Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Syok


__ADS_3

Marvin kembali ke rumah sakit, tempat dimana sang anak kini di rawat. Sebelum itu dijalan, ia sempat ada menelpon dan bertanya pada Dean.


"Iya, bro." ucap Dean kala itu.


"Bro, gue mau balik lagi ke rumah sakit. Itu anak sukanya apa sih?" tanya Marvin kemudian.


"Apanya?. Makanan gitu?" Dean langsung menebak ke arah sana.


"Iya, kan lo udah lama kenal dia." ujar Marvin lagi.


"Dia itu paling suka sama serabi Solo, setahu gue ya." tukas Dean.


"Bentar."


Marvin berujar lalu membuka google. Ia kemudian mendownload gambar serabi solo dan mengirimkannya pada Dean.


"Ini bukan sih?" tanya nya lagi.


"Iya bener." jawab Dean ketika telah menerima gambar tersebut.


"Dimana nyarinya?" Marvin kembali bertanya.


"Googling lah, Bambang. Atau ke laman aplikasi ojek online dan cari disana." Dean memberi saran.


"Oh ya udah deh, gue cari dulu kalau gitu."


"Oke."


"Lo masih di rumah sakit?" tanya Marvin.


"Masih, jaga malam nanti gue." jawab Dean.


"Oh ya udah, bagus deh. Biar gue nggak gabut." tukas Marvin.


"Oke."


Marvin menyudahi telpon tersebut. Ia kemudian mencari dimana ada penjual serabi Solo di google. Hanya ada satu yang terdekat, itu pun harus memutar arah.


Namun demi Edgar entah mengapa hari ini ia rela memaksa diri. Padahal Marvin bukan tipikal orang yang mau berkorban begitu banyak, apalagi soal waktu dan jarak.


Ia tiba di penjual serabi Solo tersebut, tepat setelah beberapa saat menempuh perjalanan. Awalnya ia celingak-celinguk, dan memperhatikan etalase yang di penuhi gulungan daun pisang.


Berdasarkan apa yang ia lihat tadi di google. Gulungan tersebut merupakan serabi Solo yang di maksud.


"Selamat sore pak, bisa di bantu."


Salah satu pelayan yang bekerja di tempat itu bertanya padanya.


"Saya mau serabi nya 20 ya." ujar Marvin.

__ADS_1


"Mau yang rasa apa aja pak?" tanya si pelayan itu?.


"Oh, emang ada pilihan rasanya ya?" Marvin balik bertanya.


"Ada, ada yang original, coklat, kacang, dan vanila crunchy."


"Mmm?" Marvin berpikir.


"Mix aja lah semuanya." ucap pria itu kemudian.


Maka si pelayan mengambilkan serabi Solo pesanan pria itu, dengan rasa yang dicampur antara satu dan yang lainnya.


Marvin kembali ke mobil usai membayar. Ia meletakkan serabi Solo tersebut ke atas dashboard dan hendak menghidupkan mesin mobil.


Namun tiba-tiba rasa penasaran menyeruak. Mendadak pria itu ingin mengetahui rasa dari serabi Solo tersebut. Mengingat selama ini ia belum pernah memakannya.


Marvin membuka kotak kemasan, lalu mengambil satu dan memakannya. Pada gigitan pertama ia terdiam. Kemudian lanjut mengunyah dan menelan.


Ternyata rasa dari kue tersebut sangat berada jauh di atas ekspektasinya. Sebab mendengar kata serabi dan melihat gambarnya saja, Marvin tak begitu antusias. Namun ketika dimakan ada sensasi nikmat yang tak dapat di lukisan.


Ia pun lalu mengambil lagi dan lagi. Hingga serabi tersebut kini hanya tersisa 9 potong. Marvin diam dan menyadari jika ia telah memakan sebelas diantaranya.


Ia lalu turun kembali dan membeli sekitar 20 potong lagi. Setelah itu ia baru benar-benar menghidupkan mesin mobil dan menyambangi rumah sakit, tempat dimana sang anak masih di rawat.


***


Bu Hilda tengah menyambangi sebuah toko. Ia belum kembali ke rumah sejak jam kantor berakhir tadi. Sebab ia ingin membeli beberapa hal yang ia inginkan. Wanita itu melangkah, menyusuri jalanan antara rak-rak yang tersusun di toko tersebut.


