang-orang yang haus akan duniawi. Otak kotor Marvin mulai terbentuk dan hal itu menjadikan ia playboy sampai detik ini.
***
"Pak Marvin, personal asisten bapak akan datang hari ini."
Saat itu bu Hilda masih muda dan ia sudah bekerja pada Marvin. Ia telah berada di bagian HRD dan bertugas merekrut pegawai. Kala itu pekerja Marvin belum semenarik sekarang. Mereka masih berpakaian biasa-biasa saja layaknya pekerja pada umumnya.
Selang beberapa saat, personal asisten yang diminta oleh Marvin pun tiba. Seorang gadis berusia 20 tahun, dengan tubuh seksi serta wajah cantik dan bibir penuh yang sensual. Saat itu Marvin terpesona dibuatnya.
"Nama kamu siapa?" tanya Marvin kala itu.
"Cassandra pak." jawab si calon personal asisten dengan nada yang masih canggung.
"Kamu sudah punya pengalaman sebagai personal asisten sebelumnya?"
"Belum pak, tapi saya sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan bisa."
"Berapa lama?" tanya Marvin.
__ADS_1
"Satu tahun pak." jawab Cassandra.
"Tapi kamu sudah mengerti apa tugas kamu?" Lagi-lagi Marvin bertanya.
"Sudah pak." jawab Cassandra.
"Sudah di training sama bu Hilda." lanjutnya lagi.
"Baik, kamu urus segala keperluan saya mulai hari ini. Ruang kerja kamu disebelah." ucap Marvin.
Maka Cassandra pun lalu pergi menuju ruangannya.
Hari berlalu, minggu berganti. Pesona Cassandra seakan semakin menguat. Setiap kali melihat perempuan itu, Marvin jadi tegang. Darahnya berdesir dan gairahnya meningkat tajam.
Meski pakaian kerja yang digunakan Cassandra terbilang wajar. Namun dasar dari sananya gadis itu sudah seksi. Jadi mau ditutup bagaimanapun, ia tetap saja terlihat menggoda.
Suatu ketika Marvin harus lembur menyelesaikan pekerjaan. Sebagai atasan tentu ia tak lantas memerintahkan anak buahnya saja untuk melakukan hal tersebut.
Ia juga harus menunjukkan bahwa dirinya juga bekerja keras. Sebagai bos atau pemimpin yang baik, haruslah menyelesaikan pekerjaan dan jangan hanya mengandalkan karyawan saja.
"Pak, saya pulang ya."
Karyawan terakhir yang lembur pamit pulang. Saat itu sudah jam 11 malam. Marvin mengiyakan, karyawan tersebut berlalu. Tinggal ia dan personal asistennya saja yakni Cassandra.
"Pak, kita sampai jam berapa disini?" tanya Cassandra.
"Tante saya nanyain saya, soalnya saya nggak bawa kunci." tukas gadis itu lagi.
"Sebentar lagi." jawab Marvin.
Pria itu kemudian pergi ke toilet. Dan saat keluar dari sana, ia melihat Cassandra sedang berjinjit di dekat lemari file untuk mengambil sesuatu.
Karena posisinya berjinjit itulah, rok Cassandra agak sedikit naik ke atas. Sehingga memperlihatkan sebuah pemandangan yang mulus di mata Marvin.
Pria itu sudah tak bisa menahan semuanya lagi. Arogansinya terasa bangkit mendadak. Dengan merasa dirinya adalah si pemilik kekuasan di tempat itu, maka Marvin pun mendekat. Ia langsung menyentuh pinggang Cassandra, hingga menyebabkan perempuan itu menjadi kaget.
"Pak, ada apa ya?"
Cassandra memberikan sedikit perlawanan. Namun Marvin malah semakin mengunci pergerakan gadis itu.
"Pak."
Cassandra masih berusaha memberontak di tengah kepanikan yang mulai menjalar. Sementara Marvin memaksa meletakkan tangan Cassandra agar bertumpu pada rak.
__ADS_1
"Pak saya."
Marvin terus memaksa tangan Cassandra agar berpegang, kemudian ia mulai melakukan aksi yang tak sepatutnya ia lakukan.
"Pak lepasin saya, saya belum pernah."
"Sssttt!"
Marvin menyuruh Cassandra untuk diam.
"Kamu cuma perlu menerima dan diam." ucap Marvin di telinga Cassandra.
Cassandra sendiri masih ketakutan. Tubuhnya kini kaku, menghadapi pemaksaan dari sesosok makhluk tampan seperti Marvin.
"Pak, tapi saya takut."
"Takut kenapa?"
Marvin membalikkan tubuh Cassandra agar menghadap dirinya. Saat itu Marvin menyadari jika sang personal asistennya tersebut sudah mulai sedikit pasrah, dan takluk dibawah kendalinya.
"Saya takut hamil pak." jawabnya kemudian.
Marvin menatap gadis itu lekat-lekat.
"Kalau hal itu terjadi, saya akan bertanggung jawab." ujarnya meyakinkan.
Suara tersebut terdengar begitu tulus ditelinga Cassandra. Meskipun pada prakteknya nanti, entah benar akan ditepati atau tidak oleh Marvin.
Yang jelas pertahanan Cassandra semakin melemah. Sebab selama bekerja ia pun tak dapat membohongi perasaan, jika ia juga suka pada Marvin.
Siapa yang bisa menolak pria tampan dan mapan itu. Bahkan hampir sebagian besar perempuan berharap mendapat pasangan yang demikian.
Marvin mulai melakukan hal tersebut, dengan perlahan. Cassandra mendorong Marvin agar berhenti. Sebab ia merasakan sakit yang lumayan di suatu titik.
Namun Marvin terus bergerak secara intens. Seakan hendak segera menerobos dinding yang masih memiliki penghalang tersebut. Kemudian dengan sekali hentakan, semuanya ia dapatkan.
Rintihan Cassandra terdengar di penjuru ruangan. Marvin mencium bibir gadis yang kini sudah kehilangan status gadisnya itu. Lalu setelah Cassandra nyaman, ia mulai kembali bergerak. Pada akhirnya Cassandra meracau lantaran terbuai begitu dalam.
"Kalau kamu nurut sama saya, Cassandra. Saya akan penuhi kebutuhan kamu." ucap Marvin.
"Kamu mau kan nurut sama saya?" tanya nya sekali lagi.
Cassandra hanya mengangguk pasrah, ditengah hantaman kenikmatan yang ia terima. Saat semuanya selesai, Marvin mencium kening perempuan itu. Dan ia melihat Cassandra menitikkan air mata.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan saya pak." ujarnya kemudian.
Marvin mengangguk. Dan di hari-hari berikutnya mereka terlihat makin dekat. Hal tersebut tentu saja mengundang perhatian dan beberapa diantara karyawan mulai bergunjing.