"Tap, tap, tap."


Bu Hilda menarik nafas. Ia sejatinya paham jika di dalam sebuah toko, akan ada saja orang yang berjalan di belakang kita. Sebab mereka juga hendak membeli sesuatu.


Tetapi barusan, perasaannya yang peka merasa orang tersebut benar-benar mengikuti dirinya. Bukan untuk belanja melainkan untuk sesuatu yang lain.


"Tap, tap, tap."


Langkah itu kembali terdengar, secepat kilat bu Hilda kembali menoleh. Namun ia tak menemukan siapa-siapa, kecuali sesama para pembeli yang berada di kejauhan.


Bu Hilda berbalik arah, namun kemudian pandangannya di kejutkan oleh kehadiran seseorang.


"Ca, Cassandra?" ujarnya tak percaya.


Wanita yang diketahui adalah Cassandra tersebut menatapnya dengan penuh dendam. Tak ada sedikitpun keramahtamahan di matanya.


Sesuatu tiba-tiba bergerak di tangan Cassandra. Untuk yang kedua kalinya bu Hilda kaget.


Kali ini karena diantara lengan panjang dari dress yang dikenakan oleh perempuan itu, bu Hilda bisa melihat ujung mata pisau. Dan sudah jelas artinya Cassandra hendak menyerang dirinya.


Bu Hilda panik, secara serta merta ia pun menoleh dan berteriak pada para pekerja di toko tersebut.

__ADS_1


"Ada apa, bu?" Supervisor toko dan seorang pelayan mendekat.


"Orang ini."


Bu Hilda menoleh, namun Cassandra sudah tidak terlihat lagi di depan matanya.


"Ada apa, bu?" tanya supervisor itu sekali lagi.


"Ada orang yang mau menyerang saya pakai senjata tajam mas." tukas bu Hilda panik.


Tak lama mereka sudah berada di monitor CCTV dan memperhatikan rekaman sebelumnya. Tetapi ternyata CCTV yang menghadap ke arah tempat dimana bu Hilda tadi berada, tak berfungsi. Supervisor dan para pekerja toko tersebut pun langsung membuat laporan.


"Saya minta rekaman di area lain. Saya yakin perempuan itu pasti ada." ujarnya sekali lagi.


"Baik bu, saya harus menghubungi pemilik toko dulu." ujar sang supervisor.


Maka bu Hilda pun akhirnya menunggu.


***


Di lain pihak, Marvin kini telah sampai ke rumah sakit. Sambil membawa apa yang tadi ia beli, pria itu turun dari mobil kemudian masuk melalui lobi depan rumah sakit.


Saat itu Dean yang masih bertugas kebetulan melintas. Mereka bertemu muka di hadapan bagian informasi.


"Hei, udah sampe lo." ucap Dean seraya menghampiri.


Marvin tersenyum kecil.


"Lo masih sibuk?" tanya nya kemudian.


"Masih, pasien gue masih banyak." jawab Dean.


"Tadi gue dari ngecek Edgar. Dan sekarang dia lagi sama cewek." lanjutnya lagi.


"Cewek?" Marvin mengerutkan dahi.


"Iya, kayaknya teman sekolahnya dia." tukas Dean.


Marvin tertawa. Antara senang namun lucu.


"Serius?" tanya nya kemudian.


"Serius, mungkin masih ada sekarang. Tapi nggak tau juga, bisa jadi udah pulang. Karena gue kesana tadi sekitar setengah jam yang lalu." ucap Dean.


"Oke deh, gue kesana dulu. Pengen liat ceweknya siapa." Marvin antusias.


"Oke." jawab Dean.


Marvin pun bergegas menuju ke kamar tempat dimana anaknya dirawat. Sesampainya disana ia membuka pintu secara perlahan, ia bermaksud mengintip.

__ADS_1


Namun betapa terkejutnya Marvin ketika mendapati perempuan yang kini tengah bersama anaknya.


Dunia Marvin pun seakan membeku. Jantung pria itu berdegup kencang. Jelas ia mengingat siapa gadis itu. Gadis yang ia bayar untuk kesenangan beberapa waktu lalu.


__ADS_